"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Cahaya Baru di Hati Kita
Berita kehamilan Kirana yang kedua bagaikan ledakan kebahagiaan yang meledak di rumah keluarga Wijaya. Arga benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Seharian itu ia tidak bisa fokus bekerja, matanya terus menatap wajah istranya dengan senyum lebar yang tidak pernah hilang.
"Jangan dibawa kerja dong, Sayang. Istirahat aja di rumah. Biar Ayah yang kerjain semuanya," kata Arga sambil memijat lembut kaki Kirana yang mulai terasa pegal.
"Ah elah, baru juga tau hamil langsung over protektif lagi. Kan ini baru umur 4 minggu, masih kecil banget," jawab Kirana tertawa geli. "Lagipula aku kan kuat, masa lalu hamil Arka aja bisa jalan-jalan, ini apalagi."
"Enggak boleh sembarangan! Dulu kan dulu, sekarang harus lebih hati-hati. Kamu itu aset paling berharga di dunia ini, ditambah lagi ada harta karun di dalam perut kamu," sahut Arga serius tapi manja. "Aku nggak mau ambil risiko sedikit pun."
Di sudut ruangan, Arka yang baru berusia lima tahun duduk diam memegang perut ibunya dengan sangat hati-hati. Wajahnya tampak takjub dan penasaran.
"Ibu... adiknya di dalem sana lagi ngapain ya?" tanya Arka polos sambil telunjuknya mengelus lembut perut rata ibunya. "Dia kapan keluarnya Bu?"
Kirana tersenyum mengusap kepala anaknya. "Nanti kalau adiknya udah besar dan kuat kayak Arka, baru dia mau keluar. Jadi Arka harus doain adiknya sehat terus ya."
"Iya Bu! Arka bakal jaga Ibu sama adik! Nanti kalau ada orang jahat datang, Arka lawan pake pedang mainan!" seru Arka penuh semangat sambil mengangkat tangannya seolah memegang pedang.
Arga tertawa lebar mendengarnya, lalu ia mengacak rambut anaknya. "Wah pahlawan kecil Ayah ya! Bagus, nanti Ayah beliin peralatan lengkap buat jaga Ibu sama adik."
Suasana rumah begitu hangat dan penuh warna. Semua staf rumah tangga juga ikut bahagia, suasana kerja pun jadi lebih menyenangkan karena tuan dan nyonya rumah selalu tersenyum.
Bulan demi bulan berlalu, perut Kirana semakin membesar dengan sehat. Kali ini kehamilannya terasa sedikit berbeda dengan saat mengandung Arka. Kirana terlihat lebih bersinar, kulitnya lebih cerah, dan mood-nya selalu bagus.
Arga benar-benar menjadi suami super. Ia bahkan rela membawa kerja ke rumah, atau sering mengambil cuti hanya untuk menemani istri dan anak. Setiap malam sebelum tidur, rutinitas baru mereka terbentuk.
Arga akan berbaring menyamping, meletakkan telinganya di perut besar istrinya, sambil mengajak bicara bayi di dalam sana.
"Halo calon jagoan atau calon putri cantik... Ayah di sini," bisik Arga lembut. "Kamu sehat di dalam kan? Jangan bikin Ibu kesusahan ya. Nanti kalau keluar, Ayah bakal sayang banget sama kamu. Kakak Arka juga udah nungguin lho."
GEDUBBAK! GEDUBBAK!
Tiba-tiba bayi di dalam sana menendang-nendang kuat seakan menjawab panggilan ayahnya.
"Wah! Dia nendang! Dia denger aku!" seru Arga heboh, wajahnya berseri-seri. "Ran! Coba pegang! Dia aktif banget!"
Kirana tertawa bahagia sambil memegang perutnya yang terasa hangat dan penuh kehidupan. "Iya tuh, dia pasti kangen sama Ayah. Sering-sering diajak ngobrol gitu biar nanti kalau lahir udah kenal suaranya."
"Pasti dong! Ayah bakal jadi yang pertama dia lihat, yang pertama dia denger," jawab Arga bangga, lalu ia mencium perut itu berkali-kali penuh kasih sayang.
Di sebelah mereka, Arka yang sudah besar pun ikut mendekat, menempelkan pipinya di sisi lain perut ibunya.
"Aku juga mau ngobrol sama adik," kata Arka manja. "Dek... nanti kalau keluar main mobilan sama Arka ya. Arka ajarin naik sepeda juga. Jangan nakal-nakal ya sama Ibu."
Melihat interaksi ayah dan anak yang begitu manis, hati Kirana terasa begitu penuh dan damai. Ia bersyukur tak henti pada Tuhan. Dari seorang gadis desa yang sederhana, kini ia menjadi ratu di rumahnya sendiri, dikelilingi oleh cinta yang melimpah dari orang-orang terbaik di dunia.
Waktu pun tiba di bulan kesembilan. Kandungan Kirana sudah masuk waktu lahir. Seluruh keluarga besar sudah bersiap sedia. Tas perlengkapan sudah siap di mobil, rumah sakit sudah dipesan kamar VIP-nya, dan Arga sudah memasang mode 'siaga satu' 24 jam.
Suatu malam, saat mereka baru saja akan tidur, tiba-tiba Kirana memegang perutnya erat-erat dan meringis.
"Aww..."
