(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Keyna
Di tempat lain, Keleo sedang berusaha mencari keponakannya walau ia dan keponakannya itu selalu saling usil dan bertengkar kecil. Tapi ia tetap tidak mau kenapa-kenapa pada keponakannya, ia sangat menyayanginya.
“Keyna!!… Keyna…!” teriaknya mencari ke sana ke mari memanggil nama keponakan tercinta.
“Gimana? kalian udah nemu Keyna?” tanya Keleo pada salah satu anak buah kakaknya dengan nafas terengah.
“Belum Tuan Muda, Non Kecil belum kami temukan,” jawab salah satu dari mereka dengan sopan. Keleo memalingkan wajah kecewa dan membuang nafas kasar.
“Aha! cari lagi sampai ketemu!” perintahnya tegas, yang lain pun kembali mencarinya ke penjuru jalan.
Sedangkan di tempat yang begitu terlihat kawasan elit dan mewah. Taksi yang ditumpangi Hopipah berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi dan dari pagar tinggi itu terlihat di sananya terlihat halaman luas dan rumah besar bak istana. Hingga Hopipah tidak bisa berkata-kata taksi ini berhenti di depan pagar tinggi sesuai permintaan anak kecil ini.
“Ini rumah kamu, Dek?” tanya Hopipah yang masih bingung dan takjub melihat besarnya rumah itu.
“Iya Kak, ini rumah aku, ayo Kak turun kita ketemu Mama sama Papa dulu,” ajak Keyna yang mulai membuka pintu mobil dengan semangat.
“Ah iya, berapa Pak ongkosnya?” tanya Hopipah pada supir taksi dengan hati-hati.
“Ongkosnya, 120 ribu Dek,” jawab sang supir dengan santai.
“Haah? 120 ribu!?” Hopipah begitu kaget dengan ongkosnya sampai matanya terbelalak.
“Iya Neng, soalnya ini jauh sekali, tadi aja pas kita masuk ke wilayah ini mau saya tolak untung si Adik kecil tadi nongolin wajahnya ke penjaga wilayah elit ini, mungkin udah tahu sering ketemu. Coba kalau enggak udah jalan kaki kalian, dan saya juga udah berbaik hati bisa nganterin sampai sini, buktinya rumahnya mewah kan,” ucap sang supir taksi panjang lebar. Saat anak kecil itu memanggil penjaga untuk membuka pintu gerbang yang besar itu.
Di sini Hopipah sedang kebingungan luar biasa, “Aduh, gimana ini aku cuma uang 70 ribu sisa tadi, mana belom buat makan. Apa harus minta dikurangi?” Hopipah masih syok, bingung hingga melamun cemas. Keyna menghampiri dirinya lagi.
“Kak ayo, pintunya udah dibuka,” ajak Keyna penuh antusias yang menggoyangkan lengan Hopipah pelan. Hingga lamunan itu pun buyar seketika.
“Haah?” yang masih kebingungan dan linglung.
“Ayo Kak, itu Mama Papa mau kesini,” tunjuk Keyna pada orang tuanya yang berlari tergesa keluar, Hopipah pun melihat itu.
“Kakak kenapa?” tanya Keyna melihat Hopipah dan supir taksi bergantian bingung.
“Ayo Neng bayar, ini udah malem saya mau pulang,” sahut Pak supir yang masih di tempat kemudi dengan nada tidak sabar.
“Haah, iya Pak, duh maaf Pak saya punya uangnya 70 ribu doang,” jawabnya memelas dengan wajah memerah malu.
“70 ribu mah kurang jauh lah!” ucap sang supir agak sedikit kesal dan kecewa. Keyna melihat keadaan itu cukup peka dan mengerti.
Tiba-tiba orang tua Keyna sudah dekat mendekati mobil.
“Keynaa…!” peluk sang Mama menyamakan tingginya tubuhnya pada putrinya erat penuh rindu dan lega. Hopipah pun melihat mereka semua, orang tua Keyna yang tampak begitu menyayangi anaknya. “Ya ampun Nak, kamu kemana kok bisa hilang?” tanya sang Mama cemas.
“Tadi aku diculik Ma,” jawabnya polos.
“Apa?! kamu diculik? nggak ada yang lukakan?” tanya Gia kaget memeriksa tubuh putrinya. “Kamu nggak kenapa-kenapakan, Nak?” tanya Keysar ikut memeriksa.
“Aku baik-baik aja,” jawabnya sambil berputar tanda ia tidak ada yang luka, melihat itu Hopipah cukup iri atas keluarga yang ia mau namun tak bisa ia miliki.
“Lalu ini siapa?” tanya Keysar pada Keyna yang menunjukkan pada Hopipah ia siapa, yang Keysar lihat berpakaian seragam sekolah namun tubuhnya terlihat kurus dan sederhana.
“Kakak inilah yang menolong aku dari dua penculik tadi, dia baik Ma, Pa, dia melawan dua penculik itu demi aku, namanya Kak Opi,” jawabnya sambil mengenalkan dan penuh bahagia.
