Lina adalah pewaris kekuatan supranatural Dorong & Tarik yang hebat, sebuah energi kinetik yang hanya mengalir di garis keturunan perempuan keluarganya. Jika Lina fokus, ia bisa memindahkan truk. Tapi karena ia ceroboh, ia lebih sering menghancurkan perabotan rumah, membuat Ayah dan adiknya, Rio, selalu waspada.
Kekuatan yang harus ia sembunyikan itu, ia gunakan secara terlalu ikhlas untuk membantu seorang kakek mendorong gerobak rongsokan, yang menyebabkannya melesat kencang di jalanan.
Insiden konyol ini ternyata disaksikan oleh CEO Aris, seorang pebisnis jenius nan tampan yang sedang diburu musuh misterius. Aris langsung terobsesi dan merekrut, apa yang terjadi di kehidupan lina Bersiaplah mengikuti drama komedi supranatural ini.lerstgooo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Undangan Misterius
Lina lagi asyik makan pancake buatan Aris yang dibentuk muka kucing pas tiba-tiba ada paket misterius nyampe di depan pintu penthouse. Gak ada kurir, gak ada bel, tiba-tiba aja ada kotak hitam elegan dengan pita warna lilac tergeletak manis di sana.
"Aris! Ada paket nih! Kamu beli gadget baru lagi ya?" teriak Lina sambil mulutnya masih penuh pancake.
Aris keluar dari ruang kerjanya dengan muka serius. Wajahnya yang biasanya tenang sekarang kelihatan agak tegang. "Aku gak pesen apa-apa, Lina. Jangan dibuka dulu, biar aku cek sensornya."
Aris pake alat pemindai dari tabletnya. Sinar biru tipis menyisir permukaan kotak itu. "Aman dari bahan kimia atau ledakan standar. Tapi... ada energi kinetik yang kebaca di dalemnya. Frekuensinya aneh, kayak detak jantung tapi dari benda mati."
Lina yang rasa penasarannya sudah di tingkat dewa langsung sat-set buka pitanya. Pas kotaknya kebuka, bukannya barang pecah belah, yang muncul adalah sebuah kartu undangan dari logam hitam yang melayang sekitar 10 senti di atas kotak.
"Wih! Undangan drakor vibes banget! Melayang dong!" Lina nyoba nangkep kartu itu. Begitu disentuh, sebuah proyeksi hologram muncul di udara, menerangi ruang tamu mereka yang remang-remang.
"Natalie, Ratu Kinetik yang tersembunyi. Kamu diundang ke The Grand Kinetic Gala. Lokasi: Gedung Sky-Vault, Lantai 100. Dresscode: Formal & Deadly. Jangan telat, atau rahasia 'Peri Ungu'-mu bakal jadi konsumsi publik di seluruh billboard kota. Kami tahu siapa kamu di balik sweater lilac itu."
Lina melongo. "Gila! Ini orang niat banget mau spill identitas aku! Aris, kita harus gimana? Ini red flag parah! Kalau identitas aku kebongkar, aku gak bisa lagi jajan seblak dengan tenang di pinggir jalan!"
Aris ngambil kartu itu, matanya berkilat tajam. "Dia nantang kita, Lina. Dia tahu identitas kamu, dan dia tahu cara mancing kita. Tapi tenang, Direktur Taktis kamu sudah punya rencana. Kita bakal dateng, tapi kita bakal dateng dengan gaya yang paling savage. Mereka pikir mereka bisa intimidasi kita? Mereka belum tahu siapa sebenarnya pasangan Top Markotop ini."
Masalah utama muncul: Lina gak punya baju formal yang "Deadly". Koleksinya cuma seputar hoodie ungu, kaos oversized, dan rok tenis yang biasanya dia pake buat healing ke mall.
"Aris, aku gak bisa dateng pake baju kayak mau ke pasar kemarin! Nanti aku dikira anak ilang yang nyasar ke pesta orang kaya raya! Aku butuh sesuatu yang slay tapi tetep bisa bikin orang mental kalau macem-macem!" keluh Lina sambil bongkar-bongkar lemarinya sampai berantakan—sebuah kesemrawutan mode yang luar biasa.
Aris senyum penuh arti, tipe senyum yang bikin Lina deg-degan. "Tenang, Natalie. Aku sudah desain sesuatu buat kamu sejak insiden di mall kemarin. Aku tahu cepat atau lambat kita bakal butuh ini. Kita sebut
Aris ngebawa Lina ke lab rahasianya di bawah penthouse. Di sana, ada sebuah gaun ballgown pendek warna deep lilac yang dipajang di manekin. Bahannya kelihatan kayak sutra halus tapi kalau kena cahaya, ada pola heksagonal kecil yang berkilau aneh.
