Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 malam cekikan sutra emas di istana Naga Langit
Malam itu, bulan merah menggantung rendah di atas ibukota Jinling, seolah menandakan datangnya pertumpahan darah. Namun, bagi sebagian besar penghuni istana, kehancuran yang mendekat tidak berbentuk bilah pedang atau raungan tentara, melainkan kekacauan kasat mata yang menjalar dari nadi perekonomian kota.
Di dalam Istana Naga Langit, aula utama yang biasanya dipenuhi oleh gemerlap pesta kini diselimuti kepanikan. Ratusan lilin yang biasanya menerangi ruangan dengan terang benderang kini hanya dinyalakan separuh; pasokan lilin spiritual terbaik telah dihentikan secara sepihak oleh serikat pedagang sore tadi.
Di atas takhta, Kaisar Yan Wudi berbaring miring sambil mencengkeram dadanya yang sakit. Di sampingnya berdiri Pangeran Mahkota Yan Hao, pemuda berwajah arogan dengan rahang keras yang baru saja kembali dari pengasingannya di sekte atas.
"Ayahanda, mengapa kau membiarkan para menteri pengecut ini meratap seperti anjing yang dipukuli?" tegur Yan Hao, menatap tajam para menteri yang berlutut di bawah anak tangga. "Hanya karena sekumpulan pedagang menolak menjual beras, bukan berarti kekaisaran runtuh! Jika mereka tidak mau menjual, kita gunakan kekuatan militer! Sita seluruh aset Kamar Dagang Katak Emas dan pancung pemimpin serikat pedagang besok pagi!"
Menteri Pendapatan Lu Zhen (yang diam-diam adalah bidak Qixuan) mengangkat wajahnya yang pucat pasi, pura-pura gemetar ketakutan. "Y-Yang Mulia Pangeran... kita tidak bisa melakukannya. Tiga puluh persen dari total prajurit pertahanan kota belum menerima gaji selama dua bulan terakhir. Sebagian besar dari mereka telah meminjam uang berbunga rendah dari Kamar Dagang Katak Emas untuk menghidupi keluarga mereka. Jika kita menyerang serikat dagang itu, prajurit kita sendiri yang akan memberontak!"
"Omong kosong!" Yan Hao menghunus pedangnya, menempelkan ujung bilah dingin itu ke leher Lu Zhen. "Keluarga kerajaan adalah hukum tertinggi! Siapa pun yang menentang, mati!"
"CUKUP!" Kaisar Wudi membentak dengan sisa tenaga terakhirnya. "Hao'er, simpan pedangmu. Kau tidak mengerti. Ini bukan pemberontakan rakyat jelata. Ini adalah jaring sutra yang ditenun dengan sangat rapi oleh Cang Qixuan. Dia menjerat leher kita perlahan."
"Si sampah foya-foya itu?!" Yan Hao mendengus jijik, menyarungkan kembali pedangnya. "Aku telah mengirim tiga pembunuh Mawar Merah terbaik sore tadi ke kediamannya untuk membawa ibunya. Begitu kita menahan ibunya, bajingan kecil itu akan bertekuk lutut dan menyerahkan kembali kekuatan militernya di utara."
Kaisar mengangguk pelan. Itu adalah harapan terakhir mereka. Menjadikan Nyonya Yue Xinyi sebagai sandera adalah langkah putus asa yang kotor, namun terpaksa dilakukan demi mempertahankan dinasti.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping beberapa saat kemudian.
*Gubrak!*
Pintu perunggu raksasa aula istana didorong terbuka dengan sangat kasar. Dua penjaga lapis baja terlempar masuk dan bergulingan di atas karpet merah, memuntahkan darah sebelum pingsan.
Semua mata di aula terbelalak. Siapa yang berani menyerang langsung jantung pertahanan istana?!
