"Kalau hati sudah memilih, otakku ini bisa apa?!"
Devian Almero, sosok pria tampan yang sama sekali tak mengerti perihal cinta sebelum bertemu dengan Diandra.
Ya, Diandra. Gadis manis itu mampu menggetarkan hati Devian saat awal perjumpaan.
Hingga akhirnya Devian nekad mengejar Diandra dan langsung mengklaim gadis itu sebagai milik. Berjalannya waktu, hujan rasa kasih sayang yang diberikan Devian, akhirnya mampu menaklukan hatinya.
Namun, sebuah fakta mencengangkan muncul di saat keduanya memadu kasih. Diandra baru mengetahui bahwa pasangannya itu ialah 1 diantara 7 anggota psikopat dari Keluarga Breadsley.
Sanggupkah Diandra menjalani hidup bersama Devian, sang psikopat tampan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang sudah ia genggam, tak akan mudah dilepas begitu saja
Adakah manusia yang akan baik-baik saja setelah ditinggalakan?
Entahlah, yang jelas menjauhnya Diandra semakin mengurangi detik kebahagiaan dalam hidup Devian.
Diandra itu adalah dunia bagi Devian. Dia juga ibarat rumah ternyaman untuk pria itu pulang setiap saat.
Berawal dari ketidaksengajaan pertemuan mereka yang telah diatur baik oleh Tuhan. Hingga akhirnya, psikopat tampan itu mengerti dengan gejolak yang timbul di hatinya, lalu mendeklarasikan perasaannya itu yang disebut dengan 'Cinta'.
"Dev, sampai kapan lo mau kaya gini terus!" bentak Chester. Menatap pria yang tengah duduk santai di depan TV sambil meminum wine. Tampang penampilan pria di hadapan Chester itu sangatlah kacau.
Bagaimana tidak kacau? Tiga hari berturut-turut Devian menghabiskan waktunya dengan mabuk tanpa absen. Bahkan, disekitaran mata pria itu menghitam berbentuk lingkaran. Sudah persis seperti panda karena selalu begadang tembus sampai pagi.
"Berisik lo, banci kaleng!" sungut Devian mempertajam sorot mata, menatap Chester penuh amarah.
Chester memutar bola mata malas dan berlalu pergi begitu saja tanpa berkata-kata. Dia sudah menduga, menegur Devian tak akan ada gunanya. Alih-alih justru membuat dirinya semakin bertambah emosi. Tak ada yang pernah berhasil menasehati Devian selain Diandra.
Karena merasa terganggu, Devian menyambar jaket hitam yang terselampir di kepala sofa, lalu mengambil kunci mobilnya dan melangkah tergagap menuju garasi. Entah, pria berpenampilan kacau itu akan pergi kemana.
Pria yang sedang mabuk berat itu membelah jalan raya yang nampak padat. Lincah, mobil yang ia kemudikan menyalip satu per satu mobil di depannya.
Devian menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil itu pun melesat seperti alap-alap dan jelas hal itu sangatlah berbahaya untuk Devian. Jangan kalian berpikir psikopat tampan ini akan takut mati! Kehilangan Diandra saja secara tak langsung sukses membunuhnya secara perlahan.
Ditempat lain empat orang gadis tengah berkumpul. Duduk sejajar di depan meja bar sebuah club ternama.
Gisel dan Rahel berseru ria, menggelengkan kepala, mengikuti dentuman musik DJ malam ini.
Sedangkan Diandra dan teman sebangkunya---Selly, sedari tadi menatap gelas kristal di atas meja yang berisikan minuman ber-alkohol. Enggan sedikit pun mencicipi cairan itu.
"Diminum, dong. Jangan dipandangi terus. Tenang aja, kalau kalian udah tau rasanya, gue jamin bakal ketagihan," rayu Gisel, cewek yang mengundang mereka di acara party ulang tahunnya.
Selly dan Diandra saling memandang dengan raut wajah gelisah. Pasalnya, mencium aroma minuman itu saja sudah membuat mereka pusing, apalagi meminumnya.
Mengabaikan rasa sungkan pada Gisel, Diandra memundurkan gelas kristal itu pertanda dia menolak. Begitu juga dengan Selly, ikut-ikutan melakukan hal sama mencontoh Diandra.
