Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Jangan! Tunggu... Tunggu sampai kau menyelesaikan turnamen, ya? Setelah itu, apa pun yang ingin kau lakukan, aku akan... akan..." Larasati membenamkan wajahnya di dada Arka.
Arka tertawa kecil, memeluk tubuh empuk Larasati dengan hangat tanpa bergerak lebih jauh. "Ingat kata-katamu, Kak Laras. Jangan ditarik kembali."
Di sudut halaman, Satya yang sejak tadi bermeditasi tanpa disadari oleh keduanya, menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Hah, masa muda yang sangat membuat iri..."
Pukul 9 pagi keesokan harinya, Gelanggang Agung Perguruan Pedang Surgawi.
Kursi di sekitar panggung utama berdiameter tiga ratus meter itu sudah dipenuhi ribuan pasang mata. Plakat-plakat nama sekte berdiri di depan setiap kursi. Di saat rombongan lain membawa tujuh hingga sepuluh orang, barisan Perguruan Pusat Surya Kencana hanya diisi empat orang yang tampak kesepian.
Cring—!
Suara pekikan pedang membelah langit. Seratus pedang tiba-tiba muncul di angkasa, menari indah sebelum berbaris rapi di atas kursi utama. Seorang tetua berjanggut putih melangkah keluar.
"Orang tua ini adalah Penatua Wayan Pangestu. Mewakili perguruan, saya berterima kasih atas kehadiran kalian di Turnamen Peringkat Langit tahun ini..."
"Wayan Pangestu punya julukan 'Pedang Tanpa Bekas'," bisik Satya kepada Arka dan Banu. "Dia sudah di tingkat kedelapan Alam Tiran. Bahkan Ketua Perguruan, Luhur Pangestu, sangat menghormatinya."
Banu ternganga. "Lebih kuat dari Bapak?" Satya hanya tertawa kecil, mengakui bahwa di atas langit masih ada langit.
Tiba-tiba, suara Wayan meninggi. "Saksi turnamen tahun ini berasal dari Tanah Suci Wilayah Pedang Langit Perkasa—Penatua Kresna Pangestu!"
Seluruh arena hening. Nama "Tanah Suci" adalah legenda yang kekuatannya seribu kali lipat dari perguruan mana pun di kerajaan ini. Kresna duduk dengan wajah tanpa ekspresi, namun kehadirannya memberikan tekanan yang membuat para pemimpin sekte sekalipun gemetar.
"Sekarang, hadiah turnamen," lanjut . "Peringkat ketiga individu: satu butir Pil Jantung Naga. Peringkat kedua: tiga tetes Cairan Pemurni Sumsum."
Arena gempar. Itu adalah obat suci setingkat dewa yang mampu meningkatkan kecepatan kultivasi berkali-kali lipat secara permanen.
"...Dan peringkat pertama individu: satu pusaka tingkat Langit, Baju Zirah Sisik Naga!"
"Luar biasa!" seru Jatmika, pemimpin Keluarga Wijaya. "Guntur, kau harus habis-habisan! Zirah itu mampu memantulkan energi lawan. Dengan itu, kau punya banyak nyawa tambahan!"
Selain itu, sepuluh besar akan mendapat hak menjelajahi Ranah Rahasia Cekungan Surga dan menyaksikan Ritual Penyegelan Iblis.
"Ritual apa itu, Pak?" tanya Arka pelan.
"Rumornya ada sosok Iblis yang disegel di bawah panggung ini sejak seratus tahun lalu," jawab Satya misterius.
"Turnamen resmi dimulai!" teriak Wayan.
Proses pemeriksaan usia dan kekuatan dimulai. Murid-murid jenius dari berbagai sekte naik ke panggung. Mayoritas berada di Alam Bumi. Hingga akhirnya, nama-nama besar dipanggil.
"Dari Keluarga Wijaya: Guntur, Ziko, Nero!"
Guntur dan Ziko tampil memukau; usia 20 tahun namun sudah di tingkat sembilan Alam Bumi.
"Dari Perguruan Awan Beku: Ratih, Lia, Ratna!"
Tiga bidadari turun ke arena. Keanggunan mereka membuat napas para lelaki tercekat.
"Saudara ipar, lihat! Itu Kakak!" Banu menyenggol lengan Arka dengan semangat.
