🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rasa yang akhirnya bicara
Anindia menoleh, ia terkejut dengan kehadiran Keanu yang tiba-tiba. Wajahnya sedikit tegang, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ma-mas?" Ujar Anindia sedikit gugup.
Anindia masih duduk di tepi tempat tidur, ponsel yang tadi sempat ia genggam kini tergeletak begitu saja di sampingnya. Tatapannya terlihat kosong, seolah ada beban berat yang tengah dipikulnya.
Keanu yang berdiri tak jauh darinya, menatap Anindia dalam diam. Ia memperhatikan setiap perubahan kecil yang sejak tadi tak luput dari pengamatan nya.
"Kamu lagi mikirin apa, sayang?" Tanya Keanu pelan yang langsung menghampiri.
Suara Keanu terdengar lembut seperti biasanya, tapi entah kenapa terdengar lebih dalam dari biasanya. Anindia sedikit tersentak, lalu ia menatap Keanu dengan seutas senyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Enggak kok, Mas," ujar Anindia.
Keanu tidak langsung menanggapi, ia hanya mengangguk pelan. Jarak keduanya begitu dekat, tapi terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di antara keduanya. Keanu menggenggam tangan Anindia lembut, mencoba untuk meyakinkan.
Sentuhan itu terasa lembut, membuat perasaan Anindia terasa tak menentu. Keanu sendiri terlihat menunduk sejenak, lalu menghela nafas pelan.
"Aku boleh jujur?" Ujar Keanu lirih, sembari mengangkat kembali pandangannya.
Anindia menegang, tatapan Keanu begitu dalam. Tatapan itu selalu sama, yang selalu membuat Anindia merasa tidak bisa berbohong. Meskipun ia tidak memiliki perasaan apapun untuk Ardy.
"Aku ngerasa kamu lagi gak baik-baik aja," lanjut Keanu setelah hening beberapa saat. "Kamu bisa cerita sama aku, sayang."
Tidak ada nada tinggi, tidak ada emosi yang meledak. Tapi justru itu yang membuat dada Anindia terasa semakin sesak. Anindia menunduk, menghindari tatapan Keanu. Jari-jarinya saling terpaut, menunjukkan bahwa ia sedang bimbang saat ini.
"Mas..." Suara Anindia pelan, terdengar ragu.
Keanu tidak memotong, ia hanya menunggu Anindia untuk bercerita. Ia yakin sekali bahwa ada yang ingin disampaikan oleh Anindia, tapi ia tidak tahu apa itu.
"Humm... Aku gak tau mau ngomongnya dari mana," ujar Anindia pada akhirnya.
Keanu tersenyum tipis, menatap Anindia penuh perhatian. Satu tangannya terulur ke wajah Anindia, membelai pipinya penuh cinta.
"Kalo ada masalah, cerita sayang." Ujar Keanu lembut. "Aku suami kamu, susah senang seharusnya dilewati bersama. Cerita aja, aku disini buat dengerin semua keluh kesah kamu."
Kalimat itu terdengar sederhana, namun berhasil membuat pertahanan Anindia perlahan runtuh. Anindia menatap tangan Keanu yang masih memegangi tangannya, terasa hangat dan nyaman.
Namun, hal itu justru membuatnya merasa takut. Takut bahwa Keanu akan marah karena kejujurannya. Bukan pada dirinya, melainkan pada Ardy. Dan Anindia tidak ingin terjadi pertengkaran lagi antara suaminya dengan orang lain, entah untuk siapapun itu.
"Mas?" Panggil Anindia lagi, kali ini lebih lirih.
Keanu mengusap punggung tangan Anindia dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang selalu menenangkan.
"Iya sayang?" Ujar Keanu kemudian.
Anindia membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar, seolah perkataannya itu tersekat di tenggorokannya. Bayangan pesan dari Ardy juga ikut terlintas di benaknya. Dadanya terasa sesak. Ia menelan ludah, lalu menggeleng pelan.
"Enggak jadi deh, Mas," ujar Anindia yang masih terdengar ragu-ragu.
Keanu terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Anindia tanpa kata. Lalu, ia menghela nafas pelan.
"Aku gak bakal paksa kamu buat cerita sekarang," ujar Keanu pada akhirnya.
Nada suara Keanu tetap lembut. Tidak ada nada kecewa yang jelas, tapi cukup untuk membuat hati Anindia merasa bersalah.
"Tapi," lanjut Keanu dengan suara yang semakin pelan. Ia mengangkat dagu Anindia perlahan, memaksanya untuk menatap. "Apapun itu, aku harap kamu gak simpan sendiri."
Manik mata keduanya bertemu, terasa dalam, terasa jujur. Dan membuat Anindia merasa bahwa ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari suaminya itu.
Nafas Anindia terasa tertahan, sebelum akhirnya ia menghela pelan. Tangannya sedikit menggenggam balik tangan Keanu, seolah mencari keberanian dari sentuhan itu.
"Aku tadi dapat chat dari kak Ardy, Mas," ujar Anindia pada akhirnya.
