NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Malu Malu

Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah jendela dapur mansion Laksmana. Vina, yang kondisinya sudah jauh lebih segar, tampak sibuk memotong sayuran dan menyiapkan bahan-bahan sarapan di atas meja konter. Tangannya bergerak cekatan, merindukan aroma masakan setelah beberapa hari hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit.

​Tap... tap... tap...

​Suara langkah kaki yang terburu-buru dan sedikit terseret terdengar mendekat dari arah tangga luar. Vina menoleh dan mendapati Radit berdiri di ambang pintu dapur. Penampilan pria itu sangat berantakan.

Rambutnya acak-acakan, matanya tampak mengantuk, dan ia jelas-jelas belum mandi, masih mengenakan kaus oblong dan celana santai. Wajah tegasnya dipenuhi guratan kecemasan yang amat sangat.

​"Vina! Kenapa kamu sudah di sini?!" seru Radit, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun sarat akan kepanikan. Ia langsung melangkah lebar mendekati istrinya.

​Vina terkekeh pelan melihat kepanikan suaminya. "Mas Radit... ada apa?"

Radit mulai mendekati Vina.

"Aku cuma di dapur, mau masak sarapan," ucap lagi Vina.

​"Aku bangun dan tidak melihatmu di kasur, Vina. Jantungku rasanya mau copot," keluh Radit, memegangi kedua bahu Vina dan menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk memastikan istrinya baik-baik saja. "Kamu itu baru pulang dari rumah sakit kemarin. Harusnya istirahat di kamar, bukan malah lelah-lelah di dapur seperti ini."

​"Aku sudah sembuh total, Mas. Kalau cuma diam saja di kamar, badanku malah pegal semua," sahut Vina lembut, memberikan senyuman menenangkan dan kembali berbalik untuk mengaduk tumisan di atas kompor.

​Melihat keras kepalanya sang istri yang menggemaskan, rasa khawatir Radit perlahan mencair, berganti dengan rasa gemas dan cinta yang membuncah.

Dari arah belakang, Radit melangkah maju dan langsung melingkarkan kedua tangan kekarnya di sekeliling perut Vina. Ia menyandarkan dagunya di bahu ringkih Vina, menghirup dalam-dalam aroma wangi rambut istrinya.

​"Mas Radit, ih... lepas dulu, aku lagi pegang sudip ini. Nanti masakannya gosong," protes Vina dengan wajah yang mendadak merona merah akibat perlakuan romantis suaminya.

​"Biarkan saja gosong, yang penting aku bisa memeluk istriku sepuasnya pagi ini," gumam Radit manja, mengeratkan pelukannya dan mengecup pipi Vina dengan lembut.

​"Aduh! Ya Tuhan!"

​Sebuah pekikan tertahan tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk dapur. Radit dan Vina tersentak kaget dan buru-buru merenggangkan jarak tubuh mereka. Di sana, Ica berdiri mematung dengan memegang kain lap. Matanya membelalak lebar sebelum dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

​"Ah... aduh, aku lupa! Di luar.... Eh, maksudku... pintu gudang samping, belum aku tutup!" seru Ica dengan nada yang sengaja dibuat-buat. Walau tangannya menutupi wajahnya, Ica tampak mengintip nakal di sela-sela jarinya sambil menyunggingkan senyum ejekan yang sangat lebar. "Maaf, Tuan Muda, Nyonya! Ica tidak lihat apa-apa kok! Lanjutkan saja!"

​Vina semakin salah tingkah dan membuang muka karena malu, sementara Radit langsung menegakkan tubuhnya dan berdehem berat untuk menutupi rasa canggungnya.

​"Ehem! Ica, bantu Nyonya Vina siapkan piring," perintah Radit dengan suara diringkas tegas, mencoba mengembalikan wibawanya. Ia lalu menepuk pelan puncak kepala Vina. "Kalau begitu, Mas mandi dan bersiap-siap dulu, ya."

​"Iya, Mas," jawab Vina lirih, masih menahan senyum malunya.

​Beberapa waktu kemudian, suasana di ruang makan utama mansion terasa jauh lebih hangat dan hidup. Semua orang, termasuk Nyonya Besar Laksmana dan Radit yang sudah tampil rapi dan segar, telah duduk melingkari meja makan jati yang panjang. Dibantu oleh Ica dan Bi Asih, Vina menyajikan menu sarapan istimewa berupa nasi goreng rempah dan sup ayam hangat yang baru saja selesai ia masak. Aroma hidangan itu begitu menggugah selera.

