"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Untung tadi Kaenan sempat menyimpan alamat kontrakan nya di Google map, sehingga saat pulang, dia tidak mendapatkan kesulitan.
Keesokan harinya, saat pagi hari, Kaenan sudah bersiap siap untuk pergi.
Tepat saat Mas Manto dan mas Diwan berangkat kerja, Kaenan juga berangkat ke kafe Clarizon.
Sebenarnya Kaenan sudah bilang kepada para karyawan kafe, bahwa dia di suruh bos PT CKE untuk kerja di kafe, namun karena Kaenan lupa nama bos PT CKE itu, sehingga Kaenan tidak diperkenankan untuk langsung bekerja.
Pukul setengah sembilan, sebuah mobil Pajero sport memasuki halaman kafe Clarizon, yang disambut oleh satpam dengan terburu buru.
Dari dalam mobil, keluar wanita cantik CEO PT CKE yang kemarin bicara dengan Kaenan itu.
Wanita cantik itu heran melihat Kaenan tidak bekerja, hanya berdiri di depan kafe seperti orang kebingungan.
"Hei Kaenan!, kenapa kau hanya berdiri bengong?, ini sudah jam berapa?, kenapa tidak langsung bekerja?" tanya wanita cantik itu.
"Maaf bu, manajer kafe Clarizon ini tidak memperkenankan saya masuk, mereka mengira saya hanya membual saja bu!" sahut Kaenan.
"Oh begitu ya?, maaf ya Kaenan , ibu lupa memberitahukan kamu kepada pak Hendardi, ayo ikuti ibu sekarang!" ujar wanita cantik itu sambil berjalan kedalam kafe.
Beberapa karyawan kafe terperanjat melihat Kaenan berjalan beriringan dengan ibu Mira, owner kafe Clarizon itu.
Pak Hendardi, seorang pria usia empat puluhan tahun itu buru buru menyambut kedatangan Bu Mira.
"Bu Mira, maafkan saya, saya tidak tahu jika anak ini rekomendasi dari ibu, maafkan saya bu" sesal pak Hendardi.
Bu Mira tersenyum, "tidak apa apa pak Hendar, saya yang minta maaf, lupa memberitahukan bapak tentang karyawan baru kafe kita ini, kalian semua!, kenalkan, ini Kaenan, karyawan baru kafe kita ini, ajari dia sebagai seorang pramusaji, bimbing dia baik baik, dia cerdas, siapa tahu dia bisa jadi seorang Barista terkenal nanti nya" ujar Bu Mira memperkenalkan Kaenan.
Semua karyawan kafe yang semula kurang respek dengan Kaenan, akhirnya menerima anak muda ini sebagai rekan baru mereka.
Hari hari kerja, Kaenan yang agak pendiam, namun baik hati dan tidak neko neko itu, disenangi semua orang.
Satu bulan berlalu tanpa terasa, hari ini tibalah waktu gajian bagi semua karyawan kafe Clarizon.
"Hei adik kecil, hari ini gajian, traktir makan dong" ujar Maya seorang pramusaji cantik lulusan SMA, berusia sembilan belas tahun, sudah kerja di kafe Clarizon lebih dari enam bulan.
"Boleh deh kak!, tapi kita kan kerja di kafe, kenapa kita tidak makan di sini saja kak?" tanya Kaenan serius.
Dua orang gadis pramusaji kafe itu, Maya dan Tari tertawa berbarengan melihat Kaenan serius menanggapi candaan Maya.
"Bakso saja gimana?" tanya Tari.
"Boleh, boleh deh!" sahut Kaenan.
"Seriusan, kapan?" Maya gadis tercantik di kafe itu menanggapi.
"Terserah kak Maya dan kak Tari, Kae traktir deh" sahut Kaenan.
Dedo seorang pramusaji juga usia dua puluhan tahun, berwajah tampan dengan kulit sawo matang, tidak ikut menanggapi, hanya diam menatap ketiga orang itu bercanda.
"Ikutan boleh?" tanya bang Basir, seorang Barista kafe itu ikut bicara.
"Boleh bang!" sahut Kaenan.