Suara Anindia terdengar pelan, juga hati-hati. Namun cukup jelas untuk di dengar. Sementara Keanu menatap Anindia tanpa berkedip. Tangannya masih berada di tangan Anindia, tapi kini genggamannya sedikit menguat. Bukan kasar, hanya sebuah refleks.
"Dia bahas proyek?" Tanya Keanu tenang.
Anindia mengangguk pelan. "Iya, awalnya bahas proyek," ujarnya jujur. "Tapi..."
Keanu menunggu dengan sabar, seolah memberi ruang untuk Anindia menyusun keberaniannya sendiri.
"Tapi dia mulai ngomong hal lain, yang gak ada hubungannya dengan proyek," lanjut Anindia.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Keanu menunduk sedikit, rahangnya mengeras tanpa ia sadari. Ia menarik nafas dalam, terasa panjang. Ia berusaha menahan sesuatu yang mulai muncul di dalam dirinya.
Dan benar saja, dugaan Keanu tidak meleset. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu menghembuskan nafas perlahan. Saat ia membuka mata, tatapannya masih terlihat lembut. Namun, terlihat lebih tegas.
"Dia bilang apa?" Ujar Keanu lembut.
Anindia merasa bahwa sikap Keanu saat ini jauh lebih tenang daripada sebelumnya, saat menghadapi Ariga. Namun, ia menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit ragu.
"Tadi, dia bilang cara aku ngomong... Enak di dengar, enak di pandang" ujar Anindia pelan. "Terus, dia bilang cara aku mikir sejalan dengan dia."
Suara Anindia mengecil di akhir kalimat, seolah takut. Bukan karena salah, tapi karena tidak ingin menyakiti perasaan suaminya. Tapi, bagaimanapun ia tahu bahwa menyembunyikan sesuatu justru akan membuat hati Keanu merasa sakit.
Keanu kembali terdiam. Bahkan, ia perlahan melepaskan genggaman tangan Anindia. Bukan menjauh, tapi ia membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan diri.
Keanu menunduk, mengusapnya wajahnya pelan. Terdengar suara helaan nafas panjang darinya, kali ini terdengar lebih berat. Rasa cemburu itu ada, jelas adanya. Bahkan, terasa begitu kuat.
Keanu menahan perasaannya. Karena dihadapannya sekarang bukan orang lain, melainkan Anindia. Perlahan, Keanu kembali menatapnya. Tangannya kembali meraih tangan Anindia, kali ini ia menggenggamnya lebih hangat.
"Terima kasih, udah jujur sama aku," ujar Keanu pelan.
Anindia menatap Keanu dengan tatapan terkejut. Matanya mulai berkaca-kaca, ia sudah siap dimarahi. Atau setidaknya, melihat Keanu benar-benar kesal. Tapi yang ia dapat justru ketenangan, suatu hal yang tidak pernah berubah ketika Keanu sedang marah.
"Mas, aku takut kamu marah," ujar Anindia jujur.
Keanu tersenyum tipis. "Aku cemburu, iya," ujarnya berterus terang. "Aku juga gak suka."
Keanu membelai pucuk kepala Anindia penuh kasih sayang, menatapnya dengan cinta yang masih sama. "Tapi aku gak marah sama kamu."
Deggg!
Dunia terasa terhenti sejenak bagi Anindia. Jantungnya berdegup kencang, seolah kembali ke masa-masa awal dimana dirinya merasakan jatuh cinta.
"Aku tau kamu gak salah."
Kalimat yang keluar dari mulut Keanu terasa begitu sederhana, namun cukup untuk membuat hati Anindia merasa penuh. Rasa penuh syukur dan juga cinta.
"Aku cuma gak suka cara dia ngeliat kamu," ujar Keanu lembut namun penuh ketegangan. "Dan aku gak mau kamu ada di posisi yang bikin kamu gak nyaman."
Anindia mengangguk pelan, memahami kata-kata suaminya. "Iya Mas. Maaf, kalo aku sempat ragu untuk ngomong ini," ujarnya.
Tanpa kata, Keanu langsung menarik Anindia ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat dan hangat, juga protektif.
"Kamu tetap jadi diri kamu," ujar Keanu lembut tepat di telinga Anindia. "Tapi kalau dia mulai kelewatan, kamu jangan diam."
"Dan, aku tetap di sini."
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, tidak juga dengan ancaman. Tapi, cukup jelas untuk menunjukkan satu hal. Keanu tidak akan diam jika ini berkaitan dengan Anindia.
Malam semakin larut. Suasana kamar kembali hening, hanya terdengar suara halus dari kipas angin yang berputar pelan. Lampu temaram memberi kesan hangat, menenangkan, seolah meredam semua emosi yang sempat bergemuruh.
Anindia masih berada dalam pelukan Keanu. Kepalanya beranda di dada bidang suaminya, mendengar ritme jantung Keanu yang perlahan mulai stabil. Tangannya masih menggenggam ujung baju Keanu, seakan belum siap untuk benar-benar melepaskan. Meskipun kenyataannya, Keanu tidak akan kemana-mana.