Dari balik pintu yang terbuka, melangkah masuk sesosok pemuda yang penampilannya sangat kontras dengan suasana kepanikan tersebut. Cang Qixuan mengenakan jubah sutra putih bersih yang disulam dengan benang naga emas—sebuah desain yang secara terbuka mengejek dan menyaingi jubah kaisar itu sendiri. Di tangan kanannya, ia menyeret sebuah karung goni berdarah yang meneteskan cairan merah segar ke atas lantai marmer istana.
Di belakang Qixuan, Mo Chen berjalan dengan tenang, pedang hitamnya sudah terhunus dan memancarkan niat membunuh tingkat Inti Emas.
"Pengawal! Bunuh pengkhianat itu!" teriak Han Mian histeris.
Puluhan pengawal istana elit bersenjatakan tombak perak melesat maju mengepung Qixuan. Mereka semua berada di tahap Pengumpulan Qi tingkat tinggi.
Qixuan tidak mempercepat langkahnya. Ia hanya memutar kepalanya sedikit, sepasang mata amber-emasnya memancarkan tekanan spiritual dari *Pusaran Bumi* dan *Air Kegelapan* secara bersamaan. Gelombang tekanan (Domain awal) yang sangat berat menyapu ruangan.
*Brak! Brak! Brak!*
Puluhan pengawal elit itu langsung jatuh berlutut, menekan dada mereka yang terasa seperti dihimpit batu gajah. Mereka bahkan tidak bisa mengangkat tombak mereka. Gravitasi di sekitar Qixuan dimanipulasi dengan kasar, memaksa siapa pun yang berniat menyerang untuk sujud tanpa syarat.
Kaisar Yan Wudi mencoba bangkit dari takhtanya, matanya terbelalak ngeri. "Tekanan ini... Kau bukan orang fana! Bagaimana mungkin meridian yang telah hancur bisa menyimpan kekuatan seperti ini?!"
"Rahasia dagang, Yang Mulia," Qixuan tersenyum dingin. Ia melangkah menaiki undakan pertama menuju singgasana, mengabaikan pedang para menteri yang gemetar di sekitarnya. Ia melempar karung goni berdarah itu tepat ke depan kaki Pangeran Mahkota Yan Hao.
*Bruk.*
Karung itu terbuka sedikit. Tiga buah kepala manusia yang terbungkus topeng mawar berduri menggelinding keluar, mata mereka melotot mati.
Wajah Yan Hao memucat pasi. Itu adalah tiga pembunuh bayaran tingkat Inti Emas andalannya!
"Kau mengirim tiga anjing ini untuk bermain-main dengan ibuku sore tadi, Pangeran Hao," suara Qixuan sangat tenang, namun keheningan yang mengikutinya jauh lebih menakutkan daripada raungan naga. "Aku sudah membunuh mereka dan mengubah tubuh mereka menjadi abu es. Namun kurasa, kepalanya harus kukembalikan padamu sebagai tanda terima kasih atas... 'undangan' makan malammu."
"K-Kau... Keparat! Kau berani membunuh utusanku?!" Yan Hao meraung, merasa harga dirinya diinjak-injak. Pemuda ini dulunya hanyalah sampah yang biasa ia jadikan lelucon di akademi! Dengan raungan marah, Yan Hao melepaskan qi Inti Emas tahap awalnya, melompat dari atas anak tangga dan menusukkan pedangnya langsung ke jantung Qixuan.
"Mati kau, Iblis Cang!"
Qixuan tidak mundur. Ia menghela napas malas. Saat pedang Yan Hao hanya berjarak satu inci dari dadanya, Qixuan menjentikkan jari tengah dan jempol tangan kanannya ke sisi bilah pedang sang pangeran.
*Ting!*
Sebuah jentikan kecil, namun diperkuat oleh ledakan *Api Inti Bumi* dari pusaran kelimanya.
Pedang pusaka kelas Surga milik Pangeran Mahkota seketika bergetar hebat. Hawa panas yang melampaui titik lebur baja menjalar melalui bilah pedang menuju tangan Yan Hao. Pangeran itu menjerit kesakitan, melepaskan genggamannya saat pedang kebanggaannya meleleh dan patah menjadi dua bagian tepat di udara.
