NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:795
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 34 : PENCARIAN HAKIKAT DAN RETAKNYA DINDING KEBENCIAN

Langkah kaki Radit terdengar tegas di sepanjang koridor rumah sakit pagi itu. Setelah menyegarkan pikiran di pasar malam bersama Kalea kemarin, hari ini dia harus kembali mengenakan jas dokter putihnya. Sifat profesional dan wibawa mutlaknya sebagai Direktur Utama sekaligus spesialis bedah tingkat tinggi langsung mengambil alih. Baru saja dia menyelesaikan ronde pagi, sepasang suami istri paruh baya dengan wajah cemas sudah mengadang langkahnya di depan ruang tunggu ICU.

"Dokter Radit," panggil pria paruh baya itu dengan suara bergetar menahan panik. "Maaf mengganggu waktunya, Dok. Saya orang tua dari pasien yang dioperasi aneurisma aorta subuh tadi. Gimana kondisi anak kami sekarang, Dok? Apa ada komplikasi yang berbahaya?"

Radit menghentikan langkahnya, lalu menatap lurus ke arah keluarga pasien dengan tenang. "Selamat pagi, Bapak, Ibu. Berdasarkan pemantauan monitor satu jam terakhir, kondisi putra Anda sudah melewati masa kritisnya dengan sangat stabil. Nggak ada tanda-tanda kebocoran atau penyumbatan sekunder. Tim perawat ICU akan terus melakukan pemantauan ketat selama dua puluh empat jam ke depan. Anda berdua nggak perlu panik, silakan berdoa dan percayakan penanganan medis sepenuhnya kepada tim kami."

Ibu sang pasien langsung menyeka air mata harunya, mengangguk berkali-kali penuh rasa hormat. "Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih banyak, Dokter Radit. Tindakan cepat Anda subuh tadi bener-bener sudah menyelamatkan nyawa putra kami."

"Sudah menjadi kewajiban dan sumpah profesi saya, Ibu. Saya permisi dulu untuk melanjutkan visitasi," jawab Radit ramah sebelum melangkah pergi.

Baru saja Radit berbelok di persimpangan koridor arah laboratorium sentral, matanya menangkap sosok Fitri yang sedang berjalan searah di depannya. Fitri berjalan dengan langkah yang tampak sedikit lelah, didampingi oleh seorang rekan sejawat di sampingnya. Mengingat berita miring tentang status "anak haram" Kalea yang mendadak ramai dibicarakan sejak tadi subuh, Radit merasa ada teka-teki besar keluarga Wijaya yang harus segera dia luruskan.

Radit mempercepat langkah kegiatannya yang panjang. "Dokter Fitri," panggil Radit cukup lantang.

Fitri menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya. Begitu melihat sosok bos besarnya berdiri menjulang di hadapannya, Fitri langsung memberi anggukan kepala dengan hormat. "Selamat pagi, Dokter Radit. Ada yang bisa saya bantu terkait koordinasi divisi spesialis jantung pagi ini, Dok?"

Radit menatap wajah Fitri, lalu melirik ke arah wanita yang berdiri di samping Fitri. Wanita itu adalah Dokter Amalia Syafira (29 tahun), rekan sejawat spesialis anestesi yang terkenal sangat peka dalam membaca situasi.

"Dokter Fitri, ada beberapa hal penting yang bersifat pribadi yang mau saya bahas bersama Anda sekarang juga," kata Radit tanpa basa-basi.

Dokter Amalia yang langsung menangkap aura serius dari mata Radit, langsung melangkah mundur dengan senyuman ramah. Dia menoleh ke arah Fitri, menyuntikkan sentuhan pelan pada lengan temannya tersebut. "Dokter Fitri, kebetulan saya harus segera kembali ke ruang induksi untuk mempersiapkan pasien jam sepuluh nanti. Saya izin undur diri duluan ya, Dok. Mari, Dokter Radit."

