Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 29
"Ibu aku sudah tidak tahan bertemu gadis sialan itu lagi!", pecahan vas terdengar di kamar pribadi yang mewah.
rahang lucinda mengeras, mata melebar dengan nafas naik turun menatap ibunya yang masih santai menikmati teh malamnya.
suara cangkir yang di letakkan terdengar cukup keras, suasana menjadi cukup mengintimidasi bagi lucinda.
"apakah ini etika calon permaisuri tahun ini, lucinda?". Ibunya menatap tajam.
wajah merah padam lucinda berubah pucat, tubuhnya terduduk lemas merasakan aura ibunya sendiri yang sedikit berbeda beberapa Minggu ini.
mata hijau zamrud itu menatap ke istana sejenak, sebelum bangun. Langkah yang seperti orkestra berat mendekati lucinda.
Tangan lentik ibunya mengelus kepala lucinda, tersenyum tipis yang sangat menyeramkan.
"jika kau tidak sesabar itu_ ibu bantu dengan ini".
Jeritan terdengar dari kamar, cahaya dan kabur hitam menyelimuti kamar seperti badai, mengelilingi lucinda sehingga padam.
Ibunya menatap datar sosok lucinda, tatapan mata kosong, rona wajah pucat lucinda, asap hitam menyelimuti nya dengan halus.
"dekati gadis itu perlahan, putriku".
Lucinda yang terduduk, berbalik dan menuju kamarnya.
Ibunya menatap cermin, sosok lain di dalam cermin tersenyum lebar padanya.
"itu akan membantu lebih baik nyonya", sosok itu tersenyum.
"jika putri ku terluka, perjanjian kita batal. Kau tau itu kan". Ibunya menatap ke jendela lagi.
"tentu saja nyonya, selagi energiku mendekati gadis itu, dia akan segera mati".
Sosok itu menghilang di ganti kesunyian kamar, hati yang terasa sesak merasakan setiap asap hitam yang menyelimuti nya mendekat. Nafasnya terasa berat tiap kali memikirkan setiap langkah yang dia ambil.
Surat dengan cap putih yang ada di mejanya selalu membuatnya resah, apakah tindakannya benar atau hanya membawa putri kecilnya menuju kesengsaraan lebih berat lagi.
"permaisuri, saya tidak menduga anda melakukan hal seperti ini di belakang kaisar".
Burung Pipit kecil yang ada di dahan, tiba-tiba terbang ke arah timur. Melewati pembatas tipis sihir hutan Ilos, hingga sampai di sebuah rumah kecil yang hangat.
Cahaya tipis meliputi burung kecil itu dan wujud pemuda berlari masuk ke dalam rumah, ruang hangat yang diisi empat orang mendadak hening.
"eva dalam masalah", seru Leo panik.
Luantys dan Ella yang baru dapat kiriman surat dari Eva pucat, Izkye dan Glen bangkit dari posisi mereka.
"ada apa Leo?", Izkye menarik Leo mendekat.
cemas Eva yang ketahuan sihir oleh orang Odelions, Izkye terpaksa membongkar status mereka sebagai penyihir ke ke-tiga sahabat Eva, dan meminta bantuan menjadi relawan yang mengawasi Eva dengan sihir berubah bentuk.
Sebagai pengamat Leo yang cukup pintar yang dipilih, dia di ubah menjadi beberapa burung kecil agar aman dari di buru saat lewat hutan, baru beberapa hari Leo baru dapat informasi besar.
dimulai dengan sihir hitam, dan asap hitam. Izkye dan Ella semakin cemas kondisi Eva yang ada di Odelions, terlebih surat Eva yang menjelaskan dia tidak akan kabur sebelum menemukan anak-anak Ilos yang di culik.
"setauku sihir hitam sudah lama tidak ada, kenapa sekarang tanda-tanda itu ada di Odelions", Ella menatap Izkye.
"apa ada hubungan dengan pembantaian penyihir di zaman dulu?, aku banyak membaca buku itu merasa aneh saja, alasan pembantaian yang terasa janggal". Luantys menatap kedua sahabatnya.
Leo berpikir sejenak, dan mengangguk setuju. Dia juga pernah mempelajari teori itu bersama Eva sebelum di bawa ke Odelions.
"sekarang masalahnya, sihir hitam itu akan mendekati Eva, apa bahaya jika penyihir yang belum masuk usia kedewasaan terkena sihir hitam?", Glen menatap Izkye.
"sangat bahaya, Eva bisa saja terjebak. Entah apa motif kali ini, tapi Eva pemilik sihir murni hutan, jika dia bersentuhan sihir hitam. Maka sudah di pastikan akhir hidup Eva",
wajah semua menjadi suram, Ella sedikit terduduk lemas. tangan ketiga sahabatnya Eva mengepal kuat, mereka tidak bisa diam saja.
