follow Ig ainunharahap12.
Kamar hotel yang terlihat sangat berantakan. Dengan pakaian yang berserakan di lantai dan ada sepasang insan yang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos yang tertutupi selimut.
Seorang pria dengan tangannya yang memeluk wanita di sampingnya itu yang lurus berbaring. Tiba-tiba wanita itu mengkerutkan dahinya dengan membuka matanya yang sangat berat. Wanita itu juga memijat kepalanya yang terasa sangat berat.
Wanita itu merasa berat pada perutnya yay membuatnya menoleh kesampingnya dan kaget melihat pria di sampingnya.
"What!' pekiknya dengan wajah kagetnya yang langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Wanita itu langsung duduk dan melihat tubuhnya yang di balik selimut sudah polos.
"Bawa aku jalan-jalan ke surga. Sebelum aku kembali ke dalam Neraka," wanita itu menepuk jidatnya saat hanya mengingat sepenggal kata saat mabuk yang di ucapkannya pada pria yang tidak dikenalnya di sampingnya itu.
"Kau benar-benar keterlaluan Alea!" umpatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Hangat yang di rindukan.
"Alea itu bawaan dari tuan Sandres yang menikah dengan ibu kandung Livia. Artinya Alea bukan anak kandung dari istri tuan Sandres. Seperti apa yang di katakan kakak kamu sebelumnya. Alea bernasib tidak baik di dalam keluarganya. Ya mungkin juga mendapatkan kekerasan, seperti apa yang di alaminya tadi," jawab Adara yang hanyalah menjelaskan apa yang di dengarnya sebelumnya dari putranya.
"Seperti apa yang di katakan kakak tadi. Jika kak Alea anak tiri yang di tindas. Jadi itu benar?"tanya Fisya.
"Ya seperti itu lah. Mama juga tidak tahu jelasnya bagaimana. Karena Mama juga belum bertanya kepada Alea dan nanti ama akan tanyakan jika ada waktu," ucap Adara.
"Ya ampun mah! Kasihan sekali kalau begitu kak Alea. Dia pasti sering nangis. Karena perbuatan keluarganya," sahut Fisya yang merasa iba pada Alea.
"Iya kamu benar, memang sangat kasihan," sahut Adara.
"Lalu mah, sampai kapan kak Alea akan di sini?" tanya Fisya.
"Mama tidak tau. Yang terpenting. kamu harus perlakuan dengan baik Alea. Alea adalah tamu di rumah kita," ucap Adara.
"Itu pasti mah. Mama dan mengajarkan pada Fisya untuk Fisya selalu baik kepada siapapun dan tidak boleh jahat dan harus menolong sesama mahluk hidup," sahut Livia dengan tersenyum.
"Anak mama ternyata sekarang semakin pintar," sahut Adara bangga dengan mengusap pucuk kepala Fisya. Dia pasti bangga melihat putrinya yang memiliki rasa empati kepada orang lain. Secara tidak langsung juga sama dengan apa yang di lakukan Alvian.
Menurutnya putranya itu sangat cuek. Tapi tidak menyangka punya pikiran sejauh itu yang membawa wanita datang ke rumahnya hanya karena wanita itu mendapatkan perlakuan buruk dari rumahnya.
*********
Mentari pagi kembali tiba. Cahayanya yang cerah di pagi yang begitu indah. Alvian, Adara dan Arhan sudah berada di meja makan ya akan melaksanakan sarapan pagi seperti biasanya.
"Ayo kak Alea cepat!" perhatian mereka langsung tertuju pada Fisya dan Alea dengan Fisya ya' menarik-narik Alea.
"Ayo buruan kak, sarapan bersama," Fisya terus mengajak Alea yang sepertinya Alea malu-malu.
"Ada apa Fisya. Kenapa Kamu udah mendesak Alea?" tanya Adara.
"Ini mah, kak Alea tidak mau ikut sarapan. Katanya dia sudah kenyang," sahut Fisya.
"Bukan begitu Fisya," sahut Alea pelan.
"Alea ayo sarapan bersama. Kamu jangan sungkan. Kita semua di sini tidak jahat dan tidak akan ada yang memakan kamu. Ayo sini sarapan," sahut Adara dengan lembut.
"Daa itu sok jual mahal," sambar Alvian.
"Shutt kamu itu ya," tegur Adara.
"Ayo Alea kemari!" ajak Adara.
"Iya, iya Tante," sahut Alea dengan canggung dan akhirnya menghampiri meja makan. Setela di paksa.
"Pah ini Alea yang mama ceritakan pada papa. Tadi malam papa tidak sempat bertemu dengannya. Karena Alea sudah tidur," ucap Adara.
"Hallo Alea!" sapa Arhan
"Hallo Om, sahut Alea menunduk dengan ramah.
"Papa. Jadi ini suami Tante Adara. Orang tua Alvian yang mana sih sebenarnya. Kenapa banyak sekali," batin Alea yang kembali bingung dengan struktur keluarga Alvian yang tidak jelas.
"Alea!" tegur Arhan. " Ayo duduk kenapa masih bengong!" sahut Arhan.
"Oh iya Om," sahut Alea yang akhirnya duduk di samping Alvian.