"Ya udah, deh! Kalau kalian nggak mau, no problem. Yang penting kalian mau datang ke acara ultah ini, udah bikin gue seneng," ucap Gisel tersenyum manis.
Waktu malam semakin larut. Beberapa tamu undangan di acara Gisel yang hilang kendali karena mabuk dan kini asyik menari di lantai dance floor.
Diandra dan Selly memilih duduk di kursi pojok ruangan. Gio yang datang telat, kini sudah duduk bergabung dengan Diandra. Lalu para anggota Nero kemana? Mereka sibuk menjajah makanan dan minuman yang disediakan oleh pemilik acara.
Para Nero tergolong berasal dari keluarga yang sangat mampu. Mobil yang mereka tunggangi masuk dalam kategori mewah. Jangan kaget dengan sifat rakus mereka terhadap apapun yang berbau gratis. Karena bagi Nero, minta orang lain lebih enak daripada punya sendiri.
Diandra dan Selly menatap heran pada sosok gadis yang tak lain ialah Rahel, memakai pakaian minim dan sedang menggila, berjoget panas di atas meja bar.
Tak ada yang melarang Rahel melakukan hal seperti itu. Nyatanya, club itu memang sudah dibooking oleh Gisel untuk perayaan pestanya.
Para tamu undangan mendukung lewat sorakan yang menyeruak. Bagi para lelaki hidung belang, tentunya tarian dari Rahel itu sangat menguji iman mereka sebagai kaum adam. Terkecuali bagi, Gio. Pria itu justru sibuk memainkan game mobile legend di ponselnya. Sedikitpun tak mengalihkan atensinya dari layar ponsel.
Naluri lelaki murni dari mereka semua mengatakan ingin mencicipi tubuh mungil penuh kemolekan tersebut.
"Sel, gue ke toilet dulu, ya!" ucap Diandra dan direspon anggukan oleh Selly.
Diandra sedikit mempercepat langkahnya. Membelah lautan manusia yang nampak asik berjoget mengikuti dentuman suara musik.
Jarak toilet sudah semakin dekat. Namun sayang, gadis dengan surai digerai itu tak sengaja menabrak seseorang.
"Ma--af ...." ucap Diandra seraya mendongakkan kepala. Melihat wajah seseorang yang tak sengaja ia tabrak. Matanya pun berbinar.
Pria tampan yang dilihat Diandra mengenakan kemeja hitam. Mata indah berlensa hitam pekat, rahang tegas, hidung mancung bak perosotan, dan masih banyak lagi kelebihan pria itu mewakili ketampanannya. Tak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata karena pria itu sangat sempurna.
Pria itu hanya menatap Diandra seperkian detik, mengindahkan lontaran permohonan satu kalimat 'Maaf' dari Diandra dan berlalu pergi.
Diandra bengong. Berdecak kesal sembari melototi punggung pria yang kian menjauh. Sombong sekali pria itu. Ganteng-ganteng kok sombong!
Dengan hati yang kesal, Diandra melanjutkan langkahnya menuju toilet di depan.
"Tuh, cowok sombong, ngapain duduk di kursi sama Gio?!" Diandra menatap benci, mendapati pria yang tadi ia tabrak sedang duduk bergabung bersama teman-temanya.
"Ndra, lama banget ke toiletnya. Toiletnya pindah ke bulan, ya?!" sindir Gio pada Diandra yang baru saja kembali.
"Ngapain dia duduk di sini?!" ketus Diandra, menyorot wajah Pria yang tengah menyesap rokok di selipan jarinya.
Gio bingung harus menjelaskan dari mana tentang pria yang kini duduk di depannya. Upayanya menyembunyikan identitas kakaknya, gagal sudah.
"Gue, Sean. Kakaknya Gio." Pria itu memperkenalkan dirinya sendiri tanpa menolehkah wajahnya.
"Yo, dia bener Kakak lo ...?" Diandra membulatkan matanya.
Gio mengangguk samar, membenarkan pertanyaan Diandra.
Diandra menaruh kasar pantantnya di atas sofa. "Yo, kenapa lo tega nyembunyiin ini semua dari gue?!" tanya Diandra tiba-tiba. Mendelik tajam menatap sahabatnya.
