Pernikahan selama sepuluh tahun tidak bisa membuat dirinya mengandung walaupun dengan melakukan inseminasi buatan.
Karena keluarga suami yang menginginkan ahli waris akhirnya menyingkirkan dirinya dengan memberikannya sebuah perusahaan sebagai kompensasi perceraiannya dengan sang suami.
Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah diceraikan oleh suaminya?
Apakah Nikita menemukan kembali cinta dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Chapter 34
Sepeninggal nyonya Rubby, tuan Aryo melamar kekasihnya Arumi. Baru kali ini, tuan Aryo menjadi dirinya sendiri. Walaupun perusahaannya sudah jatuh bangkrut, namun hanya satu yang tersisa miliknya yang masih berjaya saat ini adalah restoran.
Restoran yang pernah dibesarkan oleh Nikita itu kini menjadi modal pernikahan Aryo dan Arumi.
"Kamu siap menikah lelaki miskin sepertiku?" Tanya Tuan Aryo pada kekasihnya Arumi.
"Aku menikahimu karena mencintai mas Aryo, bukan karena hartamu." Ucap Arumi.
"Terimakasih Arumi. Mansion milikku juga sudah aku jual. Kita hanya bisa tinggal di apartemen sederhana. Aku harap kamu bisa mendampingi aku untuk membangun bersama impian kita.
Aku sudah menjadi diriku sendiri tanpa bayang-bayang ibuku lagi." Ujar Aryo.
"Seorang ibu tetap tidak ada salah dihadapan anak-anaknya. Di hati dan pikirannya hanya ada satu tujuannya yaitu bagaimana caranya ia bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya walaupun tidak semuanya dengan kemewahan.
Seorang ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia walaupun orang lain atau anaknya sendiri merasa apa yang dilakukan oleh orangtuanya, belum tentu bisa diterima baik oleh anak-anaknya yang tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Kau tahu kenapa, karena seorang ibu memiliki anak lelakinya sampai ia mati. Beda dengan kami anak perempuan yang akan dimiliki suaminya sampai dia mati dalam keridhaan suaminya. Itulah perbedaan laki-laki dan perempuan di hadapan Allah." Ujar Arumi panjang lebar.
"Wah, ternyata ilmu agama yang kamu miliki cukup dalam tapi mengapa kamu pernah memiliki jalan pintas untuk mendapatkan uang saat itu?" Tanya Aryo.
"Kadang logika dan hati manusia tidak selamanya sinkron dalam bertindak. Saat itu, keadaan Arini sangat memprihatikan dan dokter memvonis usianya hanya bertahan satu bulan.
Aku sangat gusar dan takut kehilangannya, satu-satu saudara yang ku miliki. Aku tidak lagi melihat halal dan haram, yang jelas aku menginginkan adikku tetap hidup bersamaku walau apapun yang terjadi, sekalipun aku harus menghinakan diriku." Ujar Arumi dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku sayang, mungkin Tuhan sudah mengatur semuanya agar aku bisa bertemu denganmu dan meringankan beban hidupmu." Ujar tuan Aryo.
Keduanya saling berpelukan penuh kasih sayang. Tuan Aryo sangat pengertian. Walaupun Arumi sangat lugu, tapi ia tidak ingin memanfaatkan gadis ini.
Hidup gadis ini juga tidak jauh dengan dirinya. Sama-sama pernah menjadi anak konglomerat, tapi hidup memaksanya untuk tidak lagi mengandalkan harta untuk mendapatkan kenyamanan.
Ia rela melepaskan segalanya demi memuaskan dirinya dan kebebasan yang sudah ia raih. Saat ini, ia sedang menekuni kembali hobinya yang sempat tertunda karena ibunya.
Arumi mendukungnya sebagai seorang pelukis profesional yang mampu menunjukkan ekstensinya di Industri seni.
Arumi membantu memasarkan lukisan kekasihnya itu sampai ke manca negara karena lukisan milik Aryo memiliki kualitas tinggi. Sayang kalau hanya di perhatikan oleh masyarakat lokal yang kurang berminat dengan lukisan kecuali orang-orang tertentu.
"Sekarang kita lupakan semua masalalu dan melihat ke depan tanpa ada yang perlu lagi di bahas saat ini. Kamu dan cerita hidupmu dan aku dengan kisah hidupku. Untuk bisa meraih cinta, jangan pernah ada dusta diantara kita." Ucap Arumi.
Itulah perjanjian mereka sebelum melangsungkan pernikahan satu bulan lagi.
