"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin membawa Daffa jalan
Yusuf langsung memimpin langkah mereka menuju area parkir. Ia membukakan pintu mobil untuk Siti dan Daffa dengan sangat lembut. Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Daffa tak henti-hentinya bercerita, bertanya ini itu, dan terus menggenggam tangan besar ayahnya yang tak pernah ia lepaskan sedetik pun. Yusuf menjawab semua pertanyaan anak itu dengan penuh kesabaran, sesekali menoleh ke arah Siti yang duduk di kursi penumpang belakang, tatapannya seolah ingin mengatakan banyak hal yang tak mampu diucapkan lewat kata-kata.
Sesampainya di sebuah hotel yang cukup nyaman dan tenang di pusat kota, Yusuf langsung memesan dua kamar bersebelahan. Ia tidak berani mengambil risiko atau menimbulkan kesalahpahaman apa pun, meski hatinya terasa perih harus memisahkan jarak di antara mereka setelah sekian lama terpisah.
"Ini kamarmu, Siti. Kamar Daffa di sebelah sini bareng aku, aku minta petugas menyambungkan pintunya agar kamu tetap bisa mengawasi Daffa leluasa," ucap Yusuf pelan sambil menyerahkan kunci kartu itu. Wajahnya tampak lelah namun matanya masih berbinar karena kebahagiaan yang baru saja ia temukan kembali. "Kalian pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh tadi. Istirahatlah yang cukup, mandi, bersih-bersih. Biarkan tubuh dan pikiran kalian rileks dulu."
Siti menerima kartu itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menunduk, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak mau tenang sejak tadi. "Terima kasih, Mas... atas semuanya. Maaf merepotkanmu."
Yusuf menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kamu tidak pernah merepotkanku, Siti. Tidak pernah. Anggap saja... sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai ayah dan sebagai seseorang yang pernah sangat menyayangimu."
Siti kembali tertegun mendengar ucapan Yusuf. Apakah dulu Yusuf juga pernah menyayangi dirinya?
Saat Siti hendak masuk ke dalam kamar, Yusuf kembali bersuara, suaranya terdengar ragu namun penuh harap.
"Siti... besok pagi, bolehkah aku mengajak Daffa jalan-jalan? Hanya berdua saja dengannya, atau kalau kamu mau ikut juga tidak apa-apa. Aku ingin membawanya berkeliling kota, menunjukkan tempat-tempat yang dulu sering aku kunjungi, sekadar melepas rindu yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Aku janji, aku akan menjaga diri, aku akan menjaga batasan. Aku tidak akan berbuat apa-apa yang membuatmu tidak nyaman atau menimbulkan masalah."
Siti langsung menegang. Ia menoleh cepat, matanya membelalak takut. Ingatannya seketika melayang pada nama yang selalu menjadi bayang-bayang di antara mereka: Nora. Ia ingat betul statusnya sekarang. Ia hanyalah mantan istri, wanita yang sudah di ceraikan, sementara Yusuf kini sudah melanjutkan kehidupannya bersama istri sahnya, dan anaknya Haikal. Ia tidak mau menjadi duri dalam daging. Ia tidak mau dituduh merusak kebahagiaan orang lain, apalagi oleh Nora yang dulu pernah begitu tegas mengusirnya secara halus.
"Maaf, Mas... sebaiknya tidak usah," jawab Siti pelan namun tegas, meski hatinya terasa nyeri. "Kita... kita kan sudah bukan siapa-siapa lagi. Kita sudah tidak ada ikatan apa-apa. Aku takut nanti ada kesalahpahaman. Takut nanti Mbak Nora marah, atau menuduh aku yang bukan-bukan. Aku tidak ingin ada masalah, Mas. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Daffa."
Wajah Yusuf seketika berubah muram. Ia mengerti kekhawatiran wanita itu, ia tahu betul bayang-bayang Nora masih menjadi penghalang besar di antara mereka. Namun ia tidak mau melewatkan kesempatan emas ini.
"Siti, dengar aku," ucap Yusuf lembut, mendekat sedikit namun tetap menjaga jarak hormat. "Aku mengerti kekhawatiranmu. Aku sangat mengerti. Tapi percayalah, aku sudah mengatur segalanya. Nora tidak akan tahu, dan tidak akan ada yang tahu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan anakku. Aku hanya ingin menebus waktu yang hilang, waktu yang terenggut dariku selama empat tahun ini. Aku janji, aku akan menjaga batasan sebaik mungkin. Aku tidak akan menyentuhmu, aku tidak akan berbicara hal-hal yang melampaui batas. Aku hanya ingin bermain, berjalan, dan tertawa bersama Daffa. Itu saja."
Belum sempat Siti menjawab, Daffa yang sedari tadi mendengarkan di samping ibunya langsung menarik ujung baju Siti dengan wajah memohon. Mata bulatnya kembali berkaca-kaca, bibirnya mengerucut sedih.