"Ini gaun apa, Aris? Kok kayak baju astronot masa depan?" tanya Lina bingung sambil mencolek bahu gaun itu.
"Ini gaun dari serat karbon fleksibel yang sudah aku tanemin sensor kinetik mikro di setiap jahitannya," jelas Aris bangga. "Gaun ini bakal nyesuain sama gerakan kamu secara real-time. Kalau kamu pake kekuatan Dorong Kinetik, jahitannya gak bakal robek karena seratnya bakal memuai otomatis. Dan bagian bawahnya punya layer pelindung elektromagnetik yang bisa jadi perisai kalau ada serangan mendadak. Plus, sepatunya sudah aku modifikasi. Hak 15 senti tapi rasanya kayak pake sneakers karena ada peredam getaran kinetik di dalamnya."
Lina matanya langsung berbinar. "Wah! Ini sih beneran main character energy! Aku bakal kelihatan slay tapi tetep bisa ngehajar orang sampai ke bulan! Aris, kamu emang beneran Direktur Taktis paling juara!"
Sebelum berangkat, Aris maksa Lina buat latihan jalan pake high heels itu. Ini adalah bagian paling drakor komedi dalam hidup Lina. Bayangin, cewek yang biasanya lari-larian nangkep copet, sekarang harus jalan anggun kayak model papan atas.
"Ayo Lina, punggung tegak, dagu naik dikit. Anggap aja kamu lagi di runway Paris Fashion Week dan semua orang lagi nungguin kamu," instruksi Aris sambil megang tablet buat mantau sensor di sepatu Lina.
Lina nyoba jalan. Satu langkah... dua langkah... KREK!
Lina gak sengaja pake kekuatan di jempol kakinya karena tegang. Dia refleks menekan lantai terlalu keras. Lantai marmer lab Aris langsung retak seukuran koin.
"Aduh! Maaf! Sepatunya terlalu enteng, aku jadi ngerasa gak napak!" Lina hampir jatuhnya ke depan, tapi Aris dengan sigap langsung nangkep pinggangnya.
Suasananya mendadak jadi slow motion. Mata mereka ketemu, dan di kepala Lina seolah-olah muter lagu ballad Korea yang super romantis. Wajah Aris deket banget, aroma parfumnya yang maskulin dan menenangkan kerasa banget di hidung Lina.
"Fokus, Natalie. Gunakan Sentuhan Mikro-mu buat ngerasain gravitasi, bukan buat ngerusak properti aku," bisik Aris lembut, suaranya agak berat yang bikin bulu kuduk Lina merinding.
Lina mukanya langsung merah merona sampai ke telinga. "I-iya, Pak Direktur! Makanya jangan pegang-pegang terus, nanti aku malah Tarik Kinetik jantung kamu sampai copot nih karena terlalu deg-degan!"
Aris ketawa, tipe ketawa renyah yang bikin Lina makin gemas. Dia ngelepasin Lina pelan-pelan. "Oke, lanjut latihannya. Kita harus kelihatan kayak power couple paling aesthetic dan berbahaya malam ini. Gak boleh ada yang curiga kalau kamu itu cewek yang sama yang bikin geger mall kemarin."
Malam harinya, sebuah limosin hitam metalik berhenti di depan gedung Sky-Vault. Gedung ini adalah yang paling tinggi di kota, tempat para elit ngumpul buat ngomongin bisnis dan hal-hal gelap. Aris keluar duluan, pake tuksedo hitam yang pas banget di badannya—vibes-nya bener-bener kayak CEO dingin nan tampan di drakor Business Proposal.
Terus, dia buka pintu buat Lina dengan gaya gentleman abis.
Lina keluar dengan gaun lilac-nya. Rambutnya di-styling wavy elegan dengan jepit rambut berlian kecil. Begitu dia melangkah, semua mata di lobi—dari petugas keamanan sampai tamu undangan lain—langsung tertuju ke dia. Lina bener-bener kelihatan kayak dewi kinetik yang turun buat ikut pesta.
"Gila, Aris. Aku ngerasa semua orang lagi nge- judge aku karena aku paling pendek di sini," bisik Lina sambil megang lengan Aris kuat-kuat sampai jas Aris agak kusut.
"Gak, Lina. Mereka gak lagi nge- judge. Mereka lagi salfok karena kamu cantik banget malam ini sampai mereka lupa caranya napas. Jangan panik, tetep slay. Ingat, kamu itu Ratu Kinetik," bales Aris tenang, ngasih kekuatan mental buat Lina.
Mereka naik lift transparan menuju lantai 100. Begitu pintu lift kebuka, suasana pesta kelas atas langsung nyambut mereka. Musik klasik yang elegan, orang-orang pake perhiasan seharga rumah, dan aroma parfum mahal yang nyengat. Tapi buat Lina, ini adalah kegilaan yang berbahaya. Dia bisa ngerasain ada getaran kinetik dari beberapa orang di ruangan itu. Mereka bukan manusia biasa.
