Dira Tampubolon (17) terpaksa harus mengikuti perjodohan keluarga dengan paribannya, Defan Sinaga (27) yang lebih tua sepuluh tahun darinya. Perjodohan itu diikrarkan saat usia Dira masih dini dan masih duduk dibangku SMA.
Terpaksa Dira mengikuti keinginan bapaknya, Sahat Tambolon yang sudah berjanji pada kakak kandungnya untuk menikahkan boru panggoarannya karena memiliki hutang yang banyak pada keluarga paribannya.
Dira boru panggoaran sekaligus boru sasada dalam keluarga itu tak bisa menolak perintah bapaknya. Ia akan menikahi lelaki yang menurutnya sudah tua karena jarak usia mereka terpaut jauh.
Sifat Dira yang masih kekanak-kanakan menolak keras perjodohan itu. Tapi apa boleh buat, pesta martumpol telah digelar oleh kedua kelurga dan ia akan segera bertunangan dengan paribannya yang tua tapi juga tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Valentina Tampubolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kasar
"Selamat pagi! Ada yang bisa kami bantu," ucap seseorang dari seberang telepon.
"Saya butuh housekeeper buat membersihkan kamar," jawab Dira lugas setelah mendengarkan suara dari seberang teleponnya.
"Tenang saja bu, setiap kamar akan kami bersihkan setiap paginya, setelah para tamu meninggalkan kamar," seloroh seseorang tadi.
"Oh kalau begitu kenapa kemarin makanan yang ada di meja kamar 505 tidak dibersihkan? " tanyanya bingung.
Mendengar kamar 505, pelayan hotel yang menerima panggilan merasa gusar. Tadinya ia tak mengecek panggilan yang diterimanya dari kamar berapa, padahal tertera jelas di teleponnya.
Jika tamu dari kalangan VIP yang memberikan komplain kepada mereka, artinya itu sudah membuat tamu tersebut kecewa pada pihak hotel.
"Baik sebentar housekeeper akan kami kirimkan bu. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," pamit seseorang tadi mengakhiri teleponnya.
Sementara Defan sedang sibuk memasukkan makanan sisa dua hari kemarin kedalam kantong plastik. Ia merasa tak nyaman dengan bau menyengat dari makanan tersebut.
Seharusnya pihak hotel membersihkannya, tetapi malah membiarkannya begitu saja. "Gimana sih hotel bintang lima begini gak becus kerjanya," gerutu Defan seraya memasukkan satu-persatu makanan basi ke dalam kantong plastik.
Sesekali ia juga mencari sosok gadis kecilnya yang tak kunjung muncul. "Si Dira lagi nih kemana sih? Disuruh bantuin kok nggak datang-datang," umpatnya dengan emosi mulai meninggi.
Dira yang telah mengakhiri teleponnya, mulai mendekati Defan yang sedang sibuk membersihkan ruangan.
"Bang udah biarin aja ih! Nanti ada housekeeper kesini," ucapnya dengan hati-hati karena tak ingin mendapatkan amukan lagi pagi ini.
Defan menatap Dira dengan tajam, seketika ia menghentikan aksi bebersihnya, meletakkan kantongan itu hingga tergeletak diatas lantai. "Kenapa nggak mereka bersihkan ini kemarin?" lontarnya dengan muka masam.
"Nggak tahu aku, tapi tadi sudah aku komplain, katanya housekeepernya langsung kesini," papar Dira menjelaskan.
Tok!!
Tok!!
Dira dan Defan langsung menoleh kearah pintu.
"Bukain sana!" ketus Defan meminta Dira yang melakukannya. Pagi-pagi ia sudah dibikin kesal lantaran bau menyengat dari makanan tersisa.
Apalagi makanan bersantan yang basi, memunculkan aroma yang sangat sengit.
Dira berjalan gontai kearah pintu, menarik daun pintu, membukanya dengan lebar.