"Alea kamu sarapan bubur apa nasi goreng?" tanya Adara.
"Nasi goreng aja Tante," jawab Alea.
"Baik biar Tante ambilkan," sahut Adara.
"Tidak usah Tante," tolak Alea.
"Tidak apa-apa," sahut Adara yang langsung mengambilkan nasi ke piring Alea dan juga mengambilkan telur mata sapi untuk Alea yang membuat Alea merasa tidak enak.
Tiba-tiba mata Alea berkaca-kaca yang mendapatkan perlakuan lebih baik dari keluarga Alvian. Orang-orang yang ada di depannya itu terlihat sangat tulus kepadanya. Bahkan mereka baru bertemu dalam hitungan jam.
"Ternyata di dunia ini masih ada orang seperti mereka. Tanpa bertanya panjang lebar mengenai diriku, mereka sangat peduli kepadaku begitu baik. Aku tidak pernah mendapatkan semua ini dari keluargaku sebelumnya," batin Alea yang baru merasakan. Jika kehidupannya yang ada di depannya itu adalah surga yang di impikannya. Sangat hangat dan penuh ketulusan.
"Kamu butuh sesuatu Alea?" tanya Adara melihat Alea diam.
"Oh tidak kok Tante," sahut Alea tersenyum dan kembali fokus pada makanan. Alvian yang di sampingnya menoleh ke arah Alea dan Alvian sepertinya tau apa yang di pikirkan Alea.
"Ya sudah kamu makan lagi," ucap Adara.
"Iya Tante," sahut Alea dengan mengangguk.
"Alea kamu masih kuliah apa sudah lulus?" tanya Arhan.
"Saya sudah lulus Om," jawab Alea.
"Lulus dalam bidang apa?" tanya Arhan.
"Kedokteran," jawab Alea.
"Wau," sahut Fisya, Fisya yang tampak takjub mendengar jika Alea kukus dari kedokteran. Mereka tanpa begitu kagum mendengar gelar yang dimiliki Alea.
"Ya ampun. Jadi kak Alea seorang Dokter, wisss keren sekali. Mah, pah, nanti Fisya mau kuliah kedokteran. Fisya sudah mantap," sahut Fisya yang memang terlihat sangat bangga dan juga memang memiliki cita-cita menjadi seorang Dokter.
"Melihat orang jadi Dokter, ikut-ikutan aja," desis Alvian.
"Isss apa sih kak Alvian. Menjadi Dokter itu cita-cita Fisya dari dulu. Jadi mana ada Fisya ikut-ikutan," jawab Fisya dengan penuh penekanan.
"Sudah jangan bertengkar. Dalam setiap detik kalian berdua selalu saja bertengkar. Mama heran melihat kalian berdua," sahut Adara menghela napas.
"Alea kamu baru lulus atau bagaimana?" tanya Adara
"Saya sudah lama lulus dan sudah menjadi Dokter Tante," jawab Adara.
"Benarkah! Di mana kamu bertugas?" tanya Arhan.
Alea langsung terdiam dan tidak punya jawaban. Karena dia memang tidak bertugas sebagai Dokter lagi.
"Dia tidak bertugas lagi. Karena dia dipecat di rumah sakit gara-gara kesalahan bodohnya," Alvin yang mengambil alih untuk menjawabnya yang membuat Alea kaget mendengar jawaban Alvian yang pasti benar.
"Iya bukan?" tanya Alvian menoleh kearah Alea dengan kedua alisnya terangkat.
Alea hanya membuang nafasnya kasar, sangat kesal melihat Alvian yang tau aja tentang dirinya. Tidak mendapat jawaban dari Alea membuat Alvian mendengus kasar.
"Kamu ini ya Alvian, sembarangan mengatai orang lain bodoh. Alea seorang Dokter dan bagaimana mungkin, mulut kamu itu sangat mudah mengatakan jika Alea bodoh. Menjadi seorang Dokter lebih sulit daripada menjadi seorang pengusaha," sahut Adara yang menegur Alvian. Alea merasa senang yang di bela Adara.
"Tau nih kak Alvian," tambah Fisya.
"Iya deh," sahut
"Di dalam dunia pekerjaan, masalah keluar dan tidak keluar itu adalah hal yang biasa. Dan jika ada masalah dalam pekerjaan juga itu hal yang biasa. Karena manusia tidak ada yang tidak melakukan kesalahan. Jika kamu saat ini hiatus menjadi seorang Dokter. Tidak apa-apa, masih banyak waktu. Mungkin sekarang alam menyuruh kamu untuk beristirahat. Karena Om dengar. Dunia kedokteran itu sangat sulit dan tidak banyak waktu. Jadi mungkin saat ini kamu harus beristirahat," sahut Arhan yang menanggapi masalah Alea yang di pecat dari rumah sakit sangat positif.
Arhan tidak perlu mempertanyakan alasannya dan juga tidak menjudge Alea atau mengintrogasi Alea, kenapa, ini dan itu. Dia hanya memberikan dukungan pada Alea.
"Benar kata Om kamu Alea. Jangan terlalu di pikirkan. Semua pasti ada hal baiknya," sahut Adara menambahi. Alea tersenyum mendengarnya.
Bersambung