"Devina, tolong goda suami Saya."
Kalimat permintaan yang keluar dari mulut istri bosnya membuat Devina speechless. Pada umumnya, para istri akan membasmi pelakor. Namun berbeda dengan istri bosnya. Dia bahkan rela membayar Devina untuk menjadi pelakor dalam rumah tangganya.
Apakah Devina menerima permintaan tersebut?
Jika iya, berhasilkah dia jadi pelakor?
Yuk simak kisah Devina dalam novel, Diminta Jadi Pelakor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Akhirnya Bertemu
Tuan Bayu Dirgantara hanya bisa berdiri terpaku saat melihat ayah Dewa. Setelah empat puluh tujuh tahun, akhirnya mereka bertemu sebagai ayah dan anak.
Sebenarnya beberapa kali mereka pernah berada di jarak yang sangat dekat. Saat ayah Dewa masih sebagai seorang karyawan. Tapi semesta memang belum mengizinkan mereka untuk saling kenal sebagai ayah dan anak. Lebih tepatnya tuan Dirgantara yang tidak mengenali ayah Dewa. Sementara ayah Dewa sudah mengenali pria yang datang ke tempatnya bekerja adalah ayahnya.
Namun ayah Dewa memilih diam, padahal saat itu ada kesempatan untuk mereka bicara. Ayah Dewa selalu ingat pesan ibunya. Untuk tidak memberitahu siapa dia sebenarnya pada tuan Dirgantara. Biarlah pria tua itu saja yang tahu sendiri siapa ayah Dewa, seperti saat ini.
"Maafkan Papa, Dewa. Maafkan Papa," ucap tuan Dirgantara sambil menjatuhkan dirinya dihadapan ayah Dewa.
Ayah Dewa reflek ikut menjatuhkan dirinya, lalu memeluk pria yang dia panggil papa itu. Keduanya saling berpelukan dalam posisi kaki yang sama-sama berlutut.
Untuk beberapa saat, semua yang berada di ruang tamu kediaman ayah Dewa, membiarkan ayah dan anak itu berpelukan untuk saling melepaskan rindu. Untuk pertama kalinya ayah Dewa merasakan pelukan dari ayahnya.
Devina meneteskan air mata menyaksikan peristiwa yang tidak biasa ini. Gilang yang berada disamping Devina merangkul kekasih hatinya, untuk memberikan kekuatan pada tunangannya itu.
Tidak jauh berbeda dengan Devina, bunda Helen juga tidak kuasa menahan tangisnya. Wanita paruh baya itu menangis dalam pelukan langit dan Bumi. Kedua anak kembar itu pun ikut meneteskan air mata. Jika dipikir, hidup mereka berdua pun sama seperti ayah Dewa. Tidak pernah mengenal ayah kandung mereka. Sekalinya bertemu, tidak diakui.
Elang yang baru mengetahui jika ayah angkatnya itu adalah putra dari tuan Dirgantara, hanya bisa terdiam. Pantas saja tuan Dirgantara sangat menyayangi Devina, begitu juga dengan om Cello. Mereka ternyata masih memiliki ikatan darah. Tapi mengapa Wina dan ibunya tidak bersikap baik pada Devina? Elang jadi penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang menyebabkan ayah Dewa dan tuan Dirgantara terpisah?
Sedih yang membahagiakan. Itulah yang kini mereka rasakan. Karena pada akhirnya ayah dan anak yang terpisah selama empat puluh tujuh tahun itu bisa bertemu kembali. Sekarang, tidak hanya Devina, bunda Helen, Langit dan Bumi saja yang menangis. Mereka semua yang ada diruangan itu ikut meneteskan air mata, tanpa terkecuali. Termasuk Gilang yang sebelumnya memberikan kekuatan pada Devina sekarang ikut terharu.
Dalam nangisnya, Devina berharap. Suatu hari nanti kakek Dirgantara bisa bertemu dengan nenek Lestari. Apa lagi keduanya kembali bersama, tentu Devina akan sangat bahagia. Bukankah keduanya masih saling mencintai?
Sore ini, tuan Dirgantara tidak datang seorang diri. Selain Gilang yang Atang bersamanya, dia juga mengajak om Cello untuk menemaninya. Sebenarnya dia ingin mengajak putra keduanya, agar mengenal ayah Dewa. Sayangnya hubungannya dengan putranya itu tidak terlalu baik, karena ulah menantunya. Om Cello sendiri adalah keponakan tuan Dirgantara dari adik laki-lakinya. Tapi pria kemayu itu sangat dekat dengan tuan Dirgantara.
Devina melepaskan rangkulan Gilang. Dia maju dua langkah untuk mendekati ayah Dewa dan tuan Dirgantara.
"Bangun Yah," ucap Devina, sambil mencoba membantu ayah Dewa untuk berdiri.
"Om, bantu kakek," ucap Devina pada om Cello. Dia tidak tega kedua pria beda generasi itu berdiri dengan lutut mereka.
Mendengar permintaan Devina pada om Cello, Gilang yang ikut berdiri di samping tunangannya itu, ikut membantu ayah Dewa untuk berdiri.
"Ajak ayah dan kakek kalian duduk." Bunda Helen yang bicara, entah pada siapa dia memberikan perintah
Suasana hening sesaat, setelah mereka semuanya duduk. Berbeda dengan suasana di luar rumah. Wartawan semakin banyak saja yang berdatangan. Mungkin mereka ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa tuan Dirgantara dan perancang busana sehebat om Cello berada di kediaman orang tua Devina. Ada hubungan apa mereka dengan Devina? Serta beberapa pertanyaan lainnya, yang mereka lontarkan.
"Maaf Papa baru menemui kamu saat ini. Papa memang pengecut, tidak berani menemui kamu karena terlalu takut ditolak dan dibenci." Tuan Dirgantara membuka pembicaraan.
"Saya sudah memaafkan Papa sejak dulu. Karena mama tidak pernah mengajarkan saya untuk membenci Papa. Tapi, dia melarang Saya untuk menyampaikan siapa Saya sebenarnya. Cukup keluarga kecil Saya saja yang tahu siapa saya," balas ayah Dewa.
"Dia wanita hebat. Mama kamu benar-benar hebat." Tuan Dirgantara tidak bisa untuk tidak memuji istrinya.
"Apa Papa bisa bertemu dengannya?" Tanya tuan Dirgantara.
Ayah Dewa menggelengkan kepala. "Maaf, tidak bisa." Ayah Dewa tidak memberikan alasannya. Rasanya tidak tega juga jika menyampaikan ibunya yang tidak ingi bertemu.
"Baiklah, Papa tidak akan memaksa. Papa akan menunggu sampai dia mau bertemu," balas tuang Dirgantara.
"Seperti yang sudah kamu ketahui, Papa ingin menyerahkan Cakrawala Company pada kamu, Dewa."
"Terima saja Mas. Sebagai anak pertama om Bayu, kamu pantas mendapatkannya. Lagi pula ...." Om Cello tidak melanjutkan ucapannya. Dia meminta persetujuan tuan Dirgantara terlebih dahulu untuk menjelaskan yang sebenarnya.
"Biar Papa yang jelaskan," sambung tuan Dirgantara ucapan om Cello.
"Begini, sebenarnya Cakrawala Company tidak sepenuhnya milik Papa. Papa hanya memiliki empat puluh lima pesen saja. Masih ada saham milik tuan Aksa tiga puluh persen. Hanya saja sudah dia alihkan untuk. Gilang, Langit dan Bumi."
"Maksud Kakek, tuan Aksa -."
"Dia berbohong tetang tidak mengakui langit dan Bumi sebagai putranya," ucap tuan Dirgantara memotong ucapan Devina.
Semua dia lakukan agar Meri berhenti menjadikan Langit dan Bumi sebagai target berikutnya, sebagai orang yang akan disingkirkan oleh wanita itu." Tuan Dirgantara menjelaskan.
Devina merasa bersalah. Dia sudah menuduh yang tidak-tidak pada tuan Aksa. Padahal pria itu melakukannya demi kedua darah dagingnya. Devina pun menoleh padanya 'Langit dan Bumi yang tampak biasa saja. Devina pun menyatukan alisnya menatap kedua adiknya. Apa ada yang keduanya rahasiakan?
"Sekarang Meri sudah ditahan oleh pihak yang berwajib saat hendak melarikan diri," ucap tuan Dirgantara lagi.
"Tuan Aksa yang melaporkan istrinya?" tanya bunda Helen.
"Gilang yang melaporkan dia," jawab Gilang.
"Kenapa?" Elang yang bertanya.
"Nanti juga kalian tahu," jawab Gilang yang engan memberi tahu yang sebenarnya.
"Sekarang bagaimana keputusan kamu, Dewa?" tanya tuan Dirgantara pada putranya itu.
Ayah Dewa menoleh pada bunda Helen. Sebenarnya dia sudah punya jawaban mengenai masalah ini, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh nenek Lestari.
Bunda Helen mengangguk, tanda dia setuju dengan keputusan ayah Dewa apapun itu jawabannya.
"Saya terima memimpin Cakrawala Company." Tuan Dirgantara tersenyum mendengar jawaban dari ayah Dewa.
Sayangnya senyum itu hanya sesaat. Garis lengkung itu menghilang saat ayah Dewa kembali bicara, "Saya lakukan sebagai wali dari Langit dan Bumi, bukan sebagai pemilik saham," ucap ayah Dewa.
"Kenapa?" Om Cello yang bertanya.
"Saya tidak bisa menerimanya. Maaf," jawab ayah Dewa.
"Tapi, Mas."
"Tidak apa-apa Cello." Tuan Dirgantara memotong ucapan Cello.
Tidak masalah untuk saat ini putranya, Dewa Arga masih menolak pemberiannya. Tapi setidaknya, dia sudah mau duduk di Cakrawala Company. Tuan Dirgantara tidak ingin memaksakan kehendak.
"Maaf menyela, bagaimana dengan wartawan diluar sana?" tanya Lala. Karena sejak tadi dia mengawasi para pemburu berita tersebut.
"Kita akan temui mereka," Gilang yang menjawab.
terimakasih 🙏🏿