Selama ini Amara memberikan kehidupannya kepada Dion dan mengabdikan diri sebagai istri yang sempurna. sudah 3 tahun sejak pernikahan tidak ada masalah pada rumah tangga. namun fakta lain membuat hati Amara begitu teriris. Dion berselingkuh dengan seorang wanita yang baru ia kenal di tempat kerja.
Amara elowen Sinclair berusia 28 tahun, wanita cantik dan cerdas. Pewaris tunggal keluarga Sinclair di london. Amara menyembunyikan identitasnya dari Dion Karena tidak ingin membuat Dion merasa minder. mereka menikah dan membina rumah tangga sederhana di tepi kota London.
Amara menjadi istri yang begitu sempurna dan mencintai suaminya apa adanya. Tapi saat semuanya terungkap barulah ia sadar ketulusannya selama ini hanyalah dianggap angin lalu oleh pria yang begitu ia cintai itu.
Amara marah, sakit dan kecewa. ia berencana meninggalkan kenangan yang begitu membekas di sisa sisa hubungan mereka. akankah Amara dapat menyelesaikan masalahnya?....
ikuti terus ya guysss
selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya Amara dan Leo tiba di kediaman Sinclair. Amara sudah disambut oleh semua orang. Para pelayan berbaris bahkan dari sisi jalan. Dan di pintu gerbang kedua orang tuanya sudah menanti dan siap memberikan pelukan hangat untuknya. Leo menghentikan mobil dengan pelan, kemudian ia menatap Amara sejenak sebelum ia turun. Ia membukakan pintu untuk Amara.
" Sayang,". Dari kejauhan Sania sudah menunggu dengan hati yang was was. Ia menghampiri Amara dan memeluknya dengan erat. " Kamu tidak apa apa kan nak. Tidak ada yang luka kan?." Sania terlihat memeriksa setiap bagian tubuh Amara untuk memeriksa luka di tubuh putrinya.
" Amara baik baik saja ma," ucap Amara mencoba menenangkan ibunya.
" Syukurlah." Ucap sania, ia menuntun Amara untuk menuju ayahnya. David sudah menunggu tak jauh dari mereka. Sebuah pelukan hangat dan kecupan lembut mendarat di pucuk kepala Amara.
" Syukurlah kamu baik baik saja sayang. " Ucapnya dengan penuh kebahagiaan.
Sementara itu Clarissa yang berdiri di belakang David hanya bisa menunduk. Ia masih merasa bersalah telah lalai menjaga Amara. Bahkan kini jika Amara menyuruhnya untuk bunuh diri ia pun akan menurutinya.
Amara berjalan pelan ke arah Clarissa, suara sepatunya nyaring terdengar di kuping Clarissa." Maafkan saya nona, silahkan hukum saya semau nona. " Ucapnya dengan nada lirih dan menyesal.
Sesaat kemudian Clarissa merasakan pelukan hangat dari Amara." Kamu tidak salah Clarissa, jangan begitu. " Ucap Amara. Ia mengelus punggung Clarissa dengan lembut seolah mengatakan jika ini semua bukan salahnya.
" Nona. " Clarissa membalas pelukan itu dengan air mata mengalir. Ia sangat bersyukur bisa melihat Amara lagi.
Setelah cukup dengan berpelukan, Sania meminta Amara untuk segera masuk dan beristirahat. Ditambah lagi keadaannya yang berantakan membuatnya terlihat seperti bukan putri keluarga Sinclair.
Amara sempat melirik ibunya " ma, Amara kan belum mandi. " Ucapnya dengan memanyunkan bibirnya.
" Mama hanya bercanda sayang, kamu tetap cantik seperti putri Sinclair walaupun tidak mandi satu Minggu. "
Amara tersenyum mendengarnya. Ia kemudian menatap Leo sejenak baru setelahnya ia melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah. Sementara Leo kini masih mematung di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Leo, masuk." Ucap David dengan serius. Raut wajahnya berubah drastis dari lembut menjadi marah.
Leo menurut, ia melangkah masuk mengikuti langkah David.
Sementara itu kini Amara sedang berendam di bathtub. Ia masih memikirkan perlakuan Leo padanya yang sangat manis. Namun walaupun begitu, ia masih menaruh curiga dan belum sepenuhnya percaya pada pria itu. Kemudian setelah berpikir sejenak ia mengingat adegan penculikan yang ia alami.
"Siapa dalang di balik semua ini jika bukan Leo?." Gumamnya pelan. Ia keluar dari bathup dan memakai handuk. Di dalam kamarnya, Clarissa sudah membungkuk dan mengatakan jika bajunya sudah di siapkan. Amara tersenyum ke arah Clarissa.
" Berhentilah merasa bersalah Clarissa. Tatap aku, dan lihat aku baik baik saja kan. " Ucap Amara mencoba meyakinkan Clarissa jika dirinya tidak marah dan keadaannya baik baik saja.
Perlahan Clarissa menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah Amara. Tatapannya tak bisa bohong, ia merasa menyesal.
Amara duduk di atas ranjang dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap Clarissa. " Baiklah, sepertinya kamu tidak akan berhenti merasa bersalah jika tidak diberi hukuman. " Amara mengucapkan kalimat itu dengan menyipitkan matanya ke arah Clarissa. Sementara wanita di depannya langsung terperanjat dan mengangguk.
" Hukum saya nona, anda sudah menderita dan hampir celaka karena saya. Saya tidak pantas berada di samping nona." Ucap Clarissa.
" Baiklah aku akan menghukum mu. Keringkan rambutku dengan handuk." Ucap Amara, ia menyerahkan handuk di tangannya kepada Clarissa.
