Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Mulai ngidam, tapi kok??
Begitulah, Risa dan Rio akhirnya menjalani kehidupan mereka sebagai suami-istri yang sah di apartemen pemberian Dewi meski sejujurnya keduanya enggak begitu akur. Risa yang gengsian, Rio yang bisa dibilang berusaha sabar dan cuek (kombinasi yang aneh).
Risa pun mulai terbiasa dengan jadwal kerja Rio yang pergi malam pulang pagi dan langsung ke sekolah (jadi dia gak pulang dulu) macam kalong kalau dipikir-pikir. Risa justru bersyukur sih karena dia gak harus sering-sering ketemu sama Rio di rumah.
Hingga satu bulan berlalu, kandungan Risa benar-benar berisi dan tumbuh. Bahkan sang bunda sampai mengadakan acara syukuran pertama yang tentu saja hanya dihadiri kerabat terdekat dan teman-teman Risa. Sementara dari pihak Rio, ia masih belum menceritakan mengenai semua ini. Pemuda itu hanya mengatakan kalau ia tinggal di rumah temannya biar lebih dekat ke sekolah jadi ia gak boros bensin dan bisa menabung lebih. Ibu Rio dan sang adik percaya-percaya saja dengan itu.
Siang ini ibunya Risa sudah terlihat sibuk untuk menyiapkan semua masakan untuk acara syukuran nanti malam. Ia mengundang 50 tamu. Beberapa kerabat dekat, seperti saudara dekat dan kolega juga hadir. Rio yang biasanya rajin membantu urusan dapur kali ini terlihat tidak turut serta. Pemuda itu tampak agak pucat. Mungkin dia sedang sakit.
Tapi hal berbeda justru ditunjukkan oleh Risa. Wanita yang biasanya anti kena bumbu dapur itu justru terlihat sibuk di dapur. Meski ia tak bisa memasak, tapi Risa terlihat membantu mencuci buah, sayuran, membersihkan peralatan yang sudah terpakai, bahkan hal yang gak pernah ia lakukan kayak memotong bawang pun dikerjakan.
Tentu saja sikap Risa yang begitu berbeda seperti sebuah fenomena keajaiban dunia bagi orang-orang terdekat yang mengenal dia, termasuk ibunya sendiri yang mulai mengecek keaslian anaknya.
"Risa, itu bawang merah pedas loh!" Ucap sang ibu memperingati.
"Risa tau kok, kenapa? Enggak boleh bantuin?" Risa malah menjawab dengan ketus.
"Ya, cuma mau ingetin kamu, habis potong bawang jangan kucek mata, nanti perih!" Balas sang ibu malah kena semprot sama anaknya sendiri.
"Iya gampang, nanti cuci tangan habis ini," ujarnya yang tetap fokus terhadap si bawang merah yang sedang dia iris kecil-kecil.
Sang ibu hanya geleng-geleng sambil mikir anaknya kesambet apaan, mendadak jadi rajin dibantu, sementara Rio....
"Rio sakit apa gimana Ris?" Tanyanya saat melirik Rio yang ada di depan, tepatnya ruang TV sedang tiduran di atas sofa.
"Gak tau," jawab Risa singkat dan padat.
"Gak biasanya dia kayak gitu...."
Karena penasaran akhirnya wanita itu memutuskan untuk mengecek langsung keadaan Rio yang sejak dia datang masih tiduran di sofa.
"Rio? Kamu gak apa-apa?"
Dewi melongok sedikit melihat Rio yang terlelap. Wajahnya sedikit pucat.
"Mmmh..., kayaknya enggak deh, dari tadi pagi bawaannya pusing...," jawab Rio dengan suara yang lemah.
"Oh, kamu sudah minum obat?" Tanya Dewi lagi yang kayaknya dia yakin kalau Rio beneran sakit.
"Gak apa-apa Tante, Rio cuma butuh tidur aja, nanti sore mungkin udah baikan." Rio menggeleng lemah.
"Ya ampun, Risa!" Dewi menarik napasnya dalam-dalam saat sadar kalau kayaknya Rio belum minum obat apapun dan Risa terlalu cuek buat peduli.
Dewi dengan langkah kasar pergi menuju dapur. Sementara itu baik Risa dan Rio yang mendengar suara Dewi yang menggelegar sontak terkejut. Risa sampai menjatuhkan pisau yang sedang ia genggam, lalu Rio, dia sudah melompat dari sofa dan bangun menyusul Dewi.
"Risa!" Dewi muncul dibalik pintu dapur dengan wajah murka.
"Ada apa sih, Ma? Bikin orang jantungan aja deh!" Balas Risa yang agak kesal. Ia membungkuk untuk mengambil pisaunya yang jatuh.
