NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Hari terakhir bekerja di kedai kopi

Aroma kopi yang baru digiling memenuhi ruangan sempit itu seperti biasa, bercampur dengan wangi kayu manis dari kue-kue yang dipajang di etalase kaca dekat kasir. Kedai kopi kecil di sudut jalan dekat stasiun itu selalu ramai di jam-jam pagi, tapi menjelang sore seperti sekarang, suasananya melambat, hanya menyisakan beberapa pelanggan yang duduk sendirian dengan laptop terbuka atau buku di tangan.

Lauren berdiri di balik meja kasir, tangannya masih basah oleh sisa susu yang tumpah saat membuat pesanan terakhir. Ia menyeka meja dengan lap kecil, gerakannya sudah begitu terlatih hingga terasa otomatis, hasil dari hampir dua tahun bekerja di tempat yang sama.

Di sudut lain kedai, seorang pelanggan tetap duduk membaca koran sambil menyesap teh hangatnya, sesekali melirik ke arah Lauren dengan senyum kecil yang sudah familiar—senyum seorang pelanggan yang tahu bahwa gadis di balik kasir itu selalu ramah, tidak peduli seberapa lelah wajahnya terlihat.

Lauren membalas senyum itu sekilas, lalu kembali menatap secarik kertas yang terlipat rapi di saku celemek birunya. Sudah sejak pagi kertas itu berada di sana, dan sudah sejak pagi pula ia menunda-nunda untuk mengeluarkannya.

Ia menghela napas panjang, meraih kertas itu, membukanya sekali lagi untuk memastikan tulisan tangannya tidak ada yang salah. Surat pengunduran diri, ditulis dengan tinta biru di atas kertas bergaris sederhana, jauh dari kesan formal yang biasanya dimiliki dokumen semacam itu.

Tapi bagi Lauren, kesederhanaan itu terasa pas—kedai ini pun bukan tempat yang pernah menuntut kesempurnaan darinya, hanya kejujuran dan kerja keras.

Dari ruang belakang, muncul pemilik kedai, seorang perempuan paruh baya berambut ikal yang sudah menganggap Lauren seperti keponakannya sendiri sejak hari pertama gadis itu melamar kerja di sana, saat usianya baru delapan belas tahun dan baru saja kehilangan kedua orang tuanya.

"Kau kelihatan gelisah dari tadi," katanya sambil membawa nampan berisi gelas-gelas bersih, menaruhnya di rak dekat mesin espresso. "Ada masalah?"

Lauren menggenggam surat itu erat-erat, ragu sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat. "Aku... ada sesuatu yang mau kubicarakan. Boleh sebentar?"

Pemilik kedai berhenti, menatap Lauren dengan seksama, membaca ekspresi gadis itu yang jelas menyimpan kegugupan. "Tentu saja. Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"Aku baik bu," jawab Lauren cepat, mencoba tersenyum meski terasa kaku di wajahnya. "Justru sebaliknya. Ada kabar baik tapi mungkin bukan kabar baik untukmu."

Ia menyodorkan surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Pemilik kedai menerimanya, membuka lipatan kertas itu perlahan, matanya bergerak membaca setiap baris dengan ekspresi yang berubah dari penasaran menjadi terkejut, lalu akhirnya melunak menjadi sesuatu yang sulit didefinisikan, campuran antara bangga dan sedih sekaligus.

"Kau diterima kerja di Nozer Holdings?" Suaranya naik sedikit, tidak percaya. "Perusahaan sebesar itu?"

"Aku juga masih tidak percaya bu," aku Lauren, tertawa kecil meski suaranya bergetar. "Semuanya terjadi begitu cepat. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa lolos, mengingat aku cuma lulusan SMK, tidak punya pengalaman kantor sama sekali selain di sini."

"Kau meremehkan dirimu sendiri," kata pemilik kedai, menaruh surat itu di atas meja kasir, lalu meraih kedua tangan Lauren dan menggenggamnya erat. "Kau salah satu pekerja paling teliti dan jujur yang pernah kumiliki. Perusahaan mana pun akan beruntung memilikimu, mau itu ijazah atau bukan."

Mata Lauren memanas mendengar kata-kata itu. Ia menunduk sebentar, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba menggenang. "Terima kasih. Ini sungguh besar artinya bagiku."

"Kapan hari terakhirmu?"

