NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DUA POROS DI BAWAH SATU ATAP KOMANDO

Pagi hari di Kota Bukit Raya menyuguhkan atmosfer yang sama sejuknya dengan Kota Mariposa. Kabut tipis sisa semalam masih tampak menggantung rendah di antara dahan-pahan pohon trembesi yang mengitari ksatrian. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki yang teratur, yel-yel penyemangat khas prajurit yang sedang berlari pagi, serta suara letupan senapan yang terdengar lirih dari arah lapangan tembak di ujung paling belakang kompleks bangunan Pusdikmil Satria Garda.

Jarum jam dinding di kediaman dinas sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bagi Kapten Ayuni Ameera Bakri, ini adalah sebuah awal baru. Sebuah lembaran yang menuntutnya untuk mengusahakan seluruh daya dan upaya agar tetap terbiasa dengan ritme kedinasan, persis seperti sebelum-sebelumnya saat ia masih bertugas di satuan lama. Semalam, sebelum memejamkan mata di tengah kegelisahan membaca dua ceklis abu-abu dari suaminya, Ayu sudah mengirimkan pesan singkat untuk mengabarkan bahwa ia dan Arkan telah sampai dengan selamat di tempat tugas mereka yang baru.

Sesuai dengan nota pemberitahuan komando yang tersebar semalam, agenda utama hari ini adalah pelaksanaan rapat koordinasi perdana. Sebuah forum resmi yang sengaja digelar oleh Markas Komando Utama, alih-alih sebagai bentuk sambutan formal sekaligus penyamaan visi bagi seluruh jajaran satuan pendidikan baru yang kini telah resmi menempati posisi masing-masing di Bukit Raya.

Begitu langkah kakinya melewati ambang pintu ruang aula serbaguna Mako Pusdikmil, Ayu seketika merasakan adanya atmosfer yang sangat berbeda dari biasanya. Entah karena instingnya sebagai seorang perwira intelijen yang memang terbiasa peka terhadap perubahan detail di alam sekitar, atau karena hal lain, kali ini perasaan itu tidak mampu terbaca oleh logikanya sendiri. Ada sebuah debaran halus, sejenis kecemasan samar yang tidak ada bentuk nyatanya, merayap perlahan di dalam dada Ayu.

Ayu berjalan dengan pembawaan tenang yang dipaksakan, lalu mengambil posisi duduk di deretan kursi beludru hijau yang telah disiapkan khusus untuk jajaran perwira staf Satdik Ba. Di sisi kanan dan kirinya, Lettu Yunita Eka Wardhana dan Lettu Yusuf Pratama sudah duduk dengan sikap tobat yang sempurna. Mereka semua diam, tenggelam dalam wibawa ruangan yang sarat dengan lambang-lambang kenegaraan, menunggu kehadiran sang komandan pimpinan tertinggi ksatrian.

Tak lama berselang, suasana aula yang semula riuh rendah oleh bisikan para perwira mendadak senyap seketika. Dari arah koridor luar, terdengar suara derap langkah kaki yang tegas dan berwibawa. Bagi Ayu, entah mengapa suara ketukan sepatu lars di atas lantai marmer itu seakan menjadi satu-satunya frekuensi suara yang terdengar di antara diamnya seluruh manusia di dalam ruangan tersebut. Detak langkah itu terdengar pelan namun bertenaga, membuat atmosfer di sekitar Ayu ikut melambat secara dramatis.

Begitu sosok orang yang ditunggu-tunggu itu melangkah masuk melewati pintu besar aula, Ayu sempat tertegun selama beberapa detik. Jantungnya mencelos, menolak percaya pada apa yang ditangkap oleh indra penglihatannya. Namun, dengan sisa-sisa profesionalisme yang tertanam di kepalanya, Ayu berjuang keras menguasai diri dan mengembalikan raut wajahnya pada ekspresi tenangnya yang semula.

Pria itu. Victoria Reins Mari. Pria bertubuh raksasa itu berjalan lurus ke depan menuju mimbar komando. Wajahnya tampak datar, dingin, dan kaku laksana patung perunggu. Ia tidak melirik ke arah Ayu sedikit pun. Tatapannya lurus mengarah ke depan, mencerminkan ketegasan mutlak seorang pucuk pimpinan yang tidak boleh terdistraksi oleh apa pun. Walau sebenarnya, di balik topeng kedataran tersebut, sudut mata Victor telah menangkap presensi Ayu sejak detik pertama ia memasuki ruangan. Hanya saja, taktik atau cara Victor memperhatikan Ayu dikemas dengan begitu rapi—sebuah tatapan taktis yang bagi mata awam terlihat seperti tidak melirik sama sekali.

Ayu menatap punggung tegap itu dari kejauhan. Pria itu kini berdiri di atas mimbar dengan tiga melati emas berkilau tajam di pundaknya, sebuah lambang otoritas yang menegaskan bahwa ia sebentar lagi akan melangkah menuju tahap karier yang jauh lebih tinggi, sebuah posisi yang sangat memungkinkan dirinya untuk menjadi jenderal masa depan.

Di beberapa baris kursi di belakang Ayu, terdengar bisikan-bisikan sangat halus dari beberapa perwira wanita dan staf sipil, mengagumi betapa tampan dan gagahnya komandan teratas mereka yang baru itu. Bisikan yang volume suaranya hampir tidak mungkin terdengar oleh telinga manusia biasa, tetapi indra pendengaran Ayu yang terlatih mampu menangkap setiap kata dengan jelas. Mereka berbisik penasaran, menebak-nebak kira-kira siapakah wanita beruntung yang akan bersanding dan menjadi pendamping hidup seorang Kolonel Victor.

Mendengar bisikan itu, Ayu sempat termenung. Ia baru menyadari bahwa dirinya bahkan sudah lupa—bukan benar-benar lupa, melainkan hampir tidak pernah lagi mengizinkan pikirannya membahas atau mengungkit soal Victor setelah dirinya benar-benar memutuskan untuk menerima perjodohan keluarga dan memilih menikah lima tahun yang lalu.

Sejak hari pernikahan itu, kedua sahabat karibnya, Shaneen dan Yunita, senantiasa menjaga perasaan Ayu dengan sangat rapat. Mereka berdua tidak pernah sedikit pun membawa nama Victor ke dalam obrolan hangat mereka. Tentu saja Shaneen dan Yunita tahu segala hal mengenai badai luka yang pernah dilewati Ayu di masa lalu. Ikatan di antara mereka bertiga sudah layaknya seperti saudara kandung; tidak ada rahasia, tidak ada jarak, dan mereka selalu berdiri sebagai perisai pelindung satu sama lain.

Kolonel Victor membuka rapat dengan mengetukkan palu sidang, lalu mulai memberikan sambutan hangat bagi seluruh satuan pendidikan yang hadir. Suara baritonnya yang berat bergema memenuhi setiap sudut aula serbaguna, penuh dengan penekanan yang tegas namun tetap karismatik.

"Selamat pagi, rekan-rekan perwira dan seluruh staf sekalian," buka Victor, tatapannya menyapu seluruh ruangan secara merata. "Perlu saya sampaikan dalam forum koordinasi perdana ini, bahwa dalam waktu dua hari ke depan, Pusdikmil Satria Garda akan resmi melaksanakan agenda besar, yaitu penerimaan dan penyaringan ulang bagi seluruh calon anggota prajurit baru."

Victor menjeda kalimatnya sejenak, membetulkan posisi mikrofon di depannya sebelum melanjutkan. Setelah memaparkan poin-poin taktis mengenai kurikulum pendidikan siswa baru, nada suara Victor perlahan melunak, beralih pada penyampaian sisi humanis yang jarang ia tunjukkan di lapangan terbuka.

"Bukan hanya urusan taktis, saya juga ingin menekankan satu hal penting kepada seluruh personel yang ada di bawah komando saya. Mari kita bekerja sama ke depannya dalam satu kesatuan yang utuh. Mari kita bangun sebuah lingkungan kerja dengan fondasi kekeluargaan yang kuat—sebuah keluarga besar yang saling menghormati, saling menyayangi, serta siap melindungi satu sama lain di dalam maupun di luar kedinasan. Saya sendiri pun, sama seperti sebagian besar dari rekan-rekan sekalian, statusnya adalah orang baru yang berada di dalam lingkungan Kota Bukit Raya ini. Maka dari itu, ke depannya mari kita sama-sama belajar, sama-sama menyesuaikan diri demi kejayaan satuan ini. Pintu ruangan saya selalu terbuka untuk diskusi demi kemajuan Pusdikmil."

Kalimat penutup dari sang Kolonel diakhiri dengan ketukan palu final yang menandakan forum resmi tersebut resmi dibubarkan di tempat. Seluruh perwira langsung berdiri, mengambil posisi siap, dan memberikan hormat jajar seiring dengan langkah kaki Victor yang mulai turun dari mimbar komando untuk meninggalkan aula.

Setelah rapat selesai dan para perwira mulai bergerak meninggalkan ruangan, Ayu justru tampak masih tertunduk di kursinya, seolah sedang tenggelam dalam pikiran yang mendalam. Entahlah, ia merasa perasaannya mendadak menjadi sangat kacau dan tidak menentu. Namun, Ayu segera menggelengkan kepalanya kecil, merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Untuk apa dia harus mengundang perasaan kacau itu kembali? Dia tahu betul bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki hak lagi untuk mengizinkan rasa dari masa lalu itu mengusik ketenangannya.

Walau sebenarnya, jika mau jujur pada kenyataan, kehidupan rumah tangganya selama ini berjalan dengan ritme yang datar. Hanya ada beberapa bait sisi romantis yang sesekali ditunjukkan oleh suaminya, sementara selebihnya terasa begitu menyebalkan dan penuh dengan tanda tanya bagi Ayu—terutama dengan misteri dua ceklis abu-abu yang mengendap belakangan ini. Ayu menelan air ludahnya yang terasa getir, berusaha mengubur segala kegundahan domestik itu sedalam mungkin.

Kini, Ayu sudah berdiri dengan posisi tegap lurus di dekat barisan perwira staf, bersiap melakukan penghormatan terakhir menjelang sang Danpusdikmil melewati barisannya. Saat langkah kaki panjang Victor bergerak mendekat, pria itu melirik ke arah Ayu sekilas. Sebuah lirikan yang sangat cepat dan profesional, yang mungkin di mata orang lain dipandang sebagai hal yang wajar karena lirikan dingin itu seolah bukan hanya ditujukan khusus untuk Ayu saja, melainkan untuk seluruh perwira yang berdiri di jajarannya.

Namun, di balik wajah datarnya yang kaku, Victor harus mengerahkan seluruh kekuatan mental militernya untuk menarik napas dalam-dalam. Tepat saat kakinya sampai di ambang pintu utama aula, badai emosi bergemuruh hebat di dalam dada sang Kolonel. Sungguh, hari ini Victor hampir saja kehilangan kendali atas pertahanan dirinya.

Ada dorongan yang begitu kuat di dalam jiwanya yang nyaris membuat tangannya bergerak untuk mengusap lembut kepala wanita itu. Victor ingin sekali merengkuh tubuh mungil Ayu, mendekapnya erat-erat untuk menumpahkan betapa besarnya rasa rindu yang sudah ia tabung dan ia kunci rapat-rapat di dalam ruang hampa hatinya selama lima tahun terakhir ini. Ia ingin sekali melanggar aturan dinas demi bisa menanyakan satu pertanyaan sederhana: Bagaimana kabarmu, Yu? Apakah kamu benar-benar bahagia bersama suamimu di sana?

Mata tajam Victor sempat menangkap perubahan fisik yang nyata pada diri Ayu. Wanita itu kini telah bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih cantik—sebuah kecantikan alami yang terpancar dari garis-garis wajahnya yang kini terlihat jauh lebih matang dan dewasa. Namun, ada satu detail fisik yang paling mencolok dan berhasil menghantam hulu hati Victor dengan telak, jilbab yang kini melekat dengan rapi membungkus kepala Ayu.

Melihat selembar kain yang menutupi rambut wanita yang dulu amat dicintainya itu, sebuah pikiran getir sekaligus haru berkecamuk di dalam perasaan Victor. Wanita itu sudah memakai jilbab... itu berarti, suaminya yang sekarang telah sukses membimbing Ayu sepenuhnya menuju jalan yang lebih baik.

Pikiran itu menjadi tamparan penutup yang dingin bagi Victor. Sembari melangkah keluar meninggalkan area aula menuju ruang kerjanya, Victor menyadari satu hal dengan sangat jelas, wanita yang dulu gagal ia perjuangkan kini telah melangkah terlampau jauh di depan, meninggalkan dirinya yang masih saja terjebak memeluk puing-puing penyesalan di ujung sejadah malam.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!