​"Wah, masakan Nyonya Vina baunya enak sekali," puji Bi Asih tulus saat meletakkan mangkuk sup terakhir.

​Nyonya Besar Laksmana mencicipi sesendok nasi goreng buatan menantunya dan mengangguk-angguk pelan. "Benar, rasanya pas dan gurih. Terima kasih sudah memasak pagi ini, Vina. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri."

​"Sama-sama, Ibu. Vina senang kalau Ibu dan Mas Radit suka," jawab Vina tulus.

​Di tengah suasana makan yang tenang dan nikmat itu, Nyonya Besar perlahan meletakkan sendoknya dan menatap Radit dengan raut wajah yang mendadak berubah serius.

​"Radit, ada hal penting yang harus Ibu sampaikan," ujar Nyonya Besar, memecah keheningan. "Mungkin sore ini ayahmu akan pulang dari Amerika. Ibu baru saja mendapat kabar kalau proses pengobatan dan terapinya di sana sudah selesai dilakukan."

​Radit menghentikan kunyahannya sejenak, matanya menatap ibunya dengan lekat. "Lalu... bagaimana dengan Bang Dimas, Bu? Apa dia ikut pulang mengantar Ayah?"

​Nyonya Besar menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan pandangan sayu. "Ibu tidak yakin Dimas akan ikut pulang, Radit. Setelah pertikaian dan keributan besar antara kamu dan dia beberapa tahun yang lalu, kakakmu itu tampaknya masih menyimpan dendam dan enggan menginjakkan kaki di rumah ini lagi."

​Radit terdiam, rahangnya sedikit mengeras mengingat perselisihannya dengan Dimas, namun ia memilih untuk tidak memperpanjang bahasan tentang kakaknya. "Yang terpenting kesehatan Ayah sudah membaik, Bu."

​"Ibu tahu," sambung Nyonya Besar, nadanya terdengar agak cemas saat melirik ke arah Vina dan Radit bergantian. "Radit... Ibu hanya ingin menasihatimu. Sebaiknya saat ayahmu datang sore nanti, kau sudah bersiap dan ada di rumah. Situasinya sekarang berbeda, kau sudah menikah dan membawa wanita pilihanmu sendiri ke mansion ini tanpa persetujuan awal dari ayahmu. Ibu khawatir... watak ayahmu yang keras tidak akan bisa menerimanya dengan mudah dan keadaan akan kembali memanas."

​Mendengar kekhawatiran ibunya, Radit langsung menghentikan makannya secara total. Ia mengulurkan tangan kanannya, menggenggam erat telapak tangan Vina yang duduk tepat di sebelahnya, memberikan kekuatan dan keyakinan yang mutlak.

​"Ibu... tenang saja dan jangan khawatir," ucap Radit dengan nada suara yang sangat tenang, dalam, namun penuh penekanan yang tak terbantahkan. "Aku akan menghadapi Ayah dengan baik dan menjelaskan semua keputusan yang telah kuambil. Aku akan bertanggung jawab penuh. Mengenai Vina... dia adalah istri sahku, dan Ayah pasti akan menerima Vina dengan baik di rumah ini setelah aku menjelaskan semuanya nanti."

​Vina menatap suaminya dengan pandangan haru, merasa sangat terlindungi oleh ketegasan Radit yang selalu pasang badan untuknya.

​Setelah perbincangan tentang kepulangan sang ayah mereda, pikiran Radit mendadak kembali ditarik pada masalah kelam yang mengganjal hatinya sejak kemarin. Ekspresi wajah sang perwira langsung berubah menjadi dingin dan tajam.

​"Bu... tentang perkembangan penyelidikan pelayan keparat bernama Ika," ujar Radit dengan suara rendah yang mencekam. "Tadi subuh aku mendapatkan laporan terbaru dari ajudanku yang menjaganya di ruang bawah tanah. Sesuatu yang gila dan mengerikan terjadi. Ika tetap tidak mau membuka mulutnya tentang siapa yang menyuruhnya. Malah... sekarang ia nekat menggigit lidahnya sendiri hingga putus agar tidak bisa berbicara dan memberikan informasi apa pun lagi kepada kita."