“Terima kasih Dek, udah nolongin Keyna,” ucap Gia berterima kasih sambil menatap penuh haru pada gadis di depannya.
“Sama-sama,” balas Hopipah mengangguk dan tersenyum sopan.
“Makasih udah nganter putri saya sampai rumah,” timpal Keysar, Hopipah mengangguk kembali. Saat itu pun Keysar menelpon anak buahnya dan adiknya bahwa putrinya sudah pulang dengan selamat.
“Hallo…,” ucap Keysar yang bicara lewat telpon, memberi kabar gembira.
Tiba-tiba si supir angkat bicara “Cepet Neng bayar, ini saya mau pulang!” sahut supir taksi dengan ketus, Hopipah yang mendengarnya bingung dan semakin malu. Keyna yang melihat itu membisik ibunya.
“Mama, ini Kak Opi kayanya bingung mau bayar tapi uangnya kurang,” bisik Keyna, Gia pun paham lalu berdiri dan menghampiri mobil taksi itu.
“Berapa ongkosnya?” tanya Gia kepada si supir, Hopipah pun merasa tidak nyaman dan bersalah.
“Eh nggak usah Mbak,” tolak Hopipah malu.
“Nggak papa, tadi kan kamu udah nolongin sama nganterin Keyna, jadi nggakpapa saya yang bayar. Jadi berapa Pak?” Jawab Gia ramah, Hopipah pun diam tidak enak hati.
Tanpa ragu, Gia menghampiri sopir. “Berapa, Pak?”
“120 ribu, Bu.”
Gia mengulurkan lembaran uang Rp150.000. “Ini, kembaliannya buat Bapak aja sebagai terima kasih sudah antar sampai aman.”
“Terima kasih ya, Bu. Nuhun…” Pak supir pun senang sekali.
Gia, Keysar, dan Keyna mengajak Hopipah kedalam untuk bertamu dulu dan istirahat. Hopipah sebenarnya ingin segera pulang karena takut dimarahi, tapi mereka mengajaknya kedalam dengan memaksa halus.
“Silakan masuk, Dek,” ajak Gia menarik tangan Hopipah lembut.
“Iya, terima kasih,” jawab Hopipah tak berdaya menolak.
Mereka melewati taman indah dengan lampu hias yang cantik, masuk ke rumah megah itu. Di dalam, pelayan menyambut dengan senyum ramah dan membungkuk hormat. Hopipah terpukau melihat kemewahan itu.
Mereka masuk ke dalam rumah dan disambut oleh pelayan yang siap menyajikan makanan dan minuman hangat. Hopipah merasa sedikit tidak nyaman dengan kemewahan yang ada di sekitarnya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Silakan duduk, Dek,” ucap Keysar sambil menunjuk sofa empuk yang sangat nyaman.
“Iya, terima kasih,” jawab Hopipah sambil duduk dengan sopan di sofa itu.
Pelayan menyajikan minuman dan makanan hangat. Hopipah menahan diri, tapi perutnya tak bisa berbohong karena sudah dari tadi berbunyi lapar. Ia mengambil sepotong roti hangat dan teh manis.
“Terima kasih, ini sangat enak,” kata Hopipah dengan senyum tulus menikmatinya.
“Iya, kami senang sekali kamu bisa menikmatinya,” jawab Gia senang melihatnya makan.
“Kalau kamu suka, habiskan saja, jangan sungkan,” kata Gia sambil tersenyum perhatian.
Mereka berbincang dengan santai, dan Hopipah merasa sedikit lebih nyaman di antara orang asing yang begitu baik ini.
Sementara itu, di tempat berbeda...
“Tuan Muda, Non Kecil sudah pulang,” kata anak buah kakaknya menghubungi Keleo.
“Apa?! Keyna sudah pulang?” tanya Keleo dengan wajah yang sangat lega dan bahagia.
“Iya, Tuan Muda. Ia sudah pulang dengan selamat dan sehat,” jawab anak buahnya.
Keleo merasa lega luar biasa dan memutuskan untuk pulang. Ia tidak ingin mengganggu keponakannya yang sudah pulang dengan selamat.
“Baiklah, kita pulang,” kata Keleo kepada anak buahnya.
Keleo masuk ke dalam rumah dan melihat kakak dan kakak iparnya, serta Keyna dan satu orang tamu yang sedang duduk santai. Saat ia menghampiri, ia terkejut melihat siapa tamu itu.
“Oh, Keleo! Kamu sudah pulang,” kata Gia dengan senyum.
“Iya, aku sudah pulang,” jawab Keleo sambil menatap tak percaya pada Hopipah.
“Hopipah, kamu…?” tanya Keleo yang terputus sambil masih melihat Hopipah heran, orang yang dilihatnya hanya tersenyum canggung.
“Iya dia yang sudah menolong Keyna dari penculik tadi, dan mengantarnya kesini, kamu kenal? bukanya namanya Opi bukan Hopipah?” tanya jawab Keysar bingung.
“Dia adik kelas aku sekaligus teman,” jawab Keleo.