Di tengah pesta, deket air mancur cokelat yang super mewah, seorang pria tinggi dengan rambut perak dan setelan jas abu-abu metalik mendekati mereka. Namanya Ryu, dia punya vibes sad boy tapi misterius yang sering ada di drakor sebagai musuh yang sebenernya ganteng tapi jahat.
"Selamat datang, Natalie. Dan Tuan Aris, sang otak di balik teknologi yang berusaha meniru kekuatan kami," sapa Ryu dengan senyum tipis yang kerasa fake banget. Suaranya dingin, kayak es kutub.
Lina langsung pasang mode waspada. "Jadi kamu yang kirim kartu melayang itu? Mau kamu apa sebenernya? Mau spill video aku di TikTok biar aku gak bisa hidup tenang?"
Ryu ketawa pelan, suara tawanya terdengar meremehkan. "Tenang, Natalie. Aku bukan influencer sampah kayak Bimo. Aku cuma mau ngajak kamu gabung di The Kinetic Underground. Dunia ini gak adil buat orang-orang sakti kayak kita. Kita punya kekuatan besar, tapi kita harus sembunyi di balik sweater ungu yang membosankan? Itu sangat menyedihkan buat bakat sebesar kamu."
Aris maju selangkah, posisinya sekarang nutupin Lina dari pandangan Ryu. "Lina bukan bagian dari 'Underground' kalian yang pengecut. Dia punya hidupnya sendiri yang normal, dan aku yang bakal mastiin dia tetep aman tanpa harus gabung sama organisasi sirkus kalian."
Ryu naikin alisnya, wajahnya berubah jadi agak sinis. "Oh ya? Tuan CEO pikir mainan teknologi bisa ngalahin insting murni kami? Gimana kalau kita tes sedikit seberapa kuat perlindunganmu?"
Tiba-tiba, Ryu ngejentikkin jarinya. Tanpa ada angin atau gerakan fisik, semua gelas kaca berisi sampanye di meja katering di belakang Lina melayang serentak dan meluncur kencang ke arah punggung Aris seperti peluru!
VI. Aksi Gaun Kinetik yang Epic
Lina gak tinggal diem. Inilah momen yang bikin Aris bangga punya pasangan kayak dia.
Gak pake lama, Lina langsung muter badannya dengan gerakan yang bener-bener luwes. Gaun lilac-nya ngembang dengan indah seperti kelopak bunga mawar, dan sensor kinetik di gaunnya langsung aktif, berpendar ungu tipis. Lina gunain Dorong Kinetik lewat telapak tangannya buat nyiptain dinding tekanan udara transparan di belakang Aris.
PRANG! PRANG! PRANG!
Semua gelas kaca itu hancur berkeping-keping tepat 10 senti sebelum nyampe ke Aris. Berkat kontrol Lina yang luar biasa, serpihannya ketahan sama tekanan udara dan jatuh rapi ke lantai tanpa berhamburan. Gak ada satu pun tetes sampanye yang kena tuksedo Aris.
Lina berdiri tegak, matanya sekarang berkilat warna ungu cerah. "Jangan. Pernah. Sentuh. Aris. Mengerti? Atau aku bakal pastiin kamu pulang tanpa bisa jentikkin jari lagi," ancam Lina, suaranya rendah tapi penuh tekanan.
Suasana pesta langsung hening total. Musik berhenti. Para tamu undangan pada melongo, mereka pikir itu bagian dari pertunjukan sulap tingkat tinggi yang disiapin panitia.
Ryu malah tepuk tangan pelan, matanya nunjukin rasa kagum yang aneh. "Luar biasa. Refleks yang sangat cantik dan kontrol yang presisi. Gaun itu... buatanmu, Aris? Sangat fungsional buat menyembunyikan getaran energi."
Aris benerin dasinya yang agak miring, tetep tenang meskipun nyawanya tadi hampir terancam. "Itu cuma 1% dari kemampuan Natalie yang bisa aku tunjukin di depan umum. Sekarang, stop dramanya. Apa mau kamu sebenernya sampai harus ngancem pake rahasia pribadi?"
Ryu mendekat, aromanya kayak kayu bakar yang terbakar. Dia ngebisikin sesuatu tepat ke telinga Lina yang bikin jantung Lina serasa berhenti detak. "Turnamen itu nyata, Natalie. Dan orang tua kamu... mereka gak hilang karena kecelakaan pesawat biasa. Mereka ada di sana, di tempat yang paling gelap. Kalau mau tahu lebih banyak, menangin babak pertama dan tunjukkan kamu layak menyandang gelar Ratu."
Lina kaget setengah mati. Wajahnya yang tadinya merah karena emosi langsung pucat pasi. "Apa maksud kamu?! Orang tua aku?! Jangan bohong ya! Mereka sudah gak ada!"