"Hari ini," jawab Lauren pelan, hampir seperti permintaan maaf. "Aku tahu ini mendadak. Aku harusnya kasih tahu lebih awal, tapi semuanya berjalan begitu cepat. Dari wawancara, konfirmasi, sampai hari mulai kerja, semuanya cuma dalam hitungan hari."

Pemilik kedai terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, meski ada kesedihan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya di matanya. "Aku mengerti. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Kau harus mengambilnya."

Dari pintu masuk, bel kecil berdenting, menandakan pelanggan baru masuk. Seorang pria muda berjaket denim melangkah ke arah kasir, memesan kopi hitam sambil sesekali melirik layar ponselnya.

Lauren buru-buru menyeka matanya, tersenyum profesional, dan melayani pesanan itu dengan gerakan cekatan yang sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun mengukur biji kopi, menyalakan mesin giling, menyiapkan gelas dengan presisi yang nyaris mekanis meski pikirannya masih dipenuhi perasaan campur aduk.

Setelah pelanggan itu duduk di meja dekat jendela, pemilik kedai kembali mendekat, kali ini dengan nada yang lebih ringan, mencoba mencairkan suasana yang sempat berat. "Jadi, ceritakan padaku. Bagaimana rasanya diterima di perusahaan sebesar itu? Apa saja yang mereka tanyakan waktu wawancara?"

Lauren menyandarkan punggungnya ke meja kasir, mengingat-ingat kembali momen itu. "Sebenarnya wawancaranya aneh. Cuma lima belas menit, itupun sebenarnya tidak sampai ke limat belas menit, lalu pertanyaannya juga standar.Aku hanya ditanyakan latar belakang, pengalaman kerja, kenapa aku tertarik. Tidak ada tes tertulis, tidak ada uji kemampuan seperti yang biasanya kudengar dari perusahaan besar."

"Mungkin mereka sudah lihat rekam jejakmu dari tempat lain," kata pemilik kedai sambil membersihkan meja di dekatnya. "Kau kan sering bantu-bantu urusan administrasi di sini, catat stok, atur jadwal karyawan. Mungkin ada yang memperhatikan itu."

"Mungkin," gumam Lauren, meski jauh di dalam hatinya, penjelasan itu masih terasa kurang meyakinkan.

Ada sesuatu yang mengganjal sejak awal, cara HRD menyebut "rekomendasi internal" tanpa penjelasan lebih lanjut, cara wawancara berjalan begitu ringan seolah keputusan sudah dibuat jauh sebelum ia bahkan duduk di kursi itu.

"Aku masih tidak percaya semua ini nyata." ucap lauren bahagia

"Wajar. Perubahan besar memang sering terasa seperti mimpi di awal." Pemilik kedai meraih dua cangkir kecil dari rak, menuangkan cokelat panas ke masing-masing, lalu menyodorkan satu ke arah Lauren. "Ini, minum dulu. Anggap saja perayaan kecil, sebelum kau resmi jadi orang penting di gedung pencakar langit."

Lauren tertawa, menerima cangkir itu dengan kedua tangan. "Aku bukan orang penting. Cuma staf administrasi biasa."

"Untuk saat ini," kata pemilik kedai sambil mengedipkan mata. "Tapi aku yakin kau bisa jadi apa pun yang kau mau, kalau kau terus bekerja seperti biasanya—jujur, teliti, dan tidak pernah setengah-setengah."

Mereka berdua menyesap cokelat panas itu dalam diam sejenak, menikmati momen kecil yang terasa lebih berat dari yang seharusnya, mengingat betapa banyak kenangan yang tersimpan di ruangan sempit berbau kopi ini.

Dua tahun bukan waktu yang singkat.

dua tahun yang menyaksikan Lauren tumbuh dari gadis delapan belas tahun yang kehilangan arah setelah kematian orang tuanya, menjadi perempuan yang perlahan belajar berdiri sendiri, satu shift demi satu shift, satu pelanggan demi satu pelanggan.

"Kau ingat hari pertamamu di sini?" tanya pemilik kedai, tersenyum mengenang. "Kau memecahkan tiga gelas dalam satu jam, lalu menangis di ruang belakang karena takut aku akan memecatmu."

Lauren tertawa kecil, wajahnya memerah mengingat kejadian itu. "Aku masih ingat. Tanganku gemetar terus seharian karena gugup. Aku pikir aku benar-benar akan dipecat hari itu juga."