Belum sempat Yan Hao mundur, Qixuan mengayunkan kaki kanannya dalam gerakan melingkar yang sangat cepat. Tendangannya mengenai telak dada sang pangeran.
*Brak!*
Yan Hao terlempar mundur layaknya boneka kain yang rusak, menabrak pilar emas di samping takhta kaisar dengan suara tulang rusuk patah yang renyah. Ia jatuh memuntahkan darah segar, tidak mampu berdiri lagi.
Hanya butuh satu jentikan dan satu tendangan bagi "Tuan Muda Sampah" untuk meremukkan kebanggaan masa depan Kekaisaran Yan.
Para menteri, termasuk Han Mian yang biasanya licik, kini jatuh terduduk, gemetar ketakutan, bahkan beberapa mengompol di celana sutra mereka. Dewa kematian tidak datang membawa sabit, ia datang membawa kemewahan mutlak dan kekuatan yang tidak masuk akal.
"Hao'er!" Kaisar Wudi menjerit, mencoba merangkak turun menuju putranya, namun racun dingin di jantungnya membuatnya kembali tersungkur. Ia menatap Qixuan dengan pandangan penuh keputusasaan dan kebencian. "Apa... apa yang sebenarnya kau inginkan, Iblis? Apakah memegang kekuasaan utara dan ekonomi ibukota belum cukup memuaskan keserakahanmu? Kau ingin merampas takhta ini?!"
Qixuan melangkah perlahan menaiki sisa anak tangga, menghentikan langkahnya tepat di depan takhta Kaisar Wudi. Ia memandang ke sekeliling aula istana yang berlapis emas, menatap ornamen naga, singgasana megah, dan lambang kebesaran yang selama ratusan tahun dijaga dengan darah para prajurit.
"Merampas takhta?" Qixuan tertawa pelan, lalu tawanya mengeras menjadi tawa menghina yang menggema di seluruh aula. "Yang Mulia... kau terlalu meninggikan nilai kursi kayumu ini."
Qixuan menendang sandaran lengan takhta kaisar. *Krak!* Salah satu hiasan naga emasnya patah.
"Kau mengira aku menginginkan takhtamu? Kursi panas yang dipertahankan dengan cara meracuni jenderalmu sendiri? Kursi busuk yang diduduki oleh penguasa yang tak mampu memberi makan pasukannya di musim dingin?" Qixuan mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap tajam langsung ke mata kaisar.
"Aku, Cang Qixuan, tidak sudi duduk di atas kursi kotor ini. Menjadi kaisar berarti terikat oleh rakyat yang cengeng, menteri yang munafik, dan tradisi yang membosankan. Itu bukanlah kehidupan yang cocok untuk seorang pemboros sepertiku," Qixuan mengibas kipasnya dengan santai.
Kaisar Wudi tertegun. Jika pemuda ini tidak menginginkan takhta, lalu untuk apa semua rencana kejam ini? Mengapa ia menghancurkan kekuatan istana, mengambil alih perbatasan, dan membangkrutkan menteri-menterinya?
"Lalu... apa maumu?!" rintih kaisar putus asa.
"Aku menginginkan apa yang selalu kuinginkan, Yang Mulia," Qixuan tersenyum lembut, senyum yang sangat menakutkan bagi mereka yang memahami maknanya. "Aku ingin hidup tenang. Aku ingin bermalas-malasan, menghamburkan emas dari pagi hingga malam, minum arak terbaik dari wilayah selatan, dan dikelilingi oleh para penari tercantik. Aku ingin menjadi sampah foya-foya yang kalian tertawakan selama lima tahun terakhir."
Qixuan menunjuk dada kaisar. "Masalahnya, untuk mewujudkan impianku itu secara damai, tidak boleh ada seekor anjing pun di dunia ini yang berani menggonggong atau mengganggu tidur siangku. Kalian, Istana Naga Langit, terlalu berisik. Kalian mencoba membunuh kakekku. Kalian mengincar ibuku. Kalian merusak suasana hatiku."
