"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi pertama setelah acara Pensi selalu terasa seperti hari Senin yang diperpanjang. Namun bagi Almeera, hari Senin ini terasa ribuan kali lebih berat dari biasanya.
Bukan karena tugas fisika yang belum selesai, melainkan karena eksistensi cowok jangkung yang sedang berdiri di depan kompor dapur apartemen mereka, membalik roti lapis dengan spatula seolah sedang membintangi iklan margarin.
Almeera mengintip dari balik tembok lorong kamarnya. Ia sudah rapi dengan seragam putih abu-abu, namun kakinya enggan melangkah ke ruang makan. Otaknya masih memutar ulang godaan Akram malam Minggu lalu, dan bagaimana cowok itu memeluknya erat di ranjang pagi harinya.
Setiap kali melihat wajah Akram, perut Almeera rasanya seperti sedang diisi oleh ribuan roller coaster yang melaju tanpa rem.
"Sampai kapan lo mau ngumpet di balik tembok, Al? Gue bisa lihat ujung sepatu lo dari pantulan kaca microwave."
Suara bariton yang tenang itu membuat Almeera berjengit kaget. Ketahuan. Ia mendengus sebal, melangkah keluar dari persembunyiannya dengan gaya sok santai, lalu menarik kursi di meja pantry dengan suara deritan yang sengaja dikeraskan.
Akram mematikan kompor, memindahkan dua potong sandwich telur ke atas piring, lalu meletakkannya di depan Almeera dan di tempat duduknya sendiri. Cowok itu sudah rapi dengan seragam, rambutnya yang biasanya disisir ke belakang kini dibiarkan sedikit berjatuhan di dahi, membuatnya terlihat tidak terlalu kaku namun tetap mematikan.
"Gue nggak ngumpet," kilah Almeera, mengambil sandwich-nya tanpa menatap mata Akram. "Gue lagi... ngecek tekstur cat tembok. Siapa tahu ada yang ngelupas."
Akram terkekeh pelan. Ia menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Almeera, bukan di seberangnya seperti biasa. Jarak mereka otomatis menyempit. Aroma mint dan musk langsung menyapa hidung Almeera, membuat kunyahannya melambat.
"Ngecek cat tembok atau nyiapin mental buat ngadepin gue?" goda Akram, menopang dagu dengan tangan kirinya sambil menatap profil samping wajah Almeera. "Lo belum berani natap mata gue dari kemarin, Al. Segitu deg-degannya ya?"
"Pede gila," Almeera menelan makanannya susah payah. Ia memberanikan diri menoleh, menatap nyalang ke arah Akram. "Gue biasa aja! Lo pikir lo seganteng itu sampai gue harus siapin mental?!"
Akram tersenyum miring. Bukannya menjauh, ia malah mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangannya terulur, ibu jarinya menyapu remah roti di sudut bibir Almeera dengan gerakan yang sangat lembut dan lambat.
Almeera membeku seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Gue emang ganteng," bisik Akram dengan suara rendah yang menggetarkan. "Dan dari detak jantung lo yang kedengeran sampai sini, gue rasa lo setuju."
Almeera langsung memukul tangan Akram dan melompat berdiri dari kursinya. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus. "M-makan aja sendiri rotinya! Gue berangkat naik ojol!"
Tanpa menunggu balasan, Almeera menyambar tas ranselnya dan berlari terbirit-birit keluar dari apartemen, meninggalkan Akram yang tertawa puas di meja makan. Menjahili Almeera di pagi hari sepertinya telah menjadi hobi baru favorit sang Ketua OSIS.
Pukul 07.15 WIB, SMA Bina Bangsa.
"Ehem. Permisi, Nyonya Pradana. Gimana malam pertamanya setelah rahasia negara terbongkar?"
Sebuah bisikan tajam di telinga membuat Almeera yang sedang memasukkan buku ke loker nyaris melompat. Ia menoleh dan mendapati Sophia berdiri di sebelahnya dengan senyum jahil yang luar biasa menyebalkan.
