Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 34 — Akhir Dari Segalanya
Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan di sekitar mereka. Namun suasana di sisi kebun itu tetap terasa berat dan sunyi.
Elizabeth masih berdiri di tempatnya, menatap deretan gundukan tanah tanpa berkedip. Ada sesuatu yang aneh dalam dadanya, bukan penyesalan, bukan juga kebahagiaan sepenuhnya. Lebih seperti kekosongan yang perlahan berubah menjadi kesadaran.
Semuanya benar-benar sudah selesai. Namun kali ini, ia tidak lagi buru-buru pergi. Ia justru berdiri lebih lama, memastikan dan merasakan semuanya.
Perlahan, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. “Ini aneh,” gumamnya lirih.
Sullivan meliriknya sekilas. “Apa?”
Elizabeth memiringkan kepalanya sedikit, masih menatap tanah di hadapannya. “Kupikir setelah ini aku akan merasa lebih hidup.” Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa hambar. “Tapi ternyata tidak.”
Sullivan tidak langsung menanggapi. Ia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, menatap ke arah yang sama. “Itu karena tujuanmu sudah hilang,” katanya pada akhirnya.
“Dendam membuat seseorang merasa punya arah. Begitu itu hilang, yang tersisa hanyalah kehampaan,” tambahnya, melirik Elizabeth sekilas.
Elizabeth menghela napas pelan. “Jadi sekarang aku harus mencari alasan baru untuk tetap hidup?” tanyanya datar.
Sullivan mengangkat bahu. “Entahlah, mungkin saja iya, atau mungkin juga tidak perlu sama sekali.”
Jawaban itu membuat Elizabeth akhirnya menoleh. Tatapannya tajam. “Kau pria paling aneh yang pernah kutemui seumur hidupku.”
Sullivan tersenyum kecil. “Aku sudah sering mendengarnya, apalagi darimu.”
Keheningan kembali turun di antara mereka, tetapi kali ini terasa lebih ringan. Tidak setegang sebelumnya, meski tetap menyimpan sesuatu yang belum selesai. Elizabeth akhirnya berbalik dan melangkah menjauh dari gundukan tanah itu. Ia tidak menoleh lagi.
“Kalau begitu, aku harus pergi,” katanya pelan. Langkahnya mantap, seolah ia sudah mengambil keputusan.
Namun suara Sullivan menghentikannya. “Kau mau pergi ke mana?”
Elizabeth berhenti, tetapi tidak langsung berbalik. “Ke mana pun. Tempat ini bukan milikku dan aku tidak bisa selamanya berada di sini, bukan?”
Sullivan menatap punggung perempuan itu selama beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Dan kau pikir di luar sana kau akan lebih aman? Tidak, Beth. Kau pasti akan dicari oleh banyak orang. Tinggallah di sini lebih lama.”
Elizabeth akhirnya menoleh. “Aman bukan sesuatu yang aku cari. Aku justru suka situasi sekarang ini.”
Sullivan terkekeh pelan. “Tentu saja kau akan berkata seperti itu.” Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. “Tapi biarkan aku mengingatkan satu hal lagi padamu. Kau bukanlah Elizabeth yang dulu, Sayang. Aku tidak yakin kau bisa bertahan dalam tekanan itu.”
Tatapan Elizabeth sedikit berubah, tetapi ia tidak mundur. “Kau sudah meremehkanku. Biarkan saja mereka mencariku, memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Mereka pasti hanya akan menanyaiku beberapa hal dan aku bisa bersikap seolah aku tidak tahu apa-apa.”
Sullivan menggeleng pelan. “Ayolah, Sayang. Gunakan kepalamu dengan baik. Kau tidak bisa meremehkan mereka.” Ia berhenti tepat di hadapan Elizabeth, menatapnya lebih dalam.
“Orang-orang seperti mereka tidak akan berhenti. Mereka akan membalik kota ini jika perlu. Dan kalau mereka menemukanmu, mereka bukan hanya akan menanyaimu, tetapi juga langsung menghabisimu.”
Elizabeth sudah mengerti, tetapi bukannya gentar, sudut bibirnya justru terangkat sedikit. “Kalau begitu, biarkan mereka mencoba.”
Sullivan menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Aku hampir lupa. Kau memang seperti ini sejak dulu.”
Elizabeth mengernyit. “Seperti apa?”
Sullivan memiringkan kepalanya sedikit, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Tidak pernah mundur, dan tidak pernah mengenal kata takut. Bahkan saat seharusnya kau melakukannya.”
Kalimat itu membuat Elizabeth terdiam sejenak. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang terasa familiar. Namun sebelum ia sempat menggali lebih jauh, Sullivan sudah berbalik.
“Ayo,” katanya santai.
Elizabeth mengernyit. “Ke mana lagi?”
Sullivan meliriknya sekilas. “Jika kau ingin tetap hidup dan menghadapi mereka, kau harus belajar sesuatu yang baru.”
Elizabeth menyilangkan tangannya. “Tidak. Kurasa, aku sudah cukup banyak belajar. Pengalamanku bahkan lebih banyak darimu.”
Sullivan tersenyum tipis. “Tidak, Sayang. Ini bukan hanya tentang membunuh.” Ia berjalan menjauh, meninggalkan Elizabeth beberapa langkah di belakang. “Kau harus belajar sesuatu yang lebih penting jika ingin menghadapi mereka semua.”
Elizabeth menatap punggung pria itu. Untuk beberapa detik, ia ragu. Namun akhirnya, ia melangkah mengikuti.
Mereka meninggalkan kebun itu, meninggalkan masa lalu yang telah ia kubur dengan tangannya sendiri.
Dan tanpa ia sadari, Elizabeth sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar balas dendam. Sesuatu yang tidak hanya akan menguji kemampuannya, tetapi juga siapa dirinya sebenarnya.
— T A M A T —
Terima kasih kepada semua pembaca setia yang sudah mengikuti perjalanan balas dendam Elijah dan Elizabeth. Maaf sekali kisah ini harus berakhir di sini meskipun author mau melanjutkannya.
Semoga kalian suka dengan kisahnya. Tapi jangan khawatir, kisah ini mungkin akan lanjut part 2 kalau author-nya niat 😐😐😐
Jangan lupa baca novel yang lainnya, yaaa.
Love u banyak-banyak ❤️