🌷🌷🌷🌷🌷
Sebulan kemudian, tuan Aryo dan Arumi melangsungkan pernikahan di kantor agama karena tidak ada ayah Arumi yang telah meninggal dunia.
Keduanya juga menggelar resepsi sederhana di restoran milik tuan Aryo. Arumi yang sangat cantik dengan gaun pengantin yang sangat indah dan sederhana namun tetap tampil elegan.
Tamu undangan hanya sebatas kerabat dekat, sahabat keduanya dan kolega. Sebagai perwakilan dari keluarga tuan Kenzo, adalah Meilan yang turut hadir memberikan ucapan kebahagiaan bagi pasangan ini.
Namun ditengah kebahagiaan mereka, ada momen yang cukup menyita perhatian kedua mempelai, pasalnya ada adegan yang menegangkan di acara pesta pernikahan itu, di mana ibu kandung Arumi dan Arini turut hadir di acara pesta pernikahan itu.
Arini yang melihat ibunya, langsung menegur ibunya dengan tatapan penuh kebencian. Apa lagi, ibunya Arumi nyonya Rahayu datang dengan pasangannya.
"Mau apa kamu kemari?" Kami tidak pernah mengundangmu. Mengapa kamu tiba-tiba ke sini?" Tanya Arini kesal.
"Bukankah Arumi adalah putriku?" Aku tidak butuh undangan untuk bisa hadir di pernikahan putriku." Ucap Nyonya Rahayu sambil melenggang anggun.
"Selama ini kamu ke mana saat kami butuh perhatianmu?" Bukankah lelaki ini yang telah memorotin harta ayah, hingga ayah bangkrut dan mengalami serangan jantung." Ucap Arini yang sudah mengetahui perselingkuhan ibunya.
"Kamu hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kemelut rumah tangga orangtuamu. Ayahmu sudah bangkrut, jauh sebelum ibu mengejar mas Aris." Timpal nyonya Rahayu.
Arumi yang baru menyadari pertengkaran adik dan ibunya berusaha menghampiri keduanya.
Nyonya Rahayu mulai dengan sandiwaranya untuk mendapatkan empati dari putri pertamanya, Arumi karena saat ini, ia dan suaminya sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang.
Keduanya selalu menghabiskan uang di atas meja judi. Dengan berpura-pura sedih di hadapan pengantin, nyonya Rahayu mulai mencurahkan isi hatinya.
Ia menyadari kalau putrinya menikahi putra seorang konglomerat.
"Oh Arumi sayang, maafkan ibu nak, karena baru bisa menemui kamu. Ibu ke apartemen kalian dan ternyata tetangga kalian menceritakan kalau kamu sedang merayakan pesta pernikahan kamu di restoran suamimu." Ucap nyonya Rahayu sambil berurai air mata.
"Apakah ibu tidak punya malu membawa gigolo ibu ke sini?" Tanya Arumi dengan nada kesal.
"Arumi, kami sudah menikah sayang, hati-hati dengan bicaramu. Bagaimanapun juga aku adalah ibu kandungmu. Oh iya, nak Aryo perkenalkan saya ibunya Arumi dan Arini. Terimakasih sudah mau menerima putriku Arumi sebagai istrimu, kalau kamu tidak keberatan, bolehkah putriku Arini tinggal bersama kalian?" Supaya apartemen ayahnya yang saat ini mereka tinggal, bisa aku jual ke orang lain agar bisa melunasi hutang-hutang ku." Ucap nyonya Rahayu tanpa rasa malu sedikitpun kepada menantunya, Aryo.
"Ibu, apartemen itu ayah berikan atas nama kami berdua bukan atas nama ibu. Lupakan apartemen itu dan pergilah dari hadapanku." Arumi mengusir ibunya dengan kata-kata kasar.
Tuan Aryo memberi isyarat kepada sekuriti restoran untuk membawa pergi nyonya Rahayu dan suaminya karena istrinya tidak menyukai kehadiran mereka sama sekali.
"Maaf nyonya!" Silahkan tinggalkan tempat ini!" Titah dua satpam tersebut.
"Arumi!" Beginikah cara kamu memperlakukan ibumu?" Tanya Nyonya Rahayu tidak percaya.
Arumi tidak menjawab pertanyaan ibunya. Ia malah memeluk adiknya Arini yang kelihatan syok melihat kehadiran ibu mereka.
"Tenanglah dek!" Mas Aryo sudah mengamankan ibu." Ucap Arumi menenangkan adiknya.
