Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.
Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.
Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.
Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Di Luar Batas Sekte
Sosok berjubah melintas di depan pintu gudang,
tidak masuk, tidak menoleh. Cahaya pagi menyentuh sisi wajahnya sesaat sebelum ia melewati ambang pandang.
Wei Ren.
Han Ye menoleh tajam—
tubuhnya sudah condong ke depan, satu langkah hampir terlepas.
Yi langsung menarik lengannya.
"Han—jangan," katanya cepat, nyaris berbisik.
Mo Ran refleks ikut menahan.
Han Ye berhenti, napasnya berat.
"Itu Wei Ren," katanya rendah, jelas tidak berniat menunggu.
Yi menatapnya, rahangnya mengeras.
"Justru itu," katanya.
"Kalau kau maju sekarang, semuanya berhenti di sini."
Mo Ran ikut menggenggam lengan Han Ye, refleks.
"Kalau kau tanya langsung, dia akan tahu kita mengendus Tetua Fan."
Rahang Han Ye mengeras. Napasnya berat, tertahan di dada.
"Yanzhi masih di dalam menara," katanya rendah.
"Setiap detik kita menunggu—"
"Justru karena itu kita tidak boleh ceroboh," jawab Yi tenang, tapi tegas.
"Kalau kita menekan Wei Ren sekarang, satu-satunya hasil adalah penyangkalan. Tidak ada bukti. Tidak ada jalan keluar untuk Yanzhi."
Han Ye memalingkan wajah, tinjunya mengepal.
Mo Ran mengerti kemarahan itu. Ia merasakannya juga.
Yi melangkah sedikit ke arah pintu gudang, matanya mengikuti arah koridor tempat Wei Ren menghilang.
"Tapi dia baru saja memberi kita celah," katanya pelan.
Han Ye menoleh.
"Wei Ren tidak akan berjalan tanpa tujuan," lanjut Yi.
"Kalau Tetua Fan masih bersembunyi, hanya ada satu tempat dia akan muncul di jalur yang sama dengan Wei Ren."
Mo Ran mengangkat kepala.
"Maksudmu…"
Yi mengangguk.
"Kita tidak bertanya," katanya.
"Kita mengikuti."
Han Ye terdiam lama.
Lalu akhirnya ia mengendurkan tinjunya.
"Satu kesempatan," katanya dingin.
"Kalau jalur ini buntu, aku tidak akan menunggu lagi."
Yi menatapnya lurus.
"Aku tahu."
Udara di gudang terasa berat.
Bukan karena mereka hampir ketahuan—
melainkan karena mereka baru saja memilih jalan yang tidak bisa lagi ditarik kembali.
Langkah Wei Ren terdengar stabil di koridor batu.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Cukup tenang untuk orang yang yakin tidak sedang diawasi atau yang ingin orang lain percaya begitu.
Han Ye mengikuti dari jarak aman, cukup jauh untuk tidak menciptakan bayangan ganda, cukup dekat untuk tidak kehilangan arah. Napasnya teratur, langkahnya disesuaikan dengan ritme Wei Ren.
Di persimpangan pertama, Yi berhenti.
Mo Ran ikut berhenti.
Han Ye tidak menoleh.
Ia terus berjalan.
Yi menatap Mo Ran singkat, satu isyarat, tanpa kata.
Mereka berdua berbelok ke arah lain.
Lorong ini lebih sempit, jarang dilalui. Cahaya pagi terpecah oleh kisi jendela tinggi, membentuk garis-garis tipis di lantai batu. Suara langkah Han Ye perlahan memudar.
Mo Ran berbisik, hampir tak terdengar.
"Kalau dia sadar cuma Han Ye yang mengikuti—"
"Dia akan mengira Han Ye ceroboh," jawab Yi pelan.
"Dan itu yang kita mau."
Mereka bergerak cepat, tapi tidak terburu-buru. Yi memilih jalur yang tidak langsung menuju pusat sekte, melainkan memotong dari sisi belakang paviliun tua, jalur yang hanya dipakai oleh tetua atau murid pengurus logistik.
Di sisi lain—
Wei Ren melambat.
Bukan karena lelah.
Melainkan karena ia merasa ritme di belakangnya berubah.
Satu.
Bukan tiga.
Ia tidak menoleh.
Tidak berhenti.
Namun sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
> Jadi hanya satu yang berani.
Ia berbelok tajam ke lorong samping, jalur yang tampak seperti jalan buntu, berakhir di taman batu kecil yang jarang dikunjungi. Tempat yang sempurna untuk melihat apakah bayangan di belakang akan ikut masuk… atau berhenti.
Han Ye masuk tanpa ragu.
