Pada umurnya yang ketigabelas, Nala Turasih pernah sakit parah dan meninggal. Warga kampung menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri ketika gadis itu kembali hidup setelah baru saja dipocongi.
Novel ini terdiri atas beberapa Serat dan Hikayat yang jalan ceritanya berpusat pada tokoh utama, Nala Turasih:
Serat Grha Pamujan
Serat Bhumi Menungsa
Serat Jiwa
Serat Samudra Yudha
Serat Pamungkasan
Hikayat Sang Nayu
Hikayat Amin Kelaru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikodemus Yudho Sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serat Grha Pamujan - Perempuan
“Selama sejarah mencatat, perempuan selalu dijadikan pusat kesalahan. Tidak hanya menjadi pihak yang disalahkan, perempuan juga dijadikan lambang kejahatan dan puncak hawa nafsu. Mereka menyebut sosok yang licik dan mengerikan sebagai nenek sihir atau perempuan pelacur peliharaan setan. Oleh sebab itu dikenallah sosok Rangda Girah sang Calonarang, Kanjeng Ratu Kidul sang penguasa Laut Selatan, atau Mak Lampir penyihir berwajah buruk dari gunung Marapi. Belum lagi entitas-entitas gaib yang dikenal selalu dalam wujud perempuan seperti kuntilanak, sundel bolong, wewe gombel, sampai ilmu kuyang dan leak. Perempuan dianggap keji, sekaligus mahluk rendah dan kotor,” ujar Tasmirah dalam hati.
Suara lain yang juga berasal dari dalam dirinya tiba-tiba muncul menyundul. “Tidak, Tasmirah. Bukan rendah dan kotor, tetapi tinggi dan ditakuti. Sang Calonarang memiliki kemampuan menghidupkan orang mati. Sebagaimana layaknya seorang ibu, ia juga memiliki kemampuan melahirkan, menciptakan manusia baru. Calonarang adalah penentu kehidupan dan kematian. Itulah sebabnya laki-laki ngeri akan kekuatannya tersebut. Kanjeng Ratu Kidul adalah sumber permohonan dan permintaan. Laki-laki merasa mereka dapat memiliki sang ratu dengan mengawininya, padahal mereka kemudian menjadi budak hawa nafsu sendiri, terpenjara di dalam hal yang paling mereka anggap sebagai lambang kekuasaan. Padahal, nafsu laki-laki tak ubahnya sebagai rantai dan belenggu kehidupan mereka sendiri. Sedangkan Mak Lampir, sederhana, masyarakat yang dikuasai pemikiran laki-laki ini tidak mampu menaklukkan alam seganas gunung Marapi yang seharusnya melambangkan bentuk falus dan kejantanan mereka. Sebaliknya, kekuatan kejantanan itu dikuasai oleh seorang perempuan perkasa. Kukatakan kepadamu, Tasmirah, laki-laki takut akan kita, takut akan kekuasaan yang dapat kita raih sehingga mereka memojokkan perempuan dalam rupa-rupa mengerikan, keji, kotor dan rendah.”
Tasmirah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sosok itu sempurna adanya. Ia tak peduli dengan pembahasan tentang laki-laki perempuan yang berkecamuk di dalam pikirannya itu lagi. Ia hanya ingin membuktikan betapa ia memiliki kekuatan itu. Pesona berahi yang meraja, yang menjadi ratu di atas segala-galanya.
Tasmirah mengenakan daster yang biasa, yang telah sobek di bagian bahu serta salah satu ketiaknya. Namun hari ini, daster itu sudah tak mampu menahan pesonanya lagi. Dadanya yang terik semakin memadat dan membusung terpompa naik tanpa harus mengenakan bantuan alat penopang. Pinggulnya terpahat sempurna, berlenggok lembut dan tegas di saat yang bersamaan, berbahaya dan indah aduhai bagai ngarai. Ia merasa perlu untuk merayakan keagungan dan keindahannya ini dengan mengenakan pakaian yang lebih mampu mendukung pesonanya juga.
Tasmirah kemudian mengenakan gaun putih panjang yang sudah tak pernah dikenakannya lagi ketika dulu ia mulai sadar bahwa kepadatan daging dan keeratan kulitnya sudah memudar.
Raut wajahnya pandai berubah-ubah. Di masa lalu, ia menggunakan tampang nakal dan binal ketika rekahan kewanitaannya diganjal kelelakian Kuranji muda. Namun, di dalam kehidupannya sehari-hari, Tasmirah dianugerahi wajah ayu yang tenang bagai permukaan air danau, gerakan yang lemah lembut bagai nyiur kelapa yang dipermainkan angin serta bersuara ringan bagai gemericik air anak sungai di tepi sawah. Tasmirah adalah sosok pribadi perempuan dengan pesona yang lengkap.
Pak Musa sedang mampir ke rumahnya sore itu. Teman akrab Pak Kuranji di komplek hunian mereka tersebut kerap mampir ke rumah Pak Kuranji untuk menjenguk, ngobrol atau berbincang-bincang biasa. Saking akrabnya, tidak jarang Pak Musa datang meski Pak Kuranji tidak dirumah. Ia sering dititipi pesan oleh Pak Kuranji untuk melihat-lihat kondisi rumahnya dan bilamana sang istri atau kedua anak laki-lakinya butuh bantuan. Pak Kuranji memang lumayan sering bepergian ke luar kota selama satu dua hari untuk urusan kerjanya di pabrik tebu yang dahulu milik mendiang ayah mertuanya, Sadali Pandega.
