Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Kenalkan Calon Mertua
Setelah di jelaskan bagaimana akhirnya Dita menjadi anak angkat dokter Wijaya akhirnya Pak Hadi pun mengerti. Pak Hadi sampai melupakan niat awal datang ke rumah Feri untuk apa karena terhanyut dalam kehangatan Dita dan kedua Putra dan putri Feri. Ibu Fatimah dengan cekatan memasak makan malam bersama Bibi. Dita sudah menawarkan diri untuk membantu tapi Ibu Fatimah menolaknya karena cucu-cucunya lebih membutuhkan Dita dari pada dirinya di dapur.
Sementara Dita dan kedua Putra dan putri Feri bermain Pak Hadi mengajak Feri untuk berbicara. Ternyata Pak Hadi mengetahui bisnis yang di geluti Feri dan orang di balik Farhan selama ini adalah Feri. Pak Hadi kecewa tentu tapi Pak Hadi benar-benar malu pada Putra sulungnya itu. Pak Hadi menutup semua aliran dana untuk Feri sementara Feri mampu bertahan dan bahkan secara tidak langsung membuat usahanya maju seperti sekarang.
Beruntung Farhan mampu berdiri walau dirinya merasa tak mampu dukungan Feri selalu bisa membuat Farhan bangkit dan menjadi versi terbaik Farhan. Feri meminta maaf pada Pak Hadi karena menutupi semuanya sendiri. Bukan Feri takut, Feri hanya tidak ingin nama besar Pak Hadi membayanginya. Feri ingin dunia bisnis mengenal Feri sebagai Feri bukan Putra dari Hadi.
"Nak, ayo makan dulu. Feri mana?" Tanya Ibu Fatimah pada Dita.
"Mas tadi sama Papa." Jawab Dita.
Begitulah sekarang Dita memanggil kedua orang tua Feri. Karena Pak Hadi dan Ibu Fatimah ingin Dita memanggilnya Mama dan Papa seperti Feri memanggil mereka.
"Oh, kemana ya mereka." Ibu Fatimah.
"Bapak di belakang Bu tadi saya lihat." Jawab suster Jemima.
"Oh, ya sudah kamu panggil mereka untuk makan. Terus kamu pegang Mima dulu." Titah Ibu Fatimah.
Suster Ria pun pergi menyusul Feri dan Pak Hadi. Baru beberapa langkah saja Feri dan Pak Hadi sudah berada di dalam.
"Eh, ini bapak." Suster Ria.
"Kenapa sus?" Tanya Feri.
"Itu Pak Ibu manggil buat makan." Suster Ria.
"Terima kasih sus." Feri.
Suster Ria pun mengambil alih Jemima dari pangkuan Dita. Namun Dita merasa ada yang aneh dengan sikap suster Ria padanya namun Dita mengabaikannya saja. Dita membujuk Jonathan untuk mau bermain dengan Suster Nina.
"Makan yang banyak ya Nak Dita." Ibu Fatimah.
"Dita mohon maaf sebelumnya Ma. Dita ngga makan nasi." Dita.
"Loh, terus Dita makan apa?" Pak Hadi.
"Dita makan semua ini kok Pa. Cuma Dita ngga makan nasi aja." Dita.
"Kok kamu ngga bilang Bang." Ibu Fatimah.
"Ngga apa-apa Ma. Dita makan lauknya kok." Feri.
"Aduh, ini beneran ngga apa-apa Nak?" Ibu Fatimah.
"Ngga apa-apa kok Ma. Dita udah biasa kok dari SMA." Dita.
"Ya ampun. Maaf ya Nak." Ibu Fatimah.
"Mama ngga perlu minta maaf. Dita bilang takut Mama malah salah faham kalo Dita ngga mau makan." Dita.
"Ya udah. Ayo makan." Feri.
Setelah drama makan malam terlewati kini Dita harus menemani kedua Putra dan putri Feri tidur terlebih dahulu sebelum dirinya meninggalkan kedua batita tersebut. Suster Nina yang pernah bertemu dengan Dita di rumah sakit lebih sering berkomunikasi dengan Dita karena sudah kenal sementara suster Ria seperti kurang menyukai Dita.
"Sudah bobo?" Bisik Feri.
