NovelToon NovelToon
Cinta Atau Obsesi??

Cinta Atau Obsesi??

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: nhaya

Kanaya hidup dalam gelembung kaca keindahan yang dilindungi, merayakan tahun-tahun terakhir masa remajanya. Namun, di malam ulang tahunnya yang ke-18, gelembung itu pecah, dihancurkan oleh HUTANG GELAP AYAHNYA. Sebagai jaminan, Kanaya diserahkan. Dijual kepada iblis.Seorang Pangeran Mafia yang telah naik takhta. Dingin, cerdik, dan haus kekuasaan. Artama tidak mengenal cinta, hanya kepemilikan.Ia mengambil Kanaya,gadis yang sepuluh tahun lebih muda,bukan sebagai manusia, melainkan sebagai properti mewah untuk melunasi hutang ayahnya. Sebuah simbol, sebuah boneka, yang keberadaannya sepenuhnya dikendalikan.
​Kanaya diculik dan dipaksa tinggal di sangkar emas milik Artama. Di sana, ia dipaksa menelan kenyataan bahwa pemaksaan adalah bahasa sehari-hari. Artama mengikatnya, menguji batas ketahanannya, dan perlahan-lahan mematahkan semangatnya demi mendapatkan ketaatan absolut.
Bagaimana kelanjutannya??
Gas!!Baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Otak encer yang tersembunyi

​Artama menyadari satu hal yang selama ini ia lewatkan.Kanaya memiliki kemampuan observasi dan analisis tingkat tinggi. Dia adalah tipe orang yang menyerap informasi seperti spons, menyatukan titik-titik data yang berserakan, dan membangun gambaran besar yang bahkan orang profesional pun sering kali gagal melihatnya.

​Artama meraih ponselnya dan menekan nomor Sofia melalui jalur internal.

​"Bicaralah," perintah Artama singkat saat Sofia mengangkatnya.

​"Tuan... saya tidak tahu harus berkata apa," bisik Sofia dengan suara bergetar.

"Nona Kanaya... dia baru saja menjelaskan teori permainan (game theory) kepada Nyonya Eleonor untuk menjelaskan mengapa pembatalan pertunangan itu adalah langkah strategis yang paling logis. Nyonya Besar terlihat... terpesona, meskipun beliau mencoba menutupinya dengan wajah galaknya."

​"Awasi terus. Jangan intervensi kecuali ibuku melakukan kekerasan fisik," ujar Artama.

"Baik,Tuan.".

​Setelah menutup telepon, Artama bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap cakrawala kota. Pikirannya melayang pada malam-malam di mana ia melihat Kanaya tertidur dengan buku tebal di dadanya.Ia pernah menganggap itu hanya bacaan pengisi waktu.Lalu saat Kanaya yang terus memberontak ingin keluar mencari ayahnya.

Tak hanya itu,pikirannya pun bahkan kembali ke masa sebelum ia merampas Kanaya dari ayahnya.Masa masa Kanaya yang masih sekolah dan setiap pagi memasangkan dasi untuk ayahnya.Ia sepertinya tak pernah tahu tentang nilai akademis Kanaya di sekolah.Yang ia tahu sebelum insiden itu,Kanaya hanya gadis yang ceria dan petakilan.

Kini ia menyadari, Kanaya mungkin jauh lebih berbahaya,dan jauh lebih berharga,daripada yang pernah ia bayangkan.

​Ada rasa bangga yang membuncah di dadanya, namun di sisi lain, sifat posesifnya bergejolak. Jika Kanaya secerdas itu, maka dunia akan segera menyadari nilainya. Dan Artama benci berbagi. Ia ingin kecerdasan itu hanya miliknya. Ia ingin analisis tajam itu hanya digunakan untuknya.

​Kembali ke penthouse, suasana tegang yang dibawa Eleonor mulai mencair, berganti menjadi sebuah interogasi yang lebih mirip dengan diskusi intelektual tingkat tinggi. Eleonor, yang awalnya datang untuk mengusir "gadis jalanan" ini, kini justru duduk lebih condong ke arah Kanaya.

​"Kau bilang Artama itu kaku," Eleonor memancing, suaranya masih dibuat dingin namun ada binar ketertarikan di matanya.

​"Sangat kaku," jawab Kanaya sambil tersenyum tipis, kali ini ia berani menyuap sesendok kecil es krim cokelatnya.Eskrim lebih enak di banding teh.

"Dia mengelola hidupnya seperti algoritma. Semuanya harus presisi. Tapi masalahnya dengan algoritma adalah, mereka tidak mengerti variabel manusia. Itu sebabnya dia sering terlihat seperti monster, padahal dia hanya... kesepian di puncak sana."

​Eleonor mendengus, namun dalam hati ia berteriak, 'Tepat sekali! Anak itu memang persis ayahnya, tapi dengan temperamen yang lebih buruk!'

​"Lalu, apa rencanamu jika suamiku benar-benar memutus akses warisannya?" tanya Eleonor lagi, kali ini tanpa nada meremehkan.

​Kanaya menatap langit-langit penthouse yang tinggi.

"Warisan adalah beban jika Anda tidak tahu cara melipatgandakannya. Artama memiliki kapasitas intelektual untuk membangun lima perusahaan sebesar Volkswagen dari nol. Dan saya? Saya cukup tahu cara memastikan dia tidak gila dalam prosesnya. Uang bisa dicari, Nyonya. Tapi ketenangan? Itu barang langka di keluarga Anda."

​Eleonor terpaku. Ia melihat pantulan dirinya pada gadis muda ini. Keberanian yang tenang, ketajaman lidah yang dibalut kesopanan, dan kemampuan untuk melihat menembus topeng kekuasaan.

