NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANTARA SEBLAK DAN TANDA KEHIDUPAN

Pagi itu, matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, menyinari embun yang masih menempel di daun-daun jati sekitar rumah kecil Gus Zikri. Namun, ketenangan subuh itu mendadak pecah oleh suara dari arah kamar mandi.

Huekk... huekk...

Mentari terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membanjiri dahinya. Rasanya seluruh isi perutnya ingin keluar, padahal semalam ia hanya makan sedikit.

Gus Zikri yang baru saja selesai memakai pecinya setelah salat Subuh di masjid, langsung berlari masuk. Wajahnya yang biasanya setenang telaga di pagi hari, kini menegang penuh kecemasan.

"Mentari! Kamu kenapa?" Zikri berjongkok, memijat tengkuk istrinya dengan sangat lembut. Tangannya yang hangat terasa kontras dengan kulit Mentari yang dingin.

"Nggak tahu, Mas... perut aku mual banget. Kepalaku juga rasanya muter," rintih Mentari sambil menyandarkan kepalanya di dada Zikri.

Zikri membantu Mentari berdiri, membimbingnya kembali ke ranjang dengan sangat hati-hati. "Tunggu sebentar, saya ambilkan air hangat."

Saat Zikri sedang sibuk di dapur, Bondan muncul di depan pintu dengan membawa bungkusan plastik. Di belakangnya, Fahma mengekor sambil mengucek mata, masih mengantuk.

"Assalamualaikum! Pasutri paling fenomenal! Gue bawain seblak level dewa nih buat sarapan eh, Gus? Kok mukanya kayak lagi ngadepin hari kiamat?" tanya Bondan heran melihat Zikri yang panik mengaduk teh.

Zikri menoleh dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan. "Bondan, apa semalam kamu kasih Mentari makanan aneh? Mentari muntah-muntah hebat sejak tadi."

Bondan tersentak, hampir menjatuhkan seblaknya. "Hah? Semalam cuma makan martabak bareng kita, Gus! Sumpah, martabaknya mateng, nggak pake pengawet, apalagi formalin!"

Fahma mengerjapkan mata, tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Apa mungkin gara-gara seblak yang aku kasih kemarin sore? Tapi kan aku cuma kasih satu suap... tapi cabainya emang sepuluh sih."

"SEPULUH?!" Zikri hampir menjatuhkan sendoknya. "Fahma, perut Mentari itu tidak sekuat perut kalian. Dia sedang keracunan masakan kalian!"

Zikri langsung masuk kembali ke kamar, mengabaikan Bondan yang kini merasa sangat berdosa. "Tari, minum ini dulu. Mas panggilkan Dokter pesantren sekarang."

Bondan, Fahma, dan Hafizah (yang baru datang setelah mendengar keributan) menunggu di ruang tamu dengan cemas. Bondan sudah mondar-mandir sambil komat-kamit membaca doa agar tidak dituduh sebagai tersangka pembunuhan lewat seblak.

Tak lama kemudian, Bu Dokter keluar dari kamar bersama Gus Zikri. Anehnya, wajah Zikri tidak lagi tegang. Ia tampak mematung, matanya berkaca-kaca, dan tangannya sedikit gemetar.

"Gimana Dok? Mentari harus dicuci lambung nggak?" tanya Bondan histeris.

Bu Dokter tersenyum lebar sambil merapikan stetoskopnya. "Bukan cuci lambung, Nak Bondan. Tapi sepertinya kalian harus mulai menyiapkan kado untuk anggota baru di pesantren ini."

Hening sejenak.

Fahma memiringkan kepalanya. "Anggota baru? Gus Zikri mau angkat santri baru ya di rumah ini?"

Hafizah langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar. "Dok... maksudnya... Mentari hamil?"

Bu Dokter mengangguk pasti. "Selamat, Gus Zikri. Usia kandungannya sudah masuk minggu kelima. Mual-mual itu hal wajar, namanya morning sickness."

"ALHAMDULILLAH! GUE JADI TANTE!" teriak Bondan saking girangnya, melupakan rasa takutnya tadi. Ia langsung memeluk Fahma yang masih bingung.

"Tunggu, Bondan. Berarti bukan karena seblak aku?" tanya Fahma polos.

"Bukan, Fahma! Ini karena 'berkah' malam jumat yang kemarin!" bisik Bondan sambil tertawa nakal.

Sementara itu, di dalam kamar, Zikri duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan Mentari dan menciumnya berkali-kali. Ia tidak bisa berkata-kata. Pria yang biasanya fasih bicara kitab itu kini hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan air mata bahagianya.

"Mas... maaf ya tadi aku bikin panik," bisik Mentari lemah tapi bahagia.

"Tidak, sayang... Mas yang harusnya minta maaf karena tidak menyadari ini lebih awal," Zikri mengecup kening Mentari dengan sangat lama. "Terima kasih... terima kasih sudah menjaga amanah ini."

Kabar kehamilan Mentari menyebar lebih cepat daripada berita diskon di Jakarta. Namun, hal itu juga menjadi awal dari penderitaan manis bagi Mentari. Gus Zikri berubah menjadi pria yang sangat overprotective.

"Mas, aku mau ambil minum sendiri!" protes Mentari saat Zikri melarangnya turun dari ranjang.

"Jangan. Lantainya licin, biar Mas saja. Kamu duduk manis," perintah Zikri dengan nada lembut tapi mutlak.

"Tapi Mas, aku cuma hamil, bukan lumpuh!"

"Sama saja bagi Mas. Kamu membawa titipan Tuhan yang sangat berharga," jawab Zikri sambil menyodorkan segelas susu ibu hamil yang aromanya tidak disukai Mentari.

Bondan yang mengintip dari jendela kamar menyahut, "Waduuuh, Gus! Protektif banget! Nanti kalau Mentari mau ke kamar mandi, Gus mau gendong juga?"

Zikri menoleh ke arah jendela. "Kalau perlu, iya. Kenapa?"

Bondan langsung ciut. "Eh... nggak apa-apa Gus. Lanjutkan! Kami para rakyat jelata mau lanjut makan seblak yang tadi gagal dikasih ke bumil."

Hafizah masuk membawa buah-buahan. "Tari, bersabarlah. Ini baru awal. Gus Zikri pasti akan makin 'parah' proteksinya nanti kalau perutmu sudah besar."

Mentari hanya bisa tersenyum pasrah sambil bersandar di pelukan Zikri. Di tengah rasa mual yang masih sesekali datang, ia merasa begitu dicintai. Dunianya yang dulu penuh dengan kebisingan kini terasa begitu indah dalam balutan ketenangan dan kasih sayang seorang imam yang ia cintai.

Malam itu, di bawah cahaya lampu yang temaram, Zikri membacakan surat-surat pendek di depan perut Mentari, memulai perjalanan baru mereka sebagai calon orang tua di Pesantren Al-Hidayah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!