"Sudah. Tadi sudah ada suster Nina juga kok." Jawab Dita yang memang kedua batita itu masih tidur bersama. Suster Nina dan Ria terkadang bergantian tidur di kamar anak asuhnya.
"Maaf ya. Kamu jadi capek deh." Feri.
"Ngga, Aku seneng kok." Dita.
"Ya udah yuk Aku anter." Feri.
"Pamit Mama sama Papa dulu." Dita.
"Mama sama Papa tadi udah pulang. Titip salam juga sama kamu. Maaf ngga pamit. Tadi mau pamit tapi katanya takut anak-anak malah ngga tidur-tidur." Feri.
"Hm.. Ya udah ngga apa-apa. Mas ngga apa-apa anter aku? Ngga capek?" Dita.
"Masa capek sih. Ngga lah. Ayo mau di anter kemana?" Goda Feri.
"Ish... Pulang lah. Ayo." Jawab Dita tersipu langsung berlalu dari hadapan Feri.
Mereka berdua pun pergi setelah memberitahu Bibi jika Feri keluar. Dita berpamitan dengan ramah pada Bibi di rumah Feri.
"Di sini banyak polisi ya?" Tanya Dita yang melihat selalu ada polisi di rumah Feri.
"Ngga. Paling mereka bergantian jaga aja." Feri.
"Kalo polisi yang jaga polisi lagi ya?" Tanya Dita.
"Bisa." Feri.
Dua orang polisi yang berjaga pun memberi hormat pada Feri sebelum Feri pergi. Dita merasa sungkan pada kedua polisi itu tapi Dita berusaha bersikap biasa saja.
Sepanjang perjalanan Dita sudah mulai tidak kaku lagi dan bisa berbincang dengan santai. Dita mulai lebih luwes dengan Feri. Feri meminta Dita untuk tidur tapi Dita menolak. Dita lebih memilih berbincang hal random dengan Feri meski terkadang Feri menggodanya.
"Mau mampir dulu?" Tanya Dita saat mobil Feri sudah berada di halaman rumah Dita.
"Sampaikan salam buat Mami sama Papi aja ya. Udah malem ngga enak juga. Bilang maaf juga nganter kamu nya sampe larut." Feri.
"Iya ngga apa-apa. Makasih ya Mas udah anter sampe depan rumah." Dita.
"Sudah seharusnya dong. Besok ke rumah sakit?" Feri.
"Iya besok pagi-pagi kayanya ada jadwal operasi." Dita.
"Loh, sekarang malah belum istirahat. Maaf ya."Feri.
"Ngga apa-apa kok. Ya udah, Mas hati-hati di jalan ya." Dita.
"Nanti Mas kabarin kalo udah nyampe rumah." Feri.
Dita menunggu hingga mobil Feri menghilang dari pandangannya kemudian barulah Dita masuk ke dalam rumahnya. Saat Dita membuka pintu depan Dita di buat terkejut ketika Dokter Wijaya berdiri di balik pintu menunggunya.
"Papi... Kok belum tidur?" Tanya Dita mencium punggung tangan Dokter Wijaya kemudian memeluknya.
"Papi ngga bisa tidur. Papi khawatir sama kamu Nak. Tuh Mami juga masih di dapur bikin coklat panas." Dokter Wijaya.
"Maafin Dita sama Mas.Feri ya Pi. Tadi Nathan ngga bisa lepas jadi nunggu Nathan bobo dulu." Jawab Dita jujur.
"Iya ngga apa-apa. Tadi, Feri juga sudah menghubungi Mami tapi tetap saja kami khawatir Nak." Dokter Wijaya.
"Lain kali bawa saja Nathan ke sini Nak." Ibu Rani.
"Mami... Ngga enak Mi. Tadi juga ada orang tuanya Mas Feri kok Mi Pi." Dita.
"Loh, udah di kenalin sama calon mertua toh." Goda Ibu Rani.
"Papi,,, Mami nakal tuh.." Dita.
"Sudah sana bersih-bersih terus bobo. Besok ada operasi kan?" Dokter Wijaya.
"Iya. Ya udah Dita duluan ya Pi Mi... Bye..bye..." Pamit Dita.
Sampai di kamar Dita segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian di luar. Baru saja Dita keluar dari kamar mandi Feri menghubunginya. Memberi tahu jika dirinya telah sampai di rumah.