Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 34
Rumah minimalis bertingkat dua itu akhirnya kelihatan dari jauh, terlihat juga Kaela tengah membantu mamahnya membenarkan bunga palsu di depan teras rumah.
Kaela menunduk terfokus merangkai bunga-bunga palsu tersebut sehingga tak sadar akan kedatangan sebuah mobil dan motor matic milik sahabat.
“Kaela …!” teriak Liana langsung turun dari motor padahal Saka belum juga memberhentikan motornya.
“Lo– cewek prik, jatoh nangis lagi ….” Sinis Saka memberhentikan motornya pergi menyusul Liana biar yang membawa kado ulang tahun kaela, Nazila dan Leo saja yang membawanya.
“Kak Leo bawa ini, nanti di ambil lagi yang lainnya,” ucap Nazila membuka tutup kue tersebut lalu meminta Leo untuk menyalakan lilinnya.
“Hati-hati jalannya?” peringat Leo memerhatikan langkah kecil gadis pujaan hatinya di belakang.
“Iya kak.”
“Lia, astaga …, jangan teriak ih ….” Kesal Kaela menatap tajam sahabatnya yang sangat menyebalkan ini.
“Hehe, maaf atuh,” cengir Liana memeluk sebentar Kaela, sehingga di kagetkan dengan nada seseorang.
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to you Kaela ….”
“Tiup lilinnya, tipu lilinnya sekarang juga, sekarang juga ….”
Kaela begitu terharu ternyata sahabatnya mengingat hari ulangtahunnya dia kira Liana takkan ingat, untuk Nazila dia maklumi karena mereka belum berteman lama, tetapi untuk Liana? Sudah tau lah.
“Makasih karena udah ingat, Kae terharu tau …” sedihnya mengusap air matanya lalu berdoa sebentar dan meniup lilinnya.
“Yey, Kae udah berumur 17 tahun!” seru Nazila dan Liana sehingga ketiga gadis itu berpelukan melupakan kedua remaja laki-laki tersebut.
“Kita di lupain!” dengus Saka.
“Makasih pada kalian berdua karena udah mau datang,” ucap Kaela menatap Saka dan Leo dengan senyum tulus, dia tak menyangka dua cowok famous ini akan datang ikut merayakan hari ulang tahunnya.
“Sama-sama, gimana keadaan Lo, sorry dulu gak pernah sempat buat jenguk Lo,” sahut Saka, merasa prihatin dengan keadaan gadis cantik di depannya ini, faktanya Kaela memang begitu cantik dia tak bohong, tetapi bukan berarti dia suka.
“Ya seperti yang Lo lihat, keadaan gue masih kek gini.” Jawab Kaela seadanya.
Saka mengangguk, lalu mereka berlima pun pergi ke samping rumah Kaela mereka menyiapkan pemanggangan bahkan mama Kaela ikut serta membantu kelima anak muda tersebut untuk membuat barbeque.
Seharian penuh Nazila begitu senang dengan hari cerah yang di alaminya tanpa ketakutan dan ancaman yang di hindari nya tanpa tau masalah apa yang akan menimpanya.
.
.
Sedangkan di mansion besar tersebut di isi oleh teman-temannya Lorenzo yang datang berkunjung sehabis pulang kuliah tadi siang, kebetulan juga kedua orang tua Lorenzo masih berada di luar kota jadi gak masalah lah.
“Adik Lo mana Ren, masa sampe jam segini belum balik?” tanya Liam setelah menegak jus jeruk yang telah di buatkan.
Lorenzo mengangkat bahu acuh pertanda tak tau, tetapi jauh di lubuk hatinya tengah menahan panas dan marah sebab postingan teman baru adik tirinya, yang kini tengah mempersiapkan acara barbeque.
^^^“Seru ya acaranya!”^^^
Chatting Lorenzo lewat aplikasi WhatsApp kebetulan juga adik tirinya tengah aktif tapi belum ke baca saja.
“Oh ya, mumpung lagi kumpul nih gue bagiin kalian undangan pernikahan!” sahut Veroza meletakkan empat buah surat undangan.
“Ni Lo yang nikah? Cepat amat!” dengus Damian, membolak-balikkan surat pernikahan tersebut.
“Di baca dulu makanya goblok!” sinis Veroza ingin sekali menggetok kepala si Damian ini.
“Hehehe anjir, gak usah ngegas lah jancok!” cengir Damian membuka surat undangan tersebut ternyata itu dari kakak sepupunya Veroza yang akan nikah Minggu depan.
“Kalo ini mah pasti gue datang, pemburu rendang nih bos!” sungut Damian menatap remeh pada mereka berempat.
“Tapi sori yak cok! Kali ini gak ada rendang soalnya tuh menu udah kakak sepupu gue coret katanya terlalu boros nasi ...!”
“Bangke pelit amat dah, gak guna cuk mewah doang makanan di perhitungan!” sinis Damian menatap Veroza julid.
“Halah, gaya Lo ngomong kek gitu di kasih steak Wagyu a5 malah nambah Lo!” pungkas Veroza tak kalah julid.
“Kalo itu mah gak perlu di perjelas bejir!” cengir Damian.
Tiba-tiba Lorenzo beranjak dari sopa mengambil kunci mobil beserta jaketnya terlihat buru-buru. “Kemana Lo Ren?” tanya Liam menyerngit bingung.
“Pergi.” Jawab Lorenzo seadanya.
“Wah bused ikut lah, masa kita cuma di sini sedangkan si pemilik pergi berkeliaran!” celoteh Liam mengikuti langkah Lorenzo begitupun dengan yang lain, dasar para bujang ni, kek gak ada kerjaan lain aja bejir.
"Takut di kira maling gue!"
“Mau kemana Lo, kita-kita boleh ikut kan? Suntuk njir gak ada kerjaan!” timpal Damian.
“Makanya kerja, biar gak jadi beban orang tua Lo!” sungut Veroza di belakang.
“Kek Lo bukan beban aja anjir!” delik Damian menatap sinis Veroza.
“Lah beda dong, Mak bapak gue kan kaya, jadi gue gak perlu kerja!” sarkas Veroza.
“Lah, Mak bapak gue aja kaya, mau apa Lo?” sungut Damian berapi-api.
“Babi Lo berdua, sama-sama beban mending diem!” sahut Liam ikut nimbrung.
Perdebatan unfaedah itupun langsung terhenti oleh suara pintu mobil yang di tutup, mereka bertiga di tinggal oleh dua kulkas bumi tersebut. “Ini semua gara-gara Lo anjir!” sinis Liam lalu ikut menyusul kedua mobil tersebut.
.
.
“Lo kenapa gelisah gitu Zil?” tanya Liana yang kini para perempuan tengah berada di dapur untuk mempersiapkan bumbu segala macam.
“Anu, itu boleh gak Abang aku ikut ngerayain ulang tahunnya Kaela?” tanya Nazila sedikit gugup, menatap Liana dan Kaela secara bergantian.
Kaela tergelak pelan. “Astaga …! Gue kira apaan Zil, mukamu panik gitu, ya boleh dong, biar semakin ramai, ya gak Li?” sahut Kaela tertawa pelan.
“Iya tuh, gue kira apaan, boleh lah, kapan Abang Lo datang?” tanya Liana.
“Bentar lagi kok, ini aku udah Sherlock lokasinya.”
Beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam tiba di depan pekarangan rumah seseorang mereka berlima parkir di pinggir jalan karena area rumah minimalis tersebut tak sanggup menampung kelima mobil tersebut, apalagi dengan punyanya Leo.
“Rumah siapa ni, bro?” tanya Liam di belakang.
Tapi sayang sekali Lorenzo tak menjawab melainkan langsung masuk melihat halaman rumah tersebut yang masih sepi ’apa gadisnya menipu dirinya? Jelas-jelas di google mapsnya berlokasikan di sini.
“Loh, cari siapa nak?” tanya seorang ibu-ibu yang kebetulan membuka pintu.
“Rumahnya Kaela?” tanya Lorenzo to the poin.
“Kamu siapanya Kaela?” tanya orang itu sekali lagi.
“Temennya!”
“Bro, gak usah dingin-dingin lah,” bisik Liam merasa kasihan dengan ibu-ibu itu atas perlakuan sikap dingin Lorenzo.
“Oh, ini rumahnya kok, kalian lewat sini aja, anak saya di belakang sana teman-temannya yang lain.” Ucap Elina.
“Ini sebenarnya rumah siapa sih anjay?” bisik Damian pada Veroza.
“Lo nanya gue?” tunjuk Veroza. “Lah gue aja gak tau kocak!”
“Nak, ini ada teman-teman kamu!” beritahu Elina pada anaknya.
Kaela melirik sebentar di atas kursi rodanya. Dia menembak ini pasti abangnya Nazila dan dirinya sungguh terkejut abangnya Nazila adalah salah satu anggota KKN itu. OMG dunia sempit sekali.
“Oh, ini kakaknya teman aku mah, ayo kak sini!?” ajak Kaela sedikit canggung.
Nazila duduk berdua di samping perapian tempat untuk barbeque bahkan mereka berdua tak sadar akan kedatangan Lorenzo dan temannya. “Hahah, kak Leo bisa aja!” ketawa Nazila.
“Bisa dong, apa sih yang gak buat kamu!” goda Leo memberikan sebuah marshmello yang sudah dibakarnya.
Liam dan Veroza berdeham singkat, sial ternyata ini acara ulang tahun, malu gak sih walaupun gak di undang tapi gak bawa hadiah, ini semua salah Lorenzo yang suka diam tanpa memberi penjelasan.
“Bang Ren.” Kaget Nazila, bisa mampus dirinya jika begini. “Kapan Abang datang?” tanya Nazila mulai berdiri.
Lorenzo diam tak menjawab, apa pedulinya? Dirinya rela datang ke kampung jelek ini hanya untuk gadisnya tetapi apa yang dia dapat malah sebaliknya.