Clarissa berjalan pelan dan meraih handuk di tangan Amara. "Ini bukan hukuman nona." Ucap Clarissa. Ia mulai mengeringkan rambut Amara dengan perlahan.
" Kamu masih ada tugas Clarissa, jika aku menghukum mu siapa yang akan membantuku mencari dalang di balik penculikan ini." Ucap Amara serius. Sementara Clarissa juga dari semalam memikirkan hal itu.
" Saya akan menemukan pelakunya secepat mungkin nona." Ucap Clarissa.
" Yang harus di curigai adalah Leo, selidiki siapa dia sebenarnya dan apa maunya." Ucap Amara sambil melipat kedua tangannya di dada. Sementara Clarissa menatap tak percaya pada Amara.
" Nona, bukan tuan Leo pelakunya. Anak yang kemarin kita temukan dia kunci dari semua ini. Tapi..." Clarissa tak melanjutkan bicaranya.
" Leo bukan pelakunya?, jelas jelas orang yang menculik ku mengatakan jika Leo yang menyuruhnya." Ucap Amara. " Lanjutkan bicaramu tentang anak itu."
" Bukan tuan Leo nona harus percaya, tuan Leo adalah...."
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu mengagetkan Amara dan Clarissa. Tanpa melanjutkan bicaranya, Clarissa melangkah ke arah pintu dan membukanya. Seorang pelayan terlihat di balik pintu.
" Nona Amara diminta tuan besar untuk menemui nya di ruang tamu sekarang." Lapor sang pelayan pada Clarissa. Lalu ia langsung pergi dari sana.
Clarissa menyampaikan pesan itu kepada Amara. Kini Amara bersiap siap untuk ke bawah. Dengan rambut yang masih setengah basah Amara keluar dari kamar dan mengenakan dress santai.
" Ada apa ya Daddy memanggil ku." Ucap Amara pada Clarissa saat mereka menuruni tangga.
" Saya tidak tahu nona, sebaiknya kita dengar saja apa yang akan di sampaikan tuan besar." Ucap Clarissa menimpali. Selanjutnya tak ada lagi percakapan.
Kini mereka telah tiba di ruang tamu, Amara kaget saat melihat Leo masih berada di sana dan duduk dengan tenang.
" Amara, ada yang mau Daddy katakan padamu." Ucap David dengan ekpresi serius.
" Ada apa daddy?." Tanya Amara yang penasaran.
" Kamu harus menikah dengan Leo!." Ucap David sambil menatap Amara.
Amara menggeleng tak percaya dengan apa yang di dengarnya, " apa?, dia sudah menculik Amara dan sekarang Amara akan menikah dengannya?. Amara tidak mau Daddy, dia bukan orang baik." Amara tak menerima ucapan ayahnya.
Sementara ekpresi David seperti khawatir dan sesekali melirik ke arah Leo yang terlihat sangat tenang.
" Amara, dengarkan papa, ini demi kebaikan kedua belah pihak. Ada sesuatu yang tidak kamu ketahui dan belum saatnya kamu tahu itu. Leo dia membutuhkan pernikahan ini untuk..."
" Untuk apa pa? Untuk mengambil nama keluarga Sinclair. Aku tidak akan pernah mau menikah dengannya. Dia orang jahat, oh aku tahu, dia pasti mengancam papa kan?. Dari awal seharusnya aku tidak menjalin kerja sama dengan pria seperti dia." Tunjuk Amara ke arah Leo. Sementara Leo hanya menghela nafas sambil terus menatap ke bawah.
" Cukup Amara, kali ini dengarkan papa. Apa kamu masih ingin mengulangi kesalahan mu di masa lalu dan membantah apa yang papa katakan?." David mulai terlihat marah.
Amara diam saat mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Ia sedikit termenung dengan perkataan ayahnya.
" Daddy harap kali ini saja kamu mendengar Daddy, sayang, Daddy tahu yang terbaik untukmu. Daddy hanya sedang berada di dua masalah yang sangat berat untuk Daddy. Dan satu satunya cara adalah kalian berdua harus menikah. Daddy harap kamu mengerti." Ucap David.
Amara diam, air matanya luruh. Ia tak sanggup mengucapkan kata apapun dari bibirnya. Sementara Sania sang ibu mungelus lembut punggungnya.
" Om, jika Amara tidak mau jangan di paksa. Biar Leo cari cara lain untuk masalah ini." Ucap Leo, ia menatap David dengan tujuan tidak memaksa Amara. Apalagi saat melihat nya menangis, Leo tak tega. Ia tahu jika Amara baru saja sembuh dari sakitnya, dan sekarang harus dihadapkan dengan pernikahan yang tidak diinginkannya, Leo tahu jika hal ini tak seharusnya di lakukan di waktu yang seperti ini.
" Tapi Leo," ucap David dengan khawatir.
" Sudah om, Leo pamit pulang dulu. Tante, Leo pamit."
Ia bangkit dan mulai berjalan ke arah pintu utama.
" Tunggu!."
Langkahnya terhenti saat Amara memintanya untuk berhenti. Leo berbalik dan melihat ekspresi marah di wajah Amara.
" Aku akan menikah denganmu, tapi sebelum itu aku mau melihat sikap aslimu seperti apa."
Leo tersenyum simpul, tebakannya benar. Amara masih trauma dengan masa lalunya.
" Jika itu keinginan anda nona, saya tidak keberatan. Terimakasih sudah mau menerima saya." Ucap Leo. Kemudian ia melihat Amara pergi dari sana dengan ekpresi kesal. Leo menatap David sejenak, pria paruh baya itu mengangguk dengan pelan.