Izkye menatap bunga yang ada di taman, bunga yang masih belum mekar terlihat bersinar lembut dalam gelapnya malam.
"apa Eva akan aman di Odelions sampai masuk usia kedewasaannya?" Izkye menghela nafas panjang.
••••••••••
suara tepuk tangan terdengar heboh bulan main antar prajurit, teriakan penyemangat yang ditunjuk pada rekannya yang sedang adu tanding.
Suara bedebam keras di sertai suara pedang yang beradu dengan marmer baru terdengar nyaring, wajahnya pucat ketika sebilah pedang terarah ke lehernya.
Eva tersenyum miring, menarik pedangnya.
"sudah cukup bagus, akan ku usulkan kenaikan pangkat untukmu dan yang lainnya".
Prajurit itu bangkit dan membungkuk hormat, bersama rekan latihannya yang lain. Mereka senang akhirnya latihan keras mereka selama beberapa bulan bisa terbayar.
Eva tersenyum, kembali ke pojok arena membiarkan prajurit lain memberi ucapan selamat pada rekan yang naik pangkat.
Velysa memberikan handuk dan minum padanya, sudah setengah hari Eva bertanding. Kemampuan nya semakin meningkat, setidaknya bisa menyenangkan dirinya yang masih belum menemukan anak-anak Ilos yang di culik.
"yang mulia, apa anda tidak terlalu berlebihan melatih prajurit di masa kelas anda yang padat", velysa menatap arena yang kembali menaji arena adu tanding.
Eva meletakkan handuk dan bersandar santai, "ini cara lainku untuk bersantai, tenang saja. selagi lady itu tidak berulah semua akan baik-baik saja".
eva memberi arahan latihan prajurit akan di awasi letnan yang di pilih Felix, ia segera kembali ke istana putri mahkota. Bersiap untuk kelas sejarah yang akan dimulai sebentar lagi.
Eva berhenti, kaisar Odelions untuk pertama kali ini ia lihat di taman dekat istana putri mahkota, sosok yang jarang terlihat entah kenapa berada di arena itu.
"salam untuk matahari agung Odelions ", Eva berbungkus hormat.
Kaisar menoleh, "ah, lady Evanthe. Selesai melatih para prajurit ya".
Eva mengangguk, "apa yang yang mulia lakukan di sekitar sini?".
Kaisar hanya tersenyum, menatap bunga-bunga yang masih segar di Musin gugur ini.
"hanya ber nostalgia saja, dulu saya suka kemari karena sering mengunjungi ibunya Felix". kaisar tersenyum kecil.
Eva belum tau status Felix yang aslinya anak haram, mengira kaisar membahas permaisuri.
Termasuk kaisar, dia belum tau kalau Felix tidak menceritakan keadaannya di ke istana. status aslinya yang masih terancam oleh permaisuri dan bayangan lainnya.
kaisar mendongak, melihat sosok Felix yang lewat bersama Brian, membahas strategi baik tentang negara tenggara yang mulai protes akan upeti yang biasa di serahkan ke istana.
Eva menatap bergantian kaisar dan Felix, sejak awal Eva bertanya dalam hati dari mata rambut hitam dengan mata merah darah milik Felix. kaisar memiliki rambut emas yang berkilau indah dengan mata merah Rubi yang tajam. Mirip dengan Flery bedanya mata pemuda itu hijau zamrud yang cemerlang.
"karena kau yang di pilih anak itu, saya harap kalian bahagia sampai akhir", kaisar menepuk bahu Eva. "saya titip kan putra kebanggaan saya pada anda putri Evanthe".
eva hanya tersenyum kecil, melirik Felix yang mulai menjauh.
"ku rasa akan sulit seperti itu yang mulia",
setelah kaisar pergi, Eva bergegas kembali ke kamar untuk berganti gaun, sesuatu yang seperti menjadi perampasan kebebasan gerak Eva. Gaun kerajaan terlalu heboh untuk dia pakai, akan terlalu seenaknya jika dia minta gaun yang lebih sederhana untuk keseharian.
pundaknya sedikit terhantam pelan, Eva menoleh menatap lucinda yang hanya menatapnya diam. sangat berbeda dari biasanya sikap gadis itu yang selalu heboh dan semena-mena.
Eva mengerutkan kening, indranya sedikit menangkap bau aneh dari lucinda sebelum pergi, tatapan kosong gadis itu padanya juga aneh dari biasanya.
"yang mulia, waktu anda sudah sedikit", velysa mengingat Eva
eva menatap sejenak, sebelum bergegas ke kamarnya.
"perasaanku saja paling". Gumam Eva
...****************...