Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang baru
Alma mengerjapkan matanya berulang kali, berharap apa yang baru saja didengarnya itu nyata, bukan sekedar kabar angin atau mimpi belaka.
"Al...kamu masih di sana, kan?" tanya Danish dari seberang, nada suaranya terdengar sedikit khawatir, karena tak mendengar suara Alma cukup lama.
"Ya, aku masih di sini," jawabnya pelan.
"Be-benarkah yang kamu bilang, Nish...?" lanjutnya bertanya, suaranya terdengar bergetar antara tak percaya bercampur haru. "Aku... benarkah aku sudah boleh mulai kerja hari ini? Kamu nggak bohong, kan?"
"Yap, betul sekali! Tinggal diumumkan saja. Dan nggak ada siapapun yang bisa mengubahnya keputusan itu!" jawab Danish meyakinkan.
"Papi sama Bang Rel sudah melihat sendiri betapa dirimu sangat kompeten dan hebat. Maka kamu lah orang yang paling pantas untuk jabatan itu. Jadi, mereka memutuskan nggak mau menundanya lagi. Sekarang, kamu cepat bersiap, ya! Aku tunggu kamu di kantor. Jangan sampai terlambat, oke!"
Panggilan telepon terputus, Alma langsung menggenggam ponselnya erat-erat di dada. Netranya terpejam sejenak seraya menarik napas panjang dengan perasaan lega.
"Yes...akhirnya!!! Terima kasih ya, Tuhan..." bisiknya lirih, seketika senyum lebar merekah di bibirnya. "Selamat datang, duniaku yang baru. Apa pun yang terjadi nanti, aku berjanji akan berdiri kokoh dan nggak akan mundur selangkah pun!"
Di belakangnya Nirina berdiri menatapnya dengan wajah heran sekaligus bingung, melihat tingkah majikannya itu. Namun, belum sempat ia bertanya, terdengar suara tegas Alma memberi perintah.
"Ayo, cepat bersiap, Rin! Kita harus berangkat sekarang. Hubungi Agam segera untuk menyiapkan mobil. Pagi ini aku sudah mulai resmi bekerja di kantor Al Gha Corp."
Tanpa menunggu jawaban, Alma langsung bergegas masuk ke kamarnya dengan langkah ringan dan penuh semangat.
"Baik, Mbak. Siap!" jawab Nirina lalu segera bersiap.
Tiga puluh menit, mereka sampai di gedung Al Gha Corp, mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Begitu turun, Alma menarik napas dalam‑dalam sekali lagi, lalu mengembuskannya perlahan untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya, kemudian melangkah masuk.
Sementara Agam dan Nirina tetap berjaga di luar, sambil menunggu perintah.
Begitu Alma melewati pintu kaca putar itu, beberapa karyawan yang ada di lobi seketika menoleh. Penampilan wanita itu yang terlihat elegan dan anggun begitu terpancar pagi itu, membuat mereka berhenti sejenak, menatap kagum dan bertanya‑tanya dalam hati siapa wanita berkarisma ini.
"Kira-kira siapa dia? Apa mungkin pegawai baru?" tanya seorang karyawan, netranya tak lepas menatap Alma.
"Bisa jadi," jawab temannya singkat.
"Atau jangan-jangan dia Direktur Operasional yang baru?" tanya temannya lagi sambil menutup mulutnya.
"Entahlah, kita lihat saja nanti," sahut yang lain.
Danish yang sudah menunggu di dekat pintu lift khusus, langsung tersenyum lebar begitu melihat kedatangan Alma. Dia berjalan mendekat seraya menatap sahabatnya itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan pandangan kagum yang tak dapat disembunyikannya lagi.
"Wah...! Selamat datang Ibu Direktur Operasional yang baru Mari, saya akan mengantar Anda ke ruangan CEO," kelakarnya sambil tersenyum jenaka.. "Cantik, anggun, dan berkelas... Penampilanmu ini sungguh sempurna sampai-sampai aku hampir nggak berani menyapa rasanya."
Alma tersenyum malu, wajahnya tampak merona, tetapi sorot matanya tetap memancarkan rasa percaya diri yang tinggi. "Jangan menggodaku deh, Nish. Aku kan, jadi gugup tahu, nggak," jawabnya pelan.
