WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Pagi Tagih Janji
...🌹🌹🌹...
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama, menyinari wajah Zolla yang masih terlelap di kasur empuk milik Arkeas. Ia mengerjap, menyadari tekstur sprei yang terlalu halus untuk kulitnya. Begitu kesadarannya terkumpul, Zolla langsung terduduk tegak.
"Aduh! Gue kenapa tidur di sini?!" bisiknya panik. Ia menoleh ke samping, untungnya tempat tidur itu kosong. Arkeas tidak ada di sana.
Zolla segera turun, merapikan piyamanya yang sedikit berantakan, dan keluar kamar dengan langkah seribu. Namun, pemandangan di ruang makan menghentikan langkahnya. Arkeas sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih yang belum dikancingkan sepenuhnya, menampakkan dada bidangnya yang masih menyisakan sisa-sisa kehangatan demam semalam.
"Bangun juga akhirnya, Dokter Pribadi," suara Arkeas terdengar jauh lebih segar, meski masih ada sedikit sengau sisa flu.
"Mas... kok sudah bangun? Kan masih lemas!" Zolla menghampiri, tangannya refleks hendak mengecek dahi Arkeas lagi.
Tapi sebelum tangan Zolla sampai ke dahinya, Arkeas menangkap pergelangan tangan gadis itu. Ia menariknya pelan, membuat Zolla berdiri sangat dekat dengannya. "Sudah sembuh. Berkat kompres dan... 'pengabdian' kamu semalam."
Zolla menelan ludah. Tatapan Arkeas pagi ini sangat berbeda. Bukan lagi tatapan orang sakit yang minta dikasihani, tapi tatapan pemburu yang sudah menemukan mangsanya.
"Bagus kalau sudah sembuh. Sekarang lepasin, saya mau buatin sarapan buat Alisya," cicit Zolla.
Arkeas tidak melepasnya. Ia justru melirik jam tangan pintunya—yang terhubung dengan milik Zolla. "Jantung kamu detaknya 110 per menit. Kamu gugup, Zol?"
"Mana ada! Itu karena saya lari-lari tadi!"
"Lari di dalam mimpi saya?" Arkeas tertawa rendah. Ia memutar tubuh Zolla agar menghadapnya sepenuhnya. "Ingat pesan saya semalam? Saya minta hadiah sembuh. Satu menit pelukan. Tanpa protes. Dan sekarang... saya mau menagihnya."
...🌹🌹🌹...
Arkeas tidak menunggu jawaban. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Zolla, menariknya masuk ke dalam dekapannya. Zolla tertegun, wajahnya terbenam di dada Arkeas yang kokoh. Wangi sandalwood dan aroma maskulin Arkeas kembali menguasai indranya.
"Mas... satu menit itu lama lho," bisik Zolla, meskipun tangannya perlahan mulai membalas pelukan itu, melingkar di punggung lebar Arkeas.
"Bagi saya, ini terlalu singkat," gumam Arkeas. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Zolla. "Kamu tahu? Selama lima tahun saya menduda, nggak ada satu pun orang yang berani masuk ke kamar saya saat saya sakit. Mereka cuma kirim bunga atau buah lewat kurir. Cuma kamu yang berani ngomel sambil ngompres dahi saya pakai air dingin."
Zolla merasakan hatinya menghangat. Ia mengeratkan pelukannya. "Ya habisnya Mas sombong sih. Kalau nggak diomelin, Mas pasti sudah nekat ke kantor pakai kursi roda."
Arkeas terkekeh. "Mungkin. Tapi sekarang saya sadar, punya asisten yang 'galak' kayak kamu itu... ternyata nagih."
Satu menit berlalu, tapi Arkeas tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepas. Justru, ia semakin menenggelamkan wajahnya di leher Zolla, menghirup aroma stroberi dari rambut gadis itu.
"Mas, sudah lewat satu menit," Zolla mengingatkan, meski suaranya sendiri terdengar tidak yakin.
"Diamlah. Saya lagi charging energi buat meeting nanti siang," sahut Arkeas manja.
...🌹🌹🌹...
Momen romantis itu pecah saat suara baby walker terdengar mendekat ke arah dapur. Alisya muncul dengan wajah bangun tidur yang sangat menggemaskan, menatap Papa dan "Mama Zolla"-nya yang sedang berpelukan erat.
"Pa... Ma...!" celoteh Alisya sambil memukul-mukul kaki Arkeas dengan mainan karetnya.
Zolla langsung melepaskan diri dengan wajah semerah cabai. "Tuh kan! Alisya lihat! Malu tahu, Mas!"
Arkeas hanya mendengus, merasa terganggu karena momennya dirusak. Ia membungkuk, mengangkat Alisya ke dalam gendongannya. "Alisya, Papa lagi ada urusan penting sama Tante Zolla. Kamu ganggu aja, hm?"
"Urusan penting matamu peyang! Itu namanya modus pagi hari!" Zolla segera kabur ke arah kompor untuk menggoreng telur, mencoba menutupi rasa baper yang ugal-ugalan di dadanya.
...🌹🌹🌹...
Saat sarapan, Arkeas sudah kembali ke mode CEO-nya yang rapi. Ia memakai jam tangannya, memeriksa email, tapi matanya sesekali melirik Zolla yang sedang menyuapi Alisya.
"Zol," panggil Arkeas.
"Ya, Mas?"
"Besok malam ada acara gala dinner untuk peluncuran parfum baru. Saya mau kamu ikut," ucap Arkeas tanpa nada bertanya. Itu adalah perintah.
Zolla melongo. "Gala dinner? Mas, saya ini asisten, bukan model! Nanti saya malah dikira tukang parkir kalau pakai baju seadanya di sana!"
Arkeas meletakkan ponselnya. Ia menatap Zolla dengan tatapan yang sangat serius. "Saya sudah siapkan desainernya. Kamu akan datang sebagai pendamping saya. Bukan sebagai asisten."
"Maksudnya?"
"Saya mau dunia tahu kalau Arkeas InjitAsmo nggak lagi sendirian. Dan saya mau kamu yang ada di samping saya saat lampu sorot itu menyala," Arkeas berdiri, mendekat ke arah Zolla dan mengecup keningnya singkat sebelum berangkat. "Nggak ada penolakan. Siapkan diri kamu buat jadi pusat perhatian."
Zolla terpaku di kursinya. Arkeas baru saja memberikan pengumuman "perang" secara publik. Menjadi pendamping di acara besar? Itu artinya status mereka akan menjadi konsumsi publik.
"Mas Arkeas... beneran sudah nggak waras," bisik Zolla pada Alisya.
Alisya hanya tertawa sambil melempar biskuitnya. "Ma... Ma...!"
...
Bersambung ke Episode 26.