Juara 🥉 Event Horor
Ayana Febriani Andriano adalah seorang indigo. Dia baru saja pindah sekolah di SMA Tunas Bangsa.
Tapi di sekolahannya yang baru, Ayana justru sering mengalami hal aneh. Sekolah itu mempunyai energi besar dan sangat mengerikan. Berulang kali dia melihat penampakan di sana.
Dia bahkan menemukan sebuah ruang rahasia yang membuatnya penasaran karena siapapun dilarang masuk kesana. Dia meminta bantuan teman nya yang bernama Riki untuk membantunya masuk kesana. Dan saat dia berhasil masuk keruangan tersebut, dia melihat bayangan mengerikan. Ada darah dan suara jeritan kesakitan.
Rahasia apa yang tersembunyi di ruang itu? Dan mampukah Ayana memecahkan misteri yang tersembunyi di sekolahan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pelaku Baru
"APA YANG KAU LAKUKAN?"
Deg
Ayana tersentak dengan suara keras seseorang yang ternyata adalah Pak Udin. Dia menghampiri Ayana dengan kedua mata yang melotot. Ayana merasa bingung, kenapa tiba-tiba Pak Udin membentaknya? hingga Ayana melihat ekor mata Pak Udin yang melirik ke arah lain. Ayana mengikuti lirikan tersebut dan melihat bayangan seseorang yang mengintip mereka. Kini dia tahu kenapa Pak Udin membentaknya
"Ma-maaf Pak!!" seru Ayana takut
"Sudah berapa kali aku bilang, dilarang kemari!! Tapi kenapa kau masih saja datang, hah?" bentak pak Udin lagi
"Ta-tadi saya bermaksud untuk pergi ke ruang OSIS pak. Tapi tiba-tiba saya mendengar sesuatu dari dalam ruangan itu. Saya hanya ingin mengeceknya tapi keburu bapak datang." Ujar Ayana beralasan
Pak Udin mengerutkan keningnya, dia menatap Ayana seolah bertanya apa maksudnya? Tapi kemudian Ayana memberi kode melalui kedipan matanya dan gerakan tangannya membentuk kotak kecil.
Pak Udin mulai paham. Dia meminta gadis itu untuk tetap di situ sementara dia akan mengecek ke dalam. Dia berpura-pura mengancam Ayana akan menghukumnya jika berbohong.
Pak Udin masuk ke ruang kesenian. Dia melihat tidak ada perubahan di sana. Mungkin kepala sekolah dan yang lain sudah membereskannya dan meletakkannya sesuai tata letak sebelumnya. Dia mulai mencari handycam yang disembunyikan oleh Ayana.
Cukup lama dia berada di dalam sementara di luar Ayana terlihat khawatir, apakah Pak Udin bisa menemukan handycam tersebut atau tidak. Atau jangan-jangan kepala sekolah sudah menemukan handycam tersebut? sangat gawat jika hal itu terjadi.
Ayana sesekali melirik bayangan yang mengintip mereka. Dia berusaha bersikap biasa saja sampai akhirnya Pak Udin keluar dengan tangan kosong. Hal itu membuat Ayana merasa kecewa.
"Ayo, ikut bapak!! kamu udah bohongin Bapak." ujar Pak Udin. Dia mengunci pintu ruang kesenian kembali dan menarik Ayana menjauh dari ruangan tersebut
Orang yang mengintip mereka keluar dari tempat persembunyiannya. Dia adalah Bu Asih. Dia melihat keduanya terlihat natural dan tidak dibuat-buat. Sepertinya Pak Udin masih bisa menjaga rahasia mereka. Untuk itu dia membiarkan Pak Udin begitu saja.
Tanpa ia ketahui saat ini pak Udin menarik Ayana ke tempat yang sepi. Dia melihat ke sana kemari dan memberikan handycam yang dia temukan di ruang kesenian
"Ini Neng handycam nya." ujar Pak Udin sambil memberikan handycam tersebut
Ayana merasa senang, dia langsung memasukkan handycam tersebut di dalam tasnya dan akan melihatnya nanti di rumah. Dia penasaran, Apakah benar semalam terjadi ritual atau tidak, Dan siapa saja pelaku yang terlibat?