"Apakah dia akan menghancurkan hidup kita lagi kak?" Tanya Arini sambil menangis.
"Tidak akan pernah terjadi Arini!"
"Mas Aryo, maafkan ibu kami!" Ucap Arumi.
"Tidak apa sayang!" Lagian tamu sudah mulai berkurang. Sebaiknya kita langsung ke hotel. Arini bisa menginap di apartemen kita." Ucap tuan Aryo.
Pasangan ini memilih hotel mewah yang ada di Jakarta sebagai tempat bulan madu mereka. Semuanya serba irit karena mereka sedang memulai lagi kehidupan mereka dari awal.
"Apakah kamu tidak bisa memaafkan ibumu?" Tanya tuan Aryo sambil menyetir mobilnya menuju hotel.
"Aku hanya ingin membuat ibuku jera. Selama ini, ibuku selalu hidup berfoya-foya dengan teman-teman sosialitanya dan menghabiskan uang di atas meja judi.
Yang lebih menyedihkan kami, ibu makin tidak tahu diri saat temannya memperkenalkan lelaki itu yang merupakan gigolo teman-temannya kepadanya.
Sejak saat itu, ibu mulai tidak betah di rumah dan selalu keluar kota hingga suatu hari ayah mendapatkan kiriman video syur ibu dengan lelaki itu, membuat ayahku kena serangan jantung dan meninggal hari itu juga.
Sejak meninggalnya ayah, satu persatu aset milik ayah di sita oleh bank kecuali apartemen yang kami tempati.
Perusahaan milik ayah saat ini yang sudah di beli oleh tuan Kenzo, suami dari mantan istri mas Aryo, mbak Nikita." Ucap Arumi mengisahkan perjalanan hidupnya pasca orangtuanya bangkrut.
Aryo yang mendengar penuturan istrinya merasa sesak karena ternyata bukan hanya perusahaan miliknya saja yang sudah berada di tangan tuan Kenzo saat ini, melainkan milik keluarga istri ketiganya yang sudah di beli oleh tuan Kenzo.
"Ternyata kamu sangat hebat tuan Kenzo, bukan hanya perusahaan milikku yang kamu umbar tapi istriku juga yang menjadi incaran mu. Kamu ternyata menyukai barang bekas." Gumam tuan Aryo membatin.
Mobil milik Aryo sudah memasuki area parkir hotel tempat mereka berbulan madu. Keduanya turun dan langsung menuju ke kamar mereka yang sudah mereka booking sebelumnya.
Sementara di apartemen milik Arumi dan Arini sedang ada pertengkaran hebat antara Arini dan ibunya yang ingin menginap di apartemen Arini.
"Untuk apa ibu ke sini?" Bukankah kakak Arumi bilang kalau apartemen ini adalah milik kami berdua yang diwariskan oleh ayah. Ibu tidak punya hak atas milik kami. Jika ibu bersikeras untuk tinggal atau menjual apartemen ini, aku akan melaporkan ibu ke polisi." Ancam Arini tidak main-main kepada ibunya.
"Eh, kamu itu masih anak-anakku, apa yang kalian miliki otomatis milik aku juga karena aku ini janda dari ayahmu." Ucap nyonya Rahayu.
"Janda ayah...?" Hah... yang benar saja. Bukankah ibu tadi mengaku sudah menikah lagi dengan lelaki ini?" Ujar Arini.
"Aku tadi sedang menyelamatkan reputasi kakakmu di depan suaminya bahwa kami berdua sudah menikah, tapi kami sama sekali belum menikah sayang.
Kami akan menikah kecuali apartemen ini akan ibu ambil untuk melunasi hutang-hutang ibu." Ucap nyonya Rahayu.
"Hutang ibu atau hutang gigolo ibu?" Jika ibu masih memaksa untuk tinggal di sini aku akan menghubungi polisi sekarang karena apartemen kami di jadikan tempat prositusi." Ancam Arini seraya menghubungi polisi.
Melihat keseriusan putrinya yang akan melibatkan pihak berwajib, nyonya Rahayu dan lelakinya berusaha kabur dari apartemen milik putrinya.
"Sialan!" Anak tidak tahu diri, kurangajar, berani-beraninya dia mengancamku dengan memanggil polisi." Umpat ibu Arumi dan Arini lalu masuk ke mobilnya meninggalkan apartemen itu.
Arini menangis haru karena sudah merasa tenang setelah melihat ketakutan di wajah ibunya saat ia memanggil polisi.
Tidak lama datang seorang polisi muda yang menemui Arini.
"Selamat malam nona!"