Sebenar nya karyawan kafe Clarizon itu ada sepuluh orang, enam pria dan empat wanita, masing masing delapan pramusaji, dan dua Barista. Namun karena mereka dibagi menjadi dua grup tanpa sip, karena pekerja malam adalah pilihan dengan gaji lima ratus ribu lebih tinggi dari gaji pekerja siang. Mereka bekerja siang dari jam delapan sampai jam empat, dan malam jam empat sampai jam sepuluh, maka jarang sekali saling bertemu, kecuali saat pergantian sip.
Tadi Kaenan sempat memeriksa E banking nya, ternyata ada transferan dana masuk sebesar tiga juta.
Bagi Kaenan yang dulu sudah biasa memegang uang puluhan juta setiap minggu nya, uang segitu biasa saja, namun kebahagiaan Kaenan, karena uang nya kali ini murni hasil keringat nya sendiri.
Tak ada seorangpun yang tahu jika Kaenan pernah menjadi seorang bos kecil pemilik sebuah CV, karena Kaenan tidak pernah menceritakan nya juga. bahkan tidak seorang pun tahu jika uang di rekening bank milik Kaenan lebih dari dua ratus lima puluh juta rupiah. Dia tetap sederhana, layaknya anak muda miskin seperti dahulu, tidak ada yang berubah dengan diri nya, tetap sederhana.
Setelah gajian, Kaenan membeli beberapa potong pakaian dan sepatu.
Siang itu, Kaenan baru saja masuk kedapur dan beristirahat di ruangan tempat mereka kumpul biasa nya, saat serombongan mobil mewah memasuki halaman kafe.
Karena sudah memboking ruang privasi terlebih dahulu, tamu tamu itu langsung disambut manajer kafe pak Hendardi, dan diarahkan ke ruangan yang telah disediakan.
Selesai mengarahkan para tamu ke ruangan yang telah di sediakan, pak Hendardi turun menemui para pramusaji.
"Kaenan!, Tari!, Maya!, Dedo!, kalian berempat bawa hidangan ke ruang privasi untuk tamu tamu kehormatan, awas hati hati jangan sampai melakukan kesalahan!" ujar pak Hendardi.
Kaenan berjalan mengikuti ketiga rekan kerjanya sambil mendorong rak dorong berisi segala macam hidangan menuju pintu lift.
Kaenan mendorong rak dorong memasuki ruang privasi bersama Maya, mengikuti di belakang Dedo dan Tari.
Ruang satu adalah ruang privasi yang di khususkan untuk Miting dan sejenis nya, dengan meja diatur melingkar membentuk huruf U.
Di ujung meja, seorang pria tua di dampingi oleh seorang wanita muda yang cantik di sebelah kanan, sementara di sebelah kiri nya ada seorang pemuda tampan.
Sementara di sisi kanan dan kiri, masing masing ada seorang pria paruh baya didampingi oleh seorang wanita muda yang cantik.
Saat Kaenan dan Maya membagi kan makanan dan minuman, pria tua itu mengangkat wajah nya menatap kearah para pramusaji dengan terpana beberapa saat, lalu kembali meneruskan kesibukan nya.
Sementara itu, Kaenan tidak terlalu berani menatap langsung ke arah para tamu, karena dia tahu jika para tamu ini adalah orang orang kaya yang sedang melakukan pertemuan.
Setelah selesai pun, Kaenan tidak berani memperhatikan, dengan setengah menunduk, dia berjalan keluar ruangan itu di ikuti dengan tatapan mata orang tua tadi.
Setelah acara Miting itu selesai, pria tua itu tidak buru buru pulang, dia menelpon manajer kafe pak Hendardi agar segera menghadap kepada nya.
"Iya Tuan!, ada apakah kiranya, apa ada pelayanan yang kurang memuaskan?" tanya tuan Hendardi was was.
"Tidak!, tidak! pak Hendar, aku melihat ada karyawan kafe yang baru, sejak kapan dia kerja di tempat ini?" tanya pria tua itu.
"Oooh, benar tuan, memang ada anak baru, rekomendasi dari bu Mira sendiri, sudah lebih dari sebulan yang lalu tuan, memang nya ada apa?" pak Hendardi balik bertanya.
"Tidak!, tidak!, tidak apa apa, anak mana?" ....
"Dia dari daerah tuan, nama nya Kaenan" jawab pak Hendardi.
