di kota pemalang, tepatnya jalan sudirman terdapat sebuah toko boneka yang terlihat sangat biasa. pemiliknya seorang pemuda bernama sugi, semua orang menaruh hormat kepadanya, karena kesaktianya tiada tanding, segala macam ilmu hitam tidak berpengaruh padanya, ucapanya seperti mantra itu sendiri, segala jenis pusaka tidak berani menunjukan kadigdayaanya di depan sugi. para orang orang sakti yang menunjukan kesaktianya hanya di anggap orang gila di matanya. namun sugi sendiri tidak menyadari bahwa dia adalah orang sakti.
"kenapa kalian berlutut padaku...?"
ig: abdulrizqi60
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua boneka buto
Vina tersenyum kecut kali ini. Ia baru mendengar, ada orang yang memiliki khodam tetapi takut dengan guling putih.
"Wajar itu mas sugi, namanya aja masih kecil pasti masih penakut.." ujar beni.
"Hahaha! Iya mas.... emmm tadi kalian bilang kalian itu you touber yang ngebongkar pesugihan gitu... apa nyari hantu hantu apalah saya lupa tadi... intinya kalian di sini itu mau liburan, apa lagi nyari orang yang make pesugihan..?" Ucap sugi.
Anggota Tim takut ga dong saling melirik, kemudian mengangguk.
"Kami sebenarnya di sini itu lagi nyoba mecahin misteri mas.." ucap putra.
"Misteri apa..?"
"Jadi kami tahu dari suscriber kami mereka request buat datang ke desa sumowono, di desa itu katanya ada arwah kakek kakek tua membawa arit yang suka mengejar warga secara acak.."
Sugi tertegun sesaat. "Kakek baron bilang tadi yang suka ngejar warga sambil membawa arit itu orang gila, tapi kenapa you touber ini bilang kalau itu arwah..?" Batin sugi penuh dengan kebingungan.
"Lalu, apa ada yang pernah liat, atau ada korban dari arwah itu..?"
"Kalau yang lihat sih banyak mas, tapi untuk korban itu ga ada, arwah kakek itu cuman ngejar sambil bawa bawa arit.."
Sugi manggut manggut. Jujur saja sugi penasaran dengan arwah kakek tua yang di maksud putra, seumur hidup sugi. sugi belum pernah melihat hal tersebut.
"Apa aku mampir ke desa sumowono aja yah.... siapa tau bisa lihat aksi orang orang ini, ngebongkar misteri kakek tua itu.." batin sugi.
"Apa aku boleh ikut sama kalian?" Tanya sugi dengan nada ragu ragu.
Para anggota tim takut ga dong langsung senang, ternyata mengajak sugi tidak sesulit apa yang ada di benak mereka.
"Boleh! Mas.." ucap putra dengan wajah sedikit antusias.
Sugi bingung melihat orang orang di depanya memasang wajah senang seolah anak kecil yang di berikan permen, tetapi sugi tidak perduli toh orang orang ini menurut sugi orang orang baik.
"Su.. sugi..." panggil vina.
Sugi menoleh yang lainya juga menoleh.
Sugi sedikit gugup pada saat ini, sugi berfikir vina ini mau meminta kembali chargernya.
"Tenang aja mba, nanti chargernya saya balikin.." ucap sugi sambil garuk garuk kepala bagian belakang.
"Bukan soal charger... tapi emm anu... mas sugi itu pernah lihat buto..? Apa di mimpi apa di mana gitu..?" Ucap vina.
Sugi tertegun, kenapa vina ini bertanya tentang pertanyaan yang sama sekali tidak berbobot menurut sugi, tetapi untuk menghargai vina sugi mencoba berfikir tentang buto yang di maksud vina.
"Buto..? buto..? Apa buto yang di maksud vina buto ijo..?" Batin sugi.
"Buto yang di maksud mbak bentuknya gimana..? Saya pernah lihat gambar buto ijo di film buto ijo dan timun mas.."
"Bu... bukan buto ijo... bentuk butonya itu tinggi, kulitnya itu memang ijo tapi bukan kaya di film. Ijonya itu hijau tua kehitam hitaman, terus megang palu gada di pundaknya..."