"Kenapa?! Sakit?!" Arga langsung bangun panik.
"Iya... mulas... rasanya beda sama biasanya. Kayaknya... kayaknya waktunya sudah dekat, Ar," jawab Kirana napasnya mulai teratur menahan kontraksi.
Tanpa pikir panjang, Arga langsung bertindak cepat.
"ARKA! Ayo bangun Nak! Kita mau ke rumah sakit! Adik mau keluar nih!" seru Arga sambil menggendong anaknya yang masih mengantuk, lalu menggendong istrinya turun ke bawah layaknya pahlawan.
Semua berjalan cepat dan lancar. Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat sudah siap menyambut. Karena ini bukan anak pertama, proses persalinan diperkirakan akan lebih cepat.
Arga tentu saja tidak mau ketinggalan. Ia masuk ruang bersalin menemani istrinya, menggenggam tangan Kirana erat-erat.
"Tarikan napas panjang ya Sayang... hembuskan... kamu hebat, kamu pasti bisa," semangat Arga, keningnya berkeringat karena ikut tegang tapi tangannya sangat stabil memegang tangan istrinya.
"Argaaaaa... sakitnya luar biasa..." erang Kirana memeluk lengan suaminya kuat-kuat.
"Aku tahu sayang, aku tahu. Tapi ingat, sebentar lagi kita ketemu sama buah hati kita. Pikirkan wajah dia yang lucu, pikirkan senyumnya..." bujuk Arga lembut, lalu ia mencium kening istrinya berkali-kali untuk mengalihkan rasa sakit.
Prosesnya memang lebih cepat dari kelahiran Arka. Hanya dalam waktu dua jam yang penuh perjuangan, akhirnya terdengar suara tangisan yang sangat nyaring dan kuat!
WAAAAAA!!! WAAAAAA!!!
Suara itu terdengar lebih keras dan lantang dibanding bayi pada umumnya!
"ALHAMDULILLAH!!! SELAMAT PAK, BU!!!" seru dokter dan perawat bersorak. "Bayinya perempuan! Cantik banget! Dan suaranya luar biasa lantang!"
Arga dan Kirana saling pandang, air mata bahagia mengalir lagi.
PEREMPUAN?!
"Anak kita... anak kita cewek, Ar..." isak Kirana bahagia. "Kita punya putri kecil..."
"Iya... kita punya putri..." Arga mencium bibir istrinya dengan penuh rasa syukur. "Makasih ya Sayang... makasih udah kasih aku putri cantik."
Beberapa saat kemudian, bayi mungil yang baru lahir itu dibersihkan dan dibungkus selimut warna pink. Saat perawat membawanya mendekat, Arga dan Kirana takjub melihat wajahnya.
Wajah bayi itu sangat putih, matanya sudah terbuka sedikit dan terlihat bulat besar persis seperti Kirana. Namun hidung dan bentuk wajahnya jelas sekali mewarisi ketampanan Arga. Perpaduan yang sangat sempurna, cantik bak boneka.
"Cantiknya... luar biasa cantiknya..." bisik Arga takjub saat menerima bayi itu dalam pelukannya.
Mereka memberinya nama yang sangat indah: Aira Kirana Wijaya.
Aira berarti "Angin yang menyegarkan" atau "Berkah", dan nama tengah Kirana diberikan agar ia selalu memiliki kelembutan dan ketulusan seperti ibunya.
Keesokan harinya, suasana di kamar rawat sangat ramai dan bahagia. Mama Ratu dan Papa sudah datang, membawa hadiah berlimpah untuk cucu perempuan kesayangan mereka.
Arka duduk dengan sopan di samping ranjang ibunya, menatap adik perempuannya dengan mata berbinar.
"Cantik ya Bu... kecil banget," bisik Arka takut menyakiti. "Nama dia siapa Bu?"
"Nama dia Aira, Nak. Aira Kirana Wijaya. Jadi sekarang Arka sudah jadi Kakak lho, harus jadi contoh yang baik buat adik," jelas Kirana lembut.
Arka mengangguk mantap, lalu ia mengulurkan jari telunjuknya dan membiarkan tangan mungil Aira menggenggamnya erat.
"Halo Dek Aira... Aku Kakak Arka. Selamat datang ya. Kakak sayang banget sama kamu."
Momen itu diabadikan oleh Arga dengan kamera HP-nya. Foto keluarga lengkap: Ayah, Ibu, Kakak Arka, dan Adik Aira. Foto yang paling sempurna yang pernah ada.
Arga menatap keluarganya satu per satu. Kirana yang cantik dan kuat, Arka yang cerdas dan gagah, serta Aira yang mungil dan cantik.
'Inilah surga dunia,' batin Arga. 'Semua perjuangan, air mata, dan rintangan yang aku lewati ternyata Tuhan simpan buat kebahagiaan sebesar ini. Aku orang paling kaya dan paling beruntung di dunia.'
"Kita keluarga yang bahagia ya selamanya," bisik Arga sambil memeluk bahu istrinya dan kedua anak mereka.
"Selamanya..." jawab Kirana lembut menyambung kalimat suaminya.
Kehidupan keluarga Wijaya kini semakin lengkap dan berwarna. Tawa anak-anak, canda suami istri, akan terus mengisi rumah besar itu dengan kehangatan yang tak akan pernah padam.