"Mohon maaf ibu, ada yang bisa kami bantu," ujar seorang housekeeper berseragam putih hitam komplit dengan membawa peralatan kebersihannya yang didorong.
"Saya ingin semua makanan yang ada di meja makan diangkut karena sudah basi," jawabnya tanpa basa-basi.
"Baik! Permisi bu, saya izin masuk," tutur housekeeper dengan sopan.
Dira mempersilahkannya masuk, menunjukkan kearah dapur. Disana masih ada Defan berdiri dengan wajah masam seraya melipat kedua tangan didadanya.
Melihat seseorang yang ditunggu datang, Defan langsung bertanya dengan tegasnya.
"Permisi pak," ujar housekeeper tadi.
"Apa kamar ini tidak dibersihkan kemarin? Mengapa dibiarkan makanan sisa ini?" cecarnya pada housekeeper tersebut.
"Setiap paginya kita selalu membersihkan kamar tamu yang ditinggalkan pak. Kebetulan sekali, kamar ini saya juga yang bersihkan. Saya kira bapak dan ibu tidak lama meninggalkan kamar, dan akan memakannya lagi. Jadi makanannya saya tetap biarkan dimeja. Karena banyak sekali makanan yang masih terbungkus dengan plastik wrap, belum tersentuh sama sekali," jelasnya dengan panjang lebar.
"Itu makanan dari malamnya artinya sudah dua hari yaang lalu kalau dihitung dari hari ini. siapa juga yang mau makan-makanan yang udah sehari," sergahnya dengan penuh penekanan.
Defan memang tak menyukai makanan yang sudah bermalam. Ia dibiasakan oleh kedua orangtuanya mengkonsumsi makanan fresh setiap harinya.
Patut saja pembantu di rumahnya pun jumlahnya sangat banyak, karena dalam sehari mereka harus masak sampai tiga kali. Lain sarapan, lain makan siang, lain pula dengan menu makan malamnya.
Berbeda dengan Dira, kalau ia terbiasa makan seadanya. Setiap hari mamaknya juga masak hanya satu kali, kadang kalaupun masih ada tersisa, disimpan dikulkas dan dipanaskan esoknya untuk dimakan kembali.
"Kalau begitu saya minta maaf pak. Saya tidak tahu dan tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang saya akan membersihkannya semunya," sesalnya dengan kepala tertunduk.
Dengan sigap housekeeper itu membersihkan makanan yang ada di meja. Ia memasukkan semua makanan sisa kedalam plastik, dipisahkan dari piringnya. Tak berselang lama meja itu kembali kinclong.
Tak lupa housekeeper juga menyemprotkan pewangi ruangan, agar bau menyengat sisa makanan menghilang.
Selagi kamar dibersihkan, Dira dan Defan pergi. Jadwal keberangkatan mereka tour hari kedua mengundur karena persoalan tadi. Defan menelisik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Mba, kami pamit dulu, sudah ada jadwal yang menanti. Kamarnya silahkan lanjut dibersihkan," pamit Dira kepada housekeeper.
Lain halnya dengan Defan. Ia seakan tak peduli karena rasa kesalnya memuncak. Akhirnya ia dengan angkuhnya berjalan tanpa memperdulikan kamarnya, karena menurutnya sudah tuntas diselesaikan.
Seorang housekeeper tadi pun melanjutkan acara bersih-bersihnya. Ia membersihkan ranjang, serta seluruh seisi ruangan agar tidak mendapat amukan seperti tadi.
Defan dan Dira berjalan beriringan. Memasuki lift, menekan tombol lantai satu dimana lobi hotel berada.
"Abang jangan galak-galak kaya tadi. Kasian loh housekeepernya. Pagi-pagi sudah dimarahin," singgung Dira membuka pembicaraan mereka didalam lift, ia merasa tak enak hati pada housekeeper tersebut.
"Halah, pantas dia digituin. Kerjanya saja nggak becus," cemooh Defan dengan sinisnya.
