NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Benih Pengikat dan Jebakan yang Mengintai

​Sinar matahari pagi yang semakin meninggi menembus tirai kamar kerja Adrian, merebahkan garis-garis cahaya yang kontras di atas lantai marmer yang masih menyisakan sisa-sisa kekacauan semalam. Suasana canggung dan tegang menyelimuti ruangan tersebut setelah badai ilusi yang menyesatkan itu berlalu. Adrian sudah berganti pakaian dengan kemeja bersih, berusaha mengubur rapat-rapat rasa muak pada dirinya sendiri. Di hadapannya, Valerie duduk di sofa dengan keanggunan yang dipaksakan, mencoba mengalihkan pembicaraan dari urusan ranjang menuju masalah yang jauh lebih mendesak bagi kelangsungan hidup mereka: kehancuran finansial Adiwangsa Logistik.

​"Mas, kita tidak bisa terus-menerus meratapi masa lalu yang sudah terkubur," buka Valerie, suaranya beralih menjadi sangat serius dan taktis, melepaskan nada manja yang biasa ia gunakan. "Kondisi perusahaan kita saat ini benar-benar di ujung tanduk. Informasi internal yang aku dapatkan menunjukkan bahwa Adiwangsa Grup mengalami kekurangan dana akut, bahkan defisit yang sangat parah minggu ini."

​Adrian menoleh cepat, guratan kecemasan langsung tercetak jelas di dahinya. "Separah apa, Val? Bukankah beberapa kontrak logistik jangka panjang masih berjalan?"

​Valerie mendengus pelan, menyilangkan kakinya dengan gusar. "Berjalan bagaimana? Boikot massal dari Purnama Group dan boikot terselubung dari raksasa korporasi BGC benar-benar memutus jalur aliran dana kita. Beberapa vendor besar tiba-tiba membatalkan kerja sama sepihak karena takut ikut terseret dalam daftar hitam BGC. Jika dalam bulan ini kita tidak mendapatkan suntikan modal atau kontrak baru, Adiwangsa Grup bisa dinyatakan pailit oleh bank."

​Adrian memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pening. Nama BGC dan Purnama Group laksana hantu baru yang siap mencekik leher bisnis keluarganya hingga mati. Namun, sebelum kepanikan Adrian memuncak, Valerie memajukan tubuhnya, menatap Adrian dengan binar mata yang penuh dengan rencana licik.

​"Tapi jangan panik dulu, Mas. Aku punya kabar baik," lanjut Valerie dengan senyuman misterius. "Meskipun Purnama Group sangat sulit ditembus, tapi BGC masih bisa dinegosiasikan. Aku punya beberapa rekanan dan relasi penting di dalam jajaran manajemen sana yang bisa kita manfaatkan sebagai jembatan."

​Adrian menatap Valerie penuh harap. "Relasi? Siapa? Apakah mereka bisa memengaruhi kebijakan pemutusan sepihak itu?"

​"Asal kita bisa merayunya dengan penawaran yang tepat, kita bisa mendapatkan kembali kontrak itu, bahkan mendapatkan dana segar dalam jumlah besar dari sana," tutur Valerie penuh keyakinan. Ia berdiri, melangkah mendekati meja kerja Adrian. "Menurut informasi akurat yang baru saja aku terima pagi ini, BGC baru saja melakukan perombakan besar-besaran di jajaran direksi. Mereka sudah mengganti direktur utamanya."

​"Siapa direktur yang baru?" tanya Adrian penasaran.

​"Direktur barunya adalah seorang wanita. Masih sangat muda, cerdas, dan kabarnya memiliki otoritas penuh dari pemilik saham terbesar BGC. Namanya adalah Kirana."

​Adrian mengulang nama itu di dalam hatinya. Kirana. Nama yang terdengar asing namun entah mengapa memberikan getaran aneh yang tidak ia pahami. "Seorang wanita? Apakah kamu yakin rekanmu bisa membawa kita menemui wanita bernama Kirana ini?"

​"Tentu saja, Mas. Serahkan urusan lobi dan pendekatan awal ini kepadaku. Aku tahu bagaimana cara menghadapi tipe wanita karier seperti dia," ujar Valerie dengan nada sombong, merasa kemampuannya dalam memanipulasi orang akan kembali membuahkan hasil.

