Berawal dari pertemuan tak terduga, Misel seorang gadis desa yang tak pernah berharap menikah di usia muda. Namun, tak di duga ia kini menikah di usia muda. Hal yang tak pernah ia pikirkan sekarang ia duduk di acara pernikahan nya sendiri dengan seorang pria yang baru ia kenal 5 hari yang lalu.
Penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Yuk mampir untuk mengetahui seperti apa kelanjutan ceritanya? Bagaimana misel bertemu dan persiapan apa yang ia siapkan untuk pernikahannya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alrumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lancar Jaya
"Em... itu pak, saya memang lagi terburu-buru saja." ucap Gani yang kehabisan kata untuk dirangkai lagi. Sehingga hanya jawaban itu saja yang ia lontarkan.
"Oh gitu ya pak, semoga ucapan bapak memang benar adanya." ucap Pak Juned.
"Bapak meragukan ucapan saya?" ucap Gani yang langsung curiga.
"Eh... bukan gitu maksudnya pak, saya hanya sedikit tak percaya saja. Makannya jawaban saya seperti itu. Hehehe..." ucap Pak Juned dengan pedenya.
"Ck... itu namanya sama aja pak, meragukan ucapan saya. Pak Ju, pak Ju." ucap Gani yang tak habis pikir bahkan ia pun sampai menggelengkan kepalanya.
"Abisnya ucapan pak Gani bikin saya seperti itu. Ya, jadi saya jawab aja seperti itu." ucap Pak Juned.
"Sudahlah pak, bicara sama bapak ini hanya di jawab seperti itu, seperti itu dan seperti itu. Lalu kapan seperti ini nya?" ucap Gani yang tak ingin berbicara lagi dengan pak Ju.
"Hahahaha... baiklah pak Gani, saya tak akan bicara lagi dengan bapak. Tapi untuk hari ini saja, di hari berikutnya saya bisa bicara lagi kan sama bapak?" ucap pak Juned yang akhirnya setuju dengan ucapan Gani. Namun sebelum itu, ia pun mulai bertanya.
"Ya tentu lah pak, buat apa juga saya larang bapak tidak bicara. Kalau hal ini yang terjadi, bisa-bisa bapak di pecat dari rumah tuan Satria. Kan nggak mungkin seorang satpam keluarga tuan Wija yang terpandang ini. Memiliki satpam yang tak bisa bicara. Bahkan yang tak mungkin lagi, ia tak bisa berbicara karena larangan dari saya. Sementara saya kan nggak kasih gaji bapak, kenapa bapak harus nurut? Iya bukan? jadi aku rasa bapak harus berpikir logis lagi." ucap Gani yang malah panjang lebar seperti jalan kereta yang terus ada stasiun tanpa henti.
"Hahaha... ucapan bapak ini memang patut di ajungin jempol. Bahkan double jempol pun tak masalah buat saya." ucap pak Juned yang langsung memberikan dua jempol dirinya pada Gani.
Gani yang tak habis pikir dengan ucapan Pak Juned pun hanya mengerutkan alisnya, pertanda bahwa ia kebingungan.
"Ck... bapak kenapa terlihat seperti orang linglung saja. Diam, bengong dan terpaku seperti manusia lilin tanpa di bakar sumbunya." ucap pak Juned yang seperti harus segera Gani segerai.
Agar otaknya tak terus bekerja keras untuk menjawab semua ucapan Gani yang luar biasa ini.
"Sudah pak, saya buru-buru mau masuk ke dalam rumah tuan. Saya pergi dulu ya pak Ju." ucap Gani yang langsung beranjak pergi meninggalkan pak Juned yang merasa kecewa karena di tinggal oleh Gani.
Selain itu, ia juga sudah nyaman dengan pembahasan mereka, sehingga di saat Gani mengakhiri ucapan nya itu. Ia merasa kecewa karena percakapan itu harus berakhir.
"Padahal saya belum jawab loh pak Gani. Tapi sayang nya bapak sudah mengakhiri ucapan ini. Padahal ya pak, kalau bapak tau. Saya itu seneng bisa bicara seperti ini. Karena sedari tadi saya bengong tak ada yang bisa saya ajak bicara. Hm... tapi walau saya kecewa, setidaknya saya senang bisa bicara dengan bapak. Semoga lain waktu, bapak bisa bicara dengan saya lebih lama." ucap pak Juned setelah ia di tinggalkan oleh Gani.