Pak Musa adalah laki-laki setengah baya yang sopan, paling tidak itu yang biasa diketahui semua warga hunian, termasuk Pak Kuranji dan Tasmirah. Ia sudah menduda dan hanya memiliki satu orang anak perempuan. Itupun anak perempuannya sudah bekerja di kota, tidak betah tinggal di komplek hunian yang menurutnya bukan sebuah lingkungan yang baik.
Dua anak laki-laki Pak Kuranji yang berjarak tidak kurang dari tiga tahun saja sedang menonton televisi di ruang tamu.
“Disitu kalian rupanya. Bapak belum pulang, nak?” tanya Pak Musa tanpa masuk ke rumah. Ia hanya melongok ke dalam. Kedua anak laki-laki Pak kuranji yang masih kecil-kecil itu serentak menggelengkan kepala mereka bersamaan. “Ya sudah kalau begitu. Bapak pulang dulu. Jangan kebanyakan nonton televisi, belajar juga ya,” pinta Pak Musa. Ia terkekeh kemudian bersiap hendak pergi ketika suara Tasmirah terdengar dari dalam rumah.
“Pak Musa, tidak mampir dulu, Pak?”
Pak Musa kembali melongokkan kepalanya ke dalam rumah. “Cuma mampir, mbak Tasmirah. Suami belum pulang apa?”
“Belum Pak. Masuk saja dulu. Langsung ke ruang tengah saja. Saya bikinkah teh, mau?”
Biasanya memang Pak Musa bila mampir ke rumah Pak Kuranji sering dijamu oleh makanan dan minuman. Namun tidak secara khusus ia diundang masuk, apalagi dibuatkan teh. Tasmirah hampir selalu membuatkannya dan Pak Kuranji kopi.
Namun toh Pak Musa mengangkat kedua bahunya kemudian masuk ke dalam rumah. Ia melambai ke arah kedua anak laki-laki Pak Kuranji yang masih menonton televisi, terus menuju ruang tengah.
Pak Musa meletakkan tubuhnya di kursi lama yang bantalannya sudah diganti sehingga kembali empuk dan terlihat baru. Setelah pensiun dini dari pekerjaannya, Pak Musa sebenarnya tak banyak melakukan pekerjaan. Uang tunjangan masa tuanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari yang seorang diri saja. Mengurus mobil, rumah, bermain ke rumah tetangga di sore hari, termasuk ke rumah Pak Kuranji, adalah kegiatannya saban hari.
“Mbak Tasmirah, ada yang perlu saya bantu atau bagaimana? Loteng bocor, saluran air mampet, mungkin?” ujar Pak Musa setengah bercanda. Ia terkekeh. Memang, meski bukan membetulkan loteng dan genteng yang bocor atau membenahi saluran air yang mampet, Pak Musa memang biasa sekali memberikan bantuannya kepada para tetangga. Terutama kepada keluarga teman dekatnya, Pak Kuranji.
Sosok Tasmirah muncul dari dalam membawa nampan berisi secangkir teh hangat. Uap dari teh tersebut mengambang ke udara, memenuhi ruangan tengah dengan aroma khasnya.
Namun, perhatian Pak musa sama sekali tidak tertuju pada teh dan uapnya, melainkan kepada siapa yang membawanya. Tasmirah kah itu? Ia bukan hanya tak pernah melihat perempuan ini sebelumnya, ia bahkan belum pernah melihat perempuan secantik ini selama hidupnya. Jangan bandingkan dengan mendiang istrinya sewaktu masih muda, perempuan tercantik yang pernah Pak Musa sukai dahulu pun tak ada seujung kuku dari sosok wanita indah di depannya ini.
“Mbak … Mbak Tasmirah …,” ujar Pak Musa terbata-bata dan tak percaya.
“Iya, Pak Musa. Kok, seperti tak kenal saya saja, Pak. Ini silahkan diminum tehnya. Karena sudah kebetulan main ke rumah, duduk-duduk santai dulu disini," ujar sosok Tasmirah yang kecantikan dan kemegahannya bertambah berkali lipat. Gaun putih yang ia kenakan melambai berkelebatan tetapi tetap jatuh menjurai mengikuti lekuk tubuhnya seperti air terjun yang turun mengalir di badan bebatuan.
Aura mistis bersinggungan dengan sensualitas memacu berahi Pak Musa. Tiga puluh menit Pak Musa disiksa oleh pesona sang wanita. Ia mohon pamit secepat yang ia bisa ketika tak mampu berkata apa-apa, kikuk dan takluk, tegang dan meradang, lemah dan gelisah.
Tak pernah lagi dirasakannya gelora luar biasa yang menyerang jiwanya. Berahi menggelegak sampai ke ubun-ubun. Bagaimana mungkin perempuan yang harusnya telah kehilangan daya pikat itu kini menjelma menjadi sosok yang berkilau semacam itu?
Jiwa muda Pak Musa yang sudah tertimbun mendadak bangkit. Tak ia sangka bahwa kini tangannya kembali menggenggam batang kejantanannya dan menghantarkannya kembali ke gerbang kenikmatan yang sudah terlalu lama lama ia tinggalkan.
"Tasmirah ...," di sela-sela desah desau Pak Musa.
Sebaliknya, Tasmirah telah berhasil membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia memang telah menjadi perempuan sempurna dan paripurna. Ia telah siap memberikan dirinya kembali kepada sang suami yang ditunggunya dengan kesungguhan hati.
.
.
.
.
Sang Angkara Murka tertawa.
semangatt pak Nikodemus ✊
jadi ? Nala itu titisan Nara dan putri junjung buih?
kira-kira respon pak Kuranji gmna tuh, smakin insecure kah?
next pak Nikodemus 👌