​"Astaga!" Pekik Vina tertahan, langsung menutup mulutnya karena merasa ngeri dan syok mendengar kenekatan Ika.

​Nyonya Besar Laksmana menggebrak meja makan dengan pelan, matanya menyipit penuh amarah. "Sialan! Pelayan itu benar-benar keras kepala dan licik. Ibu rasa... kita tidak boleh menyerah begitu saja, Radit. Kita perlu memperketat penjagaan dan menyiksanya lebih keras lagi sampai dia mau menuliskan nama pelakunya di atas kertas!"

​"Ah... itu... Ibu, Mas Radit... mohon maaf kalau aku lancang memotong," sela Vina tiba-tiba dengan suara yang bergetar lembut, menatap Radit dan Nyonya Besar dengan pandangan memohon. "Karena Ika sudah bertindak sejauh itu dan tidak mau berbicara lagi, bagaimana kalau masalah ini langsung saja kita serahkan dan kirim dia ke kantor polisi resmi? Biar pihak kepolisian saja yang menangani dan memproses hukum masalah ini."

​Radit mengernyitkan dahi. "Tapi Vina, polisi biasa tidak akan bisa menginterogasi sekeras ajudan militerku. Aku takut dalang utamanya tidak akan pernah ketahuan."

​"Aku paham, Mas. Tapi aku sangat khawatir... kalau kita semakin menekannya dan terus-menerus menyiksanya di ruang bawah tanah, dia justru akan nekat mengakhiri hidupnya dan tidak akan pernah berbicara selamanya," jelas Vina dengan nada rasional namun penuh kekhawatiran akan keselamatan dan ketenangan rumah mereka. "Biarkan hukum formal yang bekerja, Mas. Aku hanya ingin mansion ini kembali aman dan tenang tanpa ada pertumpahan darah lagi."

​Radit menatap mata Vina yang dipenuhi permohonan tulus dan kedamaian, membuat ego militernya perlahan luluh demi kenyamanan sang istri tercinta. Radit dan Nyonya Besar saling berpandangan, mulai mempertimbangkan saran bijak dari Vina yang berniat mengakhiri ketegangan di dalam rumah sebelum sang kepala keluarga tiba sore nanti.

1
Nalara amora
aduh pengen ruqyah milaa😭🙏🤣
Putri Ayu/PqxxyZ: ayo kita anter sama sama🤣
total 1 replies
Ris Ris.25
jahat banget sumpah🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: iya sudah kebiasaan dia😄
total 1 replies
Mustafa
Jangan Mila
Putri Ayu/PqxxyZ: bener tuh🙏
total 1 replies
Mustafa
Nah Sudah Ketahuan Kan
Cilia
Nyebelin bangeet kepala pelayannya!!!😡🤬
Nalara amora
itu jangan sampe Mila jadi ngincer mas dimas 😭
walaupun nyebelin tapi janganlah 😭🤣
Nalara amora: sebel ajaa ka sok nya itu loh 😭
total 2 replies
Ris Ris.25
Mila.. Tuh banyak kaca..😊
Putri Ayu/PqxxyZ: waduuhhh🤣
total 1 replies
Nalara amora
semoga Nerima baik keluarga mas raditt😭😭🙏
takut mlh di usirr😭😭🙏
Nalara amora: aduhh takot nih ka😭
total 2 replies
Nalara amora
curiga bgt nih sana Mila 😭
Nalara amora: hahahah iya nih kaa😭🤣🙏
total 2 replies
Ris Ris.25
Ada niat jahat
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih.. mencurigakan sekali kan?🤣
total 1 replies
Nalara amora
aduhh salting nya mas raditt 🤭🤭
Nalara amora
jadi kalung yg di mba vina itu kalung mas Radit kah😭🤭
Nalara amora
cintaa segi tiga kah mereka kaa😭
Nalara amora: aduhh semoga aja milih mas radittt😭🤭
total 2 replies
Nalara amora
aduhh ngakak sama mas Radit nih 🤭
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
Mustafa
anaknya tomboy sekali ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ: nah betul sekali..
total 1 replies
Ris Ris.25
waduhh susah ya
Putri Ayu/PqxxyZ
iya nih refresing otak dulu
Putri Ayu/PqxxyZ
waduuhh
Nalara amora
aduh makin ga suka nih sama mas dimas 😭🙏
Nalara amora
aduhh teka teki nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!