Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Cekcok Berlanjut
“Mana uangnya buat belanja? Biar Ibu yang belanja bahan makanan untuk seminggu ini. Kamu itu kalau dibiarin belanja jadi banyak buang bahan di kulkas kayak gitu. Nggak terpakai, mubazir,” ucap Bu Tutik menodongkan tangan untuk meminta uang belanja kepada Ely.
Ia berbuat begitu karena beberapa hari lalu diperhatikannya sang menantu belanjanya tak tepat guna, banyak lebihan sayur yang jadi tidak terpakai karena tidak disesuaikan dengan menu masakan yang akan dimasak.
“Loh? Kalau Ibu mau belanja ya kenapa nggak pakai duit Ibu sendiri? Kan ini uang Ely nafkah dari Mas Gilang ya buat Ely dan Fifi aja lah, Bu,” jawab Ely yang tak suka dengan carasang mertua menodongnya seperti itu.
“Loh? Jadi kamu mau kita masak masing-masing aja? Kamu lupa ya kalau ini rumah Ibu? Kamu tinggal di sini tapi kok nggak masakin buat Ibu?” tuntut Bu Tutik dengan bibir yang sudah mengerucut hendak mengamuk.
“Ya aku akan masakin kalau Ibu serahin semuanya ke aku soal menu dan belanjanya. Kalau Ibu ada request menu boleh bilang, pasti akan aku belikan dan masakin juga. Tapi kalau Ibu minta uang belanjaku Ibu yang atur ya nggak bisa, lah!” Begitu Fifi menjawab dengan nada suara yang semakin meninggi.
“Ya kamu kalau gitu belanjanya yang bener. Kayak Lana dulu juga aku yang belanja, kok. Galih kasih uang belanja ke Ibu. Lana mah enak terima beres sudah ada bahan untuk dimasak.” Bu Tutik berkata membandingkan kedua menantunya. Hal mana itu sangat tak disukai oleh Ely sama sekali.
“Lana aja terus yang dipuji. Ibu suka kebiasaan, deh. Salah sendiri Ibu nggak jadi nenek yang baik buatRisvi, makanya sampai Lana kabur ke ibunya sendiri. Jadi terpaksa aku yang di sini!”Hilang kendali, Ely semakin melawan dengan berani kepada sang ibu mertua.
“Siapa bilang? Ya itu Lana aja yang nggak bisa ngurusin bayi. Dulu aku jadi ibu baru melahirkan dua kali juga sendirian. Nggak ada aku ngerepotin mertuaku sama sekali. Ibu-ibu jaman sekarang padamanjanya kelewatan.”
Ely tak menggubris jawaban sang ibu mertua karena ia segera bergegas ke depan rumah di mana telah terdengar kang sayur memanggili pelanggannya dengan belnya.
“Mending belanja deh daripada dengerin radio ngoceh sembarangan gitu!” omelnya sambil mengabaikan apa yang dibicarakan oleh sang mertua. Percuma, ia tak akan pernah menjadi sepenurut Lana. Ia tak akan mau-maunya diatur pengeluarannya oleh si ibu mertua.
“Seenaknya aja mau ngatur-ngatur belanjaku. Kalau dia yang ngasih uang sih nggak apa. Tapi kalau ini uang dari suamiku sendiri ya gak boleh lah, apa haknya , coba?” gerutunya kemudian sambil memilih sayuran di Mamang langganan yang memang setiap pagi berkeliling kompleks perumahan itu membawa dagangan sayur mayur dan juga bahan masakan lainnya.
“Ada apa, Mbak Ely?” Mbak Fani yang memang terbiasa kepo itu bertanya karena mendengar sedikit gumaman menantu tetangganya itu.
“Oh, nggak apa-apa, Mbak. Cuma lagi kesel dikit aja,” jawabnya tak ingin memperbincangkan hal itu.
“Pasti lagi kesel sama Bu Tutik, ya? Nggak apa-apa, cerita aja daripada dipendem sendiri malah nanti jadi bisul, loh,” lanjut Mba Feni membujuk Ely agar mau bergosip dengannya.
Yah, memang tetangga yang satu itu dasarnya suka membicarakan kehidupan tetangga lainnya. Setiap hari ada aja info yang dikoreknya dari para penghuni kompleks di sekitar rumahnya. Tak ada kabar yang tak didengar duluan oleh Mbak Feni di sekitar situ. Pokoknya dia semacam antenna parabola yang paling kuat signalnya dalam menangkap berita atau desas-desus terbaru di sana.
Ely tampak memandangi Mbak Feni, mengira-ngira apakah ia bisa dipercayai sebagai tempat curhat dan berkeluh kesah atau tidak. Namun, Ely mengurungkan niatnya untuk curhat karena ia tak enak kalau sampai nanti ada yang sampai melapor ke mertuanya. Bagaimanapun kan dia belum begitu mengenal mereka.
“Nggak ada, kok, Mbak. Kadang saya kalau capek memang sering jengkel sendiri, hehe. Nanti pas sudah enakan lagi akan membaik sendiri. Aku ini ya, Bang. Tolong ditotalin,” kata Ely akhirnya. Diserahkannya beberapa ikat sawi dan seplastik ikan bandeng serta dua papan tempe. Ia mempercepat kegiatan belanjanya agar segera bisa berlalu dari sana. Dikejar tukang gosip membuatnya sama sekali tidak nyaman.
Mamang sayur memasukkannya ke dalam kantong plastik sambil menghitung total belanja Ely. Usai membayarnya, Ely bergegas pamit dari sana karena ingin segera masak.
“Belanja apa?” tanya Bu Tutik tepat di depan pintu rumah mereka. Tampaknya ibu mertuanya itu sudah memperhatikannya sejak tadi.
“Oseng sawi sama ikan bandeng dan tempe, Bu. Hemat, kan?” jawab Ely sambil memonyongkan bibirnya.
“Loh, tapi Ibu nggak makan ikan bandeng, Ely. Ibu alergi gatal,” kata Bu Tutik memekik.
“Yak an masih ada tempe, Bu. Atau mau dibelikan apa lagi? Mumpung Mamang sayurnya masih ada di depan?” tanya Ely menyipitkan mata memandang sang mertua.
“Huh, nggak usah!” Bu Tutik mengentakkan kakinya pergi dari hadapan Ely.
“Nah, kan. Salah apa lagi nih aku? Dasar cerewet!” Ely kembali menggerutu dan masuk ke dapur untuk segera mengeksekusi masakannya.
Saat makan siang, seperti sudah diduganya, Ely tak melihat Bu Tutik keluar untuk makan. Ibu mertuanya itu berdiam di dalam kamar seharian. Ia sudah merasa pasti si ibu telah mengadu lagi pada anaknya entah Gilang maupun Galih. Bahkan mungkin juga keduanya. Dia kan memang tukang drama, pikir Ely sangat kesal.
Ternyata, beberapa saat kemudian, ada seorang tetangga yang mengirimkan pesanan Bu Tutik.
“Mbak, ini pesanan Bu Tutik, ya. Tagihannya segini,” kata si ibu yang memang menerima catering di kompleks tersebut.
Ely terperangah. Bu Tutik memesan seporsi ayam kampung bakar utuh dengan urap-urap dan sambel cobek yang totalnya sekitar tiga kali lipat dari total belanja Ely tadi pagi. Huh! Apa ini yang namanya diajari irit? Ely membatin dalam diam.
Ely tentu saja tak bersedia membayar tagihan tersebut.
“Sebentar, ya, Bu. Saya panggilin orangnya dulu,” kata Ely lantas bergegas masuk ke kamar sang ibu mertua.
“Bu, Ibu pesan ayam kampun bakar ya? Itu di depan ada yang anterin. Ini tagihannya katanya,” kata Ely seraya menyerahkan nota itu kepada Bu Tutik.
“Loh? Ya kamu bayarin dulu kan bisa. Kan gara-gara kamu masak ikan bandeng Ibu jadi nggak makan sampai sesore ini.” Bu Tutik menekuk muka karena dikiranya Ely akan seperti Lana yang selalu membayar semua tagihan yang datang ke rumah itu meskipun terkadang itu pesanan Bu Tutik.
“Nggak ada, Bu. Ini Ely uang belanjanya sisa sedikit. Mas Gilang masih lama lagi gajiannya. Jadi aku harus cukup-cukupin uang ini untuk seminggu ke depan,” jawab Ely berkeras sambil langsung berbalik keluar tak mau peduli dengan rengekan snag ibu mertua.
Ia mendengarkan dari dalam langkah kaki Bu Tutik keluar dan membayar si ibu catering tadi.
“Emang enak? Semua orang dipaksa irit tapi dia sendiri malah belanja makanan enak sendiri. Cih! Maunya aku yang bayarin pula! Keterlaluan!”
Saat makan malam, Gilang yang sudah tinggal di sana dan bekerja sebagai karyawan produksi di sebuah pabrik sepatu import berkat bantuan Galih pun bertanya kenapa Bu Tutik tidak ikut makan malam.
“Ibu makan malam di kamarpalingan, Mas.”
“Loh, kenapa? Apa Ibu sakit?” tanya Gilang cemas. Pria itu hampir saja bangkit dari duduknya dan memeriksa kondidi sang ibu sebelum Ely menjelaskan.
“Nggak sakit, kok. Ibu nggak mau makan ikan bandeng, karena gatal. Padahal masih ada tempe. Tadi juga udah kutawarin mau dibelikan apa di Mamang sayur lauknya. Eh, dia marah dan malah merajuk nggak mau keluar kamar. Ibu lalu pesan ayam kampung bakar di ibu catering depan sana.”
Gilang tak berkomentar. Ia tahu dari ekspresi wajah istrinya bahwa ia sedang tak enak hati dan bahkan terlihat jengkel sekali. Ia juga merasa kalau kelakuan ibunya itu keterlaluan, tetapi untuk menegur, ia tak berkuasa.
“Huh! Kalau punya lauk enak disimpen sendiri di kamar! Nggak ada nawarin pun, anaknya mau incip kah, mantunya juga pengen rasain sedikit, kah? Super pelit ya ibu kamu itu!” Ely tak tahan untuk tak meluapkan kekesalannya pada sang suami.
“Ya, kan kamu udah masak enak ini, Ely. Dikiranya kita udah kenyang makan masakan kamu kali. Biarin aja,” bujuk Gilang memohonkan pengertian istrinya itu terhadap kelakuan sang ibu.
“Tapi kan seenggaknya jangan ditaruh kamar juga lah, Mas. Hanya orang super pelit yang naruh lauk di dalam kamar! Heran!” Ely berkata agak keras dengan harapan Bu Tutik mungkin mendengarnya juga dari dalam kamarnya sana.
“Ssstt, diem lah, Dek. Biarin aja sesuka-sukanya Ibu. Kita mending diem daripada nanti cekcok lagi, kan?” Gilang menegur istrinya untuk mengecilkan suara.
“Mas ini terlalu ngalah deh sama Ibu. Lagian kita ini udah berkirban tinggal di sini, loh. Tapi malah diginiin. Dulu Lana sama Galih pasti dibiayain Ibu kan sampai mereka udah selesai gitu rumahnya? Huh! Sama kita nggak ada uangnya keluar sama sekali,” gerutu Ely lagi.
“Ya Allah, Ely. Ibu itu janda tua, loh. Dari mana dia dapat uang kalau bukan dari Galih biasanya? Aku aja malu ini jarang banget bisa ngasih uang ke Ibu. Kamu malah berharap dibiayain Ibu. Ya ampun!” Gilang menegur kegilaan istrinya itu. Menurutnya tidak pantas yang masih muda hendak bergantung hidup kepada yang tua yang seharusnya malah ditopang hidupnya oleh mereka.
“Tapi Ibu kana da nerima uang pensiunnya mendiang ayah kamu, Mas.”
“Ya meskipun gitu, uang itu udah hak Ibu sepenuhnya. Kalau kita dikasih ya disyukuri. Tapi kalau tidak dapat ya jangan berharap lah. Malu Ely, kita ini masih muda masa’ mau nodong Ibu sih?” Gilang kembali bernasihat.
“Halah. Dasar emang pelit aja Ibu kamu, tuh! Lihat aja ibu mertua ibu mertuanya temanku. Banyak yang beliin menantunya cincin lah, gelang lah. Kasih hasil panennya lah. Nggak perlu banyak uang dulu untuk bisa ngasih, Mas. Intinya mau apa nggak, itu aja sebenarnya.” Ely berkeras bahwa memang si Bu Tutik ini pelitnya kebangetan. Level maksimal!
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