Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 — Mimpi yang Sama
Suasana kelas tetap ramai setelah kabar kematian Pak Damar menyebar.
Beberapa murid terlihat kaget.
Sebagian lagi sibuk bergosip pelan.
Namun Naresha sama sekali tidak bisa fokus mendengar suara di sekitarnya.
Pikirannya kacau.
Karena kematian Pak Damar terasa terlalu mendadak.
Terlalu aneh.
“Sha.”
Suara Arven membuat Naresha menoleh pelan.
Cowok itu menatapnya serius.
“Nanti pulang jangan langsung balik rumah.”
Deg.
Naresha langsung mengerti maksudnya.
“Kita mau ke sana?”
Arven mengangguk kecil.
“Gue mau lihat sesuatu.”
Naresha sebenarnya tidak mau kembali terlibat hal menyeramkan lagi.
Ia sudah cukup trauma.
Namun rasa tidak nyaman di dadanya jauh lebih besar.
“Okay.”
•
Sore harinya mereka berdiri di depan rumah Pak Damar.
Rumah tua bercat krem itu dipenuhi garis polisi.
Beberapa tetangga masih berkumpul sambil berbisik-bisik.
Langit mendung membuat suasana terasa semakin suram.
Naresha memeluk tasnya erat.
“Aku ga suka vibe tempat ini…”
Arven memperhatikan rumah itu lama.
Tatapannya tajam.
“Ada yang aneh.”
“Hah?”
Cowok itu mengernyit pelan.
“Harusnya gue ga bisa ngerasa apa-apa lagi.”
Deg.
Naresha langsung menatap Arven.
“Maksud lo…”
“Ada sesuatu di dalam.”
Hawa dingin langsung menjalar di tubuh Naresha.
“Jangan bilang…”
Namun sebelum ia selesai bicara—
Seorang ibu tetangga tiba-tiba mendekati mereka.
“Kalian murid sekolahnya ya?”
Naresha langsung mengangguk kecil.
“Iya bu.”
Ibu itu terlihat ragu beberapa detik sebelum berkata pelan,
“Kalian dekat sama Pak Damar?”
“Engga juga…” jawab Arven singkat.
Ibu itu menelan ludah.
“Tadi malam sebelum meninggal… beliau sempat teriak-teriak sendiri.”
Deg.
Naresha langsung merinding.
“Teriak apa?”
Wajah ibu itu berubah pucat.
“Katanya ada anak perempuan di rumahnya.”
Sunyi.
Naresha langsung saling pandang dengan Arven.
“A-anak perempuan?”
Ibu itu mengangguk cepat.
“Padahal rumahnya kosong.”
Tatapan Arven langsung berubah serius.
“Terus?”
“Katanya anak itu terus berdiri di depan pintu kamarnya…”
Suara ibu itu mengecil.
“Sambil bilang… ‘sekarang giliran bapak.’”
Deg.
Bulu kuduk Naresha langsung berdiri.
Ibu itu buru-buru pamit setelah itu.
Mungkin takut mengingat ceritanya sendiri.
Sementara Naresha berdiri diam dengan napas tidak nyaman.
“Ven…”
Arven masih menatap rumah Pak Damar tanpa berkedip.
“Mungkin ada yang belum selesai.”
Kalimat itu langsung membuat kepala Naresha pusing.
“Bukannya Penjaga udah hilang?”
“Iya.”
“Terus kenapa masih ada hal aneh begini?!”
Arven mengusap wajahnya pelan.
“Gue juga ga ngerti.”
Mendung di langit semakin gelap.
Angin dingin berembus pelan melewati jalan sepi itu.
Dan tiba-tiba—
Krekk…
Naresha langsung menegang.
Suara itu berasal dari jendela lantai dua rumah Pak Damar.
Pelan.
Seperti seseorang sedang membuka tirai.
“Ven…”
Arven langsung menoleh ke atas.
Dan tubuh cowok itu seketika menegang.
Deg.
“Ada apa?!”
Arven tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih lurus ke jendela lantai dua.
Wajahnya perlahan berubah pucat.
“Sha…”
Suaranya pelan.
“Jangan lihat ke atas.”
Deg.
Terlambat.
Karena Naresha sudah lebih dulu melihat.
Dan jantungnya langsung terasa berhenti sesaat.
Ada seseorang berdiri di balik jendela lantai dua.
Perempuan.
Rambut panjang hitam.
Seragam sekolah putih kusam.
Diam.
Menatap lurus ke arah mereka.
Namun…
Itu bukan Evelyn.
Karena wajah perempuan itu penuh jahitan hitam kasar.
Naresha refleks mundur satu langkah.
Napasnya memburu.
“Ven… itu siapa…”
Arven menggertakkan rahangnya pelan.
“Makhluk di ruang ritual dulu.”
Deg.
Tubuh Naresha langsung dingin.
Makhluk tanpa mata yang mereka lihat sebelum Penjaga bangkit.
“Tapi bukannya dia udah hilang?!”
“Harusnya iya…”
Perempuan di balik jendela itu perlahan memiringkan kepalanya.
Gerakannya patah-patah.
Tidak normal.
Lalu perlahan…
Ia tersenyum.
Jahitannya tertarik sampai hampir robek.
Naresha langsung merinding hebat.
“Aku benci ini…”
Dan tiba-tiba—
Brak!
Sosok itu menghantam kaca jendela dari dalam.
Naresha langsung menjerit kecil.
Namun anehnya…
Kacanya tidak pecah.
Perempuan itu hanya terus menempel di balik kaca sambil tersenyum lebar.
Arven langsung menarik tangan Naresha.
“Kita pergi.”
“Hah? Cepet banget?!”
“Karena gue ga suka feeling gue.”
Mereka buru-buru berjalan menjauh dari rumah itu.
Namun saat Naresha menoleh sekali lagi ke lantai dua…
Sosok perempuan tadi sudah tidak ada.
Kosong.
Tirai putih bergerak pelan tertiup angin.
Dan entah kenapa…
Itu justru terasa jauh lebih menyeramkan.
•
Malam harinya Naresha sulit tidur.
Ia terus teringat wajah perempuan berjahit itu.
Ditambah lagi hujan turun deras sejak sore.
Suara petir membuat suasana kamar terasa semakin tidak nyaman.
Jam menunjukkan pukul 1 malam saat akhirnya Naresha tertidur.
Namun tidak lama kemudian…
Ia bermimpi.
Lorong sekolah.
Gelap.
Sepi.
Lampu berkedip redup seperti dulu.
Naresha berdiri sendirian di depan lorong lantai tiga.
Dan dari ujung lorong…
Seseorang berjalan perlahan mendekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Perempuan berjahit itu.
Kini membawa sesuatu di tangannya.
Sebuah buku hitam hangus.
Deg.
Naresha langsung mundur.
Namun tubuhnya tidak bisa bergerak jauh.
Perempuan itu berhenti tepat di depannya.
Lalu perlahan mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kali Naresha mendengar suaranya.
“Belum selesai…” bisiknya pelan.