Ryu cuma senyum misterius, terus jalan menjauh dan ilang di kerumunan tamu yang mulai kasak-kusuk. Kesemrawutan emosi sekarang beralih ke dalam hati Lina.
Lina ngerasa kakinya lemes banget. Pengakuan Ryu soal orang tuanya bener-bener bikin dunianya jungkir balik. Aris langsung ngerangkul pinggang Lina kuat-kuat dan ngebawa dia keluar dari gedung mewah itu. Mereka gak peduli sama panitia atau tamu-tamu yang mulai bisik-bisik soal "Si Cewek Ungu".
Mereka akhirnya berhenti di sebuah kedai sate gerobakan di pinggir jalan yang sepi, kontras banget sama kemewahan Sky-Vault tadi. Lina masih pake gaun mahalnya, duduk di bangku plastik pendek.
"Lina, kamu oke? Tarik napas pelan-pelan," tanya Aris khawatir sambil ngelepas jas tuksedonya dan masangin ke bahu Lina biar dia gak kedinginan kena angin malam.
Lina diem sebentar, menatap jalanan yang mulai sepi. "Aris, dia bilang soal orang tua aku. Selama ini aku pikir mereka meninggal karena kecelakaan pesawat 10 tahun lalu. Tapi kalau bener mereka masih hidup dan ditawan di turnamen itu... aku harus gimana?"
Aris genggam tangan Lina kuat-kuat, berusaha nyalurin ketenangan. "Kita bakal cari tahu kebenarannya bareng-bareng, Lina. Aku bakal kerahin semua satelit dan tim intelejen Phoenix Tech buat nyari jejak Ryu dan organisasi kinetik underground itu. Kamu gak sendirian menghadapi kegilaan ini."
Lina nyoba senyum, meskipun matanya agak berkaca-kaca. "Makasih ya, Aris. Padahal tadi aku mau tampil savage dan keren, eh malah akhirnya galau dan nangis di depan tukang sate begini."
Aris ketawa kecil, terus nyuapin satu tusuk sate ayam ke mulut Lina buat ngehibur dia. "Kamu tetep savage kok tadi. Pas kamu muter dan gelas-gelas itu hancur berkeping-keping, kamu bener-bener kelihatan kayak pahlawan wanita paling keren yang pernah aku liat. Aku sampai lupa kalau aku ini CEO saking terpesonanya."
Lina makan satenya sambil cengar-cengir, mood-nya mulai membaik. "Beneran? Aku cantik banget ya tadi pas lagi marah?"
"Banget. Cantik tapi mematikan. Sampai aku ngerasa harus bikin gaun itu jadi anti-peluru dan anti-radiasi juga, biar gak ada cowok lain yang berani natap kamu lebih dari tiga detik," goda Aris sambil nyubit pipi Lina.
Lina mukul pelan lengan Aris. "Dasar posesif! Tapi aku suka sih diperhatiin gitu."
Malam itu, di tengah hiruk pikuk Jakarta, Lina ngerasa bebannya sedikit terangkat. Meskipun ada misteri besar soal keluarganya, dia tahu dia punya Aris yang selalu backup dia—baik lewat sistem IT canggih, gaun kinetik yang aesthetic, atau sekadar sepiring sate ayam di pinggir jalan.
Lina ngelihat ke langit bintang yang ketutup polusi kota. "Oke, turnamen atau apa pun itu, Natalie siap. Karena hidup ini emang harus dihadapi dengan cara yang Top Markotop dan penuh gaya!"
Pas mereka mau balik ke mobil, tablet Aris yang ada di saku jasnya bunyi bip kencang. Sebuah koordinat GPS baru muncul di layar dengan simbol tengkorak ungu.
"Lina, ada pesan masuk lagi dari sumber terenkripsi. Kayaknya Ryu gak mau kasih kita waktu buat istirahat," kata Aris dengan nada serius.
Lina ngintip ke layar tablet. Di sana ada tulisan singkat dengan font yang bergetar: "Babak Pertama: Pelabuhan Tua, Besok Jam 12 Malam. Lawanmu: Si Pemakan Besi. Pemenang dapet satu petunjuk soal keberadaan ibumu."
Lina narik napas panjang, terus ngepalkan tangannya sampai buku jarinya putih. "Si Pemakan Besi? Nama yang norak. Oke, besok aku bakal kasih dia diet kinetik yang gak bakal dia lupain seumur hidup. Dia salah milih lawan kalau berani macem-macem sama Natalie."
Aris natap Lina dengan bangga. "Itu baru Ratu Kinetik aku. Ayo pulang, kita harus modifikasi sepatu kamu buat medan pelabuhan yang licin. Besok, kita kasih mereka pertunjukan yang sebenernya."