Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.
Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.
Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.
"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.
Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.
Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!
......
Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya trik kecil
Milano yang tadi buru-buru kembali ke istana langsung pergi menuju kamar Latizia. Ia mengacuhkan panggilan panglima Ottmar yang heran melihat wajah dingin Milano seperti tengah mengkhawatirkan sesuatu.
Saat tiba di atas tangga Milano berpapasan dengan Ratu Clorris yang di dampingi oleh dua pelayan setianya.
"Milano! Ibu ingin bicara denganmu."
Milano tak mengkhiraukannya. Ia tetap berjalan ke atas sampai Ratu Clorris meninggikan suaranya.
"Berhenti atau kau tak akan pernah melihat ibu lagi!"
Sayangnya hal itu tak berguna sama sekali. Ratu Clorris mengumpat melihat Milano tak peduli akan ancamannya bahkan pria itu sudah menghilang pergi ke area kamar Latizia.
"Dasar anak itu," Umpatnya mengepal. Dua pelayan yang ada di belakangnya hanya bisa menunduk seakan tak melihat apapun.
Tapi, Ratu Clorris cukup heran. Sedari tadi ia tak melihat Latizia maupun putri Veronica. Dimana dua wanita itu?!
"Panggil putri Veronica untuk menemui ku!"
"Baik, Yang Mulia!" Jawab salah satu pelayannya segera pergi menuju kamar putri Veronica.
Ratu Clorris segera turun ke bawah untuk menunggu kehadiran putri Veronica. Panglima Ottmar yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tangga hanya bisa melihat interaksi dingin ibu dan anak itu.
"Kenapa prince terlihat khawatir?! Tak biasanya dia seperti itu," Gumam panglima Ottmar merasa ada yang tak beres.
Diam-diam ia pergi menaiki tangga atas menuju kamar Latizia. Bisa saja terjadi sesuatu pada wanita itu sampai prince-nya pulang dari pertambangan yang cukup jauh.
.....
Sementara Milano yang sudah ada di kamar Latizia, di buat semakin gusar tak bisa tenang kala tak menemukan Latizia di sini. Ia membuka pintu kamar mandi dan tak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu.
"Kemana dia?!" Gumam Milano diam sejenak di dekat ranjang. Dari kondisi kamar yang masih sama seperti saat ia tinggalkan pagi tadi, sudah memberi tanda jika Latizia tak kesini sebelumnya.
"Prince!"
Panglima Ottmar muncul di depan pintu kamar yang tadi di buka kecil.
"Dimana Latizia?"
"Tadi pagi aku melihatnya bersama putri Veronica, Prince!" Jawab panglima Ottmar agak bingung.
Milano langsung berjalan keluar kamar. Langkah tegas dan lebarnya pergi menuju kamar putri Veronica dimana ada satu pelayan yang tampak pucat berdiri di depan pintu ruangan itu.
Saat melihat kedatangan Milano, wanita itu menunduk segera menyingkir dari depan pintu.
"Prince!"
Milano diam melihat ke dalam kamar. Ia menatap sedikit cela dimana putri Veronica merintih kesakitan di atas ranjang dengan para pelayan mengelilinginya sampai tubuh wanita itu tak tampak.
"Panas! Panaas!!"
"Putri! Kulitmu melepuh," Lirih para pelayan yang tampak mengibas ke arah sosok yang berteriak itu.
"Sialan!!! Panggil dokter!! Panggil ibu ratuu!!"
"B..baik!"
Mereka perlahan mundur tapi segera menunduk saat melihat Milano di depan pintu. Tatapan netra elang itu sama sekali tak terkejut melihat putri Veronica yang terlihat seperti baru saja di siram air panas.
Kulit wanita itu merah mengelupas bahkan ada yang bernanah khususnya di bagian wajah.
Melihat kehadiran Milano tentu saja putri Veronica langsung mengadu bahkan tangisannya tak lagi bisa di redam.
"S..Sayang! Sayang tolong aku! Ini..ini semu karna Latizia!!" Histeris putri Veronica turun dari ranjang berjalan tertatih-tatih melewati para pelayan yang berdiam diri.
Aroma busuk dan amis mulai tercium dari tubuh putri Veronica. Bahkan, Milano sampai mundur merasa tak nyaman.
"Sayang! Aku..aku diracuni Latizia! Dia ingin membunuhku, hiks!"
"Dimana dia?" Tanya Milano menghindar saat putri Veronica ingin memeluknya. Suara yang ia keluarkan seperti biasa begitu dingin dan tak peduli.
"Milano! Setelah apa yang dia lakukan padaku kau masih mau me.."
Milano acuh. Ia berjalan pergi meninggalkan putri Veronica yang menjerit histeris memanggilnya tapi Milano seakan menuli.
Tujuannya sekarang mencari Latizia. Ntah apa yang di lakukan wanita itu sampai Veronica menjadi seperti mumi busuk yang sangat amis dan menjijikan.
"Prince!"
Panglima Ottmar yang tadi ikut mencari segera datang menemui Milano yang berjalan turun ke bawah. Panglima Ottmar menjaga jarak dengan Milano agar tak ada siapapun yang curiga.
"Prince! Putri Latizia ada di kamar paviliun belakang."
"Hm," Gumam Milano membelokan langkahnya keluar dari istana utama. Panglima Ottmar juga pergi berlawanan arah dengan Milano karna ia tak bisa terus bersama sang pangeran.
Di luar sana Milano tak menghiraukan sapaan para prajurit kerajaan. Tujuannya hanya satu dan matanya cukup optimis untuk pergi ke area paviliun belakang.
Setibanya disana, Milano berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Ia mendengar ada suara pria dari dalam dan sontak Milano langsung menendang pintu itu keras hampir jebol.
Brakk..
Semua orang yang ada di dalam langsung berdiri. Tatapan datar tajam mematikan Milano memindai Grigel dan Pohander yang tadi duduk di depan Latizia tampak memanjakan seekor merpati di tangannya.
"Kauu.."
Latizia mengisyaratkan Grigel untuk pergi bersama Pohander yang segera mengangguk. Mereka melewati Milano yang tak merubah ekspresi wajah tanpa ekspresi itu sama sekali.
"Tutup pintunya!"
Titah Latizia tampak baik-baik saja. Milano mendekat dan pintu itu tertutup dengan sendirinya walau tak begitu stabil karna ada kerusakan oleh tendangan pria ini tadi.
"Ada urusan apa? Kau hampir saja membuatku jantungan," Gumam Latizia ingin duduk kembali tapi Milano segera menahan bahunya.
Milano membolak-balikan tubuh Latizia seperti memindai keadaan wanita itu.
"Kau tak terkena racun?"
"Kenapa? Tidak senang?" Tanya Latizia menaikan satu alisnya. Mendengar itu Milano langsung mencengkram kedua pipi Latizia sampai bibir wanita itu manyun.
"Kauu!!"
"Sekali lagi kau seperti itu, akan ku pastikan kau minum racun di hadapanku!" Geram Milano menjentik bibir Latizia yang langsung mendorong Milano kasar
"Kau ini apa-apaan, ha?!" Geramnya mengusap kedua pipi yang terasa nyeri dan mulai merah.
Milano membatu. Ia duduk di tepi ranjang minimalis Latizia yang menampilkan wajah masam.
"Katakan! Apa yang kau lakukan padanya?"
"Ouh, jadi kau datang untuk menegakkan keadilan untuk istri..."
"Kau ingin mengulang malam indah kita?!" Tanya Milano dengan intonasi sangat mengerikan. Latizia akhirnya diam segera duduk berhadapan dengan Milano dengan merpati putih yang masih di lengannya.
"Aku hanya memainkan sedikit trik kecil."
"Seperti?"
"Menipu, mungkin," Gumam Latizia tersenyum kecut seraya mengusap kepala Ninu si merpati putih di lengannya.
Milano diam sejenak. Ia lega karna Latizia terlihat baik-baik saja dan tak terkena luka atau racun apapun.
"Tipuan-mu cukup bagus."
"Hm, yah! Hanya manfaatkan kebodohan istrimu saja."
Jawaban Latizia membuat Milano tak suka. Ia menarik lengan wanita itu kasar hingga Ninu terbang ke lantai dan Latizia jatuh ke pangkuannya.
Sontak Latizia benar-benar emosi ingin menjambak Milano tapi kedua tangannya di tahan ke belakang.
"Mau-mu apa, ha?? Berhenti mencampuri urusanku!"
"Kau panggil dia apa?" Geram Milano menatap tajam Latizia yang masa bodoh.
"Istrimu!"
"Sekali lagi!"
"Istri..Aaaa!!! Milano apa yang kau lakukan?!!" Pekik Latizia saat lehernya langsung di gigit Milano yang menurunkan bagian kain di atasnya.
Puas membuat Latizia terpekik dan ada bekas giginya disana, barulah Milano memundurkan wajahnya tak peduli dengan amukan Latizia.
"Kauu!!"
"Bicara seperti itu lagi, akan-ku pastikan kau tak akan bisa berjalan dengan benar!" Ancam Milano membuat Latizia jengkel.
Jika ia punya kekuatan super, sudah ia pastikan target utamanya adalah Milano. Pria brandal yang suka berbuat sesuka hati dan sangat menyebalkan.
"Lepaskan tanganmu! Leherku sakit!" Ketus Latizia menyentak tangannya yang tadi di tahan Milano.
Ia mengusap lehernya yang terasa perih lalu mengambil nafas dalam.
"Tadi pagi dia mengajakku makan dan minum teh."
"Lalu?" Tanya Milano beralih memijat tengkuk Latizia yang berusaha menghindar tapi Milano lagi-lagi melakukannya dan ia pasrah.
"Dia mengatakan jika ingin berteman denganku. Aneh, bukan?! Seorang ular berkepala naga sepertinya mau bersikap baik pada wanita yang ia tuduh menjadi perebut suaminya. Aku sampai merasa dunia akan segera dilanda gempa atau tsunami yang besar," Jelas Latizia yang akhirnya menerima pijatan Milano ke lehernya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku mengikuti alur permainannya. Dia bicara sambil terus memaksaku minum tapi aku tahu jika teh itu ada racunnya!"
"Jadi?" Tanya Milano cukup penasaran.
Latizia mengambil nafas dalam. Ia tadi tiba-tiba saja nekat tapi untung saja otaknya bisa berpikir jernih.
"Sebelum dia membawaku ke meja makan, teh itu sudah lebih dulu di tukar! Grigel memberitahuku melalui surat yang saat itu ku suarakan sebagai berkas kerajaan karna ada pelayan pribadi putri Veronica yang mengintip kami dari arah lain!"
"Grigel?"
Latizia mengangguk. Untung saja dia punya dua orang kepercayaan yang memantau gerak-gerik putri Veronica. Alhasil wanita itu terkena perangkap sendiri.
"Yah, mereka berdua memang orang kepercayaan ayahku! Untung saja saat itu mereka memberitahuku tapi jika tidak mungkin.."
"Jangan lakukan lagi!" Sela Milano membuat Latizia terpaku melihat wajah tampan penuh tatapan yang dalam ini.
"Kau.."
"Kau belum tahu seberapa kuat musuh-mu. Orang yang menopang mereka belum keluar dari sarangnya!" Jelas Milano merapikan pakaian Latizia yang tadi tersingkap olehnya.
"Ma..maksudmu?"
"Yang tampak hanya boneka saja. Pemain sebenarnya masih memantau dari segala penjuru," Jawab Milano serius.
Latizia diam. Ucapan Milano cukup masuk akal. Jika hanya menyingkirkan Raja Barack itu sangat mudah bagi Milano yang tak perlu sampai bersandiwara selama ini.
"Jadi, mereka hanya pion?"
"Hm. Permainan di kerajaan ini tak semudah yang kau pikirkan," Ucap Milano mengusap pipi Latizia yang tadi ia cengkram.
"Sungguh rumit," Desis Latizia berpikir keras.
"Tapi, apapun yang-ku mau maka akan-ku dapatkan, bagaimanapun caranya!" Desis Milano yang pasti tak mengira jika Latizia selalu melihat apa moto hidupnya.
"Apapun caranya?"
"Yah, termasuk mengorbankan diri sendiri," Gumam Milano terbayang dengan pernikahan paksanya dengan putri Veronica.
.....
Vote and like sayang..