"Diam," desis Arka. "Jangan panggil dia Kakak. Ratna sekarang murid Awan Beku, jangan sampai dia kena masalah."
Arka menatap punggung Ratna. Sudah satu setengah tahun. Ratna tampak lebih tinggi dan anggun. Meski bercadar, Arka tahu kecantikan di baliknya mampu meruntuhkan kota.
"Gadis itu... istrimu?" tanya Larasati lirih, dengan nada bicara yang sulit diartikan.
Arka hanya terdiam. Ratna Pradana atau kini bernama Ratna—tetaplah istri sahnya. Mereka telah bersujud pada langit dan bumi, sebuah ikatan yang tak bisa dihapus begitu saja.
“Ya.”
Arka Yudistira tidak mengabaikan gumaman pelan Larasati. Ia menjawab terus terang, tanpa berbelit-belit.
“Dia adalah kakak Banu, sekaligus istriku. Kami menikah delapan belas bulan yang lalu. Tahun ini usianya tujuh belas tahun... dan tanggal lahir kami hanya terpaut sembilan hari.”
Tentu saja, Arka merujuk pada identitas aslinya di Kota Tirta Awan. Bibir Larasati bergerak samar, lalu dengan suara yang hampir berupa bisikan, ia bertanya, “Dia... dan kamu... benar-benar tidak memiliki perasaan satu sama lain?”
Pertanyaan itu membuat Arka terdiam cukup lama, matanya menerawang ke langit malam.
“Dalam beberapa hari setelah pernikahan kami,” akhirnya ia berkata pelan, “aku pernah mencoba berbagai cara untuk menumbuhkan perasaannya. Namun sebelum sempat melihat hasilnya, sebuah insiden memaksaku pergi. Dia tidak memiliki cinta romantis terhadapku. Setidaknya, belum. Tapi dia juga tidak pernah memperlakukanku dengan buruk.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam.
“Sedangkan aku... aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa aku tertarik padanya. Kecantikannya, auranya, kepribadiannya yang teguh—pria mana pun pasti akan terpikat. Namun dibandingkan cinta, yang kurasakan lebih banyak adalah... rasa hormat.”
Tatapannya menajam, seolah kembali ke masa lalu.
“Saat ia berusia dua belas tahun, ia sudah terpilih oleh Padepokan Awan Beku. Bahkan pemimpin mereka sangat mengaguminya. Namun ia tetap tinggal di Kota Tirta Awan hingga usia enam belas demi menuntaskan janji pernikahan kami. Orang-orang berkata itu demi harga diri keluarganya, tapi aku tahu... ia melakukannya demi menjaga martabat kakekku dan diriku.”
Suara Arka makin pelan, sarat akan emosi.
“Saat itu aku hanyalah seorang pemuda cacat yang diremehkan. Sedangkan dia adalah calon murid dewi yang diagungkan. Perbedaan kami bagaikan langit dan bumi. Tapi dia tidak pernah merusak martabatku di depan orang lain. Ia bahkan berkata aku boleh memiliki selir sebanyak yang kuinginkan jika itu bisa membuatku bahagia. Jadi, apa pun yang terjadi, aku tak mampu membencinya.”
Larasati mendengarkan dalam diam. Rasa cemburu atau canggung yang sempat menyelinap perlahan lenyap, tergantikan oleh kekaguman tulus pada sosok bernama Ratna Pradana itu.
“Hanya saja,” Arka menghela napas lirih, “hubunganku dengannya mungkin memang hanya sebatas itu. Bahkan sekarang, aku tak tahu apakah status suami-istri kami masih ada karena surat nikah itu mungkin sudah ia musnahkan saat aku diusir.”
Larasati menatap Arka dengan lembut. Baginya, yang terpenting bukanlah masa lalu Arka, melainkan pemuda yang berdiri di depannya sekarang.
Tak lama kemudian, hasil penilaian dari Padepokan Awan Beku diumumkan di tengah arena:
Ratih — 20 tahun — tingkat sembilan Alam Bumi.
Lia — 20 tahun — tingkat sembilan Alam Bumi.
Kekuatan keduanya membuat petinggi Perguruan Wijaya dan Perguruan Langit Membara sedikit bernapas lega karena setidaknya masih seimbang. Namun, semua mata kemudian tertuju pada murid ketiga yang bercadar.