Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Sempurna
Pulih bukan berarti bebas dari rutinitas pengecekan rumah sakit. Rutin menjalani terapi jalan, dan deteksi jantung serta organ lainnya, yang mulanya seminggu tiga kali menjadi satu minggu sekali, kini jadi sebulan sekali. Ridwan melewati semua proses itu ditemani keluarga kecilnya yang setia. Mengutamakan kesehatan sang ayah, meski Ridwan turut ke kedai namun sama sekali tak menyentuh pekerjaan. Moto mereka hanya agar ayahnya tak jenuh saja seorang diri di rumah.
Genap empat bulan, Ridwan bisa berjalan normal tak perlu tongkat lagi. Turut membantu sang istri dan menggunakan semua pesangon dari PT yang ia bernaung di bawahnya untuk meningkatkan kedainya menjadi rumah makan yang layak. Mempekerjakan empat orang karyawati dan dua orang karyawan, rumah makan Malkar berkembang pesat. Tak lagi kesulitan dalam hal ekonomi, rezekinya berlimpah ruah seperti sedang menikmati buah dari kesabaran selama ini.
"Masyaallah ya yah, siapa sangka kita bisa dititik ini." Mawar terkesima melihat rumah makannya yang ramai pengunjung.
"Alhamdulillah Bu, semua berkat kesabaran ibu selama ini." Ridwan menoleh ke arah sang istri yang berdiri di belakangnya.
"Alhamdulillah pak, rasanya ibu benar-benar bersyukur, nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan jika begini." Mawar duduk di balik meja kasir bersama sang suami.
"Itu karena ibu bertawakal dan tetap jadi pribadi mulia meski sedang sukar dalam segala hal, terimakasih sudah mau menemani pasang surut kehidupan rumah tangga kita." Ridwan memandang istinya penuh cinta.
Mawar tersipu, sudah lama dia tak merasakan kebahagiaan di sanjung lelaki yang dicintainya. "Tidak, sudah sepatunya aku begitu bukan?"
"Kau selalu begitu, tak mau sedetik saja berbangga diri di depanku, bayangkan mana ada wanita yang kuat banting tulang untuk menghidupi tiga kepala, dan tak menyentuh uang suaminya sama sekali karena tak ada izin, kau lain daripada kebanyakan orang sayang."
Pesangon yang diberikan oleh PT untuk Ridwan sudah lama diberikan. Tepatnya saat tiba bulan Ridwan mengalami koma yang tak kunjung ada kemajuan. Belum lagi tunjangan dan uluran dana yang di kumpulkan rekan kerja setiap bulannya untuk Ridwan. Semua cukup untuk menyewa tempat yang lebih besar dan membuka usaha baru. Kesuksesan bukan karena sekedar tempat kayak, akan tetapi karena cita rasa yang disuguhkan amat nikmat. Lidah pelanggan tak bisa berpaling.
"Aku juara satu." Karin yang dulu enggan ke kedai karena harus naek tangga sampai tiga kali kini rajin datang.
"Alhamdulillah, terimakasih sudah berprestasi, nanti ayah kasih hadiah." Ridwan mengecup kening Karin.
"Hebat kan yah?" Dasarnya Karin haus akan pengakuan.
"Hem, kau terbaik." Mengacungkan dua jempolnya, Ridwan mengingat putri pertamanya.
"Kau pulang dengan siapa?" Biasanya Karin minta jemput, ini datang sendiri.
"Naik angkot." Sahut Karin ceria.
"Jangan berdusta gadis kecil, kau selalu muntah kalau naik angkot." Ridwan menoel hidung Karin.
"Tidak, aku sudah terlatih. Semenjak ayah di rawat aku berusaha jadi anak yang kuat seperti kakak, sakit asma ku juga sudah minggat, ya walau kadang kambuh sih." Karin cengengesan.
Mengacak rambut anaknya yang hitam panjang. "Karin kapan kaya kakak?"
"Apanya?" Tanya Karin bingung.
"Berhijab?" Ridwan tak pernah memaksa anak-anaknya, namun kewajiban untuknya mengingatkan seisi rumah.
"Maunya waktu SMA saja yah." Memamerkan deret gigi yang tertata rapi.
"Kenapa harus menunggu SMA?" Ridwan penasaran dengan jawaban Karin, kadang anaknya suka nyeleneh.
"Hemat uang yah, seragamnya sayang tinggal satu semester, sementara ayah tanggung dosa Karin ya tak masalahkan?" Bisik Karin di telinga Ridwan.
Ridwan menatap langkah putri bungsunya yang berlari ke arah dapur. Apalagi kalau bukan untuk pamer hasil jerih payahnya selama satu semester. Menilik arloji di tangan kanan, Ridwan membantin harusnya Aluna sudah arah pulang. Berjalan ke luar rumah makan, Ridwan menunggu kehadiran sang anak di pinggir jalan. Satu jam basa-basi dengan tukang sol sepatu sembari menunggu Aluna, Ridwan tak kunjung melihat batang hidung sang anak. Memutuskan kembali ke rumah makan, Ridwan gelisah.
Grep, Ridwan tersentak saat ada dua tangan indah melingkar di perutnya. "Ayah pasti menunggu ku ya."
Suara gadis pertama yang memanggilnya ayah. "Sayang, kau mengerjai ayah ya?"