"Silakan, Dokter Amalia. Terima kasih banyak ya," jawab Fitri dengan anggukan, memandangi kepergian rekannya sebelum akhirnya kembali menatap Radit penuh tanya. "Baik, Dokter Radit. Sekarang tinggal kita berdua. Masalah pribadi apa yang mau Bapak bahas dengan saya di tengah koridor yang ramai ini?"

Radit menatap Fitri dengan pandangan tajam namun tetap tenang. "Tempat ini terlalu terbuka untuk membahas masalah sensitif, Dokter Fitri. Ikuti saya ke ruang kerja saya sekarang. Kita bicara di dalam."

Radit langsung membalikkan tubuhnya, melangkah lebar mendahului. Fitri hanya bisa mengembuskan napas pendek, lalu melangkah berjalan mengekor di belakang atasannya menuju lift khusus direksi.

Suasana di dalam ruang kerja Direktur Utama yang luas itu terasa sangat sunyi begitu pintu ditutup rapat. Radit melangkah menuju ke balik meja kerja besarnya, namun dia tidak duduk. Pria itu berdiri tegap bersandar di tepi meja, sementara Fitri dipersilakan duduk di hadapannya.

Radit menarik napas panjang, mencoba menata kalimatnya agar terdengar tenang namun langsung menusuk sasaran.

Fitri menatap atasannya lekat-lekat, menaruh jemari tangannya di atas pangkuan. "Dokter Radit, ada masalah apa sebenarnya, Dok?"

Radit menatap lurus ke dalam mata Fitri. "Dokter Fitri... sebagai sesama dokter, saya nggak mau bertele-tele. Saya mau tanya langsung, apa bener berita yang beredar sejak subuh tadi... kalau Kalea itu adalah anak hasil luar nikah di keluarga Anda?"

Fitri seketika tertegun mendengarkan pertanyaan blak-blakan Radit. Dia mengendikkan kedua bahunya, memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain. "Jujur, Dokter Radit... kalau Dokter bertanya mengenai status silsilah kelahiran Kalea yang sebenarnya, saya bener-bener nggak tahu-menahu fakta aslinya gimana. Tapi... sejak kecil, Mama selalu bilang ke saya kalau Kalea itu anak haram pembawa aib yang terpaksa ditampung di rumah kami. Saat bayi itu dibawa pulang oleh Papa, usia saya baru lima tahun, Dok. Saya terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti itu."

Radit mengernyitkan dahi tampannya, rahangnya menegang mendengar jawaban tidak pasti dari Fitri. "Anda nggak tahu status aslinya, tapi Anda membiarkan Kalea dicaci maki di rumah itu? Dan soal siapa dalang yang membocorkan berkas kelahiran Kalea ke internet tadi subuh, apa Anda tahu siapa orangnya, Dokter Fitri?"

Fitri menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah bingung. "Saya bener-bener nggak tahu siapa dalang yang tega menyebarkan berita itu, Dok. Beritanya mendadak viral begitu saja pagi ini."

Radit terdiam membisu sesaat, meneliti ekspresi wajah Fitri sebelum kembali bertanya. "Dokter Fitri, saya mau tanya dari lubuk hati Anda yang paling dalam... Apa Anda bener-bener membenci Kalea?"

Fitri kembali mengendikkan bahunya, menghela napas pendek. "Entahlah, Dokter Radit... Dulu saya sangat membencinya. Tapi setelah kejadian belakangan ini, hati saya rasanya campur aduk. Saya bingung membedakan rasa benci dan rasa bersalah."

Radit menarik sudut bibirnya, melayangkan sebuah senyuman tipis. "Dokter Fitri... kalau Anda mau tahu, saya sangat mencintai Kalea, dan saya tetap bakal menikahi dia!"

Radit mengetuk meja kerjanya pelan, menatap lekat Fitri dengan untaian kalimat yang begitu menyentuh hati. "Dokter Fitri, coba Anda renungkan... Untuk apa sebenarnya Anda membenci Kalea? Apa Kalea pernah meminta atau memohon kepada Tuhan untuk dilahirkan ke dunia ini dari jalur yang kalian sebut cacat itu? Sama sekali enggak, Dok!"

