Kehidupan setelah menikah pasti bahagia menurut sebagian orang karena adanya cinta. Namun, tidak dengan kenyataan yang justru akan banyak ujian dan juga konflik yang terjadi setelah menikah. Seperti Dinda, yang kehidupan rumah tangganya begitu menyedihkan. Rey, suami yang tak berguna karena tidak bisa di andalkan baik dalam materi atau perhatian Rey, yang hanya bisa memberikan uang sedikit untuk kebutuhannya juga anaknya. Saat di minta uang Rey, selalu bilang tidak punya hingga Dinda, harus meminjam uang pada teman dan tetangganya. Tidak hanya dalam masalah uang Rey, juga tidak perhatian pada Dinda, juga anaknya. Saat anaknya sakit dan Dinda, meminta uang untuk biaya rumah sakit Rey, hanya bilang 'Nanti ku telepon lagi' itu saja yang Rey, ucapkan tanpa rasa khawatir. Rey, suami yang tak berguna juga pelit tetapi Rey, berani royal pada wanita lain.
Bagaimanakah cara Dinda, menghadapi Rey, suami yang tak berguna? Konflik apa lagi yang terjadi pada rumah tangga mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34- Sahabat teman curhat )
Rumah sakit
Rey, masih setia menunggu Velove, di rumah sakit. Setelah pertengkaran itu Velove, mengalami pendarahan yang cukup membuat Rey, panik. Karena kandungannya memang sangat lemah. Tidak boleh stres dan terlalu memikirkan masalah yang rumit.
Kini Rey, hanya duduk di atas sofa seraya menunggu Velove, yang tertidur.
Drt … drt … drt …
Rey, merasakan getaran pada ponselnya. Tangannya kini merogoh ponsel di dalam sakunya. Di lihatnya nama yang tertera pada layar ponsel ternyata Dinda, yang masih ia berikan nama My Wife. Rey, cukup tercengang karena tidak biasanya Dinda, menghubunginya. Rey, pun menjawab telepon itu.
"Halo Dinda."
"Maaf Rey, jika aku menggangumu. Tapi bisakah kamu menolongku."
"kenapa? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak terjadi apa pun. Hanya saja Syena, meminta boneka bear apa kamu bisa membelikannya." Rey, tertegun setelah mendengar perkataan Dinda.
"Boneka bear! Kenapa kamu tidak membelikannya!" tanya Rey, membuat Dinda, sedikit tersinggung di ujung sana.
"Karena aku tidak bisa melakukannya. Boneka bear aku benci nama itu." Rey, terdiam sejenak. Rey, mengerti apa maksud perkataan Dinda. Jika mengingat nama itu Rey, selalu merasa bersalah. Boneka bear nama yang di sembunyikannya awal dari kehancuran hidupnya.
"Baiklah aku akan membelikannya," ucap Rey, sedikit tertahan.
"Terima kasih kamu sudah membantuku. Uangnya akan aku ganti nanti."
"Tidak perlu," bantah Rey. "Aku ayahnya aku juga berhak membelikan barang kesukaannya. Akan aku antar nanti ke apartemenmu sekalian aku ingin melihat Syena," jelas Rey.
"Aku izinkan. Tapi tidak boleh membawa Syena, pergi."
"Ya," jawab Rey, sebelum akhirnya sambungan telepon pun di tutup.
Rey, menatap layar ponselnya cukup lama, lalu jari tangannya terlihat bergerak mengetik sebuah nama. Ternyata Rey, mengganti nama My Wife menjadi Dinda. Tidak sepantasnya Rey, memberikan nama My Wife untuk Dinda, karena memang sudah tidak ada hubungan lagi antara mereka. Rey, melirik Velove, yang masih tertidur di atas ranjangnya. Ingin pergi tapi bagaimana dengan Velove. Jika bangun tidak melihat Rey, di sisinya mungkin Velove, akan sangat marah. Di saat dirinya sedang kebingungan tiba-tiba pintu kamar pun terbuka.
Seorang wanita muncul dari balik pintu. Wanita itu adalah Rita, ibu mertuanya. Bahkan Rey, belum mengenal Rita, dengan dekat. Saat menikah saja tidak ada satu pun yang datang dari keluarga Velove. Kini Rita, datang dengan penuh khawatir. Di usapnya kepala Velove, yang masih tertidur. Rita pun melirik ke arah Rey, yang masih diam mematung.
"Kemana saja kamu. Kenapa kamu tidak bisa menjaga istrimu." Rita, menyinggung Rey.
"Kenapa Tante menyalahkanku. Bukankah Tante, tidak peduli padanya. Tante bilang kemana saja aku. Aku di sini Tante, aku tidak pernah meninggalkannya." Rey, sangat kesal bisa-bisanya Rita, menyalahkan dirinya atas semua yang menimpa Velove.
"Bahkan, saat menikah pun Tante, tidak datang. Padahal Velove, adalah putrimu," singgung Rey. Membuat Rita, terdiam tak mampu berkata-kata.
"Aku titip Velove, aku harus pergi sebentar karena ada urusan sebentar." Kata Rey, lalu melangkah pergi.
****
"Dinda, apa kamu sudah membeli boneka bear untuk Syena?" tanya Mirna, namun Dinda, masih fokus pada laptopnya.
"Sesuai saranmu aku meminta Rey, untuk membelikannya." Jawab Dinda, yang jari tangannya terus bergerak di atas keybord. Tiba-tiba suara ponselnya berdering menandakan ada panggilan.
"Dinda, ponselmu." Seru Mirna, yang melihat ponsel Dinda, terus menyala.
"Iya," sahut Dinda. Lalu mengambil ponsel miliknya.