Danish menggeleng, tatapannya tak sedikitpun beralih dari wajah cantik Alma.
"Gugup itu wajar, kok. Karena ini dunia kerja yang baru bagimu. Tapi jangan jadikan itu kelemahan yang bisa membuat orang jahat masuk untuk menjatuhkanmu. Ingat itu, ya," ucapnya tulus dan serius.
"Ayo, Bang Rel sudah menunggu di ruangannya! Saatnya kamu buktikan ke semua orang, siapa Alma yang sebenarnya."
Danish pun berjalan mendampingi Alma masuk ke dalam lift khusus. Pintu tertutup, membawa mereka naik ke lantai atas tempat di mana ruangan Darrel dan Papi Baim berada.
"Haahhh... Ternyata benar dia Direktor Operasional yang baru. Cantik sekali."
"Sst... Atau jangan-jangan dia itu calon menantu pemilik perusahaan ini? Kalau nggak salah, pemuda tampan tadi putra keempat Pak Ibrahim."
"Nah, betul banget. Bisa jadi dugaanmu benar!"
Di sisi lain, Alma dan Danish sudah sampai di lantai paling atas gedung tersebut. Keduanya langsung disambut oleh Jason di depan pintu masuk ruangan CEO.
"Mari silakan masuk, Pak Darrel sudah menunggu dari tadi," ucap Jason, lalu membukakan pintu.
Pintu besar ruangan CEO terbuka lebar. Darrel duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah tenang, tetapi tampak sangat berwibawa. Begitu melihat mereka masuk, dia langsung menyambut Alma dengan ramah.
"Selamat datang, Alma. Silakan duduk," sapa Darrel sambil menunjuk kursi di hadapannya.
"Terima kasih, Pak Darrel," sahut Alma, lantas duduk dengan posisi tegak di hadapan Darrel. Sementara Danish memilih duduk di sofa bersama Jason.
Darrel tersenyum tipis, lalu mengambil sebuah map berstempel resmi dari atas mejanya. Dia meletakkannya perlahan di depan Alma.
"Saya tahu, kamu pasti sudah punya gambaran sendiri soal tugasmu ke depan. Dan saya yakin, keputusan yang saya dan Papi ambil ini persis seperti yang kamu inginkan," ucap Darrel memulai pembicaraan, nadanya serius dan tegas.
Pria itu menatap Alma tajam. "Kami akan menempatkanmu di kantor cabang kedua, untuk bertugas dan memimpin langsung di sana. Dan tugasmu adalah memberantas tikus-tikus pengerat yang selama ini merugikan perusahaan!"
Alma tersenyum tipis, sorot matanya berubah dingin. Namun, wajahnya terlihat sangat tenang, sama sekali tak ada keraguan. Ada kilatan kepuasan yang tersembunyi di balik tatapannya itu.
"Terima kasih, atas kepercayaan yang Pak Darrel berikan pada saya. Dan saya berjanji akan bekerja dengan keras untuk kemajuan perusahaan ini serta menghempaskan tikus-tikus itu pada tempat yang seharusnya sampai tuntas," jawab Alma dengan optimis tinggi.
Darrel mengangguk puas, senyumnya makin melebar. "Bagus. Saya tunggu aksimu dalam waktu tiga bulan ke depan. Ini surat keputusan dan wewenangmu. Mulai detik ini kamu adalah pemimpin di sana. Berangkat lah sekarang, dan berilah kejutan pada mereka," ucap Darrel menyodorkan map tebal itu.
Alma berdiri, menerima map tersebut dengan sigap dan keyakinan tinggi. "Terima kasih, Pak Darrel. Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan ini. Mohon dukungan Anda, agar saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Tentu, kami semua sangat mendukungmu," balas Darrel, lalu menoleh ke adiknya. "Kamu antar Alma ke sana. Pastikan kedatangannya disambut dengan layak."
"Siap, Bos!" jawab Danish, matanya berbinar penuh semangat.
Alma melangkah keluar ruangan dengan langkah ringan. Hatinya merasa tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan api dendam yang siap ia lampiaskan khusus untuk seseorang yang sudah merampas kebahagiaannya.
...
Jangan lupa terus dukung karya moms ya gaes, terima kasih🤗