Radit menatap Fitri dengan tatapan penuh kelembutan yang dalam. "Menjadi seorang anak itu kayak selembar kertas putih bersih yang diturunkan Tuhan dari langit tanpa bisa memilih di rumah siapa dia harus mendarat. Seorang anak nggak pernah bisa memilih orang tuanya. Kalau asal-usul kelahirannya dianggap sebuah kesalahan masa lalu, maka kesalahan itu mutlak milik orang dewasa yang melanggar batas, bukan milik sang bayi yang lahir suci tanpa noda! Nggak adil rasanya kalau kalian menghukum dan menginjak-injak harga diri Kalea atas perbuatan yang nggak pernah dia lakukan!"

Radit menghela napas panjang, lalu membawa sudut pandang agama yang begitu menyentuh batin Fitri seutuhnya. "Di dalam hukum agama kita, konsep 'anak haram' itu bener-bener nggak pernah ada, Dokter Fitri. Yang dilarang dan dianggap berdosa itu adalah perbuatan salah dari kedua orang tuanya, bukan sang anak! Di dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan dengan sangat jelas kalau seorang yang berdosa nggak akan memikul dosa orang lain. Setiap manusia yang lahir ke bumi ini lahir dalam keadaan suci, bersih, dan dia berhak mendapatkan kasih sayang serta dihormati laksana manusia lainnya! Jadi demi Allah, di mata saya, Kalea itu adalah wanita terhormat, yang martabatnya jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang hobi memfitnah di luar sana. Saya berharap ucapan saya ini bisa membuka mata batinmu."

Fitri mendengar seluruh kalimat bijak yang keluar dari mulut Radit hanya bisa diam membisu. Lidahnya mendadak kaku, nggak bisa menyahut sepatah kata pun karena apa yang dibilang Radit bener-bener menghantam telak lubuk hatinya yang paling dalam. Kalimat itu meruntuhkan seluruh egonya selama ini.

Fitri tahu betul kalau dalam agama emang nggak pernah ada istilah anak haram... Fitri menghela napas panjang dengan mata berkaca-kaca menahan sesak. Pikirannya mendadak melayang mundur, terseret masuk ke dalam pusaran ingatan masa lalunya saat usianya baru menginjak lima tahun.

Flashback On

Suatu sore yang diguyur hujan lebat dua puluh empat tahun lalu, pintu utama rumah mewah keluarga Wijaya dibuka. Papa Hermawan melangkah masuk dengan pakaian yang basah kuyup. Namun, yang membuat suasana rumah mendadak tegang adalah kedua tangan Papa yang sedang mendekap erat sebuah bungkusan selimut bayi berwarna merah muda. Di dalam selimut itu, tertidur lelap seorang bayi perempuan mungil yang baru lahir beberapa minggu, yang memiliki sepasang mata berwarna biru jernih yang sangat indah. Bayi itu tidak lain adalah Kalea kecil.

Mama Sarah yang melihat suaminya membawa pulang bayi asing, langsung dirasuki oleh kemurkaan yang luar biasa. Wajah cantiknya memerah penuh rasa marah. Detik itu juga, pertengkaran hebat yang dipenuhi caci maki pecah di antara Papa Hermawan dan Mama Sarah selama berjam-jam karena kehadiran Kalea kecil.

"HERMAWAN!!! KAU BENER-BENER TEGA YA?!" jerit Mama Sarah histeris sambil membanting vas bunga di atas lantai marmer hingga hancur berkeping-keping. "Saya nggak sudi menampung anak ini di sini! Singkirkan dia sekarang juga sebelum saya sendiri yang bertindak kasar dan membunuh bayi sialan ini?!" Mama Sarah berlari maju hendak merebut paksa bayi Kalea kecil dengan penuh kebencian.

