Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Hubungan Yang Berakhir
Bab 5 - Hubungan Yang Berakhir
Raisa tetap berada di rumah Senopati karena pria itu tetap bersikeras. Tidak ada ruang bagi bantahan lagi setelah ia menyampaikan semuanya dengan nada yang tak bisa diganggu gugat.
Begitu pintu utama tertutup rapat meninggalkan Ardi dan Marla yang pergi dengan perasaan kece sekaligus tak berdaya, suasana di ruang tamu terasa hening. Hanya tersisa suara napas keduanya yang teratur. Senopati masih berdiri di dekatnya, pandangannya menatap lurus ke arah wanita itu seolah ingin memastikan tidak ada lagi ketakutan yang tersisa.
“Kau mendengar sendiri, bukan?” ucap Senopati perlahan, nada bicaranya jauh lebih lunak dibandingkan saat berhadapan dengan kedua orang Raisa tadi. “Tidak ada gunanya kau kembali ke tempat yang tak pernah memberimu tempat yang layak. Di sini setidaknya kau aman.”
Raisa menunduk, tangannya meremas ujung bajunya dengan gugup. Jujur saja, di dalam hatinya ada rasa lega yang tak disangka-sangka meski ia masih merasa asing. Ia mengangkat wajah perlahan, menatap mata Senopati yang kini tak lagi terasa sedingin es.
“Tapi Tuan… apakah ini tidak membebani Tuan? Aku tahu semuanya bermula dari utang, bukan dari keinginan Tuan sendiri,” tanyanya dengan suara pelan, penuh keraguan.
Senopati terdiam sesaat. Ia melangkah mendekat sedikit lagi, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Raisa. Tatapannya tetap tenang dan lurus.
“Memang awalnya begitu,” akunya jujur tanpa basa-basi. “Tapi sejak kau berada di sini, aku menyadari satu hal—lebih baik kau tinggal bersamaku daripada kembali ke rumah yang hanya akan menjadikanmu beban dan bahan cercaan. Keputusanku ini sudah bulat, jadi kau tak perlu merasa bersalah atau ragu lagi.”
Ia mengangguk ke arah meja makan yang sudah disiapkan pelayan sejak tadi pagi.
“Ayo, sarapan dulu. Tenagamu belum pulih sepenuhnya. Mulai hari ini, anggap saja ini rumahmu juga. Tak perlu bersikap terlalu kaku seolah menjadi tamu.”
Raisa mengangguk perlahan, rasa canggung masih ada namun mulai terasa lebih ringan. Saat ia berjalan mengikuti Senopati menuju meja makan, untuk pertama kalinya ia tidak lagi merasakan ketakutan yang menyelimuti hatinya. Ada ketenangan baru yang perlahan tumbuh, meski ia belum tahu pasti apa yang akan terjadi ke depannya.
Sementara itu, di balik ketenangan yang ia tunjukkan, Senopati menyimpan pikirannya sendiri. Ia pun tak mengerti mengapa hatinya merasa jauh lebih tenang saat Raisa tetap berada di rumahnya, seolah kehadiran wanita itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan meski semuanya baru dimulai.
Dua hari telah berlalu dan sejak hari itu Raisa belum pernah ketemu lagi dengan Senopati. Pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi, jantung Raisa semakin berdegup kencang. Ia tak percaya dirinya akan di nikahkan dengan seorang Senopati berhati dingin.
Berdering...
Sejak tadi ponsel Raisa berdering, seorang nama pria muncul di layar ponselnya. Kelvin dengan emoji love di sampingnya. Dia adalah kekasih Raisa yang sudah menjalin hubungan selama dua tahun belakangan ini.
Raisa belum cerita soal pernikahannya dengan Senopati kepada Kelvin sang kekasih hati. Bukannya tak ingin memberitahukan tapi Raisa tak sanggup harus kehilangan pria yang ia cintai. Ia juga menjaga perasaan Kelvin akan sehancur apa setelah mengetahui pernikahannya yang tiba-tiba.
"Ha-halo Kelvin?" Ucapnya terbata-bata.
"Sayang, kamu kemana saja kenapa belakangan ini kamu tidak pernah menghubungi aku. Kenapa sayang apa terjadi sesuatu?" Saat telpon tersambung Kelvin langsung mengungkapkan semua kekhawatiran-nya kepada sang kekasih.
"Kelvin maafkan aku, aku terlalu sibuk sehingga melupakanmu." Suara Raisa mulai terdengar berat Ia tak sanggup lagi untuk berbicara. "Mari kita bertemu di cafe biasa, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Baiklah kita bertemu sore ini ya, sayang tapi kamu tidak kenapa-napa kan aku khawatir sayang."
"Hmm, aku baik-baik saja."
"Baiklah sampai ketemu nanti ya, aku tutup dulu telponnya, soalnya aku masih bekerja sayang."