​Adrian mengembuskan napas lega, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia merasa ada sedikit titik terang di ujung terowongan yang gelap. "Baik... aku percayakan urusan BGC ini sepenuhnya sama kamu, Val. Selamatkan perusahaan kita."

​Tuntutan Pernikahan dan Alasan yang Rapuh

​Valerie tersenyum manis mendapat persetujuan Adrian. Namun, langkah kakinya tidak berhenti sampai di sana. Ia maju selangkah lagi, hingga tubuhnya berada sangat dekat dengan Adrian. Tangannya yang lentik merayap naik ke dada kemeja Adrian, memainkan kancing teratas dengan gerakan yang sarat akan tuntutan tersembunyi.

​"Urusan perusahaan pasti akan aku bereskan, Mas," bisik Valerie, menatap langsung ke dalam manik mata Adrian. "Tapi... kita nikah dulu ya, Mas? Dalam waktu dekat ini."

​Deg.

​Tubuh Adrian seketika menegang. Pertanyaan yang tiba-tiba itu laksana air es yang diguyurkan ke sekujur tubuhnya, memadamkan semua sisa gairah semalam yang masih membekas. Adrian mundur setengah langkah, melepaskan tangan Valerie dari dadanya.

​"Apa...?" tanya Adrian gagap, wajahnya berubah menjadi sangat kaku.

​Valerie yang melihat penolakan spontan tersebut seketika merasa tersinggung. Matanya menyipit, menahan amarah yang mulai naik ke permukaan. "Kenapa kamu kaget seperti itu, Mas? Kenapa kamu seolah-olah gak mau... nikahin aku? Bukankah dari awal kita memang merencanakan ini setelah kamu menceraikan Aruna?"

​"Bukan... bukan begitu, Val," sahut Adrian cepat, berusaha mencari alasan yang aman untuk menenangkan wanita di depannya. Isu ranjang semalam, di mana ia terus-menerus memanggil nama Aruna, membuat Adrian didera ketakutan yang aneh. "Aku baru saja kehilangan Aruna beberapa hari yang lalu. Berita kematiannya masih sangat baru. Aku... aku hanya tidak mau dia bersedih di sana jika aku menikah secepat ini."

​Mendengar alasan yang membawa-bawa nama mendiang Aruna, tawa Valerie seketika pecah. Itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa sarkas yang dipenuhi rasa muak yang mendalam.

​"Lho, kok begitu?!" seru Valerie dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Bukannya setiap hari kamu memang membuat dia sedih, Mas? Kenapa sekarang setelah dia jadi mayat, kamu mendadak peduli pada perasaannya? Jangan munafik, Adrian!"

​Kalimat Valerie laksana sembilu yang menyayat tepat di pusat rasa bersalah Adrian. Adrian terpaku, lidahnya mendadak kelu untuk membantah.

​"Benar... aku membuat dia susah setiap hari," gumam Adrian dengan suara yang sangat lirih, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Kepalanya tertunduk lesu menatap lantai. Memori tentang bagaimana ia membentak Aruna, mengabaikan masakannya, hingga mengusirnya dari rumah ini tanpa membawa apa pun, kembali meremukkan hatinya. Rasa berdosa itu mencengkeramnya begitu kuat hingga ia merasa tidak layak untuk merasakan kebahagiaan baru.

​Benih Pengikat di Rahim Valerie

​Valerie yang melihat Adrian kembali tenggelam dalam lautan penyesalan atas Aruna, memutuskan untuk mengeluarkan kartu as terakhirnya. Kartu yang ia simpan dengan sangat hati-hati, yang ia yakini akan menghancurkan seluruh keraguan Adrian dan mengikat pria itu untuk selamanya di dalam genggamannya.

​Valerie menarik napas panjang, lalu memegang perutnya yang masih rata dengan kedua belah telapak tangannya.

​"Mas... aku ini sedang hamil, lho," kata Valerie dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun memiliki penekanan mutlak yang mengguncang keheningan kamar tersebut.

​Blarr!

​Adrian seketika mengangkat kepalanya, matanya membelalak sempurna, menatap Valerie dengan keterkejutan yang berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Seluruh dunianya seolah berputar mendengar satu kata itu. Hamil.

​"Apa...?" tanya Adrian dengan suara yang tertahan di tenggorokan. "Benarkah...?! Kamu tidak sedang bercanda untuk mendesakku, kan, Val?!"