Namun Papa Hermawan menghalangi langkah Mama Sarah dengan sangat kokoh, mendorong tubuh Mama Sarah dengan tegas hingga terhuyung mundur. "Cukup, Sarah! Tutup mulutmu! Siapa yang mau kamu singkirkan, hah?! Mau kamu teriak dan mengamuk sampai rumah ini roboh sekalipun, aku tetep akan merawat Kalea kecil di sini! Dia darah dagingku dan dia punya hak penuh untuk tinggal di rumah ini! Aku nggak akan membiarkan seujung jarimu pun melukai anak ini!" bentak Papa Hermawan dengan suara menggelegar yang langsung membungkam kemurkaan Mama Sarah malam itu.

Fitri kecil yang saat itu baru berusia lima tahun, berdiri gemetaran di balik pilar anak tangga lantai dua menyaksikan keributan besar itu. Awalnya, begitu melihat wajah imut bayi bermata biru yang dibawa papanya, hati anak kecil Fitri merasa sangat senang. Di dalam pikiran polosnya, dia bersenang karena berpikir akhirnya dia bakal menjadi seorang kakak dan punya adik perempuan imut buat diajak bermain bersama.

Namun, harapan polos anak kecil itu dihancurkan dalam sekejap oleh racun kata-kata dari ibunya sendiri. Malam harinya, Mama Sarah masuk ke dalam kamar Fitri dengan wajah sembap habis menangis, memegang erat bahu Fitri kecil. Mama menatap Fitri penuh dengan pandangan benci.

"Fitri... dengerin kata-kata Mama sekarang!" ucap Mama dengan suara yang bergetar. "Bayi bermata biru aneh yang dibawa Papamu ke rumah itu... dia itu adalah adik yang buruk! Dia itu darah kotor, pembawa sial yang mau merebut semua kebahagiaan kita!"

Fitri kecil menatap ibunya polos dengan mata berkaca-kaca ketakutan. "Mama... adik haram itu apa artinya, Ma? Kenapa Mama benci sama bayi imut itu?"

Mama menarik sudut bibirnya, melontan kalimat yang merusak mental anak kecil Fitri. "Arti adik haram itu... dia anak yang lahir dari hubungan salah, Fitri! Denger ya, kalau kamu sampai punya adik lagi di rumah ini, Papa pasti nggak bakal sayang lagi sama kamu! Papa cuma bakal sayang sama anak itu dan kamu nggak akan dipedulikan lagi!"

Mendengar ancaman kehilangan kasih sayang dari papanya, ketakutan luar biasa langsung mencengkeram hati Fitri kecil yang baru berusia lima tahun. Kata-kata dari Mama Sarah sukses mengunci jiwanya, mengubah rasa senang awal Fitri kecil jadi rasa cemburu dan benci yang teramat sangat mendalam kepada Kalea kecil, yang terus dia bawa sampai sekarang. Fitri juga bener-bener nggak tahu siapa sebenarnya ibu kandung dari Kalea, apa bener cewek bermata biru itu anak kandung dari perempuan masa lalu papanya atau bukan, karena sepanjang hidupnya Mama hanya berulang kali meneriakkan kata anak haram tanpa mau menjelaskan faktanya.

Flashback Of

Puk!

Sebuah tepukan pelan dari Radit mendarat lembut di bahu Fitri, membuyarkan seluruh lamunan panjang memori masa lalunya seketika.

Fitri langsung tersentak, tubuhnya terlonjak dari sandaran kursi dengan napas yang mendadak agak terengah menahan sesak batin.

Radit menyipitkan sepasang mata elangnya meneliti wajah pucat bawahannya. "Dokter Fitri... Kenapa Anda malah melamun setelah mendengar penjelasan saya tadi?"

Fitri dengan cepat menggelengkan kepalanya, memejamkan sepasang matanya rapat-rapat demi menyembunyikan tetesan air mata penyesalan yang hampir saja tumpah. Egonya runtuh berganti kehampaan batin.

