Naila Anindita adalah seorang anak perempuan yang menjadi korban broken home. Kedua orang tuanya bercerai akibat orang ketiga. Sejak Naila SD, Ibunya pergi dengan laki-laki lain saat dia memutuskan untuk menjadi seorang TKI di Luar Negeri akibat perekonomian mereka sulit. Usaha Ayah Naila hancur karena Ibu Naila yang sering hidup berfoya-foya. Saat ini Naila tinggal berdua dengan Ayahnya. Sedangkan Kakak Naila tinggal bersama Nenek dan Kakeknya.
Naila tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, cerdas, dan kalem. Saat ini dia mendapatkan beasiswa di Universitas ternama di Yogyakarta. Suatu saat Naila harus mengorbankan diri, untuk menjadi pengantin pengganti Kakaknya. Namun Pria yang menikahinya marah, dia sama sekali tidak menganggap Naila seorang istri.
Suatu saat naila bertemu dengan teman kecilnya waktu SD. Dia adalah Salman Nanda Haris. Laki-laki yang dicintainya dalam diam. Naila tidak tahu, bahwa sebenarnya Salman juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Joni
Hari ini Salman dan Naila akan kembali ke Jogja. Keluarga Salman dan keluarga Naila mengantarkan mereka ke Bandara.
"Jadilah istri yang manut sama suami, jangan pernah membantah suami selagi itu tidak menyimpang syari'at agama. Ayah yakin kamu bisa menjadi istri yang sholeha."
"Iya, Yah! Insyaallah."
Faisal memeluk erat putrinya.
"Nak Salman, Ayah titip Naila! Bimbing dia dan ajari dengan lembut! Walaupun dia wanita yang kuat, tapi Ayah tahu sebenarnya dia mudah rapuh. Hanya saja dia pandai menyembunyikan perasaannya. Terima kasih sudah mau menerima dia dan masa lalunya."
"Saya tidak bisa berjanji untuk selalu membuatnya bahagia, Yah! Tapi saya berjanji akan selalu ada untuknya dalam suka dan duka."
Faisal beralih memeluk menantunya.
"Sudahlah, Pak Faisal! Anak-anak kita hanya akan ke Jogja bukan ke luar negeri! Anda tidak perlu bersedih! Saya jamin Salman akan bertanggung jawab penuh atas istrinya."
"Ya,ya, anda benar, Pak Haris! Aku terlalu lemah jika menyangkut Naila. Dia sudah kehilangan kasih sayang Ibunya sejak kecil, saya tidak ingin dia merasa kekurangan kasih sayah lagi."
"Bunda harap, kamu bisa menjadi imam yang baik untuk istrimu, Man! Karena baik buruknya makmum juga tergantung pada imamnya. Nanti kapan-kapan Bunda akan mengunjungi kalian!"
Setelah acara berpamitan selesai, akhirnya mereka harus segera check-in karena pesawat akan segera berangkat.
jam 2 siang, pesawat mereka sudah mendarat. Edo sudah menunggu di tempat parkir bandara. Salman menghubungi Edo untuk segera merapat ke tempatnya.
"Edo, tolong bawakan!" Salman memberikan barang bawaan Naila kepada Edo
"Siap, Bos! Ngomong-ngomong selamat ya, Bos! Atas pernikahannya! Maaf tidak bisa hadir karena harus menyelesaikan pekerjaan dari Bos."
"Iya terima kasih, tidak masalah! Yang terpenting kadonya!"
"Yah, saya tidak ada kado, Bos!"
"Ya sudah, cukup do'a saja!"
"Itu pasti, Bos."
Mereka langsung menuju ke perumahan Salman. Tidak lama kemudian, mereka-pun sampai. Edo mengeluarkan semua barang dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih, Do!"
"Sama-sama, Bos!"
Naila membawa masuk ke dalam kamar tas yang berisi baju dan perlengkapan make-up. Sisa barang-barangnya masih tertinggal di kost-an. Besok dia akan mengambilnya, sekaligus berpamitan kepada Bude.
"Sayang, sementara kita tinggal di rumah ini dulu nggak pa-pa ya?"
"Nggak pa-pa! Emangnya mau tinggal di rumah mana lagi?"
"Rencananya aku ingin bangun yang lebih besar dari ini. Tapi nanti kalau kita sudah punya anak."
Bicara masalah anak, hati Naila kembali bergetar. Pipinya merah bak kepiting rebus.
"Kenapa pipimu merah? Apa tadi kamu pakai blash-on, Sayang?" Goda Salman, seraya menyentuh pipi sang istri.
"Ti-tidak! Mungkin ini efek panas!"
Salman hanya menahan senyum, melihat tingkah Naila yang menggemaskan di matanya.
Naila mengeluarkan isi tas dan mulai menatanya ke dalam lemari. Rupanya Salman sudah menyiapkan satu lemari baru untuk Naila.
"Sayang, kalau kamu butuh asisten rumah tangga, aku akan mencarikannya."
"Tidak perlu! Aku masih bisa mengerjakan semuanya sendiri."
"Baiklah! Tapi nanti kalau kamu berubah pikiran, jangan sungkan, katakan kepadaku!"
"Iya, Mas."
"Sayang, boleh nggak panggilannya diganti? Yang lebih mesra gitu!"
"Apa, Honey, Beb?"
"Hubby! Iya, hubby! Kedengarannya lebih romantis gitu!"
Naila masih mengumpulkan tekat untuk memungkinkan sebutan itu.
"Ayo dong, Sayang! Dicoba dulu!"
"Hubby!" Ucap Naila, lirih.
"Apa? Nggak denger!"
"Hubby!" Naila meninggikan sedikit suaranya.
"Nah, gitu dong! Emmuach...."
Tanpa aba-aba Salman mencium pipi kanan Naila. Naila hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkat suaminya.Rupanya suaminya itu sudah tidak malu-malu lagi sejak setelah menyatakan perasaannya.
"Kamu tetap saja tengil!" Batin Naila.
Malam harinya, Naila memasak di dapur. Ia memasak bahan seadanya. Ada nugget dan mie pangsit instan. Ia masak dengan santai. Salman sedang memeriksa file proyek barunya di ruang tamu. Bau sedap dari dapur sangat menggugah selera. Salman penasaran dan mengintip ke dapur. Ia melihat istrinya yang sudah berkeringat. Salman berinisiatif mengambil tisyu dan mengelap dahi istrinya.
"Capek, Sayang? Ini keringatnya bercucuran!"
Mendapati perlakuan yang manis dari suaminya, Naila hanya bisa menundukkan wajah.
"Aku sudah selesai masak, ayo kita makan! Tapi maaf, tidak ada nasinya! Kita belum belanja beras, Hubby."
"Tidak masalah, ini saja sudah cukup untuk mengganjal perut, Sayang! Sini, aku bantu bawakan!"
Akhirnya mereka makan malam di ruang tamu. Setelah selesai makan, Naila membereskan perabotan bekas mereka makan. Ia mencuci piring dan lainnya. Tiba-tiba Salman memeluknya dari belakang.
"Mau dibantu?"
"Hubby, aku tidak bisa bergerak?"
"Masa' sih?
"Hem... lihat saja!"
"Sini biar aku yang melanjutkan, aku sudah biasa kalau cuma cuci piring!"
"Tidak..tidak... ini pekerjaanku."
"Kata Bunda, pekerjaan rumah itu bukan hanya pekerjaan istri! Kalau suami bisa membantu, apa salahnya?"
"Ya, ya, Bunda benar! Tapi kali ini, biar aku yang melanjutkan! Hanya tinggal bilas saja!"
"Ya sudah, aku mau lanjut lagi."
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar. Saat ini mereka sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.
"Hubby, sejak kapan, kamu mulai mencintaiku?"
"Sayang, kamu tahu nggak? Aku menyukaimu mulai saat pertama kita bertemu di sekolah. Saat itu aku selalu menceritakan kamu kepada Bunda saat pulang sekolah. Bunda menganggap hanya cerita anak kecil. Lama-lama rasa itu menjadi tumbuh, aku tidak menyadarinya, karena saat itu aku masih kecil. Namun saat kita sudah lulus sekolah, dan kamu menghilang tanpa kabar, aku selalu berharap bertemu denganmu. Bahkan pernah berhari-hari aku tidak enak makan karena memikirkanmu. Aku sadar ternyata aku sudah mencintaimu. Banyak perempuan yang mendekatiku, mencari perhatianku, tapi aku tidak pernah perduli. Bunda selalu berpesan agar aku tidak berpacaran. Aku hanya bisa menyebut namamu dalam setiap do'aku. Itu yang Bunda ajarkan kepadaku. Dan aku tidak menyangka, Allah mengabulkan do'aku."
"Yakin kamu sama sekali tidak pernah berpacaran?"
"Iya, tentu! Pacaran hanya akan mengurangi tenaga dan pikiran! Uang juga pastinya, hehe...."
"Dan nambah dosa!"
"Nah itu kamu tahu!
"Ternyata kita sama, Hubby! Bedanya nasibku tidak seberuntung kamu! Aku menjadi janda..."
"Stop! Jangan diteruskan! Lupakan sesuatu yang membuatmu bersedih! Ada aku yang akan selalu menemanimu!"
"Terima kasih sudah mau menerima aku dengan segala kekuranganku!"
Sontak Naila mendekap erat suaminya. Baru kali ini ia berani melakukannya.
"Sayang, jang kenceng-kenceng meluknya! Nanti si Joni bangun! Bisa gawat!"
"Hah... Joni?"
" Itu, yang di bawah!"
Salman menunjuk yang dimaksud.
Benar saja, Joni yang dimaksud sudah mulai bangun. Naila melihat ada sesuatu yang bergerak di balik sarung Salman. Meski Naila belum pernah tahu rasanya, namun dia tidak sepolos itu.
"Hubby! "
Naila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Salman mengambil tangan kiri Naila, lalu menuntunnya kepada si Joni.
"Kasihan, Sayang! Pegang saja ya! Pliss....!"
Salman memohon.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang belum baca novel "Ketegaran hati Raisya" mampir yuk!
See You Again kakak....
Author banyakin literasi lagi ya biar ga salah². Kasihan yg baca, jadi dapet informasi yg salah kalo begini