"Jadi, karena kau dan keluargamu tidak bisa dipercaya untuk membiarkanku hidup tenang," Qixuan melangkah mundur, merentangkan tangannya, "aku memutuskan untuk membeli dunia ini. Dan bagi mereka yang tidak bisa kubeli... aku akan menghancurkan tulang mereka hingga menjadi debu."
Semua yang hadir di ruangan itu akhirnya memahami esensi dari kegilaan Cang Qixuan. Dia bukanlah penakluk yang menginginkan kekuasaan untuk dihormati. Dia adalah perwujudan dari kapitalisme absolut yang tidak ingin diatur oleh otoritas mana pun. Dia akan menghancurkan kekaisaran bukan untuk memerintah, melainkan untuk memastikan tidak ada satu pun tangan yang cukup berani untuk menyentuh sehelai rambutnya.
"Sangat arogan..." bisik sebuah suara dingin dari pintu samping aula. "Kesombongan yang hanya bisa lahir dari ketidaktahuan akan luasnya langit."
Semua mata menoleh. Putri Yan Ling melangkah masuk, dikawal oleh dua sosok tetua berjubah abu-abu. Berbeda dengan kepanikan yang melanda aula, Yan Ling terlihat sangat tenang, bahkan matanya memancarkan sedikit kepuasan.
Kedua sosok tetua di belakangnya tidak memancarkan qi apa pun, melainkan mengambang beberapa inci dari permukaan lantai. Aura mereka ditekan habis-habisan, namun naluri monster Qixuan seketika menjerit bahaya.
"Jiwa Baru (Nascent Soul)..." guman Qixuan, matanya menyipit tajam.
Kedua tetua itu adalah leluhur tersembunyi tingkat *Nascent Soul* dari Sekte Langit Berkabut, sekutu rahasia terkuat Istana Naga Langit. Mereka biasanya sedang bermeditasi panjang dan tidak pernah mencampuri urusan fana, kecuali kekaisaran berada di ambang kehancuran total.
"Ayahanda, maafkan aku karena terlambat mengundang para Leluhur Suci," Yan Ling membungkuk pada ayahnya, lalu menatap tajam ke arah Qixuan. "Tuan Muda Cang, kau sangat pandai menipu dunia. Kekuatan tiga elemen di dalam tubuhmu sungguh menakjubkan untuk seorang pemuda. Namun, di hadapan ahli tingkat *Jiwa Baru*, kau tidak lebih dari seekor jangkrik yang mencoba menahan roda kereta kuda."
Salah satu tetua melangkah maju, membelai janggut putihnya yang menyapu lantai. "Pemuda yang menarik. Meridianmu mati, namun Dantianmu menelan elemen alam dengan brutal. Teknik sesat seperti ini harus dimusnahkan. Menyerahlah, bocah, dan aku akan mengekstrak jiwamu dengan rasa sakit yang minimal."
Mo Chen segera melesat berdiri di depan Qixuan, pedang hitamnya bergetar merespons ancaman tingkat tinggi tersebut.
Qixuan meletakkan tangan di pundak pengawalnya, menyuruhnya mundur. Melawan dua ahli tingkat Jiwa Baru dengan kondisinya yang berada di akhir Pembentukan Fondasi adalah tindakan bunuh diri secara teknis. Jarak kekuatan antara tahap Fondasi (bahkan Inti Emas) dengan Jiwa Baru adalah sebuah jurang pemisah antara manusia dan makhluk abadi. Mereka dapat membunuhnya hanya dengan proyeksi pikiran.
Namun, Qixuan tidak panik. Ia justru tertawa pelan. Tawa yang kembali meresahkan semua orang di ruangan tersebut.