Fitri berdiri dari kursinya, merapikan kembali jas dokter putihnya dengan tangan agak gemetar. "N-Nggak ada apa-apa, Dokter Radit... Saya cuma teringat beberapa jadwal kunjungan pasien ICU yang belum selesai saya cek pagi ini. Saya izin pamit keluar dari ruangan Anda sekarang untuk kembali bertugas. Terima kasih ya, Dok."

Radit menatap lekat wajah Fitri, lalu memberikan anggukan kepala. "Silakan kembali bertugas, Dokter Fitri."

Fitri membalikkan tubuhnya, melangkah keluar menembus pintu ruang kerja Direktur Utama dengan langkah kaki yang terasa berat dipenuhi penyesalan yang mendalam.

Radit berdiri mematung sendirian di balik meja kerjanya yang luas, memandangi arah kepergian Fitri melewati pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalam lubuk hatinya, dia mengembuskan napas pendek.

"Aku tahu... Dokter Fitri itu sebenarnya orang yang baik sebagai dokter. Semua kebencian dia selama bertahun-tahun ini murni cuma karena pengaruh dari didikan orang tuanya yang salah," batin Radit merenungkan situasi keluarga Wijaya.

Radit melangkah menuju ke arah jendela kaca besar ruang kerjanya yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota. Sepasang matanya kembali berkilat memancarkan aura ketegasan mutlak yang nggak bisa diganggu gugat.

"Mau seberapa hancur pun berita di luar sana, mau seluruh dunia mencacimu anak haram... hari ini aku bersumpah, aku tetep bakal menikahi kamu, Kalea! Siapa pun kamu di masa lalu, kamu tetep bakal jadi Kalea-ku, satu-satunya pemilik takdir hidupku!" batin Radit penuh keyakinan cinta yang mendalam.

...****************...

Sementara suasana di Rumah Sakit Pusat Harapan Medika diliputi ketegangan diskusi antara Radit dan Fitri, atmosfer di dalam rumah mewah keluarga Wijaya justru terasa jauh lebih berat laksana dihantam badai senyap. Di dalam ruang kerja pribadinya yang bernuansa kayu mahoni gelap, Hermawan Wijaya duduk di balik meja kerja besarnya. Wajah tua pria paruh baya itu tampak sangat kaku, datar, dan memancarkan rahang tegas yang menegang kuat menahan rasa malu yang teramat sangat mendalam akibat hantaman berita skandal dua hari lalu.

Di hadapannya, berdiri dengan sikap tegap dan penuh hormat seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas hitam formal. Pria itu adalah Hadi Santoso (45 tahun), orang kepercayaan sekaligus kepala tim investigasi rahasia milik Hermawan yang sudah bekerja bersamanya selama belasan tahun untuk mengurus urusan krusial perusahaan.

Hermawan menopang kedua tangannya di atas meja, menatap Hadi dengan sepasang mata tuanya yang berkilat tajam memancarkan aura dingin yang mematikan. "Hadi, saya tidak ingin mendengar laporan yang mengambang. Dua hari ini reputasi dinasti bisnis dan nama baik keluarga saya diinjak-injak oleh seluruh netizen di internet akibat bom skandal itu. Katakan kepada saya sekarang juga, siapa dalang intelektual yang sudah menyebarkan berkas rahasia kelahiran Kalea dan cuplikan rekaman video kelab malam Shinta tersebut?!"

Hadi melangkah maju satu langkah, membungkukkan tubuhnya sedikit penuh rasa hormat yang kaku sebelum menyerahkan seberkas map dokumen hitam ke atas meja Hermawan. "Mohon maaf atas keterlambatan laporan ini, Bapak Hermawan. Tim siber kami dari kemarin sore sudah melakukan pelacakan digital secara mendalam menggunakan enkripsi server hosting anonim yang digunakan oleh pelaku. Berdasarkan hasil pelacakan alamat IP dan data transaksi pembayaran bot anonim yang kami dapatkan, pemilik asli dari akun gosip tersebut mengarah mutlak kepada satu nama... yaitu saudara Fandi Achmad Mahendra, mantan menantu Anda sendiri, Pak."