"Suruh dia menemui ku di ruang direktur segera!" titah pria tua itu.
"Baik tuan, akan saya katakan" ujar pak Hendardi buru buru keluar ruangan itu. Sementara itu, pria tua itu juga keluar, namun tidak turun kebawah, tatapi masuk keruangan lain di sisi paling ujung.
pak Hendardi menghampiri Kaenan yang sedang bersiap siap mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
"Kaenan!, tinggalkan itu, biar di kerjakan Dido, kau temui tuan besar di ruang direktur, dia menunggu mu!" kata pak Hendardi.
"Ada apa ya pak?" tanya Kaenan bingung.
"Mana aku tahu, kau temui saja beliau, jangan sampai beliau menunggu terlalu lama, cepat!" ujar pak Hendardi.
Kaenan buru buru naik kelantai dua, keruangan direktur.
Baru saja Kaenan masuk, tatapan mata nya beradu dengan mata pria tua itu.
Kaenan tersentak kaget, melihat siapa yang sedeng duduk di sofa menatap kearah nya dengan tersenyum ramah.
"Kakek?, kakek ada di sini?" tanya Kaenan.
"Iya nak!, kafe ini milik Mirasih putri bungsu kakek, yang selama ini kau panggil bu Mira itu!" kata pria tua itu lagi sambil mempersilahkan Kaenan duduk.
Kaenan mengangguk anggukan kepala nya, dia baru tahu jika bu Mira itu putri dari kakek Sasongko yang dia tolong dahulu waktu di kota asal nya.
"Berarti non Violetia itu cucu kakek dong?" tanya Kaenan.
Kakek Sasongko tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Kaenan itu.
"Ha, ha, ha, ha!, kau sudah mengenal nya ya?" tanya kakek Sasongko.
"Iya kek!" ....
"Bagai mana menurut mu?" ....
"Mengerikan kek!, Kae takut" sahut Kaenan.
Kakek Sasongko kembali tertawa lepas, hingga wajah putih nya menjadi kemerahan.
"Mengerikan?, maksud mu?" ....
"Pemarah kek" ....
"He, he, he, he, memang seperti itu adanya dia, pemarah, tapi hati nya baik kok, emang nya kenapa dia sampai marah sama kamu?" pancing kakek Sasongko.
Sambil nyengir kuda, Kaenan menceriakan kenapa sampai gadis itu jadi benci kepada nya.
Mendengar itu, tawa kakek Sasongko kembali pecah, hingga air mata nya keluar.
"He, he, he,he!, sudah sudah, jangan dimasukan kehati, nanti juga dia baik kok, oh iya nak, sekarang kau tinggal dimana?" tanya kakek Sasongko.
"Di kontrakan engkong Ali di gang Binjai kek" sahut Kaenan.
"Apa rencana mu nanti nya?" ....
"Kalau bisa sih, tahun ini kuliah kek!" ....
"Jurusan apa?" ....
"Ekonomi bisnis!" ....
"Hmm, bagus itu, kakek mendukung penuh, kejar cita cita mu sampai tercapai, maaf ya nak ya atas kelakuan cucu saya tempo hari, saya sangat menyesal sekali, sekali lagi maaf kan cucu saya ya nak ya" suara kakek Sasongko bergetar serak.
"He, he, he, he, saya sudah tidak memikirkan itu lagi kek, sudah lama saya maafkan kok" sahut Kaenan.
Kakek Sasongko menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan, seakan beban batin nya sedikit berkurang.
"Terimakasih banyak atas pertolongan nak Kaenan dahulu, andai saja tidak ada nak Kaenan, entahlah bagai mana nasib kakek, yang pasti kakek tidak mungkin sehat seperti sekarang ini, terimakasih ya nak ya, kakek berhutang Budi dan nyawa pada nak Kaenan" ujar kakek Sasongko tulus.
"Sudahlah kek, itu bukan jasa tapi memang kewajiban saya, jangankan kakek, seandainya pengemis saja yang mengalami hal itu, pasti saya akan melakukan hal yang sama kok, tidak ada hutang Budi segala kek, itu sudah kehendak dan ketentuan dari Allah kek" ujar Kaenan mengelak.
...****************...