"Karin." Ucapnya saat melihat nama yang tertera pada layar ponsel. Ucapan Dinda, pun mengejutkan Mirna. Mirna, penasaran ada apa Karin, menghubungi Dinda. Sedangkan Dinda langsung mengangkat teleponnya.
"Karin, bagaimana kabarmu aku khawatir," ucap Dinda, pada sambungan telepon.
"Bisa kita bertemu! Aku butuh teman bicara," ucap Karin, dari ujung sana. Sebelum menjawab Karin, melirik Mirna, sejenak. Memberitahukan jika Karin, ingin bertemu dengannya. Mirna, pun ingin ikut dan meminta Dinda, untuk mengatakannya.
"Baik Karin. Tapi apa boleh Mirna, ikut?"
Dinda, mulai ragu jika Karin, tidak mengizinkan Mirna, untuk ikut dengannya. Apalagi suara Karin, berhenti sejenak.
"Ya, boleh." Setelah lama diam Karin, pun menjawab. Dinda, merasa lega begitu pun dengan Mirna, yang senang karena di izinkan.
"Kalau begitu satu jam lagi kita bertemu. Saat makan siang di cafe biasa."
"Ya. Aku akan menunggumu di sana." Jawab Karin, yang langsung menutup panggilan teleponnya.
****
Satu jam sudah berlalu. Karin, sudah menunggu di tempat biasa cafe favoritnya. Tak berselang lama Dinda, dan Mirna, pun datang. Mereka berdua melambaikan tangannya pada Karin, yang kini duduk di salah satu meja di sana.
"Mirna, kamu duluan saja. Aku lupa mengubungi Ibu. Aku hanya ingin memastikan jika Rey, datang membawakan boneka." Ujar Dinda yang langsung menekan nomor Ibu pada layar ponselnya dengan segera menghubunginya. Mirna, mengayunkan langkahnya menuju arah meja Karin.
Setelah menghubungi Asih, Dinda, melanjutkan langkahnya untuk menemui Karin.
"Karin, bagaimana kabarmu apa semua baik-baik saja?" tanya Dinda, yang langsung duduk di kursinya. Karin, hanya mengangguk.
"Pasti kamu mengalami hal yang sulit," ujar Mirna.
"Bagaimana hubunganmu dengan Vikram? Apa kamu memberikannya hukuman?" tanya Dinda.
Kini kedua mata Mirna, dan Dinda, fokus menatap Karin. Karin, pun mulai mengatakan seluruh isi hatinya.
"Aku memecat mereka. Aku memecat Mia, tepat setelah hari itu," ujar Karin.
"Dan kamu juga memecat Vikram?" tanya Dinda, Karin, hanya mengangguk.
"Di hari itu aku mematikan seluruh fasilitas yang aku berikan padanya. Kartu debit, mobil dan yang lainnya. Aku memblokir semua kartu debitnya kecuali hanya satu kartu debit atas nama karyawan. Aku sengaja tidak mematikannya karena aku ingin Vikram, tetap bekerja awalnya aku tidak ingin memecatnya. Tapi … suatu hal terjadi membuatku sangat marah. Vikram, menggelapkan dana perusahaan sebesar 300 juta. Saat itu aku telah berharap bahwa Vikram, akan berubah nyatanya banyak sekali yang dia lakukan kepadaku. Vikram, tidak hanya mengkhianatiku tapi juga mengkhianati perusahaanku. Aku tidak bisa lagi memaafkannya dan aku memutuskan untuk bercerai."
Karin, terisak. Kedua bahunya berguncang hebat. Dinda, terus menenangkan sahabatnya itu dengan memeluknya. Berharap luka di hati temannya itu akan sedikit terobati. Mirna, hanya mengusap punggung Karin, dengan lembut.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan Karin. Kamu yang sabar dan kuat ya. Aku yakin kamu bisa melupakan Vikram. Awal memang sangat sakit tapi seiringnya waktu kamu akan terbiasa." Ujar Dinda, yang masih memeluk Karin.
Sulit memang sulit melupakan orang yang kita sayangi. Apa lagi orang itu sudah hidup lama dengan kita. Berbagi canda, dan duka, banyak sekali kenangan yang tertinggal. Akan sangat sulit di lupakan. Kadang cinta mencoba untuk bertahan tapi keadaan menolak untuk itu. Kesalahan yang berakhir kekecewaan. Tak mampu membuka pintu maaf lagi. Tidak akan, dan tidak akan pernah dan jalan satu-satunya hanyalah … berpisah.
"Lalu kapan sidang cerai kalian?" tanya Dinda.
"Entahlah. Aku belum tahu karena aku baru melakukan gugatan. Sepertinya aku akan melewati mediasi telebih dulu."
"Kamu yakin! Apa Vikram, setuju. Kenapa tidak kamu coba mempertahankan rumah tanggamu? Aku berharap kamu tidak mengalami yang aku alami. "
"Setiap jalan hidup berbeda. Mungkin inilah jalan hidup yang aku alami." Karin, menjelaskan.
"Jangan bersedih ada aku di sini. Kamu bisa mencurahkan isi hatimu kapan saja aku siap mendengarkan. Benarkan Mirna," lirik Dinda, pada Mirna. Mirna, pun mengangguk.
"Sahabat adalah teman curhat." Mirna, berkata membuat Dinda,dan Karin terenyuh kini mereka kembali tersenyum seraya menikmati makan siangnya.
...----------------...
Benar, sahabat adalah teman curhat
Dari tokohnya juga sangat mengisnpirasi untuk tetap sabar dalam menjalani cobaan.
enak skli laki2 kyk gitu sllu main perempuan trus punya anak2 di mna,
bayakin cerita dinda sma willy dong thor
males cerita.rey mulu