NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Rumah Yang Bagai Makam

Mobil mewah berwarna hitam pekat itu melaju membelah jalanan ibu kota Jakarta yang mulai padat merayap. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, hanya terdengar dengungan halus dari mesin dan detak jam dinding yang seolah ikut mempercepat irama jantung Kirana.

Kirana duduk di kursi penumpang disebelah suaminya, pandangannya menerawang ke luar jendela. Lampu-lampu kota yang berkedip-kedip terasa tidak nyata, bagaikan ilusi optik yang menipu mata. Baru beberapa jam yang lalu, ia masih menjadi Kirana Putri, gadis yang hidup tenang di bawah lindungan orang tuanya, dan sekarang... statusnya telah berubah total. Ia sudah menjadi isteri. Isteri dari pria yang duduk di sebelahnya.

Arga Wijaya.

Pria itu fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersedekap di dada. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, sama dinginnya seperti saat mereka berdiri di altar tadi. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya sejak mereka masuk ke dalam mobil. Keheningan yang tercipta bukanlah keheningan yang damai, melainkan keheningan yang mencekam, membuat udara di sekitar mereka terasa begitu berat bagi Kirana dan sulit untuk dihirup.

Kirana menghela napas pelan, berusaha menenangkan diri. Ia tahu, ia harus terlihat kuat. Ia tidak boleh menunjukkan betapa ia takut dan bingungnya ia saat ini. Namun, rasanya sangat sulit untuk berpura-pura baik-baik saja ketika hatinya sedang hancur lebur.

"Rumahnya..... di mana, Pak?" tanya Kirana pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Ia bahkan ragu bagaimana cara ia memanggil pria ini. Memanggil 'Mas' terasa terlalu akrab dan tidak pantas untuk pria sedingin itu. Memanggil 'Arga' terasa terlalu berani. Akhirnya, ia memilih panggilan hormat yang aman.

Arga tidak langsung menjawab. Ia baru menoleh sekilas, tatapan matanya tajam dan dingin menyapu wajah Kirana, sebelum kembali menatap lurus ke jalanan.

"Panggil aku Arga saja," jawabnya singkat dan datar. Tidak ada nada lembut sama sekali. "Dan kita tidak akan ke rumah orang tua. Kita tinggal di vila pribadiku di kawasan elit."

"Oh..." Kirana hanya bisa mengangguk lemah. "Ba.... Baik...... Arga."

Mengucapkan nama itu saja membuat tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Rasanya aneh sekali, menyebut nama pria yang baru saja menjadi suaminya ini, namun terasa begitu asing bagaikan orang yang baru ditemui kemarin sore.

Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Akhirnya, mobil itu memasuki sebuah gerbang perumahan yang sangat luas, tertata rapi, dan sangat sepi. Pohon-pohon besar tertanam di sepanjang jalan, dan setiap rumah memiliki jarak yang sangat jauh satu sama lain, memberikan privasi maksimal bagi penghuninya. Suasana di sana sangat hening, bahkan mungkin terdengar menyeramkan bagi orang yang baru pertama kali datang.

Mobil berhenti di halaman sebuah bangunan bergaya modern minimalis yang sangat besar. Bangunannya itu terlihat megah, mewah, dan mahal, namun... dingin. Pencahayaan yang minim membuat bangunan itu terasa angker dan kaku, bukan terasa hangat seperti sebuah rumah tempat orang pulang dan beristirahat.

"Ini rumah kita?" tanya Kirana dengan nada ragu, matanya melihat bangunan itu.

"Rumahku," koreksi Arga dengan tegas, lalu ia membuka pintu mobil dan turun dengan gerakan yang anggun namun kaku diikuti Kirana yang juga ikut turun. "Dan mulai sekarang, tempat tinggal kamu juga."

Hati Kirana terasa dicubit keras mendengar jawaban itu. Kata-kata Arga begitu jelas menegaskan batasan yang ada di antara mereka. Rumahku, bukan rumah kita. Bahkan dalam hal tempat tinggal pun, ia merasa ia hanyalah seorang tamu yang tidak diundang, yang dipaksa masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Interior di dalamnya sangat modern, didominasi oleh warna putih, abu-abu, dan hitam. Perabotannya semua bermerek mahal dan desainer, namun tidak ada sentuhan hangat sama sekali. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan dinding yang terasa personal. Rasanya seperti masuk ke dalam sebuah galeri seni yang dingin dan steril, atau sebuah hotel bintang lima yang terlalu formal, bukan rumah tempat tinggal seorang yang sudah berkeluarga.

"Bi Sumi akan mengurus semua kebutuhanmu. Dia pembantu rumah tangga yang sudah bekerja lama di sini dan bisa dipercaya," kata Arga sambil melepas jas hitamnya dan melemparkannya sembarangan ke atas sofa besar yang ada di ruang tamu.

Ia kemudian menoleh ke arah Kirana yang masih berdiri mematung di dekat pintu, masih mengenakan gaun pengantin putih yang berat, panjang, dan penuh hiasan itu.

"Kamar tidur utama ada di lantai dua. Tapi..." Arga berhenti sejenak, menatap mata Kirana tajam, seolah ingin menanamkan sebuah aturan main yang tegas. "Aku lebih suka tidur di kamar study yang ada di lantai bawah. Jadi, kamu pakai kamar di atas saja sendirian."

Kirana menelan ludah dengan susah payah. Jadi, bahkan tempat tidur mereka pun pisahkan? Benar-benar pernikahan formalitas belaka. Mereka akan hidup satu atap, tapi dua dunia yang berbeda.