“Ooh, kalian satu sekolah,” timpal Gia melihat mereka berdua saling tatap, Hopipah hanya tersenyum.
Keyna menghampiri Keleo dan memeluknya erat. “Paman Keleo, aku sudah pulang, tadi Kak Opi hebat loh bisa ngalahin dua penculik tadi sampai mata mereka perih dengan alat penyemprot,” kata Keyna dengan mata berbinar.
Keleo memeluk Keyna dan tersenyum jahil, “Oh iya, tanya beli dimana gitu, siapa tahu Om bisa nyemprotin kamu juga kalau nakal,” kata Keleo iseng.
“Ih Om!!” cubit Keyna kesal di lengan pamannya, Keleo menahan cubitan itu dan tertawa, Hopipah yang melihat itu sangat lucu dan ikut tertawa kecil.
“Itu udah biasa lihat mereka di rumah ini saling jail,” ucap Gia pada Hopipah yang melihat mereka.
“Jangan ah, itu gak dijual itu buatan sendiri cairan bubuk cabai, nggak boleh dipakai sembarangan,” jawab Hopipah pada mereka yang masih saling iseng.
“Maaf ya, aku panggil apa sama kamu, Kakak atau Mbak?” tanya Hopipah pada Gia.
“Ah panggil aja, Kakak,” jawab Gia ramah.
“Aku kira, Kak Keleo itu orangnya dingin cuek pendiam, ternyata kalau di rumah dia seperti itu ya, Kak,” kata Hopipah yang membicarakannya jujur.
“Itu kalau di luar saja, kalau di rumah sama saja kaya kakaknya, cerewet dan asik,” jawab Gia yang ternyata asik orangnya.
“Apa?” sahut Keysar yang mungkin mendengarkan pembicaraan Gia dan Hopipah.
“Tidak apa-apa Suamiku,” jawab Gia tertawa.
Mereka berbincang dengan santai, dan Keleo merasa lega bahwa keponakannya sudah pulang dengan selamat dan ditolong gadis yang ia kenal. Hopipah yang melihat itu dan pandangannya menelusuri setiap desain rumah ini hingga pandangannya tertuju pada jam dinding yang sudah pukul 22.00 malam.
“Aduh,” kaget Hopipah membuat mereka melihat padanya.
“Ada apa?” tanya Gia, Hopipah berusaha menetralkan kekagetannya tadi.
“Maaf Kak, aku harus pulang sekarang,” jawab Hopipah gelisah.
“Loh ini, udah malam nggak baik anak perempuan pulang sendiri,” ucap Gia cemas, Keleo memandanginya serius.
“Iya Kak, menginap aja disini bobo bareng di kamar aku,” ajak pinta Keyna menarik tangan Hopipah.
“Tapi, aku nggak mau merepotkan,” ucap Hopipah dengan alasannya, sebenarnya bukan itu ada yang dia cemasi, apa lagi ia tadi absen nggak beres-beres rumah bisa-bisa dia akan dihukum lebih parah lagi.
“Loh kok direpoti, justru kami sudah merepotkan kamu, sudah dengarkan kata istri saya dan anak saya, baru besok mungkin kamu bisa bareng ke sekolah dengan Keleo,” ucap Keysar, aduh Hopipah semakin bingung dan cemas. Mau tak mau Hopipah harus paksa pergi demi keselamatannya.
“Maaf saya nggak bisa, nanti orang rumah bisa memarahi saya, kalau gitu saya pamit. Terima kasih atas jamuannya,” ucap Hopipah bangkit dan memberi salam hendak pergi.
“Eh!” ucap Gia sedikit kaget, Hopipah pun melangkah pergi dengan sedikit kencang walau dalam hati ia juga tidak enak merasa tidak sopan namun harus gimana lagi.
“Kel, kejar dia atau kalau bisa kamu harus antar dia kalau dia tidak mau menginap,” titah Gia, Keleo pun mengangguk dan ia pun segera mengejar Hopipah yang sudah di depan pintu.
Keleo dengan cepat meraih tangan Hopipah menahannya. “Tunggu, Gue antar Lo pulang,” kata Keleo dengan wajah datarnya yang tak terbantahkan.
Hopipah terkejut dan menarik tangannya pelan. “Tidak usah Kak, aku bisa pulang sendiri,” jawab Hopipah dengan sedikit keras dan gelisah.
Keleo tidak melepaskan tangan Hopipah. “Tidak boleh nolak, di jam segini mana ada kendaraan umum, kendaraan daring pun nggak ada,” kata Keleo yang datar dengan tatapan dingin tapi peduli.
Hopipah merasa sedikit tidak nyaman dengan sentuhan Keleo. “Aku serius, aku bisa pulang sendiri,” jawab Hopipah dengan tegas.
“Jangan nolak, ayo ikut aja, ingat kita ini teman dan satu sekolah,” ajak Keleo tak mau menyerah. Mau tak mau akhirnya Hopipah pun mau mengikuti Keleo.
*
*
Jangan lupa kasih like di setiap bab, komen dan Vote serta hadiah juga ya.
Terima kasih Sayangku 😘.