"Tapi aku tidak memecatmu." Pemilik kedai menyesap cokelat panasnya, matanya menerawang jauh. "Karena aku lihat sesuatu di dirimu waktu itu, bukan soal keterampilan, karena jelas kau belum punya waktu itu. Tapi soal caramu meminta maaf, caramu langsung membersihkan pecahan gelas tanpa disuruh, caramu tetap datang tepat waktu keesokan harinya meski tahu kau baru saja mengacau. Itu yang membuatku yakin kau layak diberi kesempatan kedua."

"Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan di saat yang tepat," gumam Lauren, menahan senyum yang mulai gemetar di ujung bibirnya.

"Itu karena aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa orang-orang seperti kau tidak datang setiap hari." Pemilik kedai meletakkan cangkirnya, menatap Lauren dengan sorot mata yang penuh kasih sayang seorang ibu. "Aku hanya berharap, di tempat barumu nanti, orang-orang di sana bisa melihat apa yang aku lihat sejak hari pertama."

Lauren menunduk, menggigit bibir bawahnya untuk menahan haru yang kembali menggenang. "Aku akan berusaha membuktikan diri. Aku tidak mau mengecewakan siapa pun yang sudah memberiku kesempatan ini termasuk ibu"

"Kau tidak pernah mengecewakanku sekali pun." Pemilik kedai meraih tangan Lauren lagi, menggenggamnya erat. "Ingat itu, apa pun yang terjadi nanti. Jangan pernah biarkan tempat baru itu membuatmu lupa siapa dirimu yang sebenarnya, gadis jujur dan pekerja keras yang sama dengan yang berdiri di balik kasir ini sekarang."

Kata-kata itu menempel kuat di benak Lauren, seolah menjadi jangkar yang akan ia pegang erat-erat setiap kali dunia barunya nanti terasa terlalu asing, terlalu megah, atau terlalu mencurigakan untuk dipahami sepenuhnya.

"Aku akan merindukan tempat ini," kata Lauren akhirnya, suaranya pelan, hampir tenggelam oleh dengung mesin espresso yang masih menyala di belakangnya. "Aku akan merindukan semuanya. Pelanggan-pelanggan yang sudah kukenal, jam-jam sibuk di pagi hari, bahkan bau kopi yang menempel di baju setiap pulang kerja."

"Kau selalu boleh mampir," kata pemilik kedai, suaranya melembut. "Kapan pun kau rindu, pintu di sini selalu terbuka untukmu. Bukan sebagai karyawan, tapi sebagai keluarga."

Kata "keluarga" itu membuat dada Lauren terasa sesak. Sejak kehilangan orang tuanya, kata itu jarang sekali ia dengar ditujukan padanya, dan setiap kali seseorang mengucapkannya dengan tulus seperti ini, ada bagian dari dirinya yang terasa sedikit lebih utuh.

"Terima kasih," bisiknya, suaranya nyaris pecah. "Untuk semuanya. Untuk kesempatan kerja di sini waktu tidak ada yang lain mau menerimaku, untuk kesabaran mengajariku semuanya dari nol, untuk selalu ada waktu aku butuh seseorang untuk bicara."

Pemilik kedai memeluknya sebentar, pelukan singkat namun hangat, sebelum melepaskan dan menepuk bahu Lauren dengan lembut. "Jangan menangis sekarang, nanti pelangganmu bingung lihat kasirnya menangis di depan mesin kopi."

Lauren tertawa di sela isakan kecil yang nyaris lolos, menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Ibu benar. Aku harus tetap profesional sampai jam kerja terakhirku selesai."

Jam dinding di atas pintu masuk menunjukkan pukul setengah lima sore. Setengah jam lagi sebelum shift terakhirnya benar-benar berakhir, sebelum ia melepas celemek biru yang sudah menemaninya begitu lama dan menggantungnya untuk terakhir kali di paku dekat pintu dapur.

Beberapa pelanggan datang dan pergi dalam waktu setengah jam terakhir itu, masing-masing dilayani Lauren dengan senyum yang sama seperti biasanya, meski hatinya dipenuhi kesadaran bahwa setiap pesanan yang ia buat, setiap "terima kasih, semoga harimu menyenangkan" yang ia ucapkan, adalah yang terakhir kalinya ia lakukan di tempat ini.