"Terima kasih Pak. Saya kira tadi bapak tidak bisa menemukannya." seru Ayana
"Bapak sengaja sembunyikan handycam ini, biar orang itu tidak lihat. Soalnya bapak masuk nggak bawa apa-apa. Akan terlihat aneh, jika bapak keluar dan membawa sesuatu. Untungnya orang itu tidak curiga." seru pak Udin
"Maaf ya Neng, tadi Bapak bentak neng Ayana. Soalnya kalau nggak kayak gitu nanti orang itu curiga kita bersekongkol atau mengira bapak berkhianat. Bukannya gimana-gimana, tapi bapak nggak mau keluarga bapak dalam bahaya." ujar Pak Udin lagi
"Iya pak, tidak apa-apa. Saya mengerti kok. Kalau begitu saya permisi pulang dulu ya pak." pamit Ayana
"Hati-hati Neng."
Ayana mengangguk dan pergi ke ruang OSIS. Dia merasa senang karena sudah mendapatkan handycam nya tanpa bersusah payah mengendap-endap masuk ke ruang kesenian. Semua itu berkat pak Udin. Untung beliau datang.
Ayana sampai di depan ruang OSIS dan tak berapa lama Andra keluar dari sana. Dia menghampiri Andra dan langsung mengajaknya untuk pulang
"Sorry ya, loe jadi nunggu lama." seru Andra
"Lumayan sih, tapi lain kali kabarin dong kalau lagi sibuk. Kan gue bisa ikut yang lain Kak." gerutu Ayana
"Iya maaf. Tadi handphone gue mati. Gue cari loe tapi loe nya nggak ada. Gue kira loe udah pulang. Tapi untungnya kita ketemu jadi kita bisa pulang bareng. Sekali lagi maaf ya."
"Iya nggak papa."
"Langsung pulang atau mau ke mana dulu nih?" tanya Andra
"Langsung pulang aja Kak. Gue lelah." seru Ayana. Sebenarnya selain lelah, dia juga ingin cepat-cepat melihat rekaman dari handycam nya. Dia benar-benar penasaran apa yang terjadi semalam di sana?
Dan tidak membutuhkan waktu yang lama mobil Andra terparkir sempurna di pekarangan rumah Ayana. Gadis itu menawarkan Andra untuk mampir, tapi Andra menolak.
Dia bergegas masuk setelah mobil Andra sudah tidak terlihat lagi. Dia buru-buru masuk ke kamarnya dan melihat rekaman di handycam nya.
Terlihat jelas kepala sekolah tengah menyiapkan sesuatu yang ia susun di atas meja yang panjang. Dan tidak berapa lama, pak Doni datang membawa dirinya yang dalam keadaan pingsan.
Hal itu membuat Ayana merasa bingung. Bukankah dia di temukan Andra pingsan di tengah hutan? Lalu kenapa dia berada di ruang kesenian?
Ayana menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih teliti. Dan betapa terkejutnya dia, karena gadis itu adalah Laras.
"La-laras? Kenapa dia bisa ada di sana?" gumam Ayana. Dia kembali melihat apa yang mereka lakukan. Mereka bergandengan tangan mengelilingi Larasati dan mulut mereka terlihat komat-kamit. Namun tiba-tiba seseorang menerobos masuk yang membuat aktivitas mereka terhenti.
Ayana menggeram kesal karena tidak dapat melihat orang itu. Tapi dia merasa mengenal suara pria itu.
"Kayaknya gue kanal suara itu. Tapi siapa ya?" Ayana nampak berfikir. Tapi tiba-tiba dia melebarkan kedua matanya sempurna setelah ingat siapa pemilik suara tersebut.
"Oh my God!!! Riki?"
next judul berikutnya kk
kasian riki
tp gimana yah kelanjutan Andra dan aya