Cerita ini merupakan cerita fantasi yang berunsur kisah manusia serigala di dalamnya. Mengisahkan seorang wanita bernama Elleona yang hidupnya selalu menemui masalah, dari pack tempat tinggalnya hancur, keluarganya habis di serang, ia di-reject mate-nya sendiri, hingga masalah-masalah yang selalu saja ia temui seakan kebahagiaan enggan untuk menghampiri.
Lalu, apakah Elleona akan berakhir bahagia?
atau
Elleona tidak akan pernah bahagia hingga akhir hidupnya?
Silahkan baca novel gratis ini dengan perlahan. Akan bosan di awal dan semoga tidak di akhir, selamat membaca :)
Salam kenal,
ptrmyllln
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ELLEONA 32
Sebelum membaca pencet jempol dulu yaa :)
Happy Reading :)
***
"Alpha." Elleona menggingit bibirnya, ia memberanikan diri untuk bertanya tentang sesuatu yang dari dulu ingin ia tanyakan.
Tatapan Revanio yang tajam membuatnya semakin tak berani untuk bertanya. Tapi jika dibatalkan maka sampai mati pun ia akan terus penasaran.
"Aku, aku ingin menanyakan suatu hal," ujar Elleona. Beruntunglah ia tidak gagap dalam berbicara.
"Tanyakanlah, tetapi sebelum itu mari kita mencari tempat duduk, aku merasa kasihan dengan kakiku ini." ujarnya.
Dengan patuh, Elleona membuntuti Revanio.
"Ini tempat yang sangat cocok," ujar Revanio. Ia berhenti pada sebuah pohon persik yang biasa ia bersantai.
Untuk apa mengatakan mencari tempat duduk kalau pada akhirnya tempat favoritnya lah yang akan dituju, dumel Elleona.
'Apa kau merasakannya? Merasakan aroma itu semakin kuat?!' seru Lea.
Elleona menghirup udara yang tercampur aroma Revanio. Sangat menenangkan sehingga membuatnya ingin memeluk tubuh jangkung itu.
'Lakukan saja, aku rela dihukum karena telah memeluk Alpha,' ujar Lea.
'Tapi aku masih ingin tinggal di sini, jadi jangan memberiku ide gila, Lea.'
"Sepertinya aku menjadi patung yang menunggu seseorang berbicara dengan serigalanya," sindir Revanio.
Elleona yang tersadar lalu memfokuskan pandangannya pada Revanio.
"Tanyakanlah yang ingin kau tanyakan," ujarnya.
Elleona menelan ludahnya, rasa gugup itu kembali hadir.
"Aku-- aku tidak berani," ujar Elleona. Ia menundukkan kepalanya.
"Apa aku menakutkan? Atau, pertanyaan itu yang menakutkan?"
Elleona menggeleng masih dengan kepala tertunduk.
"Lalu? Apa kau malu melihat wajahku hingga menunduk seperti itu?" tanya Revanio lagi.
Kembali Elleona menggeleng. Oh Elleona, mengapa di saat seperti ini kau tidak bisa berbicara? Bagaimana kau bisa mengetahui kebenaran itu?
Elleona menelan ludah, dengan perlahan ia mengangkat kepalanya, mata beningnya langsung bersitatap dengan mata netra hitam milik Revanio.
"Alpha, apa Anda tidak merasakannya?" tanya Elleona, jantungnya sedari tadi berlomba-lomba ingin keluar. Jika ada cermin mungkin ia dapat melihat bibirnya yang pucat.
"Merasakan apa?" tanya Revanio.
Mendengar itu spontan membuat Elle memejamkan matanya. Benar, Revanio tidak memiliki rasa itu. Dan benar, jika mate pengganti hanyalah suatu hal yang mustahil.
'Cobalah untuk menanyakan lebih jelas, Elle, aku yakin Alpha Revanio kurang peka akan hal ini,' ujar Lea.
"Alpha, apa kau mengerti maksudku?" tanya Elleona.
Alpha Revanio sedikit mencebikkan bibirnya, ia menggeleng pelan.
Elleona menghirup pasokan udara sebanyak-banyaknya. Ia merasakan saat ini paru-parunya sedang dihimpit oleh sesuatu yang tak kasat mata.
"Baiklah, saya hanya bertanya itu saja, saya ijin pamit, Alpha."
Revanio mengangguk.
Merasa tidak ada respon lain, Elleona merasa sedih. Lalu ia berlalu dari sana.
"Elleona," panggil Revanio.
Bak alunan merdu, dengan cepat Elleona berbalik tak lupa senyum yang tiba-tiba mengembang.
"Kau melupakan keranjang anggur mu," ujar Revanio seraya mengulungkan keranjang anggur milik Elleona.
Harapan itu kembali patah, entah mengapa Elle sangat berharap panggilan tadi adalah panggilan untuk mendekapnya. Namun, realita tidak seindah ekspektasi.
Dengan hati gundah, Elleona menyambut keranjang anggur tadi.
***
Malam ini Elleona sedang duduk di jendela dengan rambut menjuntai. Ia memeluk kedua lututnya, pikirannya melayang jauh. Siapa lagi yang ia pikirkan? Tentu saja Revanio, alpha yang memporak porandakan hatinya yang baru sembuh.
'Lea ....' desah Elleona.
'Ya.'
'Aku sangat sedih,' ujarnya.
'Aku juga, Elle. Perasaan serigala sangat kuat, tentunya aku lebih sedih,' ujarnya.
Elle hanya bisa mendesah, merenung, lalu memeluk lututnya kembali.
'Kenapa aku tidak bisa berbicara dengan serigala alpha Revanio?' tanya Lea heran.
