Puspa Melita seorang gadis berusia 14 tahun yang harus kehilangan Ibunya dengan cara yang mengenaskan diakibatkan orang ketiga, kematian Ibunya membuat seorang gadis yang dulunya ramah, penuh senyum, dan juga ceria berubah 360° menjadi gadis yang pendiam dan penuh dengan dendam.
Puspa sudah menyusun rencana yang sangat matang untuk membalas dendam kepada orang yang sudah menghancurkan Ibunya.
" Kau hancurkan Ibuku, Ku hancurkan keluargamu. " Puspa melita dengan segala dendam kesumatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Melihat Ferry yang sangat terpukul kedua polisi tersebut pun jadi sangat tidak tega karena mereka berdua juga mempunyai istri dan mereka pasti akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi Ferry saat ini.
" Baik Pak kami akan mulai mencari istri anda, kalau begitu saya permisi dulu. " Sahut polisi Ipul yang ingin pergi dari ruang IGD
" Tunggu Pak saya ikut. " Ferry menghentikan langkah kedua polisi tersebut sambil memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
Namun saya karena tubuhnya yang masih sangat lemas Ferry sama sekali tidak dapat berdiri dan ia hanya mampu untuk duduk di atas ranjang rumah sakit saja.
" Lebih baik Pak Ferry istirahat di sini dulu pulihkan kondisi kesehatan anda dan percayakan pencarian istri anda pada kami. " ucap polisi Ipul yang segera berlalu dari dalam ruang IGD.
Ingin rasanya Ferry memaksakan dirinya untuk ikut mencari istrinya tapi apa yang di katakan polisi Ipul ada benarnya lebih baik dia memulihkan kondisi kesehatannya dan mempercayakan pencarian istrinya pada pihak yang berwajib. Karena jika ia memaksakan diri pun yang ada ia hanya akan merepotkan dan pencarian istrinya tidak dapat berjalan dengan maksimal.
" Sebaiknya Masnya segera beristirahat karena sebentar lagi anda akan dipindahkan ke ruang perawatan. " Tutur suster tersebut sembari membantu Ferry untuk rebahan.
Dengan terpaksa Ferry mengistirahatkan tubuhnya walau pun matanya sama sekali tidak dapat di pejamkan karena hati dan pikirannya terus tertuju pada istrinya yang masih belum di ketahui bagaimana kabarnya.
Meskipun dirinya belum bisa ikut mencari Istrinya, namun Ferry terus berdoa di dalam hati untuk keselamatan istri dan juga calon buah hatinya, tanpa terasa air matanya terus mengalir membasahi wajah tampannya. Sekuat apa pun dia bertahan untuk tidak menangis namun air matanya tetap saja terus mengalir dengan lancangnya tanpa bisa dia hentikan.
.
.
.
Sementara itu...
Flashback on...
Saat mobil Vera terus mendekat dan semakin mendekat ke mobil mereka, Lita sudah berteriak histeris karena mobil mereka sedikit lagi akan masuk ke dalam jurang
" Bagaimana ini Mas aku tidak ingin mati. " teriak Lita yang sudah sangat ketakutan.
Ferry tidak menjawab ucapan istrinya namun dia masih terus berusaha untuk menghindar agar mobil mereka tidak masuk ke dalam jurang, namun sayang sekuat apa pun dia berusaha nyatanya mobil mereka tetap terperosok masuk ke dalam jurang.
Saat mobil mereka terjun bebas Ferry langsung melepaskan seatbelt miliknya lalu ia memeluk tubuh istrinya dan berusaha untuk melindungi Lita dengan sekuat tenaganya agar terhindar dari bahaya yang mengancam. Berkat Ferry yang melindunginya Lita hanya mengalami luka ringan namun sayang saat mobil mereka sampai di dasar jurang yang tidak terlalu dalam Ferry sudah tidak sadarkan diri lalu da**h segar mulai membasahi kemeja yang sedang ia gunakan akibat dari banyaknya luka-luka yang di dapatkan Ferry karena terkena pecahan kaca mobil.
Saat mobilnya berhenti Lita segera membuka matanya perlahan dan betapa terkejutnya dia saat melihat Ferry yang sudah pingsan dengan penuh dengan luka-luka baik itu di wajah, tangan dan juga punggungnya.
" Ya Allah Mas Ferry. " Lita sampai menutup mulutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menyentuh wajah dari laki-laki yang sudah melindunginya dari maut.
" Maafkan aku Mas Ferry aku terpaksa harus meninggalkan kamu? " ucap Lita untuk yang terakhir kalinya lalu dia berusaha membuka pintu mobil yang untungnya tidak lagi terkunci.
Dengan kepala yang sempoyongan dan seluruh badan yang terasa sakit Lita berlari menjauh dari mobil yang di mana suaminya masih berada di sana dalam keadaan pingsan. Dari jarak yang cukup jauh Lita menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah melihat mobil suaminya.
" Maafkan aku Mas Ferry? Semoga ada orang baik yang segera menyelamatkan kamu, aku mencintaimu tapi aku tidak bisa terus bersamamu. " Lita berucap sambil berderai air mata lalu dia kembali berlari tak tentu arah karena yang terpenting untuk saat ini dia pergi jauh dari suaminya.
Lita berlari dan terus berlari hingga tiba-tiba kakinya sudah tak lagi mampu untuk menopang berat tubuhnya dan kepalanya pun semakin terasa sakit hingga pandangannya menggelap dan Lita pun tidak sadarkan diri di tengah hutan.
Flashback off...
Saat ini Lita sedang terbaring lemah di sebuah gubuk bambu yang berada tengah di hutan yang jaraknya sangat jauh dari tempat kecelakaan tersebut. Saat ini Lita masih belum sadarkan diri padahal sudah dua jam lamanya ia pingsan.
Eengghhh..
Lita mulai tersadar lalu secara perlahan dirinya mulai membuka matanya dan Lita merasa sangat asing dengan tempat tersebut.
" Kamu sudah sadar nak? " sapa seorang wanita tua yang bernama Narsih.
" Aku di mana? Ssstttt aw kepalaku. " gumam Lita dengan suaranya yang lemah.
Saat membuka mata pandangan masih mengabur dan kepala nya masih juga terasa sakit, meskipun begitu Lita tetap memaksakan diri untuk bangkit walaupun tubuhnya sudah tak terbilang lagi bagaimana sakitnya.
" Ini Minum dulu. " Nek Narsih memberikan Lita secangkir air putih lalu Lita pun meminumnya sedikit.
" Terima kasih Nek. " ucap Lita.
Dengan terpaksa Lita harus kembali berbaring seperti semula karena pinggangnya terasa sakit dan ngilu hingga ia langsung meringis kesakitan.
" Kamu istirahat saja jangan di banyak gerak takut pendarahan. " ucap Nek Narsih yang sedang duduk di pinggir dipan bambu.
" Pendarahan maksudnya gimana nek? Nenek siapa? Aku ada dimana? " Lita mulai bertanya setelah pandangannya sudah kembali seperti semula dan sakit di kepalanya mulai berkurang.
Nek Narsih tersenyum sambil memandang wajah wanita muda yang ada di hadapannya saat ini.
" Perkenalkan nama saya Narsih, saat ini kamu sedang berada di gubuk saya, tadi saya menemukan kamu pingsan tepat di depan gubuk saya ini, kalau Nenek boleh tau nama kamu siapa? " Tutur Nek Narsih memperkenalkan diri.
" Saya Lita Nek, maksud nenek pendarahan itu apa memangnya saya kenapa? " Lita bertanya sambil memandang wajah Nek Narsih yang sudah sangat sepuh.
Lagi-lagi Nek Narsih tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Lita dengan sayang.
" Sebelumnya Nenek minta kamu sabar dan juga Ikhlas menerimanya karena ini semua takdir dari yang kuasa, kamu baru saja mengalami keguguran. " Ungkap Nek Narsih menjelaskan.
Jedeeer...
Lita langsung terdiam saat mendengar penjelasan dari Nek Narsih, walau pun awalnya dia tidak menginginkan anak itu tumbuh di rahimnya namun Lita bukanlah Ibu yang kejam untuk buah hatinya, sehingga saat mengetahui bahwa dirinya keguguran Lita langsung meneteskan air mata dan rasa sakit akan kehilangan orang yang terkasih kembali Lita alami untuk yang kedua kalinya.
Lita menangis tersedu-sedu hingga siapa saja yang mendengar suara tangisnya pasti akan ikut merasakan bagaimana sakitnya hati Lita saat ini, bahkan Nek Narsih pun ikut menangis padahal sudah berpuluh tahun dirinya tidak pernah lagi menangis setelah dia memutuskan untuk menyendiri dengan tinggal di tengah hutan.
" Menangislah Lita luapkan dan keluarkan semua rasa sakit yang ada di dalam hatimu, jika kamu ingin menjerit ya menjerit lah karena tidak akan ada yang mendengar teriakanmu dan tidak akan ada juga yang melihat sisi kelemahanmu. " Bukannya menenangkan Lita, Nek Narsih justru meminta Lita untuk terus menangis bahkan hingga menjerit.
Nek Narsih tau Lita sedang tidak baik-baik saja karena saat pingsan tadi Lita terus mengigau dengan menyebut kata-kata bahwa dia harus berhasil membalaskan dendamnya dan kata-kata itu terus Lita ucapkan berkali-kali.
Mendengar ucapan Nek Narsih Lita benar-benar menjerit mengeluarkan semua yang menyesakkan hatinya karena untuk saat ini memang hal itulah yang sedang dia butuhkan. Selama Lita menangis dan menjerit Nek Narsih hanya diam sambil mengusap lembut punggung Lita berulang kali.
" Teruslah menjerit Lita Nenek tau batinmu sedang tidak baik-baik saja. " ucap Nek Narsih lagi.
Setelah itu Nek Narsih meninggalkan Lita sendirian di dalam gubuknya yang masih terus menangis. Nek Narsih melangkahkan kaki tuanya masuk ke dalam hutan untuk mencari tumbuh-tumbuhan serta dedaunan yang akan dia gunakan untuk membuat ramuan yang bisa mengobati luka yang ada di fisik mau pun di dalam tubuh Lita.
ANAK2 DELIA SEMUA JUTEX SOMBONG YA GAK ADA YG RAMAH BAIK SAMA ART KASAR SOMBONG🙈😡