"Phia! Mulut lo!" desis Almeera panik, celingukan ke kiri dan kanan memastikan koridor masih sepi. Ia menarik lengan sahabatnya itu mendekat. "Lo udah janji nggak bakal bawa-bawa itu di sekolah!"
Sophia tertawa cekikikan, menyandarkan tubuhnya ke deretan loker. "Santai, Al. Nggak ada orang. Lagian gue gatel banget pengen nanya, lo berdua habis gue tinggal pulang, ngapain aja? Di apartemen segede itu, berduaan, hujan-hujan..."
"Nggak ngapa-ngapain! Gue langsung tidur dan dia juga!" Almeera menjawab terlalu cepat, membanting pintu lokernya dengan keras.
Tentu saja ia berbohong. Fakta bahwa Akram mengurungnya di pintu dan ia lari terbirit-birit masuk kamar adalah aib yang akan ia bawa sampai mati.
"Masa sih?" Sophia memicingkan matanya penuh selidik. Namun, sebelum interogasinya berlanjut, perhatian Sophia teralihkan oleh keributan kecil di ujung koridor dekat mading utama sekolah.
Belasan siswa berkerumun di depan papan mading itu, saling menunjuk dan berbisik heboh. Beberapa siswi terlihat menutup mulut dengan ekspresi terkejut, sementara siswa laki-laki tertawa-tawa.
"Ada apaan tuh rame-rame?" Sophia memanjangkan lehernya. "Hasil evaluasi pensi udah keluar kali ya? Yuk, lihat!"
Tanpa persetujuan, Sophia menarik tangan Almeera, membelah kerumunan siswa yang langsung menyingkir saat menyadari siapa yang datang. Beberapa dari mereka menatap Almeera dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara takjub, iri, dan kepo akut.
"Permisi, permisi! Aktris utama mau lewat!" seru Sophia heboh, membuka jalan.
Begitu mereka berdiri tepat di depan mading kaca tersebut, mata Almeera tertuju pada sebuah foto cetak berwarna berukuran cukup besar yang ditempel tepat di tengah papan pengumuman.
Jantung Almeera rasanya seperti dihantam godam bertenaga penuh. Darah surut dari wajahnya detik itu juga.
Itu adalah foto candid dari acara Pensi kemarin. Tepatnya, foto di atas panggung saat insiden Matcha Latte.
Di dalam foto tersebut, Akram terlihat sedang meminum Matcha Latte milik Almeera dengan sedotan. Namun, yang membuat foto itu menjadi skandal adalah angle pengambilannya. Dari sudut kamera, wajah Akram dan Almeera terlihat sangat dekat. Tatapan mata Akram yang tajam dan sarat akan kecemburuan menatap lurus ke arah Reyhan yang berdiri di pinggir frame, seolah sang Ketos sedang mengklaim teritorialnya dengan sangat posesif.
Di bawah foto itu, tertulis headline besar dengan spidol merah tebal yang ditulis oleh tim jurnalistik sekolah:
CINTA SEGITIGA PENSI: KETUA OSIS KITA CINLOK SAMA DRUMMER NOISE, ATAU PERANG DINGIN SAMA ALUMNI?!
"Gila..." gumam Sophia dengan mulut terbuka lebar. Ia menoleh ke arah Almeera yang masih mematung. "Al... lo masuk headline mading."
"Hapus," cicit Almeera. Suaranya bergetar hebat. "Phia, cabut fotonya sekarang..."
Namun, sebelum Sophia sempat menyentuh kaca mading, suara riuh di koridor mendadak hening. Kerumunan siswa di belakang mereka membelah bagaikan Laut Merah.
Akram berjalan mendekat dengan langkah tegap. Aura dominasinya menguar pekat, membuat suhu di koridor seolah turun sepuluh derajat. Di belakangnya, Bastian mengekor dengan wajah tegang sambil memegang map evaluasi.
Mata hitam Akram langsung tertuju pada mading. Ia berhenti tepat di sebelah Almeera. Wajahnya datar, tidak ada kilatan emosi apa pun yang bisa dibaca oleh siswa-siswa yang sedang menahan napas menunggu reaksi sang Ketos.