"Putri Yan Ling, kau selalu membawa anjing pelacak saat kau merasa tidak mampu memenangkan pertarungan secara adil," sindir Qixuan. Ia menyilangkan lengannya di dada. "Ahli tingkat Jiwa Baru memang menakutkan. Jika mereka berniat membunuhku secara fisik, leherku mungkin akan putus dalam tiga detik. Sayangnya..."
Qixuan tiba-tiba mengeluarkan sebuah peluit tulang dari lengan bajunya, lalu meniupnya dengan kencang. Tidak ada suara yang keluar dari peluit itu, melainkan gelombang frekuensi spiritual yang melesat menembus langit malam Jinling.
"...sayangnya, aku tidak pernah bertarung mengandalkan otot di rumah lawan."
*DHUMMMM!*
Suara ledakan yang sangat menggelegar terdengar dari arah barat istana. Tanah bergetar hebat hingga beberapa lampu gantung kristal di aula terjatuh dan hancur.
Belum sempat kepanikan mereda, ledakan kedua, ketiga, hingga kesepuluh terjadi secara beruntun dari berbagai titik penjuru luar dinding Istana Naga Langit. Cahaya api merah menerangi langit ibukota yang gelap.
Seorang penjaga istana berlari masuk dengan tubuh berlumuran debu. "L-Lapor, Yang Mulia! G-Gudang Senjata Utama, Perbendaharaan Sayap Timur, dan Menara Lonceng Suci Istana... semuanya meledak! D-Di sekitar istana, ribuan kultivator liar dan pembunuh bayaran sedang mengepung tembok luar! Mereka dipimpin oleh pasukan berbaju zirah hitam dari Kamar Dagang Katak Emas!"
Wajah Yan Ling memucat seputih kertas. Kedua leluhur sekte itu saling pandang dengan kening berkerut.
"Kau... kau meledakkan perbendaharaan istana?!" raung Kaisar Wudi, jantungnya hampir meledak sungguhan mendengar kekayaannya hancur berkeping-keping.
"Bukan aku. Gu Lie si Alkemis Sinting yang melakukannya," Qixuan tersenyum miring. "Dia memasang ratusan bom 'Api Embun Racun' di seluruh pondasi istana. Dan para kultivator liar di luar sana? Aku menempelkan sayembara bernilai sepuluh ribu tael emas bagi setiap kepala jenderal pengawal istana. Mereka tidak peduli ini istana kekaisaran, mereka hanya peduli pada uang yang membayarnya."
Qixuan menatap lurus ke arah dua leluhur tingkat Jiwa Baru tersebut. "Para senior yang terhormat. Kalian mungkin bisa membunuhku. Tapi saat aku mati, jaring spiritual yang menahan sisa ribuan bom di bawah aula ini akan langsung terlepas. Istana ini, beserta seluruh keluarga kerajaan, menteri, dan bahkan kalian berdua, akan terkubur dalam lautan magma beracun. Selain itu, tanpa aku, penawar racun bagi seratus ribu Pasukan Naga Hitam di perbatasan utara tidak akan terkirim. Pasukan itu akan mati, dan Suku Barbar akan membantai Benua Timur."
Qixuan merentangkan tangannya seperti dewa yang mengendalikan kiamat.
"Jadi, Tuan Putri. Kalian ingin bermain adu pedang, atau kalian ingin berlutut dan membicarakan harga sewa istana ini kepadaku?"
Aula itu tenggelam dalam kesunyian mutlak. Ancaman kematian bersama itu mengikat tangan para ahli tingkat dewa sekalipun. Cang Qixuan tidak membawa pasukan, ia membawa bom bunuh diri berskala benua yang dijamin oleh sistem ekonomi dan racunnya.
Dalam semalam, Kekaisaran Yan tidak runtuh karena invasi militer, melainkan diikat, dicekik, dan diubah menjadi sandera di dalam sangkar emas yang dirajut oleh Tuan Muda Cang. Kekuasaan tertinggi kini secara tidak resmi berpindah tangan, bukan dengan penobatan, melainkan melalui pemerasan paling brutal dalam sejarah Benua Surgawi.