Sementara Gani sendiri kini telah masuk ke dalam rumah megah tuan Wija.
"Loh Gani, kamu kenapa terburu-buru seperti ini? Kamu abis di kejar setan kah sampai seperti ini." ucap Nyonya Wija tiba-tiba bertanya pada Gani yang terburu-buru.
"Itu, anu nyonya saya... anu..." ucap Gani yang malah bertele-tele.
"Ck...anu, anu itu aja yang kamu jawab, heran aku jadinya." ucap nyonya Wija mulai geram.
"Maaf nyonya, saya salah bicara. Sebenarnya saya terburu-buru karena ada hal penting yang harus saya bicarakan pada tuan Satria. Apakah nyonya melihat tuan Satria ada dimana?" ucap Gani yang akhirnya menjawab ucapan nyonya Wija dengan tak terbatas lagi. Melainkan lancar jaya.
"Sebentar, maksud kamu putra saya Satria sudah pulang?" ucap nyonya Wija yang malah bertanya balik pada Gani.
"Jadi nyonya belum tau kalau tuan Satria sudah ada di rumah?" ucap Gani yang kini malah bertanya balik untuk memastikan.
"Gimana istri saya tau kalau putranya itu sudah pulang. Sementara dia baru keluar kamar." ucap tuan Wija tiba-tiba.
"Pantas kalau seperti itu tuan, nyonya Wija sampai tak mengetahui kalau tuan Satria tak ada di rumah." ucap Gani yang langsung menjawab ucapan tuan Wija.
"Hm... sudah lah yah, kamu jangan ikut campur." ucap nyonya Wija pada tuan Wija.
"Emang ada larangan nya yang, nggak boleh ikut campur di dahi atau di tangan atau di kaki kamu?" ucap tuan Wija yang protes pada nyonya Wija.
"Ck... nggak ada hal seperti itu. Karena ini mutlak tak bisa di ubah dan di ganggu gugat lagi. Maka ingat itu yah!!!' ucap nyonya Wija yang seolah mengingatkan tuan Wija dengan terpaksa.
"Bukan gitu sayang maksud aku itu. Tapi sesuatu yang lebih dari itu. Karena kamu itu lemot orangnya." ucap tuan Wija sarkas, bahkan ia lupa jika ucapannya ini akan membawa dirinya pada sebuah hukuman yang membuat jiwa nya terlonjak kaget mendapati hal tersebut.
"Hahaha... sudah yah, aku mau lihat putra ku itu. Ayo Gani kita bareng saja ke sana. Saya juga ada perlu sama putra saya itu." ucap nyonya Wija yang akhirnya memilih untuk membahas topik lain.
Gani yang bengong masih menikmati perdebatan tuan dan nyonya nya itu. Bahkan nyaris tak mendengar ucapan nyonya Wija.
Namun beruntungnya hal ini bisa terlewati, sehingga ia pun mulai mengangguk dan melangkahkan kakinya sebagai jawaban.
Tanpa menunggu lama, mereka berdua akhirnya sampai di depan kamar Satria.
Tok... tok...
Suara pintu kamar pun terdengar, Satria yang sedang rebahan dengan dasi yang ia pasang tadi pagi masih rapih, kini sudah tak berbentuk lagi. Benar-benar mengganggu kenikmatan rebahan, gumam Satria dalam hati.
"Ck... menyebalkan sekali nih orang, tidurnya main handphone dan beli memori agar tak habis dari pemakaian." Ucap Satria dalam hati.
"Padahal kalau aku yakin aku pasti bisa tebak, ini orang siapa sih sebenarnya sampai membuat ia tergeletak badan." ucap Satria dalam hatinya lagi.
"Ck aneh, tapi ini nyata. Buktinya aku hanya bisa mengumpat tanpa harus mendapat ketenangan sama sekali." ucap Satria masih di dalam hatinya.
"Hey... malah bengong kaya gini, aku nggak nagih hutang loh, kok kamu sampai terlihat ketakutan gitu sama saya." ucap nyonya Wija tiba-tiba yang akhirnya membuat Satria tergesah untuk menjawab ucapannya itu.
"Bukan takut bu, tapi kenapa ibu ada di luar kamar?" ucap Satria yang masih mencoba menahan emosinya. Karena telah menggangu aktivitas kesenangan nya itu. Dimana ia mendapatkan hak terbaik setelahnya.
Bersambung...