Entah mengapa emosinya menggebu-gebu. Defan memiliki sisi yang agak kasar, perkataannya yang tajam kerap sekali membuat lawan bicaranya sakit hati, ya salah satunya Dira.
"Coba abang kurang-kurangi sifat kasarnya. Apalagi bicaranya yang kasar," sindir Dira lagi, ia mulai semakin berani menasehati suaminya.
"Sstt anak kecil tahu apa! Diam," perintahnya seolah tak mau digurui oleh gadis kecil berusia tujuh belas tahun tersebut.
Ting!!
Suara pintu lift terbuka, Defan dan Dira berjalan gontai mencari sosok sopir sekaligus tour guide mereka. Melihat jejak kedatangan tamunya, sang supir berdiri menyambut kedatangannya.
Mereka berjalan kedepan seperti kemarin.
"Maaf pak, saya terlambat lagi. Ada sedikit kekacauan di kamar saya tadi," imbuh Defan dengan sedikit rasa kecewanya terhadap pelayanan hotel bintang lima itu.
"Nggak apa-apa pak, setidaknya hanya terlambat satu jam. Tidak seperti kemarin. Harap tunggu disini pak, saya akan membawakan mobilnya," sahut supir, kemudian berjalan ke arah parkiran meninggalkan Defan dan Dira.
Defan dan Dira akhirnya duduk dikursi penumpang, kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang. Lagi-lagi Defan tak mengecek jadwal tour mereka hari ini.
"Kemana kita pagi ini pak?" tanya Defan dengan polosnya.
Hal itu sudah ditebak oleh supir. Sia-sia saja jadwal tour itu mereka kirimkan kepada Defan. Nyatanya tak dibaca sama sekali.
"Ke GWK dulu pak," balasnya singkat.
Lokasi Hotel yang berada di daerah Kuta, hanya memakan waktu tempuh selama tiga puluh menit. Dira dan Defan berjalan santai disepanjang GWK. Mereka melihat-lihat objek wisata patung Garuda Wisnu Kencana.
Patung GWK yang memiliki tinggi 121 meter dan lebar 65 meter, menjadikan GWK Bali sebagai salah satu ikon tempat wisata yang paling terkenal di Bali.
Dira dan Defan sibuk memandangi patung-patung terbesar yang ada disana, menurut mereka patung-patung itu adalah sebuah karya paling menakjubkan di Bali.
Beberapa pedagang kaki lima juga memadati area GWK. Dira dengan antusiasnya mencari beberapa aksesoris untuk dijadikan oleh-oleh pada sahabatnya.
Ia memerhatikan beberapa gelang, dan membeli gelang yang sama sebanyak empat buah. Kemudian membeli baju-baju oleh-oleh khas Bali untuk keluarganya dan keluarga Defan.
Sedangkan Defan hanya menemaninya saja, tentunya Defan lah yang melakukan pembayaran karena itu sudah menjadi tanggungannya.
"Kenapa banyak kali belanjanya," seru Defan kebingungan, entah untuk siapa saja oleh-oleh tersebut. Bahkan ia dengan sukarela membawakan kantong belanjaan istrinya.
"Iya dong, kan untuk orangtuaku, sahabatku, mertuaku dan eda-edaku," urainya dengan jelas.
"Hah? Mertua? Maksudnya mama sama bapakku? Trus adikku juga? Baju kaya tadi yang kau beli? Mana mereka mah pakai baju murahan kaya gitu," celanya karena memang orangtuanya tak mau memakai baju seperti itu, apalagi adik-adiknya bisa-bisa kaos murahan yang dibeli Dira dibuang ke tong sampah.
Seketika perkataan Defan menusuk jantung Dira. Dia tak habis pikir mengapa suaminya itu terus saja berkata dengan kasarnya.
tapi baru baca bab 1, sepertinya menarik ceritanya...