NovelToon NovelToon
Ikatan Takdir

Ikatan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: si ciprut

Perjalanan hidup Kanaya dari bercerai dengan suaminya.
Lalu ia pergi karena sebuah ancaman, kemudian menikah dengan Rafa yang sudah dianggap adiknya sendiri.
Sosok Angela ternyata mempunyai misi untuk mengambil alih harta kekayaan dari orang tua angkat Kanaya.
Selain itu, ada harta tersembunyi yang diwariskan kepada Kanaya dan juga Nadira, saudara tirinya.
Namun apakah harta yang di maksud itu??
Lalu bagaimana Rafa mempertahankan hubungannya dengan Kanaya?
Dan...
Siapakah ayah dari Alya, putri dari Kanaya, karena Barata bukanlah ayah kandung Alya.

Apakah Kanaya bisa bertemu dengan ayah kandung Alya?

Lika-liku hidup Kanaya sedang diperjuangkan.
Apakah berakhir bahagia?
Ataukah luka?

Ikutilah Novel Ikatan Takdir karya si ciprut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si ciprut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alya Sakit

Kabar tentang sadarnya Nadira itu disampaikan Rafa tanpa tergesa, seolah ia tahu satu kalimat bisa mengubah banyak hal di hati Kanaya.

Malam sudah turun. Alya tertidur di kamar. Kanaya sedang melipat pakaian kecil itu ketika Rafa berdiri di ambang pintu, menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Kanaya,” panggilnya pelan.

Nada itu membuat tangan Kanaya berhenti bergerak.

“Ada apa?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.

Rafa melangkah masuk. Tidak duduk. Tidak pula mendekat terlalu cepat. Ia memilih berdiri sejajar—cara paling jujur yang bisa ia berikan saat ini.

“Nadira… sudah sadar.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menggema keras di dada Kanaya.

Ia menelan ludah. “Sadar… sepenuhnya?”

“Ya,” jawab Rafa. “Masih lemah. Masih di ICU. Tapi dia sudah membuka mata. Sudah merespons.”

Kanaya duduk perlahan di tepi tempat tidur. Napasnya terasa pendek, bukan karena panik—melainkan karena firasatnya selama ini akhirnya menemukan bentuk.

“Jadi… dia nyata,” bisiknya. “Bukan hanya mimpi.”

Rafa mengangguk. “Nyata. Dan aman. Untuk sekarang.”

Kanaya memejamkan mata. Ingatan-ingatan yang tak pernah utuh berkelebat: lorong putih, suara monitor, perasaan kehilangan tanpa nama. Dadanya bergetar, tapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Dia menyebut namamu,” tambah Rafa pelan.

Kanaya membuka mata. “Apa?”

“Sekali,” kata Rafa. “Sangat pelan. Tapi jelas.”

Hening menyelimuti ruangan. Kanaya menggenggam jemarinya sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang kini terasa terlalu keras.

“Kenapa aku belum boleh menemuinya?” tanyanya akhirnya. Tidak menuduh. Hanya bertanya.

Rafa menarik napas panjang. Inilah bagian kejujuran yang ia janjikan—meski belum sepenuhnya.

“Karena masih ada hal-hal di luar sana yang belum benar-benar reda,” jawabnya. “Dan aku tidak mau pertemuan pertamamu dengannya terjadi dalam ketakutan.”

Kanaya menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan.

“Aku bisa menunggu,” katanya. “Tapi aku ingin kamu tahu… aku siap. Apa pun yang akan aku dengar nanti.”

Rafa mendekat satu langkah. “Aku tahu. Dan aku akan pastikan, saat pintu itu dibuka… kamu tidak sendirian.”

Kanaya berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, malam tampak tenang—tenang yang kini ia pahami sebagai jeda, bukan akhir.

“Nadira sadar,” katanya lirih, seolah mencicipi kata-kata itu. “Berarti… hidupku juga sedang dibangunkan.”

Rafa tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menjaga jarak yang hormat, membiarkan Kanaya menerima kenyataan dengan caranya sendiri.

Di rumah sakit, di balik pintu ICU yang masih tertutup, Nadira memejamkan mata lagi—lebih tenang dari sebelumnya.

Dua perempuan yang terpisah oleh waktu dan rahasia,

kini berada di sisi yang sama dari kesadaran.