BAMMMM!!!

Hermawan Wijaya mendadak menggebrak meja kerja kayunya dengan hantaman telapak tangan yang luar biasa keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. BAM! Seluruh tumpukan dokumen di atas meja sempat bergetar kaku akibat luapan kemurkaan Hermawan yang meledak total mendengarkan kelicikan mantan menantunya.

"KURANG AJAR KAU, FANDI!!! BAJINGAN TIDAK TAHU DIUNTUNG?!" bentak Hermawan dengan suara bariton menggelegar laksana petir menahan geram, wajah tuanya memerah padam dengan urat leher menegang kaku. "Ternyata dia setannya di sini sekarang! Sudah bagus saya cuma menendang dan mengusirnya laksana anjing kurap dari rumah ini kemarin karena sudah meniduri Shinta, tapi sekarang berani-beraninya dia berbalik menusuk dan menghancurkan martabat keluarga saya dari belakang menggunakan akun anonim gila itu?! Hadi, kumpulkan semua bukti hukum ini sekarang juga! Saya mau kamu seret Fandi ke jalur pidana malam ini juga, paham?!"

"Baik, Pak Hermawan. Seluruh bukti otentik transfer dana dan log digital pelaku sudah kami amankan secara sah di dalam map ini. Saya akan segera berkoordinasi dengan tim kuasa hukum kita untuk memproses laporan pencemaran nama baik ini ke kantor kepolisian pusat," jawab Hadi dengan nada suara yang sangat formal, tegas, dan tertata rapi sesuai koridor etika kerja mereka.

Tanpa ada satu pun dari kedua pria di dalam ruangan itu yang menyadari, tepat di balik daun pintu kayu ruang kerja yang ternyata terbuka sedikit menyisakan celah sempit, sosok Shinta Kirana Wijaya sedang berdiri mematung kaku. Shinta yang berniat turun ke bawah untuk mencari minum mendadak menghentikan langkah kakinya karena mendengar suara bentakan keras papanya. Dia menguping dengan napas tertahan dari awal pembicaraan rahasia tersebut.

Begitu mendengar nama Fandi disebut sebagai dalang intelektual di balik tersebarnya video skandal kelab malamnya, sekujur tubuh seksi Shinta seketika bergetar hebat menahan gelombang amarah yang luar biasa meledak-ledak di dalam kepalanya. Kedua tangan lentiknya mengepal sangat kuat di samping tubuhnya hingga kuku-kukunya memutih menahan dongkol. Wajah cantiknya yang bengkak sisa tamparan kemarin ditekuk kaku penuh kedengkian yang mematikan.

"Fandi brengsek... Fandi bajingan kotor... Teganya kamu lakuin hal sekejam ini sama aku?!" gumam Shinta berbisik lirih penuh hasutan racun di bibirnya, air mata kemarahan mulai lolos membasahi pipinya. "Tiga tahun aku nyerahin tubuhku buat kamu di rumah ini, tapi sekarang kamu malah tega ngebongkar semua video kelab malamku ke publik cuma karena kamu dendam diusir Papa?! Aku benci banget sama kamu, babi?!"

Shinta menarik napas panjang, lalu melirik ke arah pintu kerja papanya dengan pandangan batin yang diliputi ketakutan yang mendalam. Sejak kejadian tamparan dan cambukan kulit kemarin lusa, sikap Papa Hermawan bener-bener berubah drastis menjadi sangat dingin, kaku, dan acuh tak acuh kepada dirinya. Nggak ada lagi sapaan manis, nggak ada lagi belaian manja, dan nggak ada lagi fasilitas uang ratusan juta yang selalu dimanjakan kepadanya. Hermawan menganggap Shinta sebagai pembawa aib terbesar yang sudah merusak mukanya di depan semua rekan bisnis arisan sosialita.