​Valerie tersenyum tipis, penuh dengan keyakinan yang tidak bisa dibantah. "Untuk apa aku berbohong tentang darah dagingmu sendiri, Mas? Sudah beberapa minggu ini aku terlambat bulan, dan hasil tes mandiri tadi pagi menyatakan positif. Di dalam rahimku ini, sedang tumbuh anakmu, penerus tunggal dari dinasti Adiwangsa."

​Mendengar penuturan yang begitu detail, keraguan di wajah Adrian seketika mencair, digantikan oleh buncahan rasa haru dan kebahagiaan yang aneh. Selama lima tahun menikah dengan Aruna, impian terbesarnya adalah memiliki seorang anak yang bisa meneruskan takhta bisnis keluarga Adiwangsa. Namun, impian itu selalu kandas karena Aruna dinyatakan tidak bisa memberikan keturunan. Dan kini, di saat perusahaannya di ambang kehancuran, Valerie datang membawa mukjizat penerus tersebut.

​"Baik... baik... aku akan nikahi kamu segera, Val! Kita akan urus pernikahannya minggu depan secara resmi!" seru Adrian dengan mata yang berbinar penuh kelegaan. Ia langsung meraih tubuh Valerie ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu dengan erat, seolah-olah anak di dalam kandungan Valerie adalah penyelamat dari seluruh duka dan keterpurukannya.

​Di dalam dekapan hangat Valerie, pikiran Adrian berkelana jauh, menembus batas penyesalan masa lalunya yang kini berhasil diredam oleh ego dan ambisinya sebagai seorang lelaki.

​Maaf, Aruna... Valerie ternyata lebih mengerti aku dan kebutuhanku sebagai seorang pemimpin keluarga, batin Adrian dengan kejam, mengenyahkan sisa-sisa duka tentang kematian mantan istrinya. Aku butuh penerus untuk masa depan Adiwangsa, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu berikan selama kita bersama. Bagaimanapun juga, kamu itu mandul, Aruna. Dan takdir telah membuktikan bahwa Valerie-lah wanita yang ditakdirkan untuk melahirkan darah dagingku.

​Kemenangan Valerie dan Badai yang Menanti

​Di balik punggung tegap Adrian, wajah Valerie tidak menunjukkan perasaan haru sama sekali. Sebaliknya, seulas senyuman penuh kemenangan dan keangkuhan terukir sangat lebar di bibir merahnya. Matanya berkilat licik, menatap ke depan dengan perasaan puas yang luar biasa.

​Strateginya berhasil sempurna. Dengan memanfaatkan benih yang kini mulai tumbuh di dalam tubuhnya, dia tidak hanya berhasil menyingkirkan bayangan Aruna dari pikiran Adrian, namun juga seketika mengamankan posisinya sebagai Nyonya Besar Adiwangsa Logistik yang sah. Pernikahan mewah yang selama ini dia impikan kini sudah di depan mata.

​Kamu lihat, Aruna? Bahkan setelah kamu mati pun, kamu tetap kalah telak dariku, desir Valerie di dalam hatinya penuh dengan racun kesombongan. Adrian akan selalu menjadi milikku, dan seluruh harta Adiwangsa akan jatuh ke tanganku dan anakku. Selesai sudah riwayatmu dan segala kenangan bodohmu di rumah ini.

​Valerie melepaskan pelukan Adrian perlahan, lalu menatap calon suaminya tersebut dengan binar penuh topeng cinta. "Terima kasih, Mas. Aku akan langsung menghubungi relasiku di BGC hari ini juga. Kita akan selamatkan perusahaan kita bersama-sama, demi masa depan anak kita."

​"Baik, Val. Lakukan yang terbaik," balas Adrian dengan keyakinan baru yang buta.

​Mereka berdua tidak pernah tahu, bahwa di seberang sana, di dalam unit griya tawang kondominium mewah, Kirana alias Aruna yang baru bersama Martin sedang menyusun perangkap korporasi yang sangat kejam. Nama "Kirana" yang dianggap oleh Valerie sebagai target rayuan dan negosiasi dana segar, justru adalah Malaikat Pencabut Nyawa yang akan menarik Adrian dan Valerie masuk ke dalam neraka kehancuran finansial dan hinaan yang tanpa dasar. Benih penerus yang bangga-banggakan oleh Adrian pagi ini, justru akan menjadi saksi bagaimana seluruh kejayaan Adiwangsa Logistik akan runtuh menjadi debu di tangan sang mantan istri yang kembali untuk menuntut balas.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!