Sementara Keanu masih memeluk Anindia, aroma parfum lembut dari Anindia membuatnya merasa sedikit lebih baik. Pelukan itu semakin hangat, seolah memastikan bahwa Anindia baik-baik saja.
Anindia menghela nafas pelan. Perasaan sesak yang tadi menghimpit dadanya kini perlahan mereda. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya larut dalam rasa nyaman yang selalu ia temukan, hanya pada Keanu.
"Mas," panggil Anindia lirih sembari mengurai pelukan.
"Iya sayang ku?" Jawab Keanu yang kini memegangi kedua pundak Anindia.
"Aku beruntung ya, punya kamu," gumam Anindia pelan, senyum manis terukir di wajahnya.
Keanu terdiam sejenak, lalu terdengar helaan nafas kecil diikuti senyum samar yang tak terlihat.
"Hmm," gumam Keanu santai. "Baru sadar, sayang?"
Anindia mendongak, menatap wajah Keanu dengan ekspresi kesal, juga sedikit malu. "Ih, aku lagi serius juga," ujarnya dengan memanyunkan bibirnya sedikit.
Keanu terkekeh pelan, tangannya terangkat untuk mencolek hidung Anindia dengan santai. "Ya, emang bener kan?" Lanjut Keanu dengan nada tengil khasnya. "Dari sekian banyak laki-laki di dunia, kamu dapetnya aku," ujarnya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Anindia.
"Pede banget sih, Mas!" Ujar Anindia sembari memukul dada Keanu pelan.
"Bukan pede," ujar Keanu yang semakin santai. "Tapi fakta, sayang."
Anindia menggeleng kecil, tapi senyuman di wajahnya tidak bisa dipungkiri. "Udah jadi ayah juga," gumamnya.
"Tapi serius, sayang," ujar Keanu dengan nada santai tapi terdengar serius. "Aku emang gak suka kalo ada yang mulai ngelirik kamu kayak tadi."
Keanu menatap Anindia dalam, seakan ingin mengutarakan isi hatinya tanpa menyakiti perasaan Anindia.
"Aku posesif, iya," lanjutnya tanpa ragu. "Dan aku gak bisa pura-pura santai kalo itu tentang kamu."
Anindia mendengarkan, penuh perhatian. Tanpa sedikitpun ia berani untuk menyela pembicaraan suaminya.
"Aku gak akan nahan kamu buat jadi diri sendiri," ujar Keanu yang kini mengusap pipi Anindia dengan ibu jarinya. "Aku cuma ingin kamu ingat satu hal."
"Apa itu, Mas?" Ujar Anindia penasaran.
Keanu tersenyum, senyum tengil itu kembali lagi. "Terlalu banyak yang suka sama kamu itu, capek buat aku." Ia mengambil jeda sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan. "Makanya, kalo manis jangan kelewatan. Madu aja kalah sama kamu."
Seutas senyum terlihat jelas di sudut bibir Anindia. Ia langsung terdiam tanpa kata, wajahnya memanas.
"Ih, gombal mulu kerjanya," ujar Anindia pada akhirnya.
Keanu hanya terkekeh, ia tahu bahwa efeknya akan selalu sama. Senyum itu, senyum yang selalu ia rindukan, setiap waktu. Tangan Keanu bergerak mengusap punggung Anindia, perlahan dan menenangkan.
"Kalo dia mulai aneh-aneh, bilang ya sayang?" Ujar Keanu kemudian. "Kalo perlu, biar aku yang urus."
Anindia mengangguk tanpa ragu, merasa sedikit lebih baik setelah bercerita dengan suaminya. "Iya Mas, terima kasih sebelumnya," ujarnya.
"Makasih, buat?" Ujar Keanu heran.
"Buat semuanya, semua yang kamu usahakan untuk aku," ujar Anindia dengan senyuman tulus.
Keanu tersenyum. Tangannya kini teralihkan ke wajah cantik Anindia, mengusapnya dengan sayang.
"Hmm," ujar Keanu dengan senyum yang sulit diartikan. "Berarti kamu harus siap," lanjutnya.
"Siap apa, Mas?" Tanya Anindia polos.
Keanu mendekat ke arah telinga Anindia, berbisik pelan. "Siap dimanja terus sama suami kamu yang ganteng ini."
Anindia langsung memukul dada Keanu. Bukan sekedar refleks, melainkan juga gemas. "Mas!"
Keanu tertawa kecil, sembari menggelengkan kepalanya pelan. Dimatanya, Anindia tetap sama. Masih terlihat lucu dan menggemaskan, meskipun sudah memiliki baby Shaka.
"Uwaa... Uwaa...!"
Saat itu, tiba-tiba saja si kecil Shaka terbangun dari tidurnya. Bayi itu menangis, karena terjaga. Keduanya langsung menoleh ke arah tempat tidur Shaka.
"Sepertinya Shaka cemburu liat ayah dan bundanya berduaan," canda Anindia yang langsung melangkahkan kakinya ke arah box bayi.
Sementara Keanu hanya terkekeh mendengar penuturan asal dari istrinya itu.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