​"Gadis ini bukan beban," Eleonor mengakui dalam diam.

"Dia adalah jangkar yang dibutuhkan si gunung es itu."

​---

​Di sore harinya, Artama pulang lebih awal. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada rapat direksinya. Pikirannya dipenuhi oleh citra Kanaya yang sedang berdebat dengan ibunya.

​Saat pintu lift terbuka langsung ke ruang utama penthouse, pemandangan yang menyambutnya membuatnya mematung di tempat.

​Tidak ada piring pecah. Tidak ada tangisan. Tidak ada drama pengusiran.

​Sebaliknya, ia melihat ibunya, Eleonor Volkswagen, sedang duduk di sofa sambil menyesap teh, sementara Kanaya duduk di karpet di bawahnya, menunjukkan sesuatu di layar tablet. Mereka tampak sedang... bergosip.

​"Ah, kau lihat ini, Kanaya? Ini adalah foto Artama saat umur lima tahun. Dia menangis karena aku memaksanya memakai kostum kelinci di pesta ulang tahun sepupunya," suara Eleonor terdengar renyah, jauh dari nada kejam yang ia gunakan di telepon tadi pagi.

​Kanaya tertawa kecil. "Dia masih punya ekspresi yang sama saat sedang kesal, Nyonya. Alisnya akan berkerut seperti ini." Kanaya menirukan wajah judes Artama dengan sangat akurat.

​"Ehem." Artama berdehem keras, mencoba mengembalikan otoritasnya.

​Kedua wanita itu menoleh. Kanaya langsung berdiri dengan wajah cerah, sementara Eleonor kembali memasang wajah datarnya, meskipun sisa-sisa senyum masih tertinggal di sudut bibirnya.

​"Kau pulang cepat, Artama," ujar Eleonor sambil berdiri dan merapikan pakaiannya. "Aku baru saja memberi tahu gadis ini betapa sulitnya mengurusmu saat kecil."

"Ibu...Kenapa memberitahu nya?".Ucap Artama dengan nada merengek.Kanaya hanya tertawa kecil.

​Artama pun berjalan mendekat, matanya langsung tertuju pada Kanaya. Ia memeriksa gadis itu dari kepala hingga ujung kaki, mencari tanda-tanda trauma atau intimidasi. Tapi Kanaya tampak baik-baik saja,bahkan terlihat lebih "hidup" daripada biasanya.

​"Ibu, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Artama dengan nada defensif yang kental.

​Eleonor berjalan melewati putranya, menepuk bahu kemeja mahal Artama dengan lembut.

"Hanya memeriksa apakah calon menantuku cukup pintar untuk menahan egomu yang selangit itu. Dan ternyata... dia jauh lebih dari sekadar pintar."

​Eleonor berbalik ke arah Kanaya dan memberikan anggukan kecil,sebuah pengakuan tertinggi yang bisa diberikan oleh seorang Volkswagen.

"Sampai jumpa lagi, Kanaya. Lain kali, kita harus membicarakan lebih banyak tentang skandal keluarga bangsawan Inggris. Kau punya perspektif yang menarik tentang kejatuhan mereka."

​Setelah Eleonor pergi bersama pengawalnya, ruangan itu kembali hening. Sofia juga mengundurkan diri ke area pelayan, meninggalkan pasangan itu sendirian.

​Artama tidak membuang waktu. Ia mencengkeram pinggang Kanaya dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa celah.Kanaya pun bahkan tampak malu-malu.

​"Sejak kapan?" bisik Artama, suaranya serak dan intens.

​"Sejak kapan apa?" tanya Kanaya polos, meskipun ia tahu persis apa yang dimaksud pria itu.

​"Sejak kapan kau mengerti tentang sentimen pasar, audit pajak, dan teori permainan? Sejak kapan kau menyembunyikan otak jenius itu di balik wajah polosmu ini?" Artama menekan dahi mereka, matanya berkilat antara kekaguman dan rasa posesif yang mendalam.

​Kanaya meletakkan tangannya di dada Artama, merasakan detak jantung pria itu yang cepat.

"Aku tidak pernah menyembunyikannya, Artama. Kau hanya tidak pernah bertanya. Kau terlalu sibuk mencoba melindungiku, sampai kau lupa bahwa aku juga bisa membaca dunia yang kau tinggali."

"Memangnya kamu kira aku ini cuma gadis b0doh apa?Gue juga punya otak kali!!".

​Artama mengembuskan napas panjang. Ia merasa seolah-olah ia baru saja menemukan harta karun di dalam rumahnya sendiri. Selama ini ia mencintai Kanaya karena kelembutannya, karena bagaimana gadis itu menjadi satu-satunya tempatnya beristirahat. Sekarang, ia menyadari bahwa ia telah menemukan mitra yang setara.

​"Kau benar-benar monster kecil yang cerdik," gumam Artama, lalu ia mencium kening Kanaya dengan lama.

"Tapi itu tidak mengubah apa pun. Kau tetap milikku. Dan sekarang, setelah ibuku merestuimu, tantangan kita berikutnya adalah ayahku. Tapi melihat bagaimana kau menangani wanita paling tangguh di keluarga ini... aku rasa ayahku tidak akan punya peluang."

​Kanaya tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Artama. "Biarkan aku yang menanganinya nanti. Kau cukup fokus menjadi 'gunung es' kesayanganku."

​Artama terkekeh,suara yang jarang terdengar,saat ia mengangkat Kanaya ke dalam pelukannya, membawa gadis cerdasnya itu menuju meja makan. Malam itu, ia menyadari bahwa ia tidak perlu lagi menghadapi badai dunia sendirian. Ia memiliki Kanaya, sang jenius yang bersembunyi di balik senyum polos, yang siap membangun kerajaan bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!