Sugi mengedutkan matanya ketika mendengar deskripisi vina. "Apa ini bocah kebanyakan baca novel yah, sampai sampai kaya gini.." batin sugi. Tetapi sugi kembali berfikir tentang buto yang di maksud vina.
Plak!! Sugi menepuk paha putra karena baru ingat tentang buto yang di maksud vina, seketika putra memegangi pahannya yang terasa panas.
"Ehh..? Ma.. maaf put, tadi reflek.."
"Santai aja mas..." ucap putra sambil memaksa senyum.
"Apa mas pernah, ketemu sama buto yang saya maksud..."
"Saya baru ingat mbak, saya punya dua boneka buto yang sama persis sama deskripsi mbak, kulitnya hijau kehitaman di pundaknya juga megang palu palu kaya gitu lah.." ucap sugi. Sugi baru teringat jika dia memiliki duo boneka yang mirip deskripsi vina, boneka itu di jadikan bandul kunci toko sugi, karena menurut sugi boneka itu keren mirip alien. tetapi tidak sugi sangka boneka itu di minati oleh vina, sugi berfikir vina akan membeli bonekanya.
"Boneka?"
"Iya mbak, apa mba mau beli..?"
Vina tersenyum kecut yang dia maksud bukan boneka. "Maaf mas ga dulu, saya kurang suka sama boneka."
Sugi langsung memasang wajah lesu. "Aghhhh! Kirain beneran mau beli!" Ucap sugi dalam hati dengan wajah gusar.
"Ternyata benar, sugi tidak tau duo buto kembar itu adalah khodamnya, tapi kenapa buto itu tidak mau menunjukan wujudnya pada sugi..?" Batin vina dengan tangan menopang dagunya.
Vina kemudian melupakan tentang buto itu.
Sugi dan para anggota tim takut ga dong terus mengobrol banyak sekali hal. Jam demi jam berlalu dengan begitu cepat. Semakin sore obrolan mereka semakin panas saja. Mereka membahas banyak sekali kejadian yang ada di sekitar hingga membahas tentang teori konspirasi.
Tidak terasa senja tiba sangat cepat. Namun jangan bayangkan tempat ini menjadi sepi. Tidak! Masih banyak orang di area pinggiran curug 7 bidadari, yah meskipun jauh lebih sedikit dari awal siang menjelang sore tadi.
Karena waktu sudah sore, sugi dan para anggota tim takut ga dong kembali ke cottage tempat mereka semua menginap.
Sugi langsung masuk ke kamarnya dan mandi di kamar mandi, yang ada di kamarnya sugi.
Setelah mandi sugi duduk di pinggir jendela, memandangi area area curug.
Sugi menyenderkan punggungnya di senderan kursi yang dia duduki. Siapa sangka, tidak lama sugi bersender sugi tertidur dengan kaki selonjor dan mulut menganga.
"Ngoookkk..!!!" Bunyi suara sugi ngorok terdengar sangat keras. Jika saja di kamar itu ada orang. orang tersebut pasti akan sangat terganggu dengan ngorokan sugi ini.
Singkat kata singkat cerita, malam tiba begitu saja. Jam menunjukan pukul sembilan lebih lima belas, tetapi sugi masih tertidur di posisi yang sama.
***
Adegan berpindah di kamar vina, septi dan monica.
Di kamar itu hanya ada vina, karena saat ini septi dan monica sedang keluar membeli minuman.
Vina saat ini sedang rebahan di kasur sambil menonton televisi, dengan tangan kiri memegang remot dan tangan kanan menopang kepalanya.
Tuttt...!!
Tutt...!!
Bunyi handphone vina karena baterainya lima belas. Vina melirik handphonenya.
"Kok chargernya dari siang ga di balik balikin sih.. itu anak ngapain dari tadi... apa dia lupa..?" Batin vina. Dengan ekpreksi cemberut.
Vina terpaksa keluar dari kamarnya untuk mengambil chargernya, vina berjalan ke arah pintu kamar.
Whusss...!!!
Tirai jendela tiba tiba berhembus dengan sangat kencang. Vina kaget dan langsung melirik ke arah tirai.
Vina mengurungkan niatnya ke kamar sugi, vina kemudian berjalan ke arah jendela hendak menutup tirai, karena vina takut ada maling.
Tatapan vina tidak sengaja menatap ke arah pohon nangka yang cukup besar, mata vina terbelalak.
"aing macan!🐯"