Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Sang Kencana
Hari-hari setelah perjamuan itu terasa semakin menyesakkan bagi Aurelia. Sebenarnya, ada sesuatu yang berbeda dari Pangeran Theo. Ayahnya, Raja Alaric, rupanya telah memberikan peringatan keras kepada Theo beberapa waktu lalu.
Raja Alaric menyadari bahwa kesombongan putranya bisa meruntuhkan martabat kerajaan Valeront di hadapan Raja Valerius dan Putri Aurelia.
Beliau menanamkan pesan bahwa jika Theo ingin menjadi pendamping yang layak bagi putri secerdas Aurelia, ia harus mengubah tabiat buruknya. Theo pun mulai belajar mengendalikan diri dan bersikap lebih menghargai, meskipun rencana pernikahan mereka baru akan diresmikan saat mereka menginjak usia dua puluh lima tahun.
Namun, bagi Aurelia, perubahan sikap Theo tetap tidak bisa menghapus fakta bahwa masa depannya telah ditentukan tanpa persetujuannya. Kesabarannya habis. Dengan langkah tegap, ia berjalan menuju ruang kerja Raja Valerius. Setelah diizinkan masuk, ia berdiri dengan hormat di depan meja besar ayahnya.
Raja Valerius mendongak, matanya menyipit melihat putrinya datang tanpa jadwal resmi. "Aurelia, ada apa kau kemari?"
Aurelia menarik napas dalam, menjaga suaranya agar tetap stabil. "Mohon maaf jika saya mengganggu waktu Ayahanda. Namun, saya kemari untuk menyampaikan bahwa saya merasa keberatan jika perjodohan dengan Pangeran Theo ini dilanjutkan."
Raja Valerius meletakkan penanya perlahan, suaranya mendingin. "Jaga bicaramu, Aurelia. Pangeran Theo sudah menunjukkan perubahan sikap yang besar atas bimbingan ayahnya. Ini adalah kesepakatan dua kerajaan demi keamanan rakyatmu. Jangan biarkan emosi pribadimu merusak segalanya."
"Saya sudah selama ini banyak menuruti Ayahanda," ucap Aurelia, suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan. "Saya belajar hukum, mengurus administrasi, dan memakai gaun-gaun sesak ini hanya untuk menjaga martabat Ayahanda di depan para raja. Saya sudah muak dengan lingkungan di istana ini! Ayahanda bahkan tidak pernah memiliki waktu untuk sekadar minum teh bersama saya atau melihat saya latihan pedang. Ayahanda hanya melihat saya sebagai alat politik, bukan sebagai putri Ayahanda sendiri."
Raja Valerius berdiri, menumpukan kedua tangannya di meja sambil menatap Aurelia dengan tajam. "Tugasmu adalah patuh, Aurelia! Jangan berani membantah keputusan ini!"
Aurelia tidak mundur selangkah pun. "Jika Ayahanda tetap tidak berkenan mengikuti keinginan saya untuk membatalkannya, maka saya akan keluar dari istana ini. Saya lebih baik kehilangan gelar daripada kehilangan diri saya sendiri."
Wajah Raja Valerius mengeras. "Awas saja kalau kau berani melakukan itu! Saya tidak akan segan-segan untuk mencabut seluruh hak istimewamu, menghapus namamu dari garis keturunan, dan memastikan tidak ada satu pun orang di kerajaan ini yang berani memberimu tempat berteduh. Kau akan menjadi orang asing di tanahmu sendiri!"
Aurelia membungkuk hormat untuk terakhir kalinya, meski air mata sudah membasahi pipinya. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan berlari meninggalkan ruangan itu.
---
Aurelia mengurung diri di kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu yang terburu-buru. Elara masuk dengan wajah penuh kecemasan.
"Aurelia!" Elara menghampirinya setelah menutup pintu. "Benarkah kabar yang kudengar? Kamu benar-benar berani menentang Raja secara langsung?"
Aurelia menoleh, wajahnya sembap. "Iya, Kak Elara. Aku sudah tidak tahan lagi di sini. Aku ingin menentang haknya atas hidupku. Selama ini aku merasa selalu menuruti perintahnya, tapi dia tidak pernah memikirkan keinginanku sedikit pun, bahkan untuk hal sekecil apa pun seperti menemaniku minum teh atau melihatku berlatih."
Elara duduk di samping Aurelia dan memegang bahunya. "Tapi kamu tidak sepantasnya membicarakan keinginan untuk pergi dari sini, Aurelia. Kau nanti mau jadi apa di luar sana? Kamu tidak tahu betapa kerasnya dunia tanpa perlindungan nama besar ayahmu."
"Aku tidak peduli, Kak. Setidaknya di luar sana aku bukan sekadar bidak catur," jawab Aurelia keras kepala.
"Pikirkan lagi," desak Elara. "Ayahmu tidak pernah main-main dengan ancamannya. Beliau akan mengejarmu sebagai seorang pembangkang."
Aurelia terdiam, meremas kain gaunnya erat-erat. Rasa kecewanya pada sang ayah kini telah berubah menjadi api pemberontakan yang sulit untuk dipadamkan kembali.