Dan pertemuan mereka

bukan lagi soal jika,

melainkan soal kapan.

***

Kegelisahan Alya datang tanpa tangisan keras—itulah yang pertama kali disadari Kanaya.

Anak itu tidak rewel. Tidak merengek. Ia hanya gelisah, menggeliat kecil di tidurnya, keningnya berkerut seolah tubuh mungilnya sedang menahan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Tangannya terasa hangat saat Kanaya menyentuhnya.

“Terlalu hangat,” bisik Kanaya, panik yang tertahan.

Rafa langsung bangun begitu Kanaya memanggil namanya. Satu sentuhan di dahi Alya cukup membuatnya bergerak cepat. Tidak ada debat. Tidak ada menunggu pagi.

Mereka memilih rumah sakit di kota kecil—jauh dari pusat, jauh dari perhatian, dan jauh dari tempat Nadira dirawat. Keputusan itu refleks, naluriah. Rafa tak ingin dua dunia itu bertabrakan saat mereka sedang rapuh.

Perjalanan malam terasa panjang. Alya sesekali merengek pelan, lalu diam, matanya setengah terpejam. Kanaya memeluknya erat di kursi belakang, bibirnya tak henti berdoa.

“Bertahan sebentar lagi, Sayang,” bisiknya berulang.

Rumah sakit kota kecil itu sederhana. Lampu neon putih, lorong sempit, bau antiseptik yang tajam. Tidak ada pengamanan berlapis. Tidak ada wajah-wajah yang mencurigakan. Hanya dokter jaga yang tampak mengantuk tapi sigap.

Demam. Infeksi ringan. Dehidrasi.

“Tidak berbahaya,” kata dokter setelah pemeriksaan. “Tapi datangnya tepat waktu. Anak sekecil ini cepat sekali drop.”

Kanaya menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Lututnya hampir lemas.

Alya dipasangi infus kecil. Wajahnya pucat, tapi napasnya mulai teratur. Tangannya menggenggam jari Kanaya—erat, seolah tahu ibunya adalah satu-satunya jangkar.

Rafa berdiri sedikit menjauh, menelpon singkat lalu mematikan ponsel. Tidak ada laporan ke Ardi. Tidak ada jaringan yang diaktifkan. Ini bukan urusan perang. Ini urusan keluarga.

Di kursi ruang rawat, Kanaya akhirnya duduk. Matanya merah, tapi tatapannya jernih.

“Aneh ya,” katanya pelan pada Rafa. “Di saat Nadira sadar… Alya justru jatuh sakit.”

Rafa menatap anak kecil yang terlelap itu. “Bukan aneh,” jawabnya lembut. “Hidup memang begitu. Satu bangun, satu perlu dijaga.”

Kanaya mengangguk. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun dalam:

ia tidak bisa berada di dua tempat sekaligus.

Di satu kota, seorang perempuan yang terikat darah dengannya baru membuka mata.

Di kota kecil ini, seorang anak yang ia besarkan membutuhkan seluruh kehadirannya.

Kanaya memilih di sini.

Ia mengusap rambut Alya pelan. “Maaf ya, Kak,” bisiknya—entah ditujukan pada Nadira atau pada dirinya sendiri. “Aku datang… tapi nanti.”

Di luar jendela, fajar mulai mengintip. Kota kecil itu masih sunyi, tak tahu apa-apa tentang jaringan, kekuasaan, atau nama-nama besar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

Kanaya merasa keputusan paling penting dalam hidupnya

bukan soal rahasia atau masa lalu—

melainkan menjaga satu nyawa kecil yang menggenggam jarinya sekarang.

*

Pagi di kota kecil itu datang dengan cahaya yang lembut.

Alya masih terbaring di ranjang rumah sakit, infus kecil menetes pelan. Wajahnya tak lagi sepucat malam tadi. Demamnya turun. Napasnya teratur. Saat Kanaya menyentuh dahinya, hangatnya sudah wajar—bukan panas yang menakutkan.

Dokter datang membawa kabar yang membuat dada Kanaya akhirnya mengendur.

“Responnya bagus,” katanya sambil tersenyum. “Kalau stabil sampai sore, besok sudah boleh pulang.”

Kanaya mengangguk berulang kali, matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena lega—rasa yang semalam terasa terlalu mahal untuk diharapkan.

Alya membuka mata perlahan. Saat melihat Kanaya, bibir kecilnya melengkung lemah.