Shinta mengingat perubahan kaku papanya langsung dirasuki rasa iri dan cemas yang luar biasa gila. Dia bener-bener takut kalau Papa Hermawan bakal berbalik arah menyayangi Kalea daripada dirinya sendiri. Mengingat akhir-akhir ini pembawaan papanya emang aneh, terutama saat malam di koridor sepi waktu Papa menyentuh lembut perban dahi Kalea, walaupun sampai hari ini Papa Hermawan emang nggak pernah mengajak Kalea berbicara secara langsung di meja makan.

"Nggak boleh... Nggak boleh beneran terjadi! jerewih batin Shinta kesetanan penuh kegilaan egonya. Papa Hermawan cuma boleh menyayangi aku seorang diri di rumah ini! Bukan si anak haram Kalea, dan bukan juga si kaku Mbak Fitri! Aku benci banget sama mereka berdua, terutama Mbak Fitri yang sok suci memaki aku pelacur kemarin! Aku nggak sudi posisi anak emas ini direbut?!

Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar menahan sesak batin, Shinta berbalik tubuh berlari menuruni lorong, melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung membanting pintu kamar dengan sentakan keras laksana orang kurang waras. BAM!

Di dalam kamar tidur bernuansa merah muda dan emas yang kini terasa sepi laksana penjara tersebut, Shinta berjalan mondar-mandir kesetanan di samping ranjang besarnya. Otaknya serasa mau pecah memikirkan kehancuran karirnya sebagai influencer kecantikan terkenal. Ingin rasanya sore ini juga dia nekat dateng mendatangi apartemen Fandi untuk mencakar habis wajah pria brengsek itu karena sudah membuat dirinya jadi sengsara seperti ini sampai papanya tidak lagi percaya padanya seujung kuku pun.

Shinta merogoh ponsel pintarnya dari saku celana, membuka aplikasi Instagram dengan tangan gemetaran hebat menahan panik. Begitu dia menekan ikon kotak masuk (Direct Message/DM), matanya yang dilapisi lensa kontak langsung melotot sempurna dipenuhi rasa syok dan kepedihan batin melihat puluhan ribu pesan masuk yang semuanya berisi cemoohan, makian, dan hinaan luar biasa brutal dari netizen seluruh kota.

Ada 5 DM dari akun cowok-cowok yang mengatakan Shinta secara telanjang sebagai pelacur:

   1. [Wah... Shinta Wijaya si selebgram suci ternyata aslinya pelacur kelab malam ya! Tarifmu semalam berapa anjrit setelah dicicipi sugar daddy bau tanah itu? Bikin mual! 🤮]

   2. [Muka doang polos imut, kelakuan aslinya di hotel gonta-ganti cowok kayak pelacur kelas atas! Kasihan bapakmu didik anak perawan model begini! 🔥]

   3. [Dasar cewek murahan! Pelacur berkedok kecantikan ya kamu! Hancur reputasimu sekarang, mending hapus akun aja deh!]

   4. [Idih menjijikkan banget liat video ranjangmu itu, Shinta! Fix pelacur elit nih, pantes gaya hidupnya hedonis mulu pake uang haram!]

   5. [Hahaha pelacur kelab malam ketahuan juga topeng palsunya! Nggak usah sok pamer produk kecantikan lagi deh, mukamu udah kotor!]

Nggak berhenti sampai di situ, ada 10 DM lagi dari temannya dan netizen yang dengan sangat kejam melabelinya sebagai pelakor paling biadab:

   1. [SHINTA!!! KAMU BENER-BENER CEWEK IBLIS YA!!! Tega banget kamu jadi PELAKOR di dalam rumah tangga kakak kandungmu sendiri, Fitri?! Tiga tahun kamu tidur sama suaminya di ranjang mereka?! Biadab banget kelakuanmu! 🤬]

   2. [Gila... Nggak punya urat malu ya kamu jadi pelakor kakak ipar sendiri? Dasar perempuan jahat pengancam kebahagiaan orang!]