"Baiklah sampai ketemu juga Kelvin."
Tut tut...
Saat sambungan terputus Raisa langsung menangis sejadi-jadinya di dalam kamar, hatinya merasa hancur untuk Kelvin.
Mata Raisa basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia menekan telapak tangannya di atas mulut agar isak tangisnya tidak terdengar keluar kamar, seolah takut dinding ruangan ini pun bisa mendengar keresahan yang meremukkan hatinya. Di satu sisi ada rasa aman dan ketenangan yang mulai ia rasakan di rumah ini, namun di sisi lain ada luka yang terasa makin dalam, ia harus memutuskan sesuatu yang berarti melepaskan separuh dari hidupnya selama ini.
Waktu terasa berjalan sangat lambat hingga menjelang sore. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan, Raisa berpamitan kepada kepala pelayan dengan alasan ingin berjalan-jalan sebentar menghirup udara segar. Tanpa banyak tanya, izin pun diberikan.
Sesampainya di kafe yang biasa mereka kunjungi, Kelvin sudah lebih dulu menunggu di sudut tempat yang selalu menjadi langganan mereka. Begitu melihat sosok Raisa melangkah masuk, wajah pria itu langsung berubah cemas. Ia berdiri dan segera menghampiri, meraih kedua bahu wanita itu dengan lembut.
“Kau terlihat pucat sekali, Raisa. Ada apa sebenarnya? Ceritalah padaku, apa pun itu kita selesaikan bersama,” ucap Kelvin dengan nada lembut namun penuh kekhawatiran.
Raisa hanya menunduk, air mata yang baru saja ia keringkan kembali siap mengalir. Ia duduk di hadapan Kelvin, tangannya saling meremas di atas meja. Butuh waktu lama baginya untuk mengumpulkan keberanian, hingga akhirnya ia mengangkat wajah menatap pria yang selama ini menjadi tempat pulangnya.
“Kelvin… ada hal berat yang harus kusampaikan padamu,” suaranya bergetar hebat. “Hal ini terjadi di luar kendaliku, dan aku tak punya pilihan lain selain menerimanya.”
Kelvin mengerutkan dahi, tangannya terulur ingin menggenggam tangan Raisa, namun secara tak sadar Raisa menariknya menjauh. Gerakan itu membuat jantung Kelvin berdegup kencang karena firasat buruk mulai menghinggapi pikirannya.
“Katakan saja, Raisa. Jangan buat aku semakin gelisah,” desaknya pelan.
“Aku… aku akan segera menikah, Kelvin.”
Kalimat itu meluncur keluar begitu saja, namun terasa seberat bebatuan yang menghancurkan segalanya dalam sekejap. Suasana di meja mereka terasa sunyi senyap. Wajah Kelvin memucat, tatapannya membelalak tak percaya seolah telinganya salah mendengar.
“Menikah? Dengan siapa? Kita sudah berjanji, Raisa. Kita baru saja merencanakan masa depan kita sendiri,” suaranya mulai meninggi, berusaha menahan keterkejutan yang berubah menjadi luka.
“Dengan Tuan Senopati,” jawab Raisa lirih, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. “Semua ini terjadi karena utang besar yang ditinggalkan ayahku. Aku menjadi jaminannya, Kelvin. Aku tidak bisa menolak. Jika aku menolak, maka keluargaku akan terjerat masalah yang lebih buruk lagi.”
Kelvin terdiam mematung. Ia terduduk kembali, pandangannya kosong menatap wajah wanita yang sangat dicintainya. Rasa sakit, kecewa, dan tak berdaya bercampur menjadi satu. Ia mengerti keadaan itu, namun rasanya tak sanggup menerima kenyataan bahwa wanita yang ingin ia nikahi seumur hidup akan menjadi milik orang lain.
“Lalu… apa arti semua janji kita selama ini?” tanyanya dengan suara parau.
“Maafkan aku, Kelvin. Aku tak punya pilihan. Tetaplah jalani hidupmu yang baik. Lupakanlah aku… karena mulai hari ini, aku bukan lagi wanita yang bisa kau harapkan lagi.”
Raisa segera berdiri sebelum hatinya semakin goyah dan menarik diri. Ia tak berani menatap lebih lama lagi, takut jika ia tetap tinggal maka keinginannya untuk melarikan diri bersama Kelvin akan kembali muncul dan hanya membawa bencana bagi semuanya.
Namun sebelum benar-benar melangkah, tangannya di tarik oleh Kelvin, lalu menariknya kedalam pelukannya. "Aku akan gila jika tanpamu Raisa!" Kelvin menangis sambil terus memeluk erat tubuh Raisa. "Jangan pergi, sayang. Aku sangat mencintaimu. Apakah kamu lupa perjuanganku mendapatkan kamu?"
***
Tinggalkan komentar kalian jika selesai membaca Bab ini.