Di kejauhan, Wei Ren berhenti di dekat kolam dangkal. Ia menunduk, seolah memperhatikan ikan kecil di air keruh.
"Han Ye," katanya tiba-tiba, tanpa menoleh.
"Kau berjalan terlalu keras untuk seseorang yang ingin sembunyi."
Han Ye berhenti.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
Di sisi lain taman, di balik tembok rendah yang tertutup lumut, Mo Ran mengintip celah batu.
Ia melihat sesuatu yang Yi langsung tangkap maknanya.
Jejak kaki.
Bukan lama.
Masih basah oleh embun pagi.
Dan bukan satu.
"Ada jalur keluar lain," bisik Mo Ran.
Yi menahan napas.
Mo Ran menelan ludah.
"Dan kalau begitu… Tetua Fan—"
"Tidak di sini," sambung Yi cepat.
"Tapi dekat. Sangat dekat."
Yi menoleh ke arah tembok belakang taman, tempat jalur kecil itu mengarah ke area yang bahkan murid senior jarang masuki.
Area terlarang tingkat rendah.
Bukan disegel.
Hanya… dihindari.
Yi menghela napas pendek.
“Kita cari apa yang Wei Ran jaga,” katanya.
Mo Ran mengangguk, jantungnya berdebar keras.
Yi tidak menunggu lebih lama.
"Lewat sini," bisiknya.
Ia melompati tembok rendah taman, mendarat tanpa suara di sisi luar jalur batu. Mo Ran mengikutinya, napas tertahan. Di balik tembok itu, jalur menyempit menjadi tanah padat yang jarang diinjak, bukan bagian dari rute resmi sekte.
Udara berubah.
Lebih berat. Lebih dingin.
Bukan karena bayangan, melainkan karena aliran qi yang tidak lagi bersih.
Mo Ran merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Ini… bukan wilayah sekte," gumamnya.
Yi mengangguk. "Batas luar."
Mereka bergerak menyusuri jalur itu. Semakin jauh dari bangunan sekte, semakin jarang tanda kehidupan, tidak ada lentera, tidak ada penanda jalur, hanya batu alam dan semak rendah yang tumbuh liar.
Lalu Mo Ran berhenti mendadak.
"Yi."
Ia berjongkok, menunjuk tanah di dekat batu besar.
Jejak itu tidak seperti jejak murid. Tidak rapi. Tidak beraturan.
Bekas telapak kaki bercampur goresan panjang, seolah sesuatu diseret, bukan berjalan.
Dan di sela batu—
Mo Ran mengangkat sebuah benda kecil.
Sebuah liontin giok pucat, retak halus di satu sisi, talinya hampir putus.
Yi membeku saat melihatnya.
"Ini…" napasnya tertahan.
Mo Ran menatapnya. "Kau kenal?"
Yi mengangguk pelan. "Guru Lu Ming memakainya. Selalu. Katanya untuk menstabilkan qi saat menyusun segel."
Mo Ran menggenggam liontin itu lebih erat.
Retakannya bukan alami. Bukan usia.
Retakan akibat benturan qi.
"Berarti dia dibawa lewat sini," kata Mo Ran lirih.
"Dan tidak sadar," sambung Yi. "Kalau sadar, dia tidak akan menjatuhkan ini."
Mereka saling pandang.
Tidak ada lagi keraguan.
Yi berdiri, menatap jalur di depan yang kini menurun, masuk ke cekungan batu alami yang tertutup pepohonan rapat.
"Pelahap inti," katanya rendah. "Mereka tidak bisa bersembunyi lama di dalam sekte. Tapi di luar batas—"
"—mereka bisa membuat sarang," potong Mo Ran.
Mereka melanjutkan.
Qi di udara semakin keruh, seperti ada lapisan tipis yang menahan napas. Batu-batu di sekitar membentuk pola tidak alami, bukan formasi segel penuh, tapi cukup untuk mengacaukan persepsi.
Mo Ran hampir tersandung.
Yi menarik lengannya cepat.
"Perangkap sederhana," katanya. "Bukan untuk membunuh. Tapi untuk memperlambat."
Mo Ran menelan ludah. "Untuk tawanan."
Di balik tikungan batu, mereka melihatnya.
Bukan goa. Bukan bangunan.
Sebuah cekungan tertutup segel kasar, dibuat terburu-buru, dengan tanda qi yang terus menggerogoti pusatnya.
Dan di tengahnya—
Sosok berjubah terbaring, diikat lingkaran energi gelap yang menyedot perlahan.
"Guru Lu Ming…" suara Mo Ran nyaris pecah.
...****************...
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu