Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. 1986
Semua orang pasti pernah merasakan suatu perbedaan jika ada yang menghilang dari kesehariannya. Apalagi jika teman keseharian itu menghilang secara tiba-tiba.
Itulah yang kurasakan saat Sinar Harapan, koran harian yang selalu mengajariku mencari tahu, kini tak ada lagi di teras ruang tamu.
"Gak ada koran ya Pras ?" Bapak yang baru pulang dari kantor menanyaiku.
"Dari Pras pulang gak ada pak," Aku yang sedari tadi mencari koran yang dimaksud beringsut mengambil sepatu Bapak yang masih tergeletak di teras depan.
"Koran kok balik kayak jaman Soekarno lagi .... Ditutup kalau beritanya bikin kuping panas penguasa !" ujar Bapak lagi sambil membandingkan keadaan di masa lalunya saat koran-koran tak bisa bebas meneruskan berita kepada pembacanya.
"Memang ada apa pak ?"
"Sinar Harapan kayaknya bener jadi dibredel dan dilarang terbit lagi. Mosok jam segini belum diantar juga. Tadi di kantor rame Pras, gara-gara berita yang dimuat koran itu kata orang kantor berseberangan dengan penguasa." Masih dengan kekesalannya, Bapak menanggapi pertanyaanku.
Tak mau merecoki suasana hatinya, Aku masuk ke dapur bermaksud membuatkan kopi, sekalian menjinjing sepatu Bapak untuk kutaruh di rak dekat dapur.
"Ibu-mu ke mana Pras ?" tanya Bapak dari dalam kamar.
"Gak tahu pak, pulang sekolah rumah sepi," jawabku sambil mengaduk seduhan kopi pesanan Bapak.
Bapak mengejutkanku. Kupikir dia masih dikamarnya untuk beristirahat, tahu-tahu dia sudah ada di sampingku, "nih hadiah buatmu," ujarnya sambil memberikan setumpuk buku setelah menyusulku ke dapur.
Tak melirik reaksiku, Bapak sepertinya sudah tak tahan menyesap kopi yang masih kuaduk. Dia lebih tertarik dengan kopi kegemarannya.
"Wah.... Musashi !" Aku berteriak girang melihat buku novel karangan Eiji Yoshikawa yang diberikan Bapak, "terimakasih Pak !" seruku lagi.
"Ya, baca dan simpan baik-baik setelah kau baca," kata Bapak. Tak mau mengganggu suasana hatiku, dia lalu beringsut ke arah teras.
Melirik Bapak yang duduk tenang di kursi teras, Aku memastikan suasana hati Bapak juga sudah kembali seperti semula. Selain secangkir kopi panas yang kubuat, Boi yang berbaring di kaki bapak juga berhasil mengalihkan kekesalannya karena tak ada lagi koran sore yang di meja.
Tak seperti koran harian lain, Sinar Harapan yang terbit sore memang berbeda. Berita yang dimuat di koran itu terasa segar dan tidak basi karena menjawab keingintahuan informasi peristiwa yang terjadi di hari yang sama.
Tentang berita internasional, hukum, politik, dan tentu saja sepakbola tersaji dengan bahasa yang menarik minat keingintahuanku untuk membaca tiap kolomnya.
Paling tidak jika ada ulasan berita di situ yang disinggung Bapak setiap kali kami makan malam, Aku tak terlalu terlihat bodoh di mata Bapak dengan sesekali mengimbangi komentarnya.
Dan menurutku, Bapak sepertinya sedang memikirkan pengganti koran itu ketika menyuruhku mencari referensi koran lain yang terbit sore sambil menikmati kopinya ....
***
Aku belum memahami sepenuhnya apa yang menyebabkan Sinar Harapan dilarang terbit, selain ada kegaduhan di luaran sana tentang isu kebijakan devaluasi rupiah terhadap dolar yang dimuat di koran itu sebelumnya.
Yang jelas sejak kegaduhan itu, kertas dan kardus bekas yang semula Aku anggap hanya sekedar tumpukan sampah tak berguna kini ternyata menjadi barang yang bernilai ketika suatu hari Juli menyinggung tumpukan kertas dan kardus bekas di rumahnya
"Nanti Firman mengajakmu ke rumah," kata Juli di sela istirahat kelas.
"Ada apa tumben ngajak Aku ?"
"Bantu kami memuat kardus yang menumpuk, ada pengepul barang loak yang akan membelinya," jawab Juli, "harga kardus bekas sekarang lumayan," ujarnya lagi.
Aku mengangguk menanggapi ajakan Juli.
Sejak perselisihan Juli dengan si Pram di kelas mereda karena kehadiran Firman, Aku tak membayangkan pertemanan kami malah berlanjut ke urusan lain.
Hampir setiap hari, sejak Juli kukenalkan dengan Firman, keduanya sering terlihat bersama sepulang sekolah.
"Bisnis Pras, ngumpulin kertas, kardus dan barang-barang bekas," kata Firman saat Aku menanyakannya.
Keuletan kedua temanku itu membuatku tak tinggal diam untuk menambah buruan mereka ketika dari tumpukan barang bekas itu mereka mendapatkan uang.
Jika kulihat banyak kertas bekas di kantor Bapak yang tak terpakai, sesekali Aku mengumpulkannya. Dan Firman biasanya akan mengambilnya jika tumpukan itu sudah lumayan banyak dengan becak bapaknya.
"Buat apa Pras ?" Semula Bapak cuma menanyakan untuk apa kertas dan kardus bekas yang ada di kantornya kukumpulkan.
"Daripada dibakar pak, sayang," jawabku tanpa menjelaskan peruntukan-nya.
Toh lama-lama Bapak tahu apa yang kami kerjakan dengan barang buangan itu. Sepertinya Christ dan Dion yang mengadu, setelah kedua adikku itu sering menerima pemberian jajan dari Firman dan Juli.
Mungkin karena Firman dan Juli anak tunggal, keduanya sangat dekat dengan adikku. Setiap kali menjual koran dan kardus dari kantor Bapak, apa saja permintaan adikku yang selalu mengekor kami diturutinya.
***
"Sini Man !" Suatu ketika Bapak memanggil Firman yang sudah dikenalnya saat kami bermaksud memindahkan harta karun simpanan kami di rumah.
"Ya pak, " Firman yang masih ngos-ngosan mendorong becak bapaknya beringsut mendekat.
"Waduh kita ketahuan Jul," ujarku ke arah Juli.
Dalam bayanganku, Bapak pasti akan menegur Firman karena persoalan pemberian jajan ke kedua adikku.
Aku tahu, Bapak dan Ibu tidak terlalu senang anak-anaknya membeli jajanan tanpa sepengetahuan mereka.
"Jangan beli jajan sembarangan !" Aku selalu ingat teguran Bapak jika kami ketahuan jajan sembunyi-sembunyi.
Cukup lama kulihat Bapak berbicara dengan Firman.
"Tadi bapakmu berpesan supaya uang yang kita belikan jajan untuk Christ dan Dion ditabung saja .... Biar Christ dan Dion suruh minta ke Ibu atau Bapakmu saja kalau mereka pengin jajan Pras, " kata Firman setelah Bapak masuk ke dalam rumah.
Lega sekaligus kagum dengan cara Bapak menyelesaikan ketegasan aturan jajan yang tak dikehendakinya, Aku melihat wajah senang di kedua wajah temanku itu.
Tak lama Bapak keluar lagi, rupanya dia mengambil kunci ruangan kantornya.
Yang tak kuduga, Bapak malah menyuruh kami untuk mengambil barang bekas lain yang tak terpakai di gudang kantornya.
"Ayo Pras, ... kita kerja bakti !" Bapak berteriak ke arahku sambil beranjak ke kantornya yang tak jauh dari rumah.
Yang membuat kami bertambah senang tentu saja es limun dan kue yang diantar bibi Yanti setelah kami selesai menyortir dan membakar sampah di halaman belakang kantor Bapak.
***
Selesai dari kantor Bapak tadi, Aku berpamitan mengikuti Firman ke rumah Juli.
"Hati-hati Pras," pesan Bapak saat melihat kami bersiap memindahkan tambahan harta karun dari kantornya ke rumah Juli.
"Nggih pak," jawabku lekas.
"Terimakasih pak," kata Firman dan Juli hampir bersamaan.
Ada setengah jam kemudian akhirnya kami sampai ke rumah Juli. Kami biasa menyebut rumah itu kantor setelah kami tahu bisnis versi bocah yang saling menguntungkan ....
Sepertinya semua terlihat baik-baik saja setelah Aku dan Firman selesai mengangkat tumpukan kardus bekas terakhir ke atas colt pick up yang terparkir di depan rumah Juli.
Walau tak secepat Firman dan Juli yang sudah terbiasa memilah kardus bekas, setidaknya keikutsertaanku menyenangkan mereka dengan membantu menggotong semua kardus bekas yang ada.
Tak sengaja membaca beberapa tumpukan kliping koran Sinar Harapan yang sempat tertata rapi di meja gudang Juli membuka tabir penutup ketidaktahuanku tentang hubungan harga yang disinggung koran itu saat Aku tertarik membacanya.
Rupanya Juli sengaja menyimpan potongan-potongan berita yang membuatnya tertarik dengan nilai keekonomian.
Tentang nilai mata uang, nilai barang impor dan ekspor, dan hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibatnya jika terjadi gejolak naik turunnya suatu permintaan ada semua dalam kliping yang tertata rapi itu.
Setidaknya kini Aku tak menyesal meluangkan waktu membantu teman Cinaku itu .... Waktuku tergantikan dengan pengetahuan yang kelak bersinggungan dengan masa kuliahku di Jogja.
***