Beberapa jam kemudian, jarum jam akhirnya menunjuk angka lima tepat, Lauren melepas celemeknya perlahan, melipatnya dengan rapi meski tahu ia tidak akan memakainya lagi. Ia menggantungkannya di paku yang sama tempat ia selalu menggantungkannya setiap malam selama dua tahun terakhir, membiarkan tangannya menyentuh kain itu sedikit lebih lama dari biasanya, seolah mengucapkan selamat tinggal pada bagian dari hidupnya yang akan segera menjadi kenangan.

"Kau sudah siap?" tanya pemilik kedai, muncul dari ruang belakang membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat sederhana, diikat pita merah tipis.

"Apa ini?" Lauren menerima kotak itu dengan bingung.

"Bukalah nanti di rumah," kata pemilik kedai, tersenyum penuh arti. "Anggap saja hadiah perpisahan. Dan jangan lupa, kau selalu boleh kembali kapan pun, sekadar untuk secangkir kopi gratis dari kami."

Lauren memeluk kotak itu erat ke dadanya, matanya kembali berkaca-kaca. "Aku akan datang. Aku janji."

Sebelum benar-benar melangkah keluar, Lauren berhenti sejenak di depan cermin kecil yang tergantung dekat pintu dapur.

cermin yang selama ini biasa ia gunakan untuk merapikan rambut sebelum shift dimulai.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri, wajah yang sama dengan dua tahun lalu namun entah bagaimana terasa berbeda, lebih matang, lebih siap menghadapi apa pun yang menantinya di depan.

"Kau melamun," goda pemilik kedai sambil membersihkan meja kasir untuk terakhir kalinya malam itu bersama Lauren.

"Aku cuma... mencoba mengingat semuanya," jawab Lauren pelan. "Aku takut kalau nanti aku lupa bagaimana rasanya di sini, di tempat yang membentukku jadi seperti sekarang."

"Kau tidak akan lupa," kata pemilik kedai yakin. "Tempat-tempat yang benar-benar membentuk kita tidak pernah benar-benar kita tinggalkan, meski secara fisik kita sudah pergi jauh darinya. Mereka akan selalu ada di sini." Ia menepuk dadanya sendiri, tepat di atas jantung.

Lauren mengangguk, menyeka air mata yang akhirnya lolos juga dari sudut matanya. Ia meraih kotak kecil berpita merah yang tadi diberikan padanya, memeluknya sekali lagi ke dadanya seolah benda itu adalah pelukan terakhir dari seluruh kenangan yang tersimpan di kedai ini.

"Terima kasih sudah menjadi keluarga keduaku," bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar di antara dengung pelan mesin espresso yang mulai dimatikan satu per satu.

"Selalu," jawab pemilik kedai, memeluknya sekali lagi, lebih lama dan lebih erat dari yang tadi. "Sekarang pergilah, sebelum aku ikut menangis dan membuat suasana ini semakin sulit untuk kita berdua."

Lauren tertawa di sela isakan terakhirnya, melangkah mundur perlahan menuju pintu, matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi.

meja-meja kayu yang sudah begitu ia hafal setiap goresannya, rak buku kecil di sudut ruangan tempat pelanggan biasa meminjam buku secara sukarela, papan tulis di dekat kasir yang setiap hari berganti tulisan tangan berisi menu spesial hari itu. Semua detail kecil itu, yang selama ini terasa begitu biasa hingga nyaris tak terlihat, kini terasa begitu berharga, begitu ingin ia simpan selamanya dalam ingatan.

Ia melangkah keluar dari kedai kopi itu untuk terakhir kalinya sebagai karyawan, bel kecil di atas pintu berdenting seperti biasa, suara yang sudah begitu ia hafal hingga terasa seperti bagian dari detak jantungnya sendiri.

Di luar, langit sore mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, dan Lauren berdiri sejenak di depan pintu kedai, menatap papan nama kecil yang tergantung di atasnya, mengingat semua yang telah ia lalui di tempat ini.

Bab baru dalam hidupnya akan segera dimulai dengan penuh hal-hal yang tidak ia pahami sepenuhnya, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana semua ini bisa terjadi begitu cepat dan mulus.

Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya sejenak hanya merasakan haru dari perpisahan sederhana ini, sebelum esok ia melangkah ke dunia baru yang jauh lebih besar, lebih megah, dan.meski ia belum menyadarinya sepenuhnya, tapi ia tahu itu jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!