"Kamu ini bagaimana, sih? Suami lagi sakit masa gak diurus? Rio itu sakit, kamu harusnya beliin dia obat!" Oceh wanita itu yang heran melihat sikap anaknya sendiri.
"Idih, mana Risa tau kalau dia sakit! Dia aja enggak bilang!" Bela Risa gak mau disalahin.
"Tante, udah gak apa-apa, Rio cuma pusing ringan kok." Rio mencoba untuk menghentikan kemarahan Dewi. Tapi perasaan pemuda itu jadi berubah begitu masuk dapur.
Rio langsung menutup hidung begitu masuk dapur. Kayak ada aroma bawang yang begitu kuat dan membuat perutnya jadi gak enak.
"Bau banget sih...," ucapnya secara reflek dan langsung bergegas keluar dapur menuju kamar mandi.
Dewi dan Risa serta beberapa pelayan yang berada di dapur saling berpandangan aneh.
Dewi yang curiga lekas menyusul Rio ke kamar mandi, dan apa yang terjadi?
HOEEEEEEKKK!
Yak, benar saudara-saudara Rio ternyata lagi muntah di kamar mandi.
"Rio, kamu kok muntah? Masuk angin?" Tanya Dewi buat memastikan dugaan.
"Enggak Tante...," jawab Rio setelah keluar kamar mandi dan menggeleng lemah.
Risa tiba-tiba ikut datang sama beberapa pelayan yang lagi cekikikan aneh dan bikin Risa merasa risih.
Rio yang melihat Risa entah kenapa dia merasa mual dadakan dan balik lagi ke kamar mandi.
"Be-bentar Tante!"
Terdengar suaranya yang kayak orang muntah di dalam kamar mandi, bikin cemas dan bingung.
Beberapa saat kemudian pemuda itu kembali keluar, tapi lagi, setelah melihat Risa perutnya langsung gak enak dan dia terlihat seperti sedang menahan rasa muntah.
"Lu kenapa sih?" Tanya Risa heran dengan kelakuan Rio.
"Gak tau...." Pemuda itu akhirnya beneran balik lagi ke kamar mandi buat muntah.
"Bu Risa jangan di situ dulu deh, kayaknya saya gak bisa lihat muka Ibu." Suara Rio terdengar memelas dari dalam kamar mandi.
"Hah, apa maksud lu bilang kayak tadi!?" Risa jelas kagak terima.
Dok
Dok
Dok!!!
Risa langsung menggedor pintu kamar mandi dengan sangat keras.
"Maksud lu apaan? Lu muntah tiap liat muka gue!???" Tanya Risa emosi. "Buka pintunya Rio! BUKAAAAAAA!!" Yak, Risa kayaknya ngamuk.
Krieeet....
Pintu kamar mandi akhirnya dibuka, tapi tidak sepenuhnya. Rio hanya membuka celah kecil lalu mengintip dari dalam.
"Bu, plis jangan di situ, kayaknya ini beneran karena liat muka ibu," ucap Rio akhirnya jujur.
Semua orang di luar pintu tertawa kecuali Risa yang semakin murka.
"Udah Risa, mending kamu pergi dulu, suami kamu kayaknya lagi ngidam deh," ucap sang ibunda sambil tersenyum.
"Hah? Ngidam?" Risa terdiam, dia kayak berusaha mencerna perkataan ibunya barusan.
"Jangan ngibul, masa ngidam? Padahal yang hamil 'kan gue!" Ucap Risa bingung (belum tahu aja dia).
"Bu Risa beruntung lho, kalau sampai suami yang ngidam itu artinya sayang!" Celetuk seorang pelayan dengan nada menggoda.
"Hah, ngomong apaan sih?" Muka perempuan itu sontak merona.
"Bu, buruan, di dalam kamar mandi dingin banget!" Suara Rio seakan menyadarkan mereka kalau pemuda itu masih berada di dalam sana dan belum berniat keluar kalau Risa masih berada dalam jarak pandangnya.
"Hmph, ya udah nih gue pergi, tapi liat aja kalau lu cuma bohongin gue!" Ujar Risa setengah mengancam.
Gak lama setelah Risa pergi Rio baru memberanikan diri keluar kamar mandi sambil mengelus dada.
"Hah, lega...," ucapnya sambil setengah bersandar ditembok gegara masih lemas tadi beberapa kali muntah.
"Rio, kamu kayaknya jadi yang ngidam deh," ujar Dewi sambil menepuk pundak pemuda itu.
"HAH?? GUA NGIDAM? KOK BISA????" yak, Rio pun sama terkejutnya kayak Risa.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana nanti Rio menjalani kesehariannya kalau dia beneran ngidam???
.
.
.
BERSAMBUNG....