   3. [Fix pelakor paling menjijikkan abad ini! Mbak Fitri kurang baik apa coba sama kamu, tapi suaminya malah kamu embat juga di belakangnya! Murah!]

   4. [Aib terbesar keluarga Wijaya emang jatuh ke tanganmu, Shinta pelakor! Nggak sudi aku follow akun cewek berhati ular kayak kamu!]

   5. [Heh pelakor busuk! Sadar diri dong, mukamu itu nggak seberapa dibanding pengkhianatanmu ke Mbak Fitri! Tobat kamu!]

   6. [Sahabat macam apa kamu, Shinta? Di luar sok asyik, di rumah ternyata jadi pelakor suami kakak sendiri! Menjijikkan!]

   7. [Mampus kamu sekarang dihujat se-Indonesia! Pelakor berdarah dingin yang tega ngerusak rumah tangga saudaranya sendiri! Pecah lu!]

   8. [Aku bener-bener kecewa sama kamu, Shinta. Ternyata gosip pelakor itu beneran nyata, jahat banget kamu ke Dokter Fitri!]

   9. [Dasar perempuan ular berbisa! Pelakor nggak tahu adat, keluar kamu dari kota ini biar nggak mengotori pemandangan netizen!]

   10. [Hahaha kasihan Dokter Fitri punya adek pelakor murahan kayak kamu! Semoga kamu dapet balesan setimpal di neraka jahanam!]

BRAAASIKKK!!!

Mendengar runtutan cemoohan kejam di layarnya, Shinta langsung berteriak histeris kesetanan dengan volume maksimal memenuhi seluruh rongga kamarnya. Dengan gerakan emosi yang meledak-ledak gila, dia langsung melempar kasar ponsel pintarnya ke atas kasur busa, lalu kedua tangannya bergerak refleks menarik rambut panjangnya sendiri dengan sangat kasar hingga kepalanya mendongak kaku menahan perih.

"AAARRRGGGHHH!!! AKU BENCI KALIAN SEMUA!!! FANDI BAJINGAAAAN!!! KALEA SIALAAAAAN!!! INI SEMUA GARA-GARA KALIAN BERDUA SEKARANG HIDUPKU HANCUR LEBURRR, HIKSS?!" jerit Shinta meraung-raung histeris laksana orang sakit jiwa di tengah kegelapan kamar.

Aneh, bukan? Sungguh bener-bener aneh kelicikan berpikir Shinta ini. Kenapa dia harus meluapkan amarah besarnya kepada nama Kalea juga? Padahal Kalea aja sama sekali nggak tahu-menahu soal dalang digital atau rekaman kelab malam tersebut, murni Kalea juga jadi korban fitnah anak haram buatan Fandi! Tapi dasar watak Shinta yang berhati busuk dan selalu menaruh iri dengki, di dalam otaknya yang sempit, dia tetep menuduh kalau semua badai kehancuran martabat sosialnya ini berakar dari kedatangan Kalea membawa Dokter Radit waktu itu!

Shinta menjatuhkan tubuh seksinya meringkuk di samping ranjang, menangis sesenggukan menahan rasa malu luar biasa besar yang mencengkeram ulu hatinya. Sudah dua hari penuh dia bener-bener mengunci diri, menolak keluar rumah sepeser pun karena saking malunya kalau harus berpapasan dengan teman-teman sosialitanya di luar, kecuali Tasya Meira dan Ghea Anastasya—dua sahabat setianya yang kemarin ikut menemaninya bersenang-senang memakai bikini di tepi pantai privat Ancol untuk melarikan diri dari kenyataan pahit.

"Aku nggak bakal tinggal diam... hiks... aku bersumpah bakal cari cara paling kejam buat ngebalas dendam sama kamu, Kalea..." desis Shinta di sela-sela tangisan parau penuh hasutan dendamnya yang baru saja menyala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!