"Baik," jawabnya lirih, berusaha tidak menunjukkan kekecewaannya di wajah kirana. Ia tahu ia tidak punya hak untuk menuntut apa pun.

"Dengar, Kirana," Arga kemudian menyilangkan tangannya di dada, berdiri tegap menatap wanita di hadapannya. Wajahnya tampak sangat serius, tatapannya tajam layaknya seorang bos yang sedang memberikan pengarahan kepada karyawannya, bukan suami yang berbicara pada isterinya. "Aku tidak ingin basa-basi. Aku tipe orang yang langsung blak-blakan ke pokok permasalahan. Kita ini menikah karena tuntutan orang tua dan demi kepentingan bisnis keluarga. Itu saja. Tidak ada alasan lain."

Kirana menundukkan pandangan, jari-jarinya gemetar meremas ujung gaun sutranya yang mahal itu.

"Aku tahu kamu tidak menginginkan pernikahan ini, dan jujur... aku pun sama begitu," lanjut Arga tanpa ampun, kata-katanya tajam dan menusuk. "Jadi, kita buat perjanjian sederhana saja agar kita bisa hidup dengan damai dan tidak saling mengganggu."

"Apa itu?" tanya Kirana pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

"Kita hidup satu rumah diatap yang sama, tapi kita jalani kehidupan masing-masing. Aku dan kamu, Jangan campuri urusanku, jangan tanya aku pergi ke mana, dengan siapa, pulang jam berapa, atau dengan siapa aku bertemu. Jangan juga mengatur-atur kebiasaan aku. Dan sebagai gantinya, aku pun tidak akan mengganggu kegiatanmu. Selagi kamu bisa menjalankan peranmu sebagai Nyonya Wijaya dengan baik di depan orang lain, menjaga nama baik keluarga, dan tidak membuat masalah, maka hidupmu akan aman dan nyaman di sini dirumah ini."

Setiap kata yang keluar dari mulut Arga bagaikan pisau tajam dan dingin yang mengiris hati Kirana secara perlahan-lahan. Ia memang sudah tahu sejak awal bahwa pernikahan ini tidak dibarengi cinta, tapi mendengar ia mengucapakannya secara terus terang, sedingin es, dan sejelas itu jauh lebih menyakitkan daripada apa yang pernah ia bayangkan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kirana hampir keluar, rasanya panas dan perih. Namun dengan sekuat tenaga ia menahannya agar tidak menetes. Ia tidak mau menangis di hadapan pria ini. Ia tidak mau terlihat lemah, menyedihkan, dan memelas di depan pria ini.

"aku mengerti," jawab Kirana, suaranya bergetar sedikit namun ia berusaha menahannya agar tetap terdengar tegas. "Aku mengerti posisiku. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu, Arga. Tenang saja. Aku tahu batasanku."

Arga mengangguk singkat, seolah merasa puas dengan jawaban yang didapatnya. "Bagus. Kalau begitu, sekarang beristirahatlah. Kamu pasti lelah setelah acara panjang siang tadi. Bi Sumi akan membantumu membereskan barang-barang dan menyiapkan apa pun yang kamu butuhkan."

Tanpa menunggu balasan atau basa-basi lain, Arga berbalik badan dan berjalan menjauh menuju ruangan yang ia sebut sebagai kamar study.

Cekrekkk.

Suara pintu yang terkunci terdengar jelas di ruangan yang luas dan sepi itu. Suara itu bagaikan gong yang menandakan penutupan rapat, atau lebih tepatnya... penutupan pintu hati Arga bagi Karina.

Kirana akhirnya bisa melepaskan napas panjang yang tertahan di dadanya. Kakinya terasa lemas seolah kehilangan tulang. Ia berjalan perlahan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman belakang.

Malam ini langitnya gelap gulita, tidak ada bulan, tidak ada bintang. Sama seperti masa depannya yang kini terlihat gelap dan tidak memiliki arah tujuan yang pasti.

Ia berada di rumah yang megah, memiliki suami yang tampan, kaya raya, dan berkedudukan tinggi, namun ia merasa lebih kesepian dan kosong daripada saat berada di penjara sekalipun. Di sini, ia memiliki segalanya kecuali kebahagiaan dan rasa memiliki.

"Inikah nasibku ya tuhan?" bisiknya pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh setetes demi setetes membasahi pipinya yang putih. "Pernikahan yang tidak diinginkan... hidup yang tidak diinginkan."

Kirana menyeka air matanya dengan punggung tangan secara kasar. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang besar itu. Wajahnya sangat cantik sempurna dengan riasan pengantin, namun matanya sayu dan kehilangan cahaya.

"Tidak, Kirana. Kamu harus kuat. Yang Kamu lakukan ini semua demi Ayah, demi Keluarga, menyelamatkan perusahaan keluarga, demi Ibu. Bertahanlah. Jalani saja dulu," batinnya berteriak memompa semangat, meski hatinya terasa remuk.

Namun, saat ia menatap sekeliling ruangan yang sedingin es itu, ia sadar sepenuhnya. Perjuangannya untuk bertahan hidup di bawah satu atap dengan pria bernama Arga Wijaya, baru saja benar-benar dimulai. Dan ia tidak tahu, berapa lama ia bisa bertahan di tempat dirumah yang terasa seperti rumah kosong bagi hidupnya ini.

 

 

Lanjut ke Bab 3? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!