'Aku tidak tau, jangan tanyakan masalah dia denganku lagi, aku ingin melupakannya.' ujar Elle, bibirnya mencebik lucu.
'Ah! Aku punya ide!'
"Aaa!"
Elleona terjungkal ke tanah akibat teriakan Lea. Ia terkejut lalu tidak bisa menjaga keseimbangannya.
"Lea! Mengapa kau mengejutiku?! Beruntunglah jendela ini tidak tinggi, jika tidak maka kita hanya tinggal nama!" omel Elleona.
'Maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat untuk memberitahu mu ide bagus!' ujar Lea.
Dengan bersungut, Elleona membuang kotoran yang menempel di bajunya. "Ide gila apa lagi?!"
'Ide agar kita bisa mengetahui isi hati alpha Revan--'
"Jangan sebut nama alpha Revanio!" ujar Elle. "Aku sudah bilang aku ingin melupakannya!" sambungnya.
"Kenapa ingin melupakan ku? Apa kepalamu terbentur hingga otakmu menjadi miring?"
Elleona menoleh, lalu sedikit merubah wajahnya yang masam tadi. Ia merasa malu karena ketahuan membicarakan Revanio.
"Ma-maaf, Alpha," ujar Elleona tertunduk.
Tiba-tiba tangan Elleona berada di dalam tangan seseorang.
Revanio membersihkan sisa tanah yang masih menempel di tangan Elle.
"Malam-malam begini mengapa masih di luar?" tanya Revanio.
"Alpha tidak melihat aku terjatuh dari jendela?" tanya Elle, sebenarnya ia masih agak kesal dengan alpha ini. Mengapa pria ini selalu dengan sesuka hatinya pergi dan datang.
"Ya aku melihatnya, pertunjukan tadi sangat menyenangkan." ujar Revanio.
"Pertunjukan?!" Ya, suara Elleona naik satu oktaf. Tetapi sangat mengherankan mengapa ia tidak merasa bersalah?
"Ya, dan itu membuatku terhibur," ujarnya.
Bibir Elleona mengerucut sebal. "Alpha bertanya kepadaku mengapa aku di luar, lantas bagaimana dengan Alpha yang masih berkeliaran di sini?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujarnya.
Elle mengerutkan dahinya. "Mengajakku?"
Revanio mengangguk, ia langsung menutup mata Elle menggunakan tangannya.
"Bukalah matamu," ujarnya.
Dan dengan ajaib, tempat mereka tadi sudah berpindah menjadi tempat yang sangat indah. Tunggu dulu, bukankah ini?
"Daerah netral?!"
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Revanio.
"Aku dan Raina pernah ke sini dan kami juga bertemu dengan alpha Alex," jawab Elle.
"Alpha Alex?" Terselip nada tidak suka ketika Elle menyebutkan nama laki-laki lain ketika mereka sedang berdua.
Elleona mengabaikan, ia sedang menikmati pemandangan bintang yang seperti melihat bintang di atas awan. Sangat dan luar biasa indah ketika malam hari.
Aroma dari tubuh Revanio menjadi pengharum yang sangat memabukkan. Mata Elle pun sesekali berganti dengan mata Lea.
"Bagaimana Alpha tau bahwa di sini terdapat tempat yang sangat indah?" tanya Elle. Tidak menatap wajah Revanio karena ia masih asik menikmati pemandangan ini.
"Aku yang membuatnya."
"Benarkah?" Tubuh Elleona berbalik dan pada saat itu pula Revanio dapat melihat mata biru milik Lea.
"Matamu," ujar Revanio.
Elleona mengerjapkan matanya. Namun tetap saja mata itu tidak berganti, malah sekarang Elleona sedang mengendus aroma yang sangat memabukkan itu.
Tanpa sadar Elle atau lebih tepatnya Lea sudah mendekap Revanio dengan hidung mengendus. "Sangat wangi," Lea.
Merasa Lea sudah kelewatan batas, dengan kekuatan maksimal Elle mengambil alih tubuhnya lalu membalikkan tubuhnya, ia malu dengan kelakuan Lea tadi.
"Ma-maafkan aku, Alpha, aku tidak bis mengontrol serigala dalam tubuhku." ujar Elleona.
Tidak ada respon dari Revanio, hal ini membuat Elle sangat malu dengan dirinya sendiri. Apakah Revanio akan mengatai dirinya wanita penggoda? Elle menggelengkan kepalanya, tidak, dia bukan wanita penggoda.
Tiba-tiba sebuah lengan kekar merengkuh tubuhnya dari belakang. Lengan itu melingkar di perutnya yang ramping.
Elle mengerjapkan matanya, ia menelan ludahnya, jantungnya langsung berdetak kencang, aroma Revanio semakin kuat dan memabukkan. Rasanya seperti ada coklat dan mint di dalam hidung Elleona.
"Aku mendengar detak jantungmu," bisik Revanio. Pelukan itu semakin erat ketika semilir angin malam menerpa mereka.
Tubuh Elleona merinding, pada posisi intim seperti ini membuat ia juga mendengar degupan jantung yang menggila milik Revanio. Jadi, apa artinya Revanio?
"Aku juga merasakannya ...," bisik Revanio lagi tapi kali ini disertai kecupan ringan di daun telinga Elle.
Oh Moon Goddess, jangan buat aku mati karena serangan jantung! jerit Elle.
***
***Cut* duluuu, beberapa part nanti akan datang sesuatu yang bikin diabetes hihihi**
Tunggu kelanjutannya, see you! Komentar sebanyak-banyaknya dan jempol jangan sampai lupa!!
Hrs'a ada keterangan dlm kurung apa itu pack, mate, alpa, rougu dll,,, bikin bingung di awal bc..
Cb lanjut lg..