Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik yang Terlupa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Aluna?”
Gadis itu tersentak kaget begitu suara pemuda Atmadja terdengar jelas di sampingnya.
“Bintang?” panggil Aluna memprotes aksinya secara halus.
“Sibuk amat, sih, sampai gue yang nungguin di depan gerbang lo anggurin gitu aja?”
“Lagi chat cowok lain, ya?” tuduhnya. Jari telunjuk itu sudah mengarah pada Aluna yang masih menggenggam ponsel.
“Nggak, kok. Aku cuma pamit ke ibu,” bela diri Aluna.
Bintang memicingkan mata sehingga alisnya bertemu. Bibirnya mengerucut, jelas sedang menilai apakah Aluna berkata jujur atau sedang menyembunyikan rahasia sekelas chat ilegal.
“Ih … apaan, sih? Pakai pasang muka kayak gitu segala,” gelak Aluna diiringi tangan yang menepuk lengan atas Bintang pelan.
“Patut dicurigai,” balas Bintang masih pada mode detektifnya.
Aluna menggeleng kecil tanpa menghapus senyumnya. Namun, satu titik di wajah Bintang membuat kurva manis bergigi kelinci itu perlahan sirna.
“Bin?”
Nada yang berbeda membuat Bintang menyadari sesuatu.
Selagi menyentuh ujung bibir yang kebiruan itu, Aluna bertanya, “Ini … kenapa?”
Iris kecoklatan Aluna menatap bola mata Bintang secara bergantian. Wajah kekhawatirannya membuat pemuda yang ditanya menahan napas sesaat.
“Oh … ini ….” Bintang menjeda selagi tangannya menyentuh di bagian yang Aluna pegang. “Gue terjatuh,” bohongnya
“Bintang?” panggil Aluna secara halus, tetapi menuntut kejujuran.
Sorot mata memelas yang Aluna berikan pada Bintang membuat hati pemuda itu serasa diremas. Sebagian ungkapan jahat baik dari Aksa maupun Nona kembali berbisik lirih diingatan.
Pundak Bintang turun. Kesedihan hiasi wajahnya. Mau tidak mau, ia harus berkata jujur.
“Ada orang yang salah paham lagi,” jawabnya lesu; masih berusaha menutupi sebuah kebenaran.
“Kenapa?” lirih Aluna.
“Gue juga nggak tahu,” balas Bintang yang membuat Aluna terdiam.
Bintang langsung berdengung manakala Aluna melempar pandangan ke arah yang lain. Terlihat jelas, jawaban Bintang barusan langsung menyibukkan pikirannya.
“Ngomong-ngomong, gue minta maaf, ya, soal kemarin. Gue sampai nggak kepikiran buat temuin dan kabarin lo,” ujar Bintang mengalihkan topik.
“He’em.” Aluna mengangguk. “Nggak apa-apa. Biru kemarin nemenin aku, kok. Eh? Bukan nemenin, sih, soalnya dia juga beli barang.”
“Apa dia nyusahin lo?”
“Ehm …,” Aluna berpikir sejenak. “Nggak, sih. Cuma dia agak bebal waktu aku mau pulang. Mati-matian dia mau nganterin aku,” jujurnya kemudian.
“Ish! Anak beruang itu memang kepala batu,” runtuk Bintang.
“Meski kayak gitu … dia adik sepupumu, ‘kan?”
“Dan sayangnya itu benar,” sambar Bintang meratapi nasib.
“Hahaha.”
Tawa keduanya pun pecah—mengisi satu sudut di dekat gerbang sekolah. Atmosfer bahagia mereka berhasil menjadi magnet bagi setiap warga sekolah yang melintas di sana. Tidak banyak dari mereka yang menghiraukan. Sebagian ada yang ikut tersipu, ada juga yang iri dengan Aluna yang berhasil memiliki momen indah itu, dan tidak sedikit yang merasa terbakar.
Bisik-bisik yang terdengar dari mulut ke mulut itu sudah tidak mampu menyadarkan keduanya yang terlupa akan dunia. Bahkan, ketika seseorang berdiri tegak dengan pandangan dingin tidak suka, mereka pun tidak dapat menyadari walau jarak tidak sejauh tiga mobil terparkir.
“Beauty and The Beast in real life,” gumamnya. Satu sudut bibirnya terangkat sinis bersamaan lengan yang ia lipat depan dada. “Hh! Lucu!” lanjutnya.
“Kak Aksa, ayo!”
Reno Baskara hadir dari arah belakang Aksa dengan game yang tengah berlangsung di ponsel. Dan Aksa …, sosok pengamat dari dua remaja yang terlihat seperti pasangan itu kemudian beranjak dengan senyum miris akan romansa yang hanya hidup di mata orang lain dan putri tunggal Wicaksana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...