"Bunda... ayolah... Bunda, izinkan Ayah ajak kita jalan-jalan ya? Daffa ingin sekali... Daffa ingin keliling kota sama Ayah. Daffa sudah menunggu lama sekali buat ketemu Ayah, masa cuma sebentar saja sudah harus pisah lagi?" rengek Daffa sambil memeluk pinggang ibunya, menatap Siti dengan pandangan yang begitu sulit ditolak. "Ayah kan janji cuma jalan-jalan saja. Daffa janji bakal nurut, bakal jaga Bunda dan Ayah. Ayolah, Bun... tolonglah..."
Hati Siti terasa diremas-remas. Ia melihat kerinduan yang begitu besar di mata putranya, dan ia juga melihat ketulusan di mata Yusuf. Ia tahu betul betapa Daffa merindukan sosok ayah, betapa sering anak itu bertanya kapan ayahnya pulang. Menolak permintaan ini rasanya sama saja menyakiti hati anaknya sendiri. Ditambah lagi, janji Yusuf yang terdengar begitu tulus untuk menjaga batasan.
Siti menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Ia tahu ini berisiko, ia tahu ini bisa membangkitkan kembali perasaan yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam. Tapi melihat Daffa yang begitu berharap, ia tidak sanggup lagi menolak.
"Baiklah..." jawab Siti lirih, suaranya terdengar pasrah. "Tapi ingat janjimu ya, Mas. Hanya sekadar jalan-jalan dan menemani Daffa. Jangan ada hal lain. Dan besok sore, kita harus kembali ke sini tepat waktu. Kita... kita harus kembali ke tempat asal kita lusa."
Wajah Yusuf seketika berubah cerah, senyum lebar kembali menghiasi wajahnya. Rasa lega terasa begitu besar memenuhi dadanya.
"Terima kasih, Siti. Terima kasih banyak. Kamu tidak tahu betapa berartinya ini bagiku," ucap Yusuf tulus. "Istirahatlah sekarang. Besok pagi aku akan datang menjemput kalian. Selamat malam."
Yusuf melangkah mundur perlahan, seolah enggan berpisah meski hanya untuk tidur malam ini, sebelum akhirnya masuk ke kamarnya bersama Daffa.
"Daffa mau bobok sama ayah, atau sama bunda dulu?" tanya yusuf pada putranya.
"Sekarang aku mau bobok sama Bunda dulu, nanti malam baru bobok sama ayah. Kan kata ayah pintunya nyambung ke kamar ayah," jawab bocah itu bijak sekali.
Yusuf tersenyum sembari mengusap puncak kepala Daffa. "Baiklah, kalau begitu kamu dan bunda istirahat dulu ya. Kalau butuh sesuatu tinggal panggil ayah."
Di dalam kamar, setelah pintu tertutup rapat, Siti duduk di tepi ranjang sambil memeluk Daffa yang langsung terlelap karena kelelahan dan kebahagiaan. Ia mengusap rambut hitam putranya, matanya menatap kosong ke dinding kamar.
'Aku sudah gila rupanya,' batin Siti bergumam sedih. 'Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjauh, untuk tidak berharap lagi. Tapi kenapa setiap kali dia meminta, atau setiap kali Daffa meminta, pertahananku selalu runtuh? Aku harus ingat, Siti. Dia milik orang lain. Besok hanya untuk Daffa. Hanya untuk Daffa saja. Jangan biarkan hatimu ikut campur lagi, nanti kamu yang terluka sendiri.'
Namun di lubuk hati yang paling dalam, ada secercah harap kecil yang diam-diam tumbuh kembali, harap yang ia coba bunuh berkali-kali namun selalu gagal. Harap yang berkata bahwa mungkin, hanya mungkin, takdir belum selesai mempertemukan mereka.
Sementara itu, di kamar sebelah, Yusuf berdiri di dekat jendela menatap kerlap-kerlip lampu kota. Senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap nama "Nora" yang tertera di daftar kontak, namun ia tidak berniat menyentuhnya malam ini.
"Maafkan aku, Nora..." gumam Yusuf pelan pada dirinya sendiri. "Untuk kali ini saja, aku ingin egois. Aku ingin bahagia bersama wanita yang tak bisa aku pungkiri lagi perasaanku padanya. Dan Daffa anak kandungku sendiri. Biarkan aku menikmati waktu ini sedikit saja. Biarkan aku menjadi Yusuf yang sesungguhnya, bukan Yusuf yang terikat kewajiban semata."
Malam itu, tiga hati yang saling terikat namun terhalang takdir, akhirnya beristirahat di tempat yang sama, berharap esok hari akan membawa kebahagiaan kecil yang akan mereka simpan rapat-rapat dalam ingatan masing-masing.
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