"Gue ...." Gio memikirkan alasan yang tepat agar Diandra tak semakin merajuk.
"Karena Gio malu dengan profesi Kakaknya sebagai ketua mafia," sambar Sean berucap jujur. Beranjak dari duduknya, lalu mencekik adiknya itu dengan apitan lengannya.
"Kak, lepasin! Sa--kit ...!" Gio memberontak. Menyikut perut Sean yang semakin senang menyiksanya.
Sudut bibir Diandra tertarik. Tanpa disadari membentuk senyum melihat pertunjukan kakak beradik yang tengah berkelahi di hadapannya.
"Lo, nggak takut, Ndra, kalau tahu kakak gue ketua mafia?" Gio bertanya, lekat menatap Diandra.
"Nggak, tuh!" jawab Diandra santai tanpa beban.
Kontan hal itu membuat Gio bernafas lega.
*
Semua mata di ruangan itu menyorot kedatangan pria tampan yang tengah berderap membelah kerumunan.
"Ndra, tuh, Pak Devian udah dateng," kata Gisel.
Kedatangan Devian kontan merubah atmosfir disekitarnya menjadi tegang. Pria itu memangkas jarak mendekati Diandra menyuguhkan tatapan berapi-api.
"Ayo, pulang!" paksa Devian mencekal kasar tangan Diandra lalu menariknya secara paksa.
"Apaan, sih?! Lepasin tangan gue!" Diandra berusaha melepas tanganya dari cengkraman tangan besar milik Devian.
Hal yang terkesan pemaksaan itu memancing atensi Sean---seorang ketua gembong mafia terkenal.
"Lo kasar banget sama cewek! Dia bilang lepasin, ya, lepasin ...!" Sean merebut paksa tangan gadis itu. Kontan mata dan bibir Diandra sama-sama membulat.
Lancang tangan pria itu merangkul bahu Diandra tanpa canggung. Kesambet apa itu bos mafia? Sifatnya saat ini berbanding jauh dengan kesan dingin di awal perjumpaan.
"Lo, nggak usah ikut campur! Jauhin tangan busuk lo dari pacar gue! Bereng*ek!" geram Devian mengepalkan tangannya. Rahang mengeras. Urat leher terlihat jelas.
Berani menyentuh gadisnya sama saja orang itu sedang mengibarkan bendera peperangan.
Sean di sana berdiri angkuh. Menatap tak bersahabat pada Devian.
Kakak dari Gio itu kembali berulah, mencondongkan wajahnya ke samping ceruk leher Diandra. Tanpa permisi, dia mendekap lembut tubuh Diandra dari belakang. Sean tahu, setelah ini, pasti banteng yang berada di hadapannya itu akan marah besar dan datang menyerangnya.
Sang empunya badan pun kontan terkejut menerima dekapan konyol itu. Diandra ingin memberontak. Siapa dia berani-beraninya menyentuh tubuh orang sembarangan?
Cukup! Psikopat tampan itu sudah dilahap emosi dan api cemburu. Si tampan kalau sudah marah, habis semua!
Benar saja. Devian maju ke arah Sean, melayangkan bogem menyasar wajah musuhnya.
Mendapati Devian mulai menyerang, Sean melepas dekapan tanganya. Meninggalkan Diandra dan maju meladeni Devian. Sampai dimana sih kekuatan seorang psikopat melawan bos mafia sepertinya?
"Jgn mudah percaya ucapan org lain, walaupun dg bukti yg nyata, krn org licik bisa melakukan apapun itu. Jgn sprti Devian yg mudah percaya kalo Zea adl Melody masa lalunya tnp menyelidikinya terlebih dahulu, sampai mengabaikan & menyakiti Diandra. Tegaslah dlm berprinsip, jgn ingin keduanya tp mengabaikan org yg tulus dg nya. & ternyata Diandra adl Melody masa lalunya."
"Jk kita mencintai seseorg, kita hrs bisa mnjaga kepercayaannya, mnjaga hati, pikiran & tubuh kita hny utk nya. Jgn sprti Devian yg menyentuh Kimberly hny krn obat perangsang, walaupun Diandra tdk tau saat itu, taunya saat ucapan Kimberly sblm kematian."
...dilanjutin yaaaa..semangat