“Ibu…” panggilnya lirih.

Satu kata itu meruntuhkan sisa pertahanan Kanaya. Ia mendekat, mencium kening Alya, membiarkan air mata jatuh tanpa menahannya lagi.

“Di sini,” bisiknya. “Ibu di sini.”

Rafa berdiri di ambang pintu, menyaksikan momen itu tanpa menyela. Ia tahu, penyembuhan Alya bukan hanya soal tubuh—melainkan tentang menenangkan jiwa Kanaya yang selama ini terus terbelah oleh masa lalu dan masa depan.

Saat Alya kembali terlelap, Kanaya duduk di kursi, menatap jendela. Cahaya pagi menyentuh wajahnya dengan cara yang berbeda dari biasanya—lebih jujur, lebih nyata.

“Aku baru sadar sesuatu,” katanya pelan pada Rafa.

“Apa?”

“Aku selalu merasa harus mengejar kebenaran,” jawab Kanaya. “Tentang Nadira. Tentang masa laluku. Seolah hidupku baru utuh kalau semua itu terjawab.”

Ia menoleh ke Alya. “Tapi semalam… aku takut kehilangannya. Dan semua pertanyaan itu mendadak jadi tidak penting.”

Rafa mendengarkan tanpa menyela.

“Bukan berarti aku tidak ingin tahu,” lanjut Kanaya. “Tapi aku tidak mau lagi membiarkan kebenaran mengalahkan kehadiran.”

Ada ketenangan baru di suaranya—bukan penyangkalan, melainkan pilihan sadar.

Kanaya menarik napas panjang. “Kalau nanti aku bertemu Nadira… aku ingin datang sebagai diriku yang utuh. Bukan sebagai orang yang ditarik oleh rasa kehilangan.”

Rafa mengangguk. “Itu cara paling aman.”

Kanaya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak membawa beban.

Di kota kecil yang jauh dari pusat konflik, Alya perlahan pulih. Dan bersamanya, Kanaya juga menyembuhkan sesuatu di dalam dirinya—bagian yang selama ini terlalu sibuk menambal masa lalu, sampai lupa menjaga yang sedang tumbuh di pelukan.

Kebenaran tetap menunggu.

Rahasia belum sepenuhnya terbuka.

Namun pagi itu, Kanaya memahami satu hal sederhana yang menenangkan:

Ia tidak lagi dikejar waktu.

Ia memilih hidup, satu napas kecil pada satu waktu.

.

.

.

BERSAMBUNG

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
hehehe yo tarik aja biar simpulnya lepas kab trus benang kusit terurai kembali repot amat gntek mumet
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
haoalh mumet asline tp yo wis lanjut wae lahh
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
oalah
tp mboh aq asline mumet
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jd kok mlah rit gini yaa
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
lho jadi barata blm mati trus di mana dia saat itu knp tiba2 hilang aja ku kira mati sudah
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
ohh jd ini hanya ulah 1 orag nya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi emang udah di atur sedemikan rupa ya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅: ya itu inseden itu
total 2 replies
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
kek udah di tata rapi ya kira2 siapa yg me jebak nya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
ohh jadi ini lah alasan barata marah3 mulu tp knp kanya sama barata bisa nikah ya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi tes dna juga
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi ini benaeran anak rafa
venezuella
benang misteri ayah alya mulai terurai, siapa barata atau rafa?
kogoro mouri, siap beraksi memecahkan misteri 🧐
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi bisa saja wktu itu emang kanaya sama rafa ya kan bukan sm barata
kek nya dr situ jelas deh siapa ayah alya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
nahh yo knp g di tes dna aja sih biar tau gtu
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅: ish2 sllu gtu
total 2 replies
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi insiden apa itu hayoo
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jd blm tau ayah alya ya kira2 mengejutakn bukan faktanya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi dia aman dr apa sih sebenarnya aq sebarny pusing lho
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
kira2 semua terbingkar kapan ya
dan akan musnah semua musuh2 nya dan sebeneranya yg di buru apa coba
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi bertemu juga ya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
wow lantas rumah yg dlu di tempati bibi nya alias mamak angkatnya rafa kemana
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦✍️⃞⃟𝑹𝑨💫⃝ˢᶦ𝐂ɪᴘяᴜт: sabar, nanti akan terungkap semua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!