"Heheh, tadi aku intip ayah asik ngobrol dengan kang sol sepatu, Luna nyemil jajan dulu di toko sepeda om Kasno, Luna memantau pergerakan ayah." Usil Aluna.
Memutar badan agar bersitatap dengan sang anak. "Kau ini ya, tak pernah jera ayah hukum."
"Jangan kelitik aku yah, malu aku sudah gadis." Larang Aluna.
"Hahahah, jadi sekarang ayah tak bisa menghukum mu dengan kelitikikan, ayah ganti saja deh." Ridwan menimbang kira-kira apa yang tepat.
"Ayah serius mau menghukum ku? Segala berpikir." Aluna melenggang ke arah dapur, dia mencari Mawar.
"Jangan tinggalkan ayah Luna, kau ini mirip siapa seperti itu?" Dumal Ridwan mengekor.
Suasana dapur sedang damai, jam makan siang sudah lewat jadilah orderan hanya bisa ditangani satu atau dua orang saja. Karin sedang bermanja dengan Mawar, minta dibuatkan camilan kesukaan yaitu cireng isi. Adiknya nyaris tak berupa, wajahnya penuh tepung karena turut membantu. Karin yang sekarang lebih pengertian, dia tak lagi iri dengan sang kakak, tak saling cemburu dan saling mendukung. Keharmonisan tercipta karena ibunya yang berhasil mendidik kedua anaknya.
"Assalamualaikum." Aluna mengucap salam merebut keseriusan mereka pada cireng untuk dirinya.
"Waalaikumsalam, kakak sudah pulang hore." Karin menghampiri Aluna, berniat memeluk tapi jidatnya di tahan Aluna dengan sekuat tenaga.
"Minggir, kau kotor nanti seragam kakak kotor." Aluna memikirkan nasib seragam barunya, jangan sampai ternoda sebelum tamat.
"Oh iyaya." Tak marah, Karin kembali ke tempat semula.
"Kemari, ibu sedang buat cireng untuk kita semua, Aluna mau dibuatkan cilok juga?" Tawar Mawar, tahu anaknya suka cilok daripada cireng.
"Tak usah Bu, besok saja kita buat bersama, besok kita libur." Aluna tak ingin merepotkan Mawar.
"Yah sia-sia dong ibu sudah buat padahal." Berekspresi layaknya anak kecil ngambek, Mawar melipat bibirnya cemberut.
"Eh, tidak begitu kalau sudah jadi ya mana bisa di tolak." Aluna sumringah.
"Kakak jangan hanya memikirkan cilok, hayo ngaku dapet rangking tidak?" Karin memancing keributan seperti biasa.
"Dih apasih cebol, kakak mu ini tak usah diragukan, nih lihat dapat apa tidak?" Membuka raport di depan wajah yang adik.
"Terlalu dekat, mundur dikit nggk kebaca ih." Karin sadar tangannya tepung semua hanya bisa melawan lewat kata.
"Hahahaha, yasudah kalau tak mau lihat, kesempatan tak datang dua kali." Aluna menutup kembali raport miliknya, memasukkan ke dalam tas.
"Ibu, ihhhh itu kakak mulai lagi isengin adek." Pundung Karin.
"Ih udah gede masih aja ngadu." Ledek Luna.
"Ih udah gede masih aja usil." Karin balas meledek.
"Ih udah gede diusilin dikit langsung pundung." Aluna tak mau kalah.
"Ish, tuh kan emang kakak tuh nyebelin dari sananya, entah nurun siapa kali." Decak Karin kesal.
"Uluh-uluh ngambek banget ini kayaknya, ih awas bentar lagi nangislah biasanya." Aluna ketagihan melihat ekspresi adiknya yang super ekspresif.
"Tau ah, gak denger, gak denger ye...ye..ye...ye..yeyey...ye." Karin muak dengan keusilan kakaknya.
Aluna terkikik, menjitak kepala sang adik. "Kakakmu juara satu."
Seketika Karin menerjang tubuh sang kakak, lupa dengan tolakan Aluna sebelumnya. "Aaaaaaa, senangnya, selamat ya kak!"
"Aihhh, bajuku." Aluna mendorong Karin menjauh.
Kesal akan sikap Aluna, Karin mengambil adonan dan tepung untuk baluran, menabur ke tubuh Aluna. "Yey.... akhirnya kakak pecah telor."
Aluna penuh tepung, membalas sang adik. "Kau ya, rasakan pembalasan ku!"
"Hiatttttt, terima ini." Semakin banyak tepung yang bertebaran.
"HENTIKAN!" Teriak Mawar.
Tak di gubris kedua putrinya lebih senang bermain kali ini. "Yakk, hentikan sekarang juga sebelum ibu darah tinggi!"
"Aluna! Karin!" Mawar menjewer keduanya.
"Aw...Aw...sakit Bu." Aluna memegangi kuping kanannya yang terasa panas.
"Lepaskan Bu, ini kdrt namanya." Karin mencoba berontak.
"Salah siapa punya kuping tak dipakai, rasakan!" Mawar menambah intensitas kekuatan menjewer.
Ridwan geleng-geleng saja, menyaksikan kejadian langka di depan mata. Biar nanti mereka bersihkan bersama dapur yang berubah putih semua.
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