Brisella merupakan seorang koki dengan karir cemerlang. Namun, segalanya hancur ketika ia dikhianati rekan kerjanya dan diselingkuhi sang suami. Hidupnya berakhir hingga dia terlempar ke dunia lain.
Jiwa Brisella berpindah ke tubuh seorang Tuan Putri dari kerajaan miskin yang terjerat banyak utang. Dia bernama Brisella Sizilien. Setelah mengetahui kondisi kerajaan yang amat memprihatinkan, Brisella diharuskan berpikir dan bertindak membangun kerajaan ini kembali.
Sanggupkah nanti Brisella memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk melunasi utang-utang kerajaan serta memakmurkan kerajaan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Prihatin Desa Rining
Setiba di penginapan, Brisella langsung bersiap-siap untuk tidur. Untung saja Hestio tidak sadar Brisella pergi meninggalkan penginapan selama dua jam. Jika dia tahu, mungkin Brisella akan diomeli habis-habisan.
Ketika pagi menyapa, Brisella dan Hestio melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka berikutnya ke Desa Rining yang berada di kaki pegunungan, dekat dengan aliran sungai. Sungguh tak habis pikir, bahkan gunung yang semula hijau kini gundul dan tandus. Sungai asri tempat biasa penduduk mengambil air untuk beraktivitas pun kering.
Tatkala mereka menyusuri pemukiman di sana, alangkah kaget mereka menemukan pemandangan mengerikan. Sepanjang bahu jalan, para penduduk tergeletak lemas tak bertenaga. Mereka kehilangan seluruh stamina akibat rasa lapar dan haus yang mencoba menggorogoti nyawa.
Hal paling menyakitkan ialah menyaksikan para orang tua menenangkan anak-anak mereka yang mengeluh haus dan lapar.
“Bersabarlah, sayang. Ibu akan mencarikan air minum untukmu.”
“Ayah, aku sangat lapar. Apa bantuan dari kerajaan masih belum datang?”
“Bagaimana ini? Apa raja sengaja membiarkan kita menderita karena kelaparan?”
Menyesakkan dada. Sejauh perjalanan yang ditempuh, ini kali pertama Brisella melihat masalah kelaparan yang sangat parah. Setiap minggu pihak istana rutin membagikan roti serta air bersih untuk rakyat. Namun, ada apa dengan pemandangan ini?!
“Kak, benarkah ayah sudah membagikan jatah makan dan minum secara merata di seluruh wilayah kerajaan?” tanya Brisella pada Hestio.
“Ya, aku selalu mendengar dari Duarte bahwa ayah secara rutin membagikan makanan dan minuman ke setiap penduduk di seluruh wilayah Sizilien. Makanya utang istana terus menumpuk akibat masalah ini, tetapi siapa sangka ada orang lain yang berani bermain di belakangku dan ayah.”
Ekspresi wajah Hestio terkesan menyeramkan. Perasaannya penuh rasa marah tak terbendungkan. Walaupun jatah makan dan minum dari istana tidaklah banyak, tetapi setidaknya dengan bantuan tersebut penduduk takkan menderita kelaparan ekstrim.
“Nona, Tuan, apa Anda berdua pendatang?” Sesosok wanita tua mendatangi Brisella dan Hestio, tampaknya dia tidak mengenal mereka berdua sebagai tuan putri maupun putra mahkota.
“Benar, kami kebetulan lewat di tempat ini. Apa yang terjadi di sini? Mengapa ada banyak orang yang kelaparan? Bukannya raja selalu membagikan makan dan air bersih setiap minggu?” jawab Hestio sembari bertanya untuk mencari tahu penyebab bencana kelaparan tersebut.
“Sebenarnya, bantuan dari raja sudah satu bulan ini tidak turun. Kami tidak tahu penyebabnya apa. Hanya saja, bukankah ini sangat kejam? Mungkinkah apa benar rumor tentang raja sengaja melakukannya untuk membunuh kami lalu mengosongkan tanah kami untuk dijual ke pihak kekaisaran?”
Brisella dan Hestio syok bukan main. Sejak kapan rumor seperti itu beredar di masyarakat? Bahkan, mereka tidak tahu menahu soal rumor itu.
“Siapa yang mengatakan padamu? Mustahil raja bertindak sekejam itu pada rakyatnya,” ujar Hestio menepis segala pernyataan si nenek.
“Saya juga awalnya berpikir seperti itu, tetapi kami telah mencoba mengirim surat ke istana mengatakan seluruh masalah yang kami hadapi sekaligus bertanya alasan raja mengabaikan kami. Akan tetapi, tidak ada balasan dari istana. Jadi, saya berpikir bahwa rumor itu memang benar adanya,” tutur wanita tua itu. Sorot matanya sendu menggambarkan betapa kecewa serta sedihnya dia kala itu.
Di sini baik Hestio atau pun Brisella semakin mencurigai ada seseorang bermain di balik mereka. Siapa orang itu? Hal ini memunculkan tanda tanya besar di kepala mereka. Sekarang mereka harus memutar otak membereskan permasalahan yang terhampar di depan mata.
“Nenek, aku haus sekali.” Seorang anak kecil menghampiri wanita tua itu sambil menangis menahan rasa haus.
“Bersabarlah, Nenek sedang mencari—”
“Ini minumlah.” Brisella menyerahkan sebotol air minum ke anak tersebut.
“Wah, air minum!”
Tanpa berpikir panjang, si anak langsung mengambil air minum itu dari tangan Brisella.
“Astaga, Nona, mengapa Anda memberikan air minum ini kepada cucu saya? Anda sendiri pasti membutuhkan air minum untuk bekal perjalanan Anda.”
Wanita tua itu merasa tidak enak hati. Kedua matanya berkaca-kaca melihat sang cucu tampak kehausan dan menghabiskan air minum yang diberikan Brisella.
“Tidak apa-apa. Aku masih punya banyak. Bisakah kamu bantu panggilkan semua orang ke sini? Aku mau membagikan air minum untuk mereka.” Brisella mengeluarkan sekitar lima dus air minum dari kantong sihir.
Melihat tumpukan dus air minum tersebut, wanita tua itu buru-buru memanggil orang-orang ke hadapan Brisella.
“Dari mana kau mendapatkan semua air ini? Kita hanya diberi bekal minum dua dus. Kenapa tiba-tiba kau punya banyak persediaan air minum?” Hestio bertanya keheranan.
“Semalam aku sebenarnya menyelinap ke luar penginapan dan pergi ke guild perdagangan. Aku membeli air ini dari mereka. Untung saja mereka punya lumayan banyak stok air minum, jadi aku beli saja semuanya,” jawab Brisella dengan mimik muka polos tak berdosa.
Hestio hendak marah sebab sang adik diam-diam ke luar sendirian tanpa sepengetahuannya. Tentu saja dia khawatir sesuatu yang buruk menimpa Brisella. Namun, melihat air yang dia beli berguna dalam situasi terkini, amarahnya pun tertahan.
Mendengar ada seseorang yang ingin membagikan air minum, penduduk desa segera berbaris di depan Brisella. Walaupun mereka didera rasa haus, mereka tetap tertib mengantre menunggu giliran masing-masing.
“Bagaimana cara kalian bertahan selama sebulan ini tanpa makan dan minum?” Hestio bertanya pada salah satu penduduk.
“Desa sebelah membantu kami bertahan selama hampir satu bulan ini. Mereka membagi sedikit persediaan makan dan minum mereka untuk kami, tetapi sudah tiga hari bantuan dari mereka terhenti karena bantuan dari istana untuk desa mereka juga tiba-tiba dihentikan.”
Selepas mendapatkan berbagai informasi dari orang-orang desa, Hestio ingin segera kembali ke istana melaporkan masalah ini kepada sang ayah. Akan tetapi, niatnya dia urungkan sejenak sampai urusannya selesai.
“Sayang sekali aku tidak punya persediaan makanan untuk dibagikan kepada mereka. Guild Astro tidak punya stok makanan, yang ada hanyalah aneka permbumbuan.” Brisella menghela napas panjang seraya memandangi botol-botol kecil berisi bumbu makanan.
Brisella bangkit dari tempat duduk. Gadis itu berpikir tak ada gunanya dia berdiam diri tanpa mencari solusi.
“Baiklah, aku harus mencari sesuatu untuk dimakan. Meski tidak yakin, aku percaya ada sesuatu di sekitar sini yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan,” gumam Brisella bertekad.
Brisella melenggang menyusuri tepian sungai kering sembari berharap ada sesuatu yang muncul dan bisa dia olah menjadi makanan enak. Hingga lima belas menit kemudian, Hestio dikagetkan dengan suara teriakan Brisella yang bersumber dari hutan mati. Dari suaranya, Brisella tampak sedang melarikan diri dari hal berbahaya.
“Kakak! Tolong aku! Aku dikejar sapi! Huwaaah …! Sapi yang mengejarku bertambah banyak!”
jgn biarkan permaisuri jahat menang, kalo dia licik maka lawan dgn cara lebih cerdik lagi