Akram menatap foto itu selama tiga detik. Lalu, ia menoleh menatap Almeera yang sedang menggigit bibir bawahnya menahan panik.
"Ke ruang OSIS. Sekarang," perintah Akram dengan suara bariton rendah, namun cukup tegas untuk menggema di koridor yang sepi itu.
Tanpa menunggu balasan, Akram berbalik dan melangkah pergi.
Siswa-siswa langsung mulai kasak-kusuk. Ada yang mengira Almeera akan dihukum karena membuat keributan, ada yang mengira foto itu hanya salah paham, dan ada yang diam-diam patah hati melihat bagaimana Akram menatap Almeera.
Di sudut koridor, Heera berdiri mematung. Matanya menatap foto di mading itu dengan dada sesak. Ia tahu kebenaran di balik foto tersebut, namun ancaman Akram di lorong toilet menguncinya rapat-rapat. Sang primadona hanya bisa menelan kepahitannya sendiri, melihat bagaimana cowok yang ia puja secara terang-terangan melindungi gadis lain.
"Al, lo nggak apa-apa?" bisik Sophia khawatir.
"Doain gue selamat, Phia," jawab Almeera pasrah. Ia menghela napas panjang, merapikan seragamnya, dan berjalan menyusul Akram menuju ruang OSIS layaknya tahanan yang akan dieksekusi mati.
BLAM!
Pintu ruang OSIS ditutup dan dikunci rapat dari dalam oleh Akram, menyisakan mereka berdua di ruangan yang dingin itu. Bastian dan anggota lainnya sengaja dilarang masuk.
Almeera berdiri di tengah ruangan, meremas tali tas ranselnya kuat-kuat. Kepanikannya mulai berubah menjadi rasa kesal yang memuncak.
"Puas lo sekarang?!" seru Almeera, suaranya memantul di dinding ruangan. "Gara-gara lo cemburu buta dan bertingkah konyol minum jatah gue di panggung, sekarang kita jadi bahan gosip satu sekolah! Kalau guru BK sampai turun tangan dan nanya-nanya orang tua kita, rahasia kita beneran tamat, Akram!"
Akram tidak langsung membalas. Ia berjalan santai menuju meja kebesarannya, menyandarkan pinggulnya di tepi meja sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap Almeera lekat-lekat, sama sekali tidak terlihat panik.
"Gue nggak cemburu buta. Gue cuma bertindak sesuai kapasitas gue buat nyingkirin cowok yang cari muka sama istri gue," jawab Akram tenang. "Lagian, foto itu cuma nunjukin gue minum matcha latte, bukan nunjukin buku nikah kita."
"Tapi headline-nya, Kram!" Almeera melangkah maju dengan frustrasi. "Mereka ngira kita pacaran! Mereka ngira ada cinta segitiga antara lo, gue, dan Kak Reyhan! Lo tahu kan anak-anak sini intelnya lebih parah dari FBI? Kalau mereka mulai nguntitin kita pulang sekolah dan nyari tahu alamat kita—"
"Biarin aja."
Ucapan singkat itu membuat mulut Almeera terkatup rapat. Ia mengerjapkan matanya, yakin bahwa pendengarannya sedang bermasalah. "Hah? Lo bilang apa?"
Akram menegakkan tubuhnya, melangkah pelan menghampiri Almeera. "Biarin aja mereka ngira kita pacaran."
"Lo... lo udah gila ya?" Almeera mundur selangkah secara refleks saat aroma mint itu kembali mendekat. "Kita ini musuh di depan anak-anak! Sejak kapan Ketos sempurna kayak lo sudi digosipin pacaran sama cewek bar-bar kayak gue?!"
Akram menghentikan langkahnya, jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Ia menatap ke dalam mata cokelat Almeera, mencari kejujuran di sana.
"Al, pakai logika lo," ucap Akram dengan nada serius yang membius. "Kalau kita sibuk mengklarifikasi dan menyangkal mati-matian, anak-anak bakal makin curiga. Mereka bakal mulai nyari tahu kenapa gue sebegitu posesifnya sama lo di backstage, kenapa wangi sabun kita bisa sama, dan kenapa lo bisa lolos dari teguran gue setiap hari."
Akram mencondongkan wajahnya sedikit. "Tapi, kalau mereka mikir kita pacaran... semua kelakuan gue yang nggak masuk akal itu bakal jadi masuk akal di mata mereka. Posesif? Karena pacar. Tinggal searah? Karena gue sering nganterin lo pulang. Sabun sama? Karena lo sering pinjem jaket gue."
Almeera membelalak. Logika Akram memang tidak bisa dibantah. Menutupi kebohongan besar dengan kebohongan yang lebih kecil adalah strategi bertahan hidup yang paling masuk akal saat ini. Tapi... pacaran?!
"Jadi maksud lo... kita fake dating?" bisik Almeera, jantungnya berdebar sangat kencang. Berakting pacaran dengan cowok yang setiap hari membuat perutnya dipenuhi kupu-kupu? Itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.
"Siapa bilang fake?"
Suara Akram berubah menjadi sangat rendah dan serak. Tangannya terangkat, mengelus puncak kepala Almeera dengan gerakan yang begitu lembut hingga lutut Almeera nyaris lemas.
"Lo istri sah gue. Nggak ada yang fake dari hubungan kita, Al," bisik Akram, matanya memancarkan ketulusan yang membuat dunia Almeera berhenti berputar. "Gue cuma ngasih label yang lebih bisa diterima sama akal sehat anak SMA."
Almeera menelan ludah. Ia menatap wajah Akram yang begitu dekat, melihat bayangannya sendiri di kedalaman mata cowok itu. Egonya berusaha memberontak, namun detak jantungnya berkhianat.
"T-tapi... gengsi gue gimana?" cicit Almeera, mati-matian mempertahankan sisa-sisa pertahanan dirinya. "Anak-anak NOISE pasti ngeledekin gue habis-habisan karena kemakan omongan sendiri. Gue kan dulu bilang mending nikah sama stand mic Nino daripada sama lo."
Akram terkekeh pelan. Tawa yang menggetarkan dada bidangnya itu membuat wajah Almeera semakin panas.
"Biar gue yang urus anak-anak band lo. Lo cukup diam dan nikmati peran lo sebagai 'pacar' Ketua OSIS," Akram mengusap pipi Almeera sekilas dengan ibu jarinya, sebuah sentuhan singkat yang terasa seperti sengatan listrik. "Mulai hari ini, nggak ada lagi kucing-kucingan di lorong sekolah. Kita pulang bareng, lewat gerbang depan."
Almeera mematung. Rencana ini terlalu gila, tapi anehnya... sebagian kecil di sudut hatinya merasa sangat lega. Ia tidak perlu lagi berpura-pura membenci cowok yang diam-diam mulai meruntuhkan tembok hatinya ini.
"Udah paham, kan?" Akram mundur selangkah, kembali memasang topeng datar andalannya, meski sudut bibirnya masih melengkung membentuk senyum tipis. Ia membuka kunci pintu ruang OSIS.
Sebelum keluar, Akram menoleh menatap Almeera yang masih mematung dengan wajah memerah.
"Ayo keluar, Sayang. Nanti anak-anak di luar makin curiga kalau kita kelamaan berduaan di dalem."
Panggilan 'Sayang' yang diucapkan dengan nada bariton penuh godaan itu sukses membuat Almeera memekik tertahan dan melempar penghapus papan tulis yang ada di dekatnya ke arah Akram.
"AKRAM SIALAN! JANGAN PANGGIL GUE KAYAK GITU!"
Akram menghindar dengan tawa lepas, berlari keluar ruangan, meninggalkan Almeera yang berusaha keras mengatur napas dan menyembunyikan senyum yang tak bisa lagi ia tahan.
Neraka pernikahan rahasia ini ternyata... tidak seburuk yang ia bayangkan.