Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Nisa Masuk Dalam Perangkap
Andre berpura-pura berteriak kaget saat melihat ada Vania dan juga Arya di ruangan kamar ini.
"Kamu siapa?!" bentak Arya yang langsung pura-pura naik pitam saat melihat ada lelaki lain di ruang kamarnya.
"Tanyakan saja pada istrimu," jawab Andre santai yang kini langsung keluar dari dalam selimut dan memakai pakaiannya secepat yang dia bisa.
"Nis, dia siapa?!" bentak Arya dengan gestur tubuh laki-laki yang emosi dan juga kecewa.
"Ma, Mama nggak lagi selingkuh kan?" kali ini Vania ikut berbicara dengan nada bicara yang sedih.
"Nak, Mama tidak tahu dia siapa," jawab Nisa yang lebih memilih untuk menanggapi pertanyaan anak gadisnya. "Ini pasti jebakan," ucap Nisa yang langsung bisa menebak dengan tepat.
"Jebakan bagaimana, Nis?" ucap Arya emosi meledak-ledak. "Jelas-jelas kamu selingkuh dengan laki-laki muda. Malah playing victim kamu."
"Van, Mama nggak pernah selingkuh," yakin Nisa pada anak gadisnya.
Andre dengan santai mengambil ponsel yang tadi dipakai untuk merekam adegan panasnya dengan Nisa, lalu saat laki-laki itu akan keluar dari ruangan kamar ini, Arya menghadang jalannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arya sembari mencengkram kerah baju Andre.
Andre dengan mudah melepaskan cengkraman tangan Arya dari kaosnya.
"Urusanku dengan istrimu sudah selesai. Kalau kamu mau marah, jangan sama aku. Tapi salahkan dirimu sendiri yang tidak pernah memberikan kepuasan batin untuknya sehingga dia merayuku dan mengiming-imingiku uang yang banyak agar mau tidur dengannya," dusta Andre yang saat ini sedang berakting.
Vania shock mendengar penuturan Andre yang di mana image baik ibu kandungnya benar-benar sudah hancur berantakan.
"Aku kecewa sama kamu, Ma," ucap Vania berteriak.
Arya pun terdiam lemas seolah sangat terpukul dengan kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki muda di depannya itu.
Andre pun melenggang pergi dengan mudahnya dari rumah ini tanpa ada yang menghalangi laju langkahnya.
Kini giliran Nisa yang disidang oleh Arya dan keluarga kecilnya. Seberapa banyaknya pun Nisa memohon pada Vania agar percaya padanya, anak gadis itu tidak percaya sedikit pun.
Vania pun menelepon kakaknya Dimas agar segera pulang karena ada masalah genting di rumah mereka.
Dimas pun buru-buru pulang ke rumah karena tangisan adiknya, pemuda itu pikir ada sesuatu yang sangat mendesak dan juga sangat berbahaya karena adiknya sedang menangis tersedu.
Pemuda itu sampai berlarian meski sudah memasuki rumah mewah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
"Ada apa, Dek?" tanya Dimas yang langsung memeluk tubuh adiknya yang masih menangis sesenggukan.
Bukan hanya Vania yang menangis, tapi Nisa pun tidak kalah pilunya karena anak gadisnya tidak percaya pada penjelasan yang sudah dia berikan.
Bukan hanya itu saja, Alin, Nurul, dan juga penjaga serta babby sitter Gani pun sedang duduk berjejer di atas karpet ruang tengah ini yang sebentar lagi akan di sidang oleh Arya.
"Mama, Bang," lirih Vania yang tidak kuat melanjutkan ucapannya karena terlalu menyesakkan dada.
"Mama kenapa, Dek?" Dimas masih belum mengerti sebenarnya ada apa, namun di dalam relung hatinya, dia juga begitu was was takut ada hal buruk yang sedang terjadi.
"Mas," panggil Nisa yang kali ini mulai berusaha untuk menjelaskan hal yang sesungguhnya kepada anak sulungnya.
Wanita